Death Game

Death Game
Akhir keji sang ibu tercinta


__ADS_3

Sementara Revtel, memilih memegang tangan Ibunya tanpa bersuara. Walau dia masih kecil, sosoknya tak bodoh dengan arti penampakan di depan mata.


Di mana Ibunya jelas-jelas memohon pengampunan demi keselamatan mereka.


Tapi rasanya sangat tersiksa melihat itu semua. Sebab penindasan Ratu dan anak-anaknya sudah menginjak harga diri keluarga Revtel tanpa sisa.


Dan malam yang dijanjikan mengantarkan Revrea untuk menemui Ratu bangsa hydra. Wanita itu hanya tersenyum, meminta dirinya untuk mengikuti langkahnya.


Tanpa keraguan, tiada kecurigaan, mereka berdua memasuki sebuah rumah milik salah satu bangsawan pengikuti Ratu.


Revrea pun bergeming saat menyaksikan siapa saja sosok yang ada di dalam sana.


Para penyokong wanita di depannya. Tiga belas orang laki-laki dan lima wanita. Dari keluarga bangsawan yang terkekeh melihat sosoknya.


Perlahan Ratu berbalik dan menyentuh wajahnya. “Kamu tahu? Aku sangat membenci dirimu.” Revrea terkesiap mendengarnya. “Tapi, aku akan memaafkanmu jika melakukan sesuatu untukku.”


“M-melakukan ap— aagh!” erangnya tiba-tiba. Akibat seseorang menjambaknya dari belakang. “M-mau apa kalian! Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan aku!” rontanya.


Tapi semua sudah tidak ada artinya. Karena beberapa bangsawan mengikat tangannya dengan dasi kebanggaan mereka.


Teriakan keras yang memekikan telinga pun bersenandung dari Revrea. Sampai akhirnya sebuah apel di masuk paksa ke dalam mulutnya.


Diperlakukan dengan tercela. Tangisan tak ada artinya. Sang Ratu hanya menatap puas ke arah pesakitan yang dirasakan wanita itu di sana. Dirinya pun berbalik meninggalkan Revrea di bawah penyiksaan para bangsawan pengikutnya.


Di mana kehormatannya dinodai mereka dengan cara terkeji yang pernah ada. Dirudapaksa, benar-benar tindakan tak bermoral untuk seorang wanita.


Malam itu, menjadi malam terburuk bagi Revrea selain direndahkan sebagai selir Raja yang melahirkan putra semata wayangnya.


Revtel yang menunggu di rumah, dirundung kecemasan sekarang. Lewat dari tengah malam. Dingin di udara begitu menusuk kesadaran. Entah kenapa hati berbisik tersiksa. Memaksa naluri untuk mencari Revrea.


Tak peduli seberapa keras napasnya terengah-engah, sosoknya tak bisa menemukan ibunya di istana.


Sampai akhirnya ia bertemu dengan pelaku yang membuat ibunya pergi sementara.


Sang Ratu.


Dengan keangkuhan di rupa, menatap sinis ke arahnya. Seolah dia adalah noda yang harus dienyahkan dari pandangan.


“Sedang apa kamu di sini?”


“I-ibu saya, ibu saya ada di mana?” tanya Revtel dengan nada putus asa.


Tapi bukannya jawaban, justru tampang meremehkan sebagai balasannya. “Pengawal! Pengawal!” Sosok yang dipanggil pun muncul di sana sehingga mengejutkan putra Revrea. “Usir dia dari sini, dan pastikan kalau dia tak lagi menginjakkan kaki di istana ini! Mengerti?!”

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia.”


“Tunggu, Yang Mulia! Ibuku! Ibuku ada—” tapi, panggilannya terhentikan akibat dorongan sang pengawal yang kasar menjatuhkan dirinya.


Sementara di satu sisi, dalam jam-jam setelah mimpi buruk yang sesungguhnya terjadi, tampaklah sosok Revrea dengan pakaian compang camping di badannya. Air mata terurai dan tanda kehidupan seolah tak sudi lagi memeluknya. Berjalan pelan menyusuri jalanan malam menuju tempat yang tak asing baginya.


Mengetuk pintu, sambil dihiasi pesakitan di seluruh raga. Benar-benar kematian telah memeluknya namun enggan merasuk ke jiwa.


Pembatas kayu itu pun terbuka dan melukiskan sosok anak kecil yang menatap syok ke arahnya.


“Bibi?”


Tiba-tiba, Revrea merangkulnya. Menangis di sana dan meneteskan air mata untuk membasahi bahu Kers tanpa aba-aba.


Anak itu terdiam dan merasakan getaran hebat dari wanita di depannya. Sampai akhirnya ia tersentak saat menyentuh belakang kepala ibu sepupunya.


Sontak saja ia dorong wanita itu akibat kejadian mengerikan menari di pikirannya.


“K-Kers?” kaget Revrea akan respons sang keponakan.


Tanpa sadar anak itu beruraian air mata. Begitu deras alirannya dan tubuhnya bergetar hebat saat menatap wajah di penglihatan.


