Death Game

Death Game
Ketahuan


__ADS_3

Seketika salah satu kepala ular pun muncul dan menyemburkan lahar panas dari dalam mulutnya sebagai sambutan atas kedatangan Sidag. Membuat wanita itu terpaksa terpukul mundur sambil mengeluarkan rantai berduri lalu melemparnya ke arah pepohonan tinggi agar serangan tersebut tidak mengenainya.


“Wah ... wah, lihatlah bangsawan siren yang cantik ini. Tadi dia ingin menyerangku dan sekarang lari lagi. Di mana kehormatanmu? Sidag,” Aza Ergo pun terkekeh.


Tentu saja hal itu mengundang emosi murka wanita berambut pixie cut tersebut.


“Gilles,” Cobra pun membantunya. Sungguh ia merasa iba melihat kondisi rekannya. “Aza Ergo!”


“Jangan menatapku seperti itu, sialan. Gara-gara kalian aku gagal memotong kakinya. Tapi tenang saja, anak-anakku akan puas jika bisa memakan kepalamu,” ia pun terkekeh pelan.


“Aku akan membunuhmu!” hardik Sidag sambil mengepalkan tangan.


“Dasar arogan. Selalu saja mengatakan hal yang tidak mungkin. Jangan hanya berkoar, tapi buktikan,” Aza pun mengedarkan pandangannya lalu saling melirik dengan salah satu mata ular yang ada di sampingnya.


Sontak saja tiga kepala yang tadinya menyerang Gilles seperti menari di udara menghampiri musuh-musuhnya.


“Cepat bawa Gilles pergi!” perintah Sidag pada Cobra. Dan hal tersebut hanya dibalas dengan anggukkan oleh laki-laki itu. Gilles sudah kembali pada wujudnya yang semula. Pertarungan dengan Aza Ergo benar-benar di luar prediksinya.


Terlebih orang gila itu sudah membunuh Ahool dan Aquila entah bagaimana nasibnya ia pun tidak tahu.


“Sekarang aku yakin, bukan hanya kalian yang ada di sini. Kawasan terlarang dan juga kuil Dewa Susanoo. Apa yang kalian inginkan di sini?”


“Apa pun itu, bukan urusanmu Aza!” rantai berduri itu pun melesat maju sesuai tarian yang dilakukan Sidag. Begitu lihai gerakannya sampai-sampai melewati ular-ular sang pemuda.


Aza pun mendecih dibuatnya lalu memunculkan bola magma untuk melindunginya.


“Jangan meremehkanku brengsek!” pekik wanita itu menatap kemampuan di depannya. Dan akhirnya, rantai tersebut berhasil menembus bola magma yang tadi melindungi Aza. “Mati kau! Kau pikir, rantaiku ini apa? Jangan samakan senjataku dengan milik para assandia (petarung) lainnya!”


Tawa pelan lalu berkumandang di bibirnya. Senjata tersebut pun disentak bersamaan dengan dirinya yang melompat karena salah satu kepala ular menyerangnya.


Sekarang, bola magma yang menjadi pelindung pun pecah dan menampilkan isi dalamnya.


Sidag tersentak. Sesuatu baru saja menusuk kesadarannya. Sosok Aza Ergo, tak terlihat lagi di depan mata. Bersamaan dengan lunturnya ular besar itu lalu menggenangi area dengan magma.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal aku yakin kalau Aza—” netranya mengedarkan pandangan ke sekitar. “Jangan-jangan ... sial!” umpatnya akhirnya.


Dan di area gerbang masuk kuil Dewa Susanoo, empat orang pria beragam usia terlihat melukis mantra mengudara dengan bulu merak. Masih mencoba, mencocokkan bahasa kuno dalam gulungan yang mereka lihat. Berharap gerbang akan terbuka dan mereka bisa memasukinya.


Bukankah sangat menyedihkan setelah perjuangan dan usaha mereka selama ini namun malah menghasilkan kegagalan? Terlebih, posisi orang-orang tersebut juga sudah berada di tiang gantungan.

__ADS_1


Karena Aza Ergo sudah datang dan akan membuat sosok-sosok itu ketahuan di daratan Guide.


“Tetua!” pekik Cobra tiba-tiba menyentak mereka.


“Kau— dan Gilles?” Tetua itu tak percaya dengan apa yang terjadi. “Lanjutkan mantranya!” perintahnya pada yang lain. Dirinya lalu berlari menghampiri Cobra serta bangsawan dari bangsa siren itu. “Ini, bagaimana bisa?”


“Aza, dia yang melakukannya,” jelas laki-laki berkulit hitam di depannya.


“Mana Sidag?”


Cobra terdiam tiba-tiba. “Dia memintaku pergi dengan Gilles. Aku tidak punya pilihan lain, bagaimanapun kita tak bisa kehilangannya! Dan aku percaya kalau Sidag pasti akan baik-baik saja.”


Tetua itu hanya bisa mengetatkan rahangnya karena kalimat Cobra. Sampai akhirnya, suara tak terduga bersenandung di antara mereka dan menyentak jantung masing-masingnya.


