
Burhan memperlambat laju mobilnya setelah berada di kawasan rumah mewah yang tak lain milik keluarga Arya, papa Lingga.
"Silahkan tuan muda!",Burhan membukakan pintu untuk tuan mudanya.
"Makasih!",ujar laki-laki tampan itu.
Burhan menunduk hormat saat Lingga melewatinya. Terdengar helaan nafas dari majikannya itu.
Supir yang sudah mengabdi sejak ia belia, lulus SMK tepatnya. Lelaki muda itu sudah sangat hafal seperti apa tuan besarnya.
Lingga berjalan perlahan menuju ke kamarnya. Suasana rumah mewah dan luas itu sudah sepi. Tanpa ragu, Lingga langsung memasuki kamarnya.
Kamar yang sudah lama sekali tak ia kunjungi. Sejak delapan tahun lalu, ia benar-benar tak kembali ke negara ini. Jangankan untuk bertemu dengan rekan lainnya, saat hari raya pun dia tak pulang. Justru kedua orang tuanya yang mendatanginya dan juga keluarga kakak sulungnya, Kak Puja.
Lingga membersihkan diri di kamarnya. Jam digitalnya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Wajar jika penghuni rumah mewah ini sudah tidur.
Ponsel Lingga sudah ada dalam genggamannya. Ingin sekali Lingga menghubungi nomor Galuh. Dia ingin memastikan apakah Galuh masih menunggunya? Lalu suara anak kecil laki-laki tadi, kenapa begitu menyita perhatian lelaki tampan itu?
Perlahan, Lingga pun memejamkan matanya. Lelah setelah hampir seharian berada di pesawat di tambah lagi turun dari pesawat, dia langsung meluncur ke kabupaten Xxx.
.
.
Galuh memasukkan kendaraan roda duanya ke dalam warung makan. Di dalam warung, memang di sediakan kamar untuk para pekerja warung. Khusus untuk pekerja perempuan, mereka tinggal bersamanya di atas.
Sedang pekerja laki-laki di lantai bawah, yang artinya berada di warung.
"Baru sampai mba Galuh?",sapa Umar, salah satu pekerja warung.
"Iya mas Umar. Tadi sebentar-sebentar istirahat hehehhe!",sahut Galuh. Meski dia lelah berkendara, tapi keramahan nya tak berubah.
"Lain kali pakai kendaraan umum aja mba, biar ngga terlalu capek?!", Usman menimpali.
"Kalo pake kendaraan umum, di sana nya aku ngga bisa pergi-pergi mas Umar, mas Usman. Masa suruh ngojek Mulu!",jawab Galuh sambil tersenyum.
Meski Usman dan Umar lebih muda dari Galuh, tapi dia tetap menghormati mereka dengan memanggil nya mas. Kedua lelaki muda itu sudah beristri.
"Aku ke atas dulu ya mas Usman, mas Umar!",pamit Galuh.
"Iya mba!",jawab Umar dan Usman. Kedua lelaki itu pun mengobrol sebelum tidur. Tapi Umar mengunci pintu warung lebih dulu.
"Mar, mba Galuh kan cantik, baik, udah gitu ramah lagi. Tapi kok masih betah sendiri aja ya?", celetuk Usman.
"Iya ya, di mata gue juga dia mah sempurna. Tapi...ya ngga tahu sih! Mungkin dia emang belum pengen berumah tangga. Namanya juga pengusaha Man!"
"Heum, iya sih! Tapi mungkin juga alasannya si ibu ya Mar. Bu Sekar kan sakit, mungkin...Mba Galuh mau konsen merawat ibunya."
''Bisa jadi. Udah lah, ngga usah bahas urusan bos!",kata Usman.
Kedua lelaki itu pun melanjutkan menonton televisi. Gaji di warung Galuh memang tak besar. Tapi mereka bisa makan sepuasnya dan ya... menyisihkan gaji mereka untuk keluarganya di kampung halaman.
Galuh memasuki kamarnya lalu membersihkan diri. Setelah itu, ia pun mengecek kamar sang ibu. Dilihatnya sang ibu sudah tertidur lelap. Kemudian gadis itu beralih ke kamar yang satunya lagi. Dimana sang adik berada.
