Death Game

Death Game
Kematian Laravell


__ADS_3

Dan sekarang semua murid berada di masing-masing asramanya.


“Kalian berdua habis dari mana?” tanya Trempusa.


Revtel tampak gugup menjawabnya, sementara Kers melirik tenang ke arah Aza. Di mana bocah itu duduk di pinggir jendela.


“Mana kakakku?” tanya Revtel pada penghuni di sana.


Trempusa terlihat bingung sementara Blerda sibuk membaca bukunya. “Mm ... kakakmu dihajar olehnya dan sampai sekarang belum kembali ke sini,” jelas Orion.


Sontak saja Revtel tersentak. “Dihajar olehnya?!” sambil menunjuk Aza. “Kenapa?”


“Kudengar dia menantangnya dan itu termasuk Pangeran kedua berserta teman-teman mereka.”


Tak habis pikir. Walau mereka bersaudara, tapi sejujurnya Revtel merasa sedikit lega. Mengingat apa yang sudah dilakukan sang kakak kepadanya. Tindakan keji yang hampir merenggut nyawanya.


Dan sosoknya pun melirik Kers dengan perasaan berkecamuk di dada. Rasanya hatinya menghangat melihat dirinya baik-baik saja.


“Aza.”


Terkesiap.


Azkandia palsu itu langsung bangkit dari duduknya akibat panggilan barusan. Dipegangnya kepala karena merasa berhalusinasi sekarang.


“Azkandia, ada apa?” tanya Trempusa. Tapi sosok itu masih diam dan memilih pergi dari sana.


“Hei! Kau mau ke mana?” cegat Orion.


Sang petinggi mengabaikannya. Berlalu dari sana sambil disaksikan beberapa pasang mata.


“Apa yang terjadi padanya?” Revtel menyuarakan kebingungannya.


“Entahlah. Apa pun itu, kita harus membawanya kembali. Mengingat para guru melarang semua murid untuk berkeliaran sekarang,” lirih Beltelgeuse Orion.


“Tunggu! Aku ikut denganmu,” sahut Trempusa dan mengekori sosok dari gyges itu.


Sekarang, hanya tersisa Blerda, Revtel, serta Kers di dalam sana.


“Apa kita juga harus mengikutinya?” tanya bocah hydra. Sang kakak sepupu tampak ragu membalasnya. Tapi anak perempuan yang bersama mereka, menutup buku bacaannya sambil melewati keduanya. “Kamu mau ke mana?” Entah kenapa cuma senyum yang dipancarkan sosok itu. “Ada apa dengannya?” bingung Kers.


Sementara Aza, dirinya terdiam menyaksikan pemandangan di depannya. Di mana seekor gagak terbang cepat ke arahnya.


Sontak saja ia angkat tangan untuk melindungi wajahnya, tapi begitu menyentuh kepala hewan itu pun pecah menjadi serbuk merah.


Bagai dihantam dengan keras. Tanpa sadar matanya langsung memerah dan berkaca-kaca. Tak ada keraguan di hatinya, kakinya pun berlari dengan tergesa-gesa menuju arah tak terduga.


Tapi, siapa yang bisa menyangka. Kalau seorang guru besar menyaksikan dirinya. Dengan tatapan penuh selidik, ia buka jendela.


Melompat dari sana untuk mengejar salah satu murid yang aneh perilakunya. Bagaimanapun juga, hari itu para peserta memang tak diizinkan untuk keluar dari asrama.


Dengan napas terengah-engah, bahkan ranting pepohonan tak sengaja menggores pipinya, tapi diabaikan Aza rasa sakitnya.


Baginya yang terpenting hanya satu. Sosok pengirim gagak pesan tadinya.


Walau ia terkesiap saat melewati sebuah lingkaran sihir aneh yang dipagari kayu-kayu dengan hiasan kepala tertancap di atasnya, tapi itu tak bisa mengusik perasaannya.


Aza Axadion Ergo pun tiba ditempat yang diinginkannya.


“Kau—” Senyum pun terpancar dari sosok di depan mata. “Laravell!” teriak Aza berlari ke arahnya. Tapi, justru sebuah pukulan dilayangkan ke pipi saudaranya. Sebagai balasan, untuk rentangan tangan yang dipertontonkan sang kakak kepadanya. “Kenapa? Kenapa kau melakukan itu padaku?! Padahal aku sangat-sangat membutuhkanmu!” marahnya sambil beruraian air mata. “Kenapa? Padahal hanya kamu yang aku miliki, Kakak.”