Apa yang ia lihat barusan terasa begitu nyata. Sampai akhirnya tangannya menyentuh pipi Revrea dan melirihkan kata tak terduga.


“Apa yang sudah dilakukan orang-orang itu pada Bibi?”


“K-kakak? Apa yang terjadi?!” paniknya lalu meraih lengannya.


Akhirnya, barulah pandangan mereka berdua teralihkan sekarang. “Hydrea.”


“Jawab aku, Kakak! Apa yang terjadi?!” tanyanya sekali lagi sambil menggoyang kasar tubuh Revrea.


Dan hal itu berhasil membuat Ibu Revtel terhuyung tiba-tiba namun berhasil diselamatkan adik dan keponakannya.


Dalam kondisi menyedihkan, tanpa menyadari kalau anak kecil yang bersebelahan dengannya, kata menyesakkan terlontar untuk ditangkap para pendengarnya.


Wajah syok Hydrea pun seketika melukiskan tatapan kosong sebagai gantinya. Di sana, saat itu juga, Revrea menyanyikan pesakitan keji yang sudah menimpanya.


Sampai suaranya serak, isakan yang tak henti disemburkan di dengar tenang Kers dan ibunya walau penampilan mereka tidak baik-baik saja.


Marah, kecewa, sedih, kesal dan benci bercampur aduk di diri masing-masingnya. Begitu hebat gemetar yang menimpa, diiringi aliran napas memburu karena tak sanggup lagi menahan semuanya.


Tapi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sesuatu yang tak terduga. Racauan seorang anak, tak jauh dari sana dan terasa pilu untuk di dengarkan telinga.

__ADS_1


Siapa lagi pelakunya kalau bukan Revtel yang kebetulan mendengarkan kisah ibunya saat mendatangi rumah bibinya.


Dia tersiksa dan tak sanggup mengangkat wajahnya. Memukul-mukul tanah memikirkan amarah di dadanya.


Sampai Revrea yang berjalan terseok-seok perlahan mendekatinya. Kehilangan keseimbangan lalu merangkak untuk mencapai putranya.


Memeluk Revtel walau sama-sama beruraian air mata.


“Jangan menangis, Nak. Ibu baik-baik saja.” Bagai petir di perasaan para pendengarnya. Bahkan senyuman dengan lancang dihiaskan pada bibir sosok pembicara. “Jadi Ibu mohon, jangan menangis lagi.”


Inilah neraka bagi orang-orang yang merasakan amarah di hatinya. Sungguh dendam sudah menggumpal dan mendarah daging di hati mereka.


Ambisi hendak membantai dalam balas dendam diredam Revrea demi kebaikan mereka. Dia lebih sudi hancur tak bersisa asalkan bukan keluarganya yang tertimpa.


Nyatanya, para pengangkat senjata tak sanggup menerima permintaan bodohnya. Penindasan brutal ini memang harus dibayar demi kebaikan masing-masingnya.


Sang kakak yang akhirnya gelap mata, hari itu juga melakukan pemberontakan besar-besaran pada bangsa hydra yang mengalir di dalam darahnya.


Pertarungan pecah teriakan bersorakan. Darah berserakan air mata berjatuhan. Banyak yang mati dalam penyerangan. Baik di pihak lawan atau kawan.


Raja yang murka, semakin marah mendengar hasutan dari Ratu dan juga para Tetua. Akhirnya, sebuah tanda perburuan dilantangkan dari dalam mulutnya.


“Tangkap mereka dan eksekusi mati tanpa sisa!”


Perintah yang digaungkan itu pun menjadi tanda retaknya hubungan sang Raja dengan keluarga Revrea.


Tapi, akibat kecerobohan Revtel yang gagal lari menemui bibi dan adik sepupunya, dia pun tertangkap dan diseret paksa para pengawal.


Berujung amarah Revrea dan menghakimi sosok-sosok yang sudah menyakiti putranya.


Dengan keindahan senjata assandia (petarung) di tangannya, ia lindungi Revtel sekuat tenaga. Sampai akhirnya pada sayatan terakhir yang berhasil melukai pipi sang Raja, pria itu naik pitam dan menjambaknya.


Dan perintah terakhirnya untuk menghakimi sang selir bagai kegelapan terburuk di telinga Revtel yang mendengarnya.


Tepat di depan mata, di hadapan sang Raja, ibu kandungnya yang sudah bersusah payah mencoba melindunginya dijadikan pelacur para bawahan di halaman istana.


Teriakan keras Revrea yang dihancurkan mereka menyadarkan Revtel akhirnya. Kalau sang ibu, sebelum akhir hayatnya menyuruh ia lari bagaimanapun caranya.


Dan kedatangan sang paman membukakan jalan untuknya sebelum es membekukan hatinya.


Dia dibawa pergi salah seorang Ksatria dan berlari menuju Hydrea juga Kers di pertengahan kota.


Dengan perasaan hancur di dada, anggota keluarga Revrea lari sambil membawa kenyataan pedih dalam hidup mereka.

__ADS_1


Kalau para sosok pemegang kekuasaan di hydra, telah merusak hidup semuanya sehingga akan teringat sampai kematian menjemput mereka.


 


__ADS_2