Galuh mendekati Syam yang sudah tertidur lelap memeluk guling. Bagi Galuh, dirinya jauh merasa beruntung karena merasakan kasih sayang kedua orang tuanya saat ia masih seusia Syam. Tapi sayangnya... kehadiran Syam tak di harapkan oleh sang ibu. Hingga detik ini, ibunya masih tak mau menerima Syam sekalipun Galuh sudah mendidik sang adik dengan sangat baik.
Tangan Galuh terulur mengusap kepala Syam penuh kasih sayang. Syam sedikit terusik dengan usapan tangan itu, tapi hal itu tak membuatnya bangun dari tidur lelapnya.
Mata Galuh beralih pada ponsel jadulnya. Ponsel lama jamannya ia masih di kampung dulu. Karena terlalu lama tak mengisi pulsa, nomornya terblokir lalu mengganti nomor yang baru. Ia berharap, Lingga akan menghubungi nomor itu. Sayang nya, sampai delapan tahun berlalu suami yang ia dapatkan secara mendadak itu tak menghubunginya sama sekali.
Janji nya hanya isapan jempol belaka dan ya...Galuh terlalu berharap banyak pada sosok yang baru ia temui hari itu. Dan mungkin terdengar bodoh, Galuh masih setia dengan status nya sebagai istri siri Hans Arlingga!
Galih mengambil ponsel jadulnya. Dia mencoba menekan tombol on untuk menyalakannya. Tapi ternyata, baterainya habis. Dan akhirnya, Galuh mengisi daya baterai nya lebih dulu.
Setelah itu, ia meninggalkan kamar sang adik. Sebelumnya, ia menyempatkan diri untuk mengecup puncak kepala adiknya yang terlelap.
.
.
"Pa, Ma!"
"Kenapa Ze?",tanya Helen.
"Boleh nggak kalo ku mau beli sarapan di warung temen ku?",tanya Zea pada Glen dan Helen.
__ADS_1
"Memang teman kamu jualan sarapan apa?",tanya Glen.
"Banyak sih pa. Ada ketoprak ada nasi uduk. Pokoknya dia suka bawa menu masakan jualannya deh! Enak lho pa!",kata Zea antusias.
"Papa baru tahu lho, ada teman kamu yang jualan makanan? Papa pikir teman-teman kamu kelas menengah atas semua?", tanya Glen.
"Pa, jangan ngajarin anak kamu berpikir kaya kamu gitu lah. Siapa pun berhak lho sekolah di tempat itu!",ucap Helen.
"Huum, lagian Syam juga pintar lho Ma, Pa! Udah gitu Zea suka di minta di ajarin sama Syam. Cuma ya...dia mah pasrah aja gitu Zea isengin heheheh"
"Zea, kan mama udah bilang. Jangan suka iseng, apalagi sama orang yang udah bantuin kamu. Ngga boleh Nak!", Helen menasehati anaknya.
"Tapi Syam ngga apa-apa tuh Ma. Diem aja malahan. Ngga bales keisengan Zea ma. Itu yang bikin Zea seneng iseng ke dia."
"Zea, ngga boleh gitu nak. Kalo kamu emang mau berteman, ya berteman dengan baik. Jangan iseng apalagi nakal!", nasehat Glen.
"Iya, pa!",sahut Zea.
"Zea cuma mau dia berteman aja kaya yang lain. Mungkin dia minder, dia ngga punya papa. Udah gitu ibunya gila lagi!", celetuk Zea.
"Astaghfirullah, Zea. Jangan bicara seperti itu!", Helen sedikit menaikkan volume suaranya. Dia tak menyangka jika putrinya bisa berkata demikian.
"Maaf ma...!",kata Zea lirih. Dia cukup terkejut saat mamanya seolah sedang membentaknya.
"Bukan maksud mama bentak kamu sayang, maaf kalo kamu tersinggung!",Helen memelankan suaranya.
"Iya ma, Zea ngerti kok. Tapi boleh kan mampir ke warungnya dulu?",tanya Zea.
"Iya, boleh sayang!", kata Glen. Zea tersenyum senang saat kedua orang tuanya menuruti keinginannya.
Sebuah mobil terparkir di halaman ruko yang tak terlalu luas. Di lihat dari luar, warung itu nampak ramai.
"Mama ikut turun apa Zea aja?",tanya Zea.