“Wah ... wah ... lihatlah ini. Bukankah semuanya adalah wajah-wajah yang kukenal?”


“A-Aza Ergo?” Cobra terbelalak melihat kehadirannya. “K-kau, bagaimana bisa?! Mana Sidag?!”


Akan tetapi, hanya senyuman miring yang dipamerkan petinggi empusa. “Apa yang kalian lukis di depan gerbang itu?”


Orang-orang yang sibuk menuliskan mantra pun terkesiap dan tangannya tanpa sadar berhenti bergerak.


“Aku juga tidak mengira akan melihat pemandangan seperti ini. Jadi, apa yang dilakukan pak tua sepertimu di sini? Kau masih belum pikun bukan? Jelas-jelas kawasan terlarang bukan tempat yang bisa kalian datangi.”


Tapi, justru tawa yang disemburkan bibir keriput itu. Entah apa yang lucu sampai Aza Ergo hanya menatap aneh padanya. “Lalu, kenapa kau datang kemari?” pertanyaan singkat tersebut pun di balikkan pada Aza. Nyatanya, posisi mereka sama yaitu tidak boleh menginjakkan kaki di kawasan ini.


Hanya para pemimpin bangsa yang diizinkan masuk ke dalamnya. Dan kunci berupa mantra cuma diketahui oleh mereka. Sebuah warisan para Dewa serta leluhur, dituliskan dalam kitab kuno namun bisa dibuka melalui pengorbanan darah serta berujung kematian.


Entah apa yang ada di dalam kawasan terlarang, sampai-sampai menjadi area tak tersentuh selama ini.


Tapi sekarang semua sudah berbeda. Mereka menginjakkan kaki sambil membawa tujuan masing-masing.


“Aza Ergo!” pekik Sidag yang tiba-tiba muncul di atasnya. Petinggi empusa pun langsung menghindar dan mengayunkan tangan sehingga magma bermunculan dari tanah.


“Menghindar!” Tetua itu memperingatkan mereka.


Salah satu yang berdiri di depan gerbang pun mengaktifkan dinding berwarna keemasan sebagai seorang tankzeas (pelindung).


“Aza!” Doxia dan yang lainnya pun juga bermunculan di sana.

__ADS_1


“Apa-apaan ini? Jadi, ada orang lain juga yang masuk ke sini?!” geram Sidag melihat kedatangan mereka. Tapi, perlahan matanya pun terbuka lebar saat menyaksikan sosok di belakang Doxia.


“Aquila!” teriaknya.


Petinggi empusa itu dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat pukulan Reve. Namun, kondisi tangannya yang mirip dengan Gilles benar-benar membuatnya murka. Sambil menggertakkan gigi dan tekanan emosi berterbangan di dirinya.


“Oi, sepertinya kita ada di tempat yang salah,” bisik Rexcel tiba-tiba. Sungguh situasi ini menekan untuk mereka.


“Turunkan dia,” perintah Aza pada Doxia. Pria itu pun mengangguk dan menurunkan Aquila Ganymede dengan hati-hati.


“Aza Ergo, kau—” tatap tajam Tetua. Namun, hanya tampang meremehkan yang dipancarkan sang petinggi muda. Entah apa alasannya, namun pedang magma tiba-tiba muncul di tangannya.


“Mau apa kau?” Tetua itu menatap penasaran pada langkah Aza yang mendekati Aquila.


“Menurutmu?” dia pun menyeringai. Perlahan, tangannya terangkat tepat di atas tubuh petinggi wanita tersebut.


“Aza!” teriak keras Cobra.


Tapi terlambat. Tanpa belas kasihan di wajahnya, dihujamkannya pedang magma ke arah kaki kanan Aquila, sehingga putus tepat di depan mata mereka. Riz dan Toz terdiam. Jantung keduanya berdetak tak normal melihat kekejaman di depan mata.


“Kau!” marah Sidag sambil mengepalkan tangannya. Hampir saja. Hampir saja dirinya maju menerjang Aza kalau tak dihentikan Tetua itu. Sungguh sang petinggi muda tiada ampun dalam memamerkan kekejiannya.


“Benar juga, aku punya hadiah untuk kalian,” ia lalu terkekeh. Di punggungnya, muncul kembali salah satu kepala ular yang tadi bersamanya. Mendesis di antara mereka, dan membuka mulut lebar-lebar seperti ingin memuntahkan isi perutnya.


Hening seketika.


Apa yang tampak di depan mata adalah kebaikan sang pemuda. Tubuh dari sosok-sosok pembantaian bertaburan tepat di depan Aza.


Tapi, dua di antara korban-korbannya adalah yang paling tak di sangka-sangka. Badan terbagi menjadi dua, dari satu-satunya elftraz (penyembuh) dengan usia paruh baya. Serta, kepala Ahool sang scodeaz (pengendali) dari bangsa empusa, dalam posisi menghadap ke arah rekan-rekannya.


Perlahan namun pasti, perasaan mereka pun serasa dirobek saat melihat kenyataan di depan mata.


Bajingan bernama Aza Ergo, ternyata memang datang untuk membantai mereka semua.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2