Death Game

Death Game
Danau terlarang


__ADS_3

Sontak saja Kers menoleh ke belakang. Dan dia mendapati sesosok anak laki-laki sebayanya sedang mengobati wajah dengan tanaman yang sudah dihancurkan.


“Kamu,” kaget Kers melihat rupanya.


Anak laki-laki itu hanya diam memperhatikan. Sampai akhirnya dirinya duduk kembali di dekat pohon dan mengolesi wajahnya dengan obat buatannya.


Tentunya sambil disaksikan Hydragel Kers yang perlahan mendekat.


“Apa kamu murid di sini? Apa yang terjadi pada wajahmu?”


Tak ada jawaban. Tangannya terus bergerak mengusap lembut wajah rusaknya. Dihiasi rintihan pelan saat melakukan itu semua.


Tanpa keraguan Kers pun menyentuh obat yang ada di atas batu di depannya.


“Ini,” gumamnya sambil memperhatikan apa yang ada di tangannya. “Obat ini untuk luka ringan, bukan untuk wajah rusakmu. Kenapa tidak diobati para guru saja? Para elftraz (penyembuh) pasti bisa menanganinya dengan mudah.”


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya anak itu tiba-tiba.


“Pipis.”


“Pipis?! Kamu ingin pipis di sini?!”


“Tentu saja. Memangnya mau di mana lagi?” balasnya dengan santai.


Anak berwajah rusak itu pun melirik sekelilingnya. Dia seperti bersikap waspada dan Kers cuma mengernyitkan wajah bingung menatapnya.


“Lebih baik kamu segera pergi dari sini.”


“Kenapa?”


“Tidak ada. Tapi menurutku, lebih baik kamu pergi saja dari sini dan jangan datangi lagi danau ini. Itu pun kalau kamu ingin selamat saat kembali ke rumahmu.”


Tapi, pernyataan laki-laki di depannya justru semakin membuat Kers penasaran jadinya. Tanpa keraguan pun ia duduk di dekatnya dan menonton hamparan pemandangan danau di hadapan mereka.


“Hei! Kamu tidak dengar aku? Lebih baik kamu segera pergi dari sini.”


“Namaku, Kers. Namamu siapa?” ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Suara helaan napas pelan pun berkumandang dari lawan bicaranya. Jujur ia agak jengah karena perkataannya diabaikan bocah hydra.


“Thertera. Thertera Aszeria.”


“Wah, nama yang bagus,” pujinya tanpa basa-basi. “Jadi, apa yang terjadi pada wajahmu?” Rupa tertunduk pun ditorehkan Thertera sebagai jawabannya. Tampaknya ia enggan menjelaskan kejadian yang telah menimpanya. “Ingin kubantu untuk memberitahu para guru agar kamu diobati?”


“Jangan!” panik Thertera mendengarnya.


“Kenapa?”


“Aku bukan murid di sini. Dan aku pasti akan semakin menderita kalau mereka tahu apa yang terjadi.”


“Bukan murid? Terus kamu siapa?”


Kebungkaman pun sejenak menderanya. Beberapa saat kemudian, mau tidak mau Thertera terpaksa menceritakan siapa dirinya.

__ADS_1


Dan itu membuat Hydragel Kers melongo mendengar kisahnya.


“Apa-apaan itu? Mereka bajingan.”


Sang pencerita tertunduk sambil mata berkaca-kaca. Jujur mengungkit kembali apa saja yang sudah menimpanya jelas-jelas menyakitkan baginya.


Terlebih lagi, sakit di wajah begitu menghantam hari-harinya. Dia bersembunyi dari tuannya agar tidak lagi dirundung mereka.


Karena putra Tetua sekaligus teman-temannya, begitu suka menyiksanya akibat bosan yang dirasakan selama di Hadesia.


“Tapi, ini sudah sangat keterlaluan. Bahkan jika kamu cuma pesuruh, tapi kamu tetap berada di naungan guru-guru Hadesia. Lebih baik katakan yang sebenarnya sehingga luka di wajahmu juga bisa disembuhkan mereka.”


“Apa memang benar begitu?”


“Apa maksudmu?”


Thertera pun menatap anak di sebelahnya dan melontarkan kalimat tak terduga.


Tidak bersuara. Aza Ergo mengikuti langkah Betsheba Voskha tanpa melirihkan apa-apa. Dia setuju pergi bersamanya menuju Hadesia.


Karena bagaimanapun juga, pak tua ini punya pekerjaan di sana yang harus diselesaikannya.


Mau tak mau, agar putra Maximus tidak kesepian dirinya juga harus dibawa. Akibat ulah Laravell yang telah pergi meninggalkannya.


“Apakah kamu lelah?”


