Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 218


__ADS_3

"Selamat sore Pak Rama!"


"Selamat sore Bu Helen!", sapa Rama. Rama merasa tersanjung seorang pengusaha penerbitan sekelas Helen mengenal namanya.


"Syam ngga mau sapa mama?", tanya Helen penuh kelembutan. Syam merasa canggung apalagi melihat Pak Rama yang sepertinya kebingungan.


Akhirnya Syam mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan istri papa kandungnya tersebut.


"Anda....?", pertanyaan Rama menggantung.


"Saya istri papa kandungnya Syam", jawab Helen sambil tersenyum ramah.


Rama hanya ber'oh' ria. Yang Rama tahu Syam putra Sekar dan anak tiri Salim.


"Tapi hasil penilaian hasil karya kemarin saya tidak ada campur tangan sama sekali lho. Bahkan saya baru tahu kalau ...Syam yang memenangkan event ini. Jadi ...jangan berpikir jika ada nepotisme di sini!"


Rama mengangguk paham.


"Tante ...em...maaf Ma, bukannya papa bilang kalau kalian mau...?", pertanyaan Syam menggantung setelah mendengar lengkingan suara seorang gadis yang memanggil namanya.


"Arsyam....!!!", pekik gadis cantik berkucir kuda. Di belakangnya tampak sosok lelaki gagah yang berwajah mirip dengan Syam.


Kali ini bukan hanya Syam yang cukup terkejut, tapi juga Rama. Guru Syam yang mendampinginya selama ini.


Zea menghambur memeluk Syam yang terdiam. Wajah mereka yang hampir mirip tentu saja menyita perhatian Rama, lagi!


"Selamat sore pak Rama!", sapa Glen mengulurkan tangannya pada guru Syam. Rama pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Glen.


"Maaf, bukankah anda pemilik pabrik Xxx? Istri saya bekerja di sana....", kata Rama. Glen mengangguk. Rama menoleh pada Syam yang masih memasang wajah datar karena Zea menguyel-uyel wajah tampannya.


"Terimakasih sudah mendampingi Syam sampai sejauh ini Pak Rama!"


Rama mengangguk canggung. Tapi dirinya hanyalah seorang guru yang tak perlu tahu urusan dalam negeri muridnya tersebut.


"Kamu ngga kangen sama aku heum?", Zea menarik-narik lengan Syam.


"Brisik banget deh Ze!", keluh Syam.


"Apaan sih! Syam ngga seru banget deh! Bilang gitu kangen sama aku yang menggemaskan ini!", Zea memasang puppy eyesnya.


Tapi justru Syam berlagak mual dan ingin muntah.


"Ih....Abang Syam jahat!", rengek Zea manja.


"Ze! Geli tahu ngga kamu tuh manggil aku begitu!", kata Syam datar.


Ketiga orang dewasa yang ada disamping mereka hanya memandangi dua anak yang hampir menginjak remaja.


"Ze...!", Helen menggeleng pelan agar putrinya paham dengan kode darinya.


Tapi dasar Zea si biang rusuh, dia justru semakin menggoda Syam. Syam sendiri keukeh dengan wajah datarnya.


Entahlah...Syam sendiri tidak tahu kenapa dirinya tak bisa seperti saat bersama keluarganya di rumah jika ada Glen family.


Syam tetap menjadi sosok yang sama seperti saat pertama kali mereka saling mengenal.


"Sayang!", sekarang Glen mengambil alih. Akhirnya Zea pun menurut.


"Pak Rama dan Syam menginap kan nanti malam, dapat fasilitas lengkap??", tanya Glen.


"Alhamdulillah iya pak. Tapi berhubung kami sama-sama laki-laki jadi kami dalam satu kamar dua bad", jawab Rama.

__ADS_1


"Oh... begitu!",sahut Glen.


"Kalian mau istirahat di mana sekarang? Langsung ke kamar?", tanya Helen.


"Niatnya kami mau ke mushola yang ada di lantai atas Bu Helen", jawab Rama.


"Kalau begitu, bareng aja!", Zea yang menyahuti dan menempel di lengan Syam.


"Awas Ze...ih, kaya cicak aja sih! Jauhan deh!", kata Syam kesal dengan sikap adiknya tersebut.


"Biarin sih...aku kan kangen sama Abang Syam....!", sahut Zea. Syam merasa kesal tapi percuma melarang Zea yang kelakuannya jauh dari prediksi.