Laravell pun terdiam mendengarnya. Bahkan rasa sakit akibat pukulan dari adiknya langsung sirna akan sendu di wajah Aza.


“Maafkan aku, Aza.”


“Aza?” suara itu tiba-tiba menyentak keduanya. Pelukan yang ditorehkan Laravell pada saudaranya, langsung terlepas bersamaan dengan kehadiran tak terduga.


“Anda!”


“Aza, apa itu berarti kau yang bernama Aza Ergo?” raut wajah Remus Eterno langsung berubah.


Seketika Laravell menarik tangan adiknya agar berdiri di belakang. Sikapnya jelas waspada pada pak tua yang datang.


“Rambut merah, tak diragukan lagi pasti kau penyusup itu. Dan dia, kau Aza Ergo? Bukan Azkandia? Apa itu berarti selama ini kau menipu kami?!” tanya sang guru besar dengan suara menggelegar pada murid kecilnya.


Sang petinggi muda pun langsung meneguk ludah kasar mendengarnya. Terlebih tekanan yang diberikan membuat bulu kuduknya berdiri sekarang.


“Tuan Remus!” teriak seseorang tiba-tiba.


“Apa yang terjadi?” kaget Ireas Masamune. Dan bersamanya telah hadir Quisea Sirena yang tadi bersuara. “Azkandia?”


“Dia penyusup! Habisi mereka berdua!” perintah Remus Eterno tiba-tiba. Sontak saja hal itu mengejutkan kedua pendatang dan membuat mereka berekspresi tak terduga.

__ADS_1


“Apa anda yakin?” Ireas menatap tak percaya.


“Dialah Aza Ergo, dia sudah menipu kita!”


“Kau!” geram Quisea. Sensasi angin langsung berputar di sekitar tubuhnya bak tornado. Bahkan, wajahnya berubah seperti siluman beruang. Dengan liur yang berjatuhan dari dalam mulutnya, dia mengaum keras dan menyerang.


Aza Ergo dan Laravell pun langsung melompat menghindarinya.


“Ireas! Kenapa kau diam saja?!”


Bentakan dari Remus pun menyadarkan dirinya. Dan perisai emas dilepaskan untuk menahan jangkauan pelarian dua anak muda di depannya.


“Gawat!” pekik Laravell. “Ayo Aza! Lari!” ajaknya lalu menarik lengan adiknya.


“Takkan kubiarkan!”


Quisea Sirena pun memburunya dengan buas. Bahkan pepohonan langsung hancur saat bertabrakan dengan dirinya. Level kekuatan fisiknya benar-benar di luar nalar dua Ergo jika melihat kehebatannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?! Pasti gara-gara Kakak aku sampai ketahuan seperti ini!”


“Pikirkan nanti! Sekarang fokus saja lari!” suruh Laravell.


Tapi, siapa yang bisa menyangka kalau Belze Brask muncul tiba-tiba. “Kita bertemu lagi, bocah,” seringainya.


Langkah keduanya langsung terhenti akibat kedatangannya yang menghalangi jalan mereka. “Dia—” gumam Aza sambil menyemburkan napas terengah-engah.


“Belze!” teriak Quisea. Tapi, kehadirannya juga bersamaan dengan ayunan cakarnya. Tiba-tiba bunyi lumayan keras memekik di sana. Di mana cakar sang guru besar menabrak pedang cahaya Laravell di depan mata.


“Kakak!”


“Cih! Jadi kau Aza Ergo? Kau menipu kami?!” kesal Belze melihatnya.


Sekarang sepertinya neraka untuk kedua bersaudara. Karena Remus Eterno serta Ireas Masamune sudah tiba untuk mengepungnya.


“Nedierma! (Menyebar!)”


Dan duri-duri magma yang tiba-tiba mengitari Aza serta kakaknya pun bergerak cepat bak ular menggila. Menyerang para guru besar, sehingga mereka terkejut serta tak percaya. Saat melihat kemampuan magma menari di depannya.


“Jadi memang kau yang membunuh mereka?!” Quisea benar-benar tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. “Dasar bocah keparat!” dengan menyilangkan tangan di dada dengan cepat, ayunan kasar pun langsung dihempaskan pada keduanya.