Aza menggeleng. Wajahnya begitu menyedihkan. Mata panda yang tampak parah disertai sendu di wajah melukiskan penampakannya.


Hidupnya seperti tak ada artinya lagi baginya. Tapi satu hal yang pasti, dia tidak boleh mati sebelum bertemu dengan kakaknya.


Pujian bahkan tak henti-hentinya dilontarkan untuknya. Tapi nyatanya itu tidak ada artinya bagi sang anak yang di dera kehilangan.


Sampai akhirnya, langkahnya pun tiba di kawasan hampir mendekati Hadesia.


“Ayo kita beristirahat di sini.”


Aza cuma mengangguk. Walau dirinya bertanya-tanya kenapa pak tua itu tak melanjutkan perjalanan mengingat tujuannya sudah ada di depan mata, tapi dirinya memilih diam saja.


Ikut membantu mencarikan ikan di pinggir sungai sebagai pengganjal perut masing-masingnya.


“Apa aku boleh menanyakan sesuatu?”


“Silakan.”


“Setelah sampai di Hadesia, apa yang harus aku lakukan?”


Betsheba pun terdiam. Tampak ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. “Sejujurnya, aku ada pekerjaan rahasia di sana. Tapi, mungkin saja itu membutuhkan bantuanmu.”


“Benarkah?”


“Ya.”


“Jadi, bantuan seperti apa itu?”

__ADS_1


“Apa kamu bersedia menjadi salah satu murid di sana?”


“Murid?”


“Ya.” Dan pak tua itu pun menyodorkan ikan bakar padanya.


 Aza mengambilnya namun sorot matanya tak beranjak dari Tetua gyges yang ikut meliriknya.


“Kenapa harus menjadi murid?”


“Karena kamu akan menjadi mataku saat aku menyelidiki semua yang ada. Bagaimanapun juga, tempat itu bukanlah sekadar pelatihan biasa. Tapi,” lanjutannya pun tertahan jeda. Entah kenapa pak tua itu tampak kesulitan mengatakannya.


“Tapi apa?”


Beberapa detik kemudian, “mungkin saja tempat itu merupakan lokasi percobaan terlarang.”


Aza terkesiap. Sensasi aneh langsung bergemuruh di dada, entah kenapa istilah percobaan terlarang rasanya sangat tidak asing baginya.


“Apa mungkin percobaan keabadian?”


Betsheba tersentak mendengarnya. “Kamu—”


Tapi justru tawa pelan yang berkumandang di bibir Aza Ergo. Entah kenapa dia bersikap seperti itu. Ekspresinya sangat aneh untuk ukuran anak seumuran dirinya.


“Baiklah.”


“Kamu setuju?”


“Ya. Aku akan jadi matamu di sana. Tapi kalau seandainya terjadi sesuatu jangan salahkan aku. Karena aku hanya melindungi diriku. Setuju?”


Perlahan tangan Betsheba pun mengelus lembut kepalanya. “Tenang saja. Takkan terjadi apa pun padamu. Karena aku akan menjagamu,” lirih pak tua itu sambil memamerkan senyum pada sosok yang sudah seperti cucunya.


Akhirnya, esok harinya mereka berdua memasuki kawasan Hadesia.


“Apa pun yang terjadi, jangan sampai mereka tahu siapa dirimu sebenarnya. Mengerti?”


Aza mengangguk. Dalam langkahnya, sorot matanya menangkap rupa-rupa para murid yang tampak beristirahat. Bisik-bisik berkumandang di antara mereka dan terdengar jelas olehnya.


Kalau anak-anak itu sedang membicarakan dirinya dan juga pak tua.


“Sepertinya ada murid baru,” kekeh Pangeran pertama hydra melihatnya dari kejauhan. 


Sampai akhirnya, sambutan hangat dari para guru besar Hadesia pun memenuhi suasana para pendatang itu.


Aza pun tersenyum ke arah mereka.


“Jadi, namamu Azkandia ya? Nama yang menarik sesuai penampilanmu, Nak,” puji Remus Eterno.


Putra kedua Maximus itu hanya mengangguk menanggapinya. Nama dusta yang dilontarkan Betsheba saat perkenalan dengan pihak Hadesia. Bagaimanapun juga ini demi kemulusan rencana mereka.


“Jadi dia keturunan empusa? Siapa orang tuanya?”


“Aku lupa nama orang tuanya. Tapi mereka pedagang di Lagarise dan sudah meninggal.”

__ADS_1


“Begitu ya? Sayang sekali,” Remus menatap lekat anak kecil itu. Diliriknya dari atas ke bawah, sambil mengibarkan senyum disentuhnya wajah Aza Ergo. “Orang tuamu pasti bangga jika tahu anaknya menjadi murid di tanah ini.”


__ADS_2