"Zea sama papa aja ya?!", tolak Helen. Glen pun tak memaksa nya, Glen dan Zea turun dari mobil menuju dalam warung.
"Selamat pagi, silahkan di pilih menu nya pak, adik kecil!",sapa Sari dengan ramah. Glen dan Zea pun memilih makanannya untuk di bungkus.
"Kak!",panggil Zea pada Sari.
"Syam, udah berangkat belum ya?",tanya Zea.
"Oh, temen adek ya? Belum, dek Syam masih di atas. Paling bentar lagi turun, nanti di antar sama kakaknya ke sekolah",jelas Sari.
Zea hanya mengangguk. Lalu setelah itu ia memilih menu yang lain. Sedang Glen sendiri hanya mengamati sang anak yang sibuk memilih menu sampai Zea memilih untuk membeli ketoprak. Itu artinya mereka harus menunggu beberapa saat untuk memproses makanan tersebut.
Sambil menunggu makanan, Zea berjalan-jalan sambil melihat beberapa makanan yang cukup menggugah selera.
Berniat dengan Zea, Glen duduk di dekat tangga penghubung rumah dan warung. Samar-samar ia melihat sosok anak kecil dengan seorang perempuan yang baru turun dari lantai atas.
"Kak, semalam kakak pulang dari kab.Xxx jam berapa? Kok Syam ngga tahu?",tanya Syam pada Galuh.
Mendengar kab.xxx di sebut, Glen pun menoleh pada keduanya yang tampak sangat akrab.
"Jam berapa ya? Kakak lupa. Pokok nya mah sampe rumah, kamu sama ibu udah pada bobo!",jawab Galuh sambil menggandeng Syam.
"Kak!", Syam menarik tangan kakaknya.
"Apa Syam?"
"Lusa ada acara di sekolah, acaranya menghadirkan orang tua kak. Ibu atau ayahnya. Tapi Syam kan....ngga punya!"
Syam menggantung kalimatnya. Lalu Galuh berjongkok di depan adiknya.
"Syam masih punya Ibu, punya kak Galuh, ada mba Sari dan yang lain. Jangan sedih dong!"
Glen yang mendengar nama Galuh pun seperti teringat dengan nama tersebut yang ada di masa lalunya. Tapi siapa??? Apa gadis yang sama dengan anak Sekar???
Glen menoleh ke arah kakak beradik yang terlihat sangat akrab. Glen mengamati keduanya. Pria itu menatap seksama gadis yang di panggil 'kak Galuh' oleh Syam, teman dari anaknya.
Bagi Glen, wajah dan nama Galuh seperti tak asing. Wajah cantik itu begitu mirip dengan.... Sekar!
Mata Glen membulat sempurna saat ingatannya terkumpul. Dia benar-benar melihat sosok Galuh putri Sekar sekarang. Meski kian dewasa, Galuh masih tetap terlihat imut seperti dulu. Hanya kacamata dan hijabnya yang membuat dia sedikit dewasa.
Lalu mata Glen tertuju pada Syam. Wajah Syam mengingatkan pada masa kecilnya. Wajah Syam begitu mirip dengannya. Apakah....???
__ADS_1
"Hai Syam!",sapa Zea pada Syam yang masih berada di dekat Glen dan juga Galuh.
Syam tak menyahut. Dia hanya mengangguk tipis dan seolah tak menghiraukan Zea. Glen benar-benar merasa Syam adalah fotocopy dirinya.
"Adek, di sapa sama temen kok diam aja?",tanya Galuh. Syam tak menyahut ucapan kakaknya. Glen merasa heran, sebelum Zea datang, Syam tampak berbicara akrab dengan kakaknya. Tapi sekarang? Dia seolah enggan membuka mulutnya.
"Maaf ya dek. Syam memang pendiam begini!",kata Galuh.
''Iya kak. Dia emang begitu. Padahal aku sering jahil lho sama Syam!",sahut Zea tapi setelah itu ia menutup mulutnya sendiri. Galuh pun tersenyum. Berbeda dengan Syam masih acuh.
"Ya udah ayok kita berangkat ke sekolah. Nanti telat masuknya lho!",ajak Galuh pada Syam. Syam pun menurut.
"Nama kamu siapa dek?",tanya Galuh pada Zea.
"Zea kak!",jawab Zea riang.
"Oh, nama yang cantik kaya anaknya. Cantik!", Galuh mengusap kepala Zea.