Laravell yang tersentak pun tanpa keraguan memblokir serangannya. Sampai-sampai ia hampir saja jatuh jika tak ditahan adiknya.


“Mereka sangat gila!” keluh Aza. Tapi, ia terdiam saat melihat jejak merah menempel di telapak tangannya. Di mana semua terjadi karena dirinya menyentuh punggung kakaknya. “Darah?” kagetnya.


“Mati kau!” serangan Belze berhasil menghancurkan serangan magma sang petinggi muda.


“Awas!” pekik Laravell berusaha melindunginya. Tapi siapa sangka, serangan tanaman Belze justru melengahkan keduanya. Karena Quisea muncul dengan gagahnya dan menusuk perut putra Maximus akibat pengalihan dari temannya.


“K-Kakak?”


“Mati kau!” seringai wanita itu hendak melancarkan serangan kedua.


“Takkan kubiarkan!” dan delapan ekor magma pun bermunculan untuk menyerang wanita itu. Membuat dirinya mendecih karena gagal membunuh Laravell yang berhasil dilukainya. “Kakak!” Aza terisak melihatnya kesakitan. “Nigel, el rugit de l’espasa plou! (Muncullah, raungan hujan pedang!)”


Tiba-tiba langit bergemuruh dan mengusik pandangan mereka. Bahkan bukan hanya penyerang kedua putra Maximus, tapi juga sosok-sosok di asrama. Orang-orang itu melihat langsung awan dihiasi petir di atas sana dan menghujani area naungannya.


Memancarkan tetesan merah menyala untuk menghancurkan lokasi di bawahnya.


“Sial!” pekik Belze tiba-tiba. Karena tanpa disadari mereka lengah akibat jurus di atas kepala, sehingga Aza dan Laravell tak tampak lagi di mata.


“Ireas!”


Teriakan dari Remus Eterno membuat sang guru besar itu langsung membacakan mantra, untuk memunculkan perisai emas yang akan melindungi mereka.


“Kakak.”


“Aku baik-baik saja! Bagaimanapun kita harus pergi dari sini!” perintah Laravell kepadanya. Dengan membopong sang kakak, Aza berusaha keras membawanya kabur dari sana.


Tak peduli apa pun yang terjadi, ini akan menjadi kebaikan bagi mereka. Mengingat sudah tak ada lagi masa depan Aza di Hadesia.


“Jangan pikir kau bisa lari bocah!”


“Ugh!” erang kesal sang petinggi melihat kegigihan Quisea. Karena wanita menyebalkan itu berhasil menyusulnya.


Dan tanpa keraguan ekor magmanya kembali muncul untuk menyerang siluman beruang yang menggila.


Sampai akhirnya kejadian tak terduga membuat Aza serta Laravell terdiam sekarang. Bahkan Quisea juga menghentikan serangannya.


“Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi bukankah tindakanku ini benar?! Aku menyerang musuhmu, Guru! Sekarang anda bisa membuatku jadi Raja kan?!”


Dua bersaudara Ergo, melirik gugup ke arah dua pedang yang tertancap pada masing-masing dada. Karena ulah Pangeran pertama hydra itu jurus Aza menghilang seketika.

__ADS_1


Dan senyuman pun terpancar dari bibir Quisea Sirena akan kebolehan muridnya. “Kerja bagus sekarang bunuh mereka!”


“Ba—”       


 “Kau!” geram Aza sambil mengeluarkan duri magma di sekitarnya. Teriakan Pangeran pertama pun menjadi sambutan untuk kehadiran para guru besar lainnya. Mereka telah berhasil menyusul musuh-musuhnya.


“Guru!” semringah kakak Revtel karena dirinya diselamatkan Belze.


“Mereka,” gumam Ireas melihat dua sosok di depan mata.


“K-Kakak!” panik Aza karena Laravell muntah darah tiba-tiba. Dan itu disaksikan dalam diam oleh semua penonton di sekeliling mereka.


Sampai untaian menjijikan terlontar dari mulut sosok yang sudah menusuk keduanya. “Aku yang melukainya! Apakah tindakanku sudah benar?! Kalau iya aku bisa jadi Raja kan? Kalian bisa membuatku jadi Raja kan?!”


Pernyataan menjijikannya pun berhasil menimbulkan kemurkaan Aza yang mendengarnya.


“Azkandia!” teriakan itu memecah suasana. Kehadiran tiba-tiba Orion dan Trempusa, membuat keduanya terbelalak melihat kejadian di hadapan mereka.


“A-apa yang terjadi di sini?” gumam Trempusa dengan suara bergetar.


“A-Aza,” panggil Laravell sambil memeluknya tiba-tiba.


“K-Kakak?”


“Aza, a-aku,” matanya memerah dan napasnya terengah-engah.


“Kak—”


“Tetaplah hidup, apa pun yang terjadi, adikku.”


Tersentak. Aza terkesiap. Sensasi dingin seketika menggerogoti hatinya. Terlebih pelukan erat sang kakak mulai melonggar ikatannya. Dan deru napas saudaranya seolah tak terdengar lagi di telinga.


“K-kakak?” dilepaskannya pelukan itu. Tapi, tubuh menghuyung Laravell membungkam kesadarannya.


Sang kakak, jubah yang tak menutupi bagian depan tubuhnya dengan benar akhirnya memamerkan fakta sesungguhnya.


Bahwa raganya sudah berlubang dan bermandikan darah-darah segar di sana. Seketika bisikan aneh menghantam Aza.


Dengan tangan menyentuh pipi kakaknya sensasi dingin merasuk ke kulitnya. Sang kakak telah tewas di depan mata.


“Dia sudah mati?” Quisea bersuara.


“AAGH!”


Teriakan tiba-tiba sang petinggi muda pun mengejutkan semuanya. Bersamaan dengan retaknya wajahnya dan terbelahnya tanah di sekitar mereka. Terlebih energi merah bermunculan dari Aza Ergo yang memekik sekeras-kerasnya.


Sekarang matanya yang serupa bara menyala, melukiskan penampakan tak terduga. Beberapa ekor dari magma, dan besarnya di luar nalar penontonnya. Membubung tinggi ke langit-langit untuk menggemparkan semua. Dan menghujam tanah Hadesia untuk memunculkan gempa.


Burung-burung di sana bersuara ketakutan lalu terbang tak tentu arah. Tapi sayang, mereka tak bisa keluar dari tanah pelatihan.


Mengingat sekeliling tempat itu ternyata sudah dipagari dengan perisai emas yang mengurung areanya.


Mereka tak terhubung lagi dengan dunia luar sebagai gantinya.


“Cepat bunuh dia!” Remus Eterno berteriak lantang.


Tapi tak satu pun dari para guru besar yang mampu mendekati Aza. Mengingat ekor magmanya seperti punya kesadaran sendiri dalam menyerang dan melindunginya.


Bagai kiamat di depan mata.


Itulah yang dirasakan ketiga murid dengan tubuh masih berdiri ketakutan di sana. Sampai akhirnya Revtel dan Kers muncul juga karena penasaran. Namun ternyata kejadian di hadapan benar-benar di luar perkiraan.


Quisea Sirena.


Tubuhnya dililit ekor magma yang muncul tiba-tiba di tanah. Menghancurkan kulitnya, bahkan teriakannya melolong bak serigala meregang nyawa.


Dan raganya hanya tersisa tengkorak bagian kepala sebagai kenang-kenangan untuk semua penontonnya.


“I-itu,” Belze bergidik melihat kengerian muridnya. Terlebih sensasi terbakar muncul di kaki mereka.


“Dia, cepat hentikan dia!” suruh Remus mengabaikan kematian rekannya. Karena ia sadar apa yang akan terjadi selanjutnya.


Mengingat jurus Aza sudah memenuhi bawah tanah pijakan mereka. Level kemampuannya sebagai petinggi muda terlalu hebat dari bayangan mereka.


“Itu! Blerda?!” kaget Jascuer Alcendia. Dia dan beberapa guru besar yang berlari menuju lokasi pertempuran, terperangah melihat penampakan muridnya.


Di mana gadis itu duduk di atas kursi yang terbuat dari tangan Capricorn sang pelayan Dewa. Dia menonton semuanya dari atas sana dengan arogannya.


Dan beberapa ekor magma mulai bermunculan hampir di seluruh tanah Hadesia. Mengingat Aza, telah mematahkan mantra yang menyegel kemampuannya.


Sekarang dia benar-benar sudah tak bisa mengendalikan kesadarannya. Apalagi hampir seluruh tanah Hadesia ternyata berada dalam jangkauan serangannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2