Mau tak mau, Syam membiarkan lengannya dijadikan pegangan oleh Zea. Ketiga orang dewasa itu hanya mengikuti mereka ke tempat tujuan.


.


.


.


Arya turun dari mobilnya yang berhenti di halaman rumah Galuh. Pembangunan rumah Salim sudah hampir tujuh puluh persen jadi. Rumah gaya minimalis dua lantai merupakan disain yang Lingga buat. Karena awalnya memang akan menjadi rumahnya. Sayangnya rencana sudah berubah haluan.


Galuh baru selesai membersihkan meja teras depan saat papa mertuanya tiba. Ia memandang heran pada sosok di hadapannya.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam, lho...papa di rumah? Ngga jadi nemenin Syam Pa?", tanya Galuh dengan raut wajah khawatir.


"Iya. Papa tadi ada urusan di villa. Ganesh mana?", tanya Arya seolah sedang mengabaikan kekhawatiran Galuh.


"Ada sama ibu. Pa ...Syam bagaimana Pa? Kalau papa ngga ikut ke sana, Syam pasti ....?"


Galuh terdiam. Dia tak tahu apa yang papa mertuanya maksud. Benarkah Syam tetap baik-baik saja? Apa dia tak lagi merasa kecewa? Apa dia tidak merasa diabaikan lagi?


Galuh mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Syam ada bersama papa dan keluarganya Luh. Jangan terlalu mencemaskan seperti itu. Syam baik-baik saja!", kata Arya yang langsung membuat Galuh menoleh.


"Syam sama Om Glen?", tanya Galuh. Arya mengangguk. Tanpa di persilahkan, Arya memilih duduk. Soalnya dari tadi menantunya sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak ingat untuk mempersilahkan dirinya duduk.


"Iya. Helen merupakan pemilik salah satu perusahaan penerbit yang bekerja sama dengan panitia event menulis tersebut. Helen menjadi pembicara di seminar itu yang di hadiri Syam sebelum makan bersama gubernur."


Galuh sampai terperangah tak percaya.


"Tante Helen?", tanya Galuh. Arya mengangguk.


Flashback on


Helen mendapatkan informasi dari anak buahnya di perusahaan yang ia dirikan sendiri, bukan merger antara perusahaan Glen dan perusahaan keluarganya.


Dia di minta untuk menjadi pembicara di seminar yang dilaksanakan pada akhir pekan. Awalnya dia menalak karena rencananya mereka sekeluarga memang ingin berlibur untuk merayakan hari ulang tahunnya.


Tapi anak buahnya mengatakan bahwa acara tersebut cukup penting apalagi untuk image perusahaannya yang cukup populer.


Helen pun mengiyakannya setelah sebelumnya, anak buahnya mengirim email tentang event tersebut.


Ternyata nama anak tirinya muncul di salah satu isi surel tersebut.


"Arsyam Nadir Saputra. SD negeri xxxx, kabupaten Xxx?", gumam Helen.


"Bandung!", lanjut Helen lagi. Ia meletakkan ponselnya beberapa saat lalu ia mondar-mandir di dalam kamarnya.

__ADS_1


Muncullah ide di kepalanya. Ia ingin merayakannya di sana juga. Ia berharap Syam mau bergabung dengan acara keluarganya setelah urusan di seminar dan acara pertemuan itu selesai.


Jemari lentiknya meraih ponsel yang tadi ia letakan di atas kasur.


[Hallo, mas Arya?]


[Iya hallo, Len. Ada apa? Tumben?]


[Eum...aku dengar...Syam ada rencana ke bandung sama mas Arya, benar?]


Arya tersenyum kecil. Ternyata pancingannya sesuai dengan apa yang dia mau.


[Ehem, rencananya seperti itu. Kenapa?]


[Kalau mas Arya ngga keberatan, biar aku saja yang mendampingi Syam di sana nanti]


Arya lagi-lagi tersenyum tipis dan tak terlihat oleh Helen tentunya.


[Oh ya? Dalam rangka apa ini? Bukankah acara ulang tahun kamu lebih penting di banding dengan acara biasa anak tiri kamu Len?]


Helen menghela nafas, bukan hal baru ucapan pedas kakak iparnya yang ia dengar. Bahkan sudah dia hafal sejak masih kecil karena Helen memang sering tinggal bersamanya sebelum menikah dengan Glen.


[Mas...apa mas Arya belum bisa sepenuhnya