
Masih Flashback ✌️✌️
*****
Arya memasuki kamarnya yang ia huni dengan sang istri tentunya, Gita. Suasana kamar yang temaram membuat ia tak melihat kondisi istri nya yang sedang menahan sakit dengan memegang perutnya.
Arya membersihkan diri lebih dulu baru menghampiri Gita di ranjang mereka. Melihat pergerakan tak wajar di balik selimut Gita, Arya pun mendekati sang istri.
"Mama? Mama kenapa?",tanya Arya panik. Dia melihat sang istri yang sedang menahan sakitnya. Kening Gita berkeringat banyak. Bahkan piyamanya nyaris basah.
"Sakit pa...!",kata Gita lirih. Ya, isterinya memang sakit gagal ginjal yang sudah kronis. Sebenarnya ia sudah meminta Gita untuk di rawat saja. Tapi Gita menolak, alasannya selama dia masih kuat, dia tidak ingin berada di rumah sakit. Beberapa hari sekali memang dia harus cuci darah. Tapi Gita yang keras kepala selalu merasa dirinya kuat. Dan Gita memang selalu berpura-pura kuat di hadapan keluarganya. Terutama sang suami. Apalagi, anak-anaknya jauh di benua yang berbeda. Dirinya tak ingin membuat dua orang putranya khawatir akan dirinya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!",ujar Arya. Dia meraih ponsel dan dompetnya yang ada di atas nakas. Lalu menyelipkan di saku piyamanya.
Pria dewasa itu membopong tubuh istrinya menuju ke lantai bawah.
"Bibik, Burhan!",teriak Arya. Pembantu nya dan juga supirnya pun menghampiri suara majikannya itu dengan tergopoh-gopoh.
"Astaghfirullah! Nyonya kenapa tuan?",tanya bibik panik.
"Cepat siapkan mobil Han!",pinta Arya pada Burhan mengabaikan pertanyaan si bibik.
"Bik, tolong siapkan pakaian saya dan Gita. Sekarang! Langsung bawa ke mobil!",ujar Arya.
Bibik pun langsung menaiki tangga menuju kamar majikannya. Ia menyiapkan pakaian seadanya untuk dua majikannya itu.
Arya sudah tidak sabar menunggu si bibik. Beruntung bibik sudah berada di dekat mobil hanya dalam hitungan menit. Ia memasukkan tas nya ke dalam bagasi.
Arya duduk di bangku belakang. Ia memangku kepala istrinya yang sudah terkulai lemas.
"Cepat Han!",pinta Arya.
"Iya Tuan!",sahut Burhan. Dia pun ikut panik seperti majikannya. Beruntung jalanan sudah sepi karena sudah dini hari bahkan nyaris pagi.
Burhan membawa majikannya ke rumah sakit di mana Galuh membawa ibunya tadi.
__ADS_1
Burhan membantu majikannya membuka pintu belakang. Arya langsung meminta brankar pada petugas jaga.
Petugas pun cekatan membantu pasiennya yang sepertinya sudah sangat parah.
"Silahkan bapak tunggu di sini!", perintah petugas. Dokter jaga pun langsung memasuki ruang IGD.
"Han, ambil pakaian saya. Malu saya pakai piyama begini!", pinta Arya dengan nada angkuhnya. Dia memang seperti itu. Arya hanya mencoba menutupi kekhawatirannya pada sang istri.
"Baik tuan!",Burhan langsung menuju ke bagasi untuk mengambil pakaian tuannya. Tak lama kemudian, dia menyerahkan tas itu pada tuannya.
Tanpa banyak bicara, Arya meninggalkan Burhan di depan ruan IGD. Ia mengganti pakaiannya di kamar mandi yang tak terlalu jauh dari sana.
Setelah selesai berpakaian, tak sengaja ia melihat gadis yang tadi di antar ke rumah sakit ini sedang terisak di depan dokter.
"Bisa tolong ibu saya dulu kan dok? Saya pasti akan membayar administrasi nya setelah ibu dan adik saya selesai di tangani dok. Saya janji!",kata Galuh menghiba.
"Maaf dek. Tapi ini sudah prosedurnya. Maaf!",dokter itu menepuk bahu Galuh pelan. Dokter itu pun meninggalkan Galuh yang masih kalut.
Arya pun tak mau ambil pusing dengan apa yang dia lihat. Dia langsung kembali ke IGD menunggu kabar sang istri yang sedang dalam penanganan dokter.
Sebentar, Burhan sangat lelah karena seharian ini ia mengantar Arya ke beberapa tempat. Tengah malam baru pulang, belum sempat beristirahat dia sudah harus membawa majikannya ke rumah sakit. Resiko jadi supir pribadi seperti itu mungkin. Sebenarnya ada supir lain di keluarga itu, hanya saja supir dan salah satu Art yang tak lain suami istri itu sedang pulang kampung.
Pintu IGD terbuka. Arya langsung menghampiri dokter. Dokter menjelaskan kondisi Gita yang sudah sangat buruk. Selama ini ia mencoba mencari pendonor ginjal. Tapi sejauh ini belum ada yang cocok.
Arya pun tampak frustasi. Entah di mana lagi ia mencari pendonor ginjal dengan ginjal yang cocok dengan Gita.
Di tempat yang agak jauh, Galuh mendengar masalah yang Arya hadapi. Sepertinya...ia punya ide untuk menyelesaikan masalahnya.
Galuh pun mendekati Arya yang sudah duduk di bangku tunggu dengan menutup kedua tangannya.
"Tuan Arya!",panggil Galuh. Arya pun membuka tangannya dari wajah.
"Kamu? Ngapain kamu disini?",tanya Arya ketus. Mungkin pembawaannya seperti itu.
"Tuan, tuan Arya sedang membutuhkan donor ginjal untuk istri tuan?",tanya Galuh ragu-ragu.
__ADS_1
"Kamu nguping pembicaraan saya?",tanya Arya geram.
Galuh menggeleng cepat. "Tidak tuan, saya tidak sengaja mendengarnya!"
"Kalo iya, memang kenapa?",tanya Arya lagi.
"Bag... bagaimana jika saya yang mendonorkan ginjal saya. Siapa tahu cocok tuan!", kata Galuh.
Burhan membelalakkan matanya. Dia tak percaya gadis yang ia tolong tadi bisa berkata demikian.
"Benarkah???",tanya Arya ragu. Galuh pun mengangguk.
"Apa kamu melakukan ini demi ibu dan adikmu?",tanya Arya. Galuh kembali mengangguk.
"Ibu saya harus segera di operasi tuan. Adik saya bisa saja tidak selamat jika masih belum di keluarkan dari rahim ibu karena terlalu lama meminum air ketuban ",kata Galuh menangis. (Maaf kalo salah karena kehaluan dan ketidaktahuan othor ✌️🙏🙏🙏)
"Kamu mau jual ginjal kamu? Kamu tahu itu artinya apa? Kamu akan hidup dengan satu ginjal. Dan resiko yang kamu ambil sangat besar! Paham?",kata Arya. Galuh menegang.
"Saya ambil resiko itu tuan. Saya hanya ingin ibu dan adik saya selamat!",kata Galuh. Burhan menggeleng tak percaya karena Galuh berkata demikian.
"Berapa saya harus membayar kamu kalau ternyata ginjal kamu cocok dengan istri saya?",tanya Arya.
"Terserah tuan Arya, yang penting ibu dan adik saya segera di tangani."
"Baiklah, saya akan membayar saat ini juga untuk biaya operasi dan perawatan ibu kamu. Tapi setelah itu, saya akan membuat surat perjanjian kontrak yang harus kamu tanda tangani dan kamu patuhi. Paham!",kata Arya.
Galuh mengangguk cepat. Yang penting bagi Galuh adalah keselamatan ibu dan adiknya saat ini.
''Paham tuan!",sahut Galuh cepat.
"Burhan, jangan ke mana-mana. Saya akan mengurus administrasi ibunya..."
"Saya Galuh, ibu saya Sekar tuan!", kata Galuh.
''Heum!",sahut Arya. Arya pun menuju ke ruang administrasi untuk membayar biaya operasi Sekar. Entah kenapa dia percaya begitu saja pada Galuh yang baru ia temui. Padahal, dia belum tahu apakah ginjal Galuh cocok untuk Gita nanti.
__ADS_1