"Makasih kak!"
"Gea ke sini sama siapa? Lagi beli sarapan?",tanya Galuh. Zea mengangguk.
"Sama papa, itu!", Zea menunjuk papanya yang sedang menatap tiga anak beda generasi.
Mata Galuh dan Glen saling bersirobok. Glen tampak salah tingkah. Tapi tidak dengan Galuh yang melempar senyum sedikit tapi setelah itu ia memutuskan pandangannya.
"Zea juga berangkat sama Papa ya? Udah siang ini!",kata Galuh.
"Iya kak! Dah Syam, sampai ketemu di sekolah!",kata Zea riang sambil berlalu menuju papanya. Sepasang papa dan anak itu pun menuju ke mobil. Tapi sampai di mobil, ternyata Helen tidak ada.
Ternyata Helen baru saja menumpang toilet di belakang.
"Maaf, mama dari toilet tadi!",kata Helen.
"Iya ma. Yok jalan!",ajak Glen.
"Tunggu pa!",Zea mencegah papanya untuk menyalakan mobilnya.
"Kenapa sayang? Nanti telat lho!",kata Helen.
"Itu ma, pa! Kayanya motor kak Galuh ngga bisa di pake. Tuh lihat! Mereka belum jalan! Gimana kalo kita aja Syam sekalian pa ma, Ma?",tanya Zea.
"Oh, ya udah ajak aja Ze! Kalo dia mau tapi ya....!",kata Helen. Zea pun langsung turun dari mobilnya. Begitu juga dengan Helen. Tapi tidak dengan Glen. Dia masih berada di balik kemudi.
Dari kaca mobil, Glen melihat anak dan istrinya membujuk Syam agar mau ikut dengannya. Awalnya, Syam tak mau. Tapi karena motor kakaknya memang tak bisa di pakai akhirnya Syam pun setuju untuk ikut Zea. Galuh tampak tak enak hati terlihat dari wajahnya yang sesekali tersenyum terpaksa. Tapi dasar Zea, dia selalu saja mendapatkan apa yang dia inginkan.
Helen kembali duduk di sebelah Glen. Sedang Syam duduk di belakang bersama Zea. Zea berceloteh sepanjang jalan tapi Syam sepertinya tak ingin menggubrisnya sama sekali.
Glen curi-curi pandang dari kaca spion untuk melihat Syam. Tak lama kemudian, Syam dan Zea sampai ke sekolah. Sedang Glen dan Helen langsung menuju ke kantor mereka.
"Pa!"
"Iya ma?"
"Mama kok liat muka Syam kaya ngga asing gitu ya? Kaya pernah liat di mana gitu!"
Tiba-tiba saja Glen tersedak ludahnya.
"Masa sih?",Glen mencoba menetralisir keterkejutannya. Dia sendiri melihat sosok Syam sama persis seperti dirinya saat kecil. Tapi tidak mungkin ia mengatakan hal itu pada istrinya.
"Heum pa. Kaya sering liat. Tapi siapa gitu!",kata Helen.
"Orang mirip mah banyak Ma."
"Iya sih Pa. Oh iya, tadi ngga sengaja aku liat perempuan duduk di kursi roda di teras lantai atas waktu mama numpang ke toilet."
"Udah lah Ma...", Glen mencoba mengalihkan perhatian istrinya agar tak membahas Syam dan yang berhubungan dengannya.
"Mama rasa, itu mamanya Syam deh. Jahat banget ya yang bilang mamanya Syam gila. Padahal tadi mama liat dia masih muda kok, masih cantik. Cuma ya itu, pandangannya kosong!"
Jantung Glen seperti sedang maraton. Apakah dia Sekar???
"Ma, udah ya ngga usah bahas mereka. Oke??", Glen kembali mengalihkan perhatian istrinya. Lalu ia membahas tentang meeting mereka nanti siang. Setidaknya, istrinya akan berhenti membicarakan tentang Syam.
Dalam hati Glen, dia akan mencari tahu. Apakah Sekar, Galuh dan Syam ada kaitannya dengan masa lalu nya dulu! Melihat usia Syam ,entah kenapa Glen semakin yakin jika....
__ADS_1
Glen akan mengerahkan anak buahnya tanpa sepengetahuan Helen untuk mencari tahu tentang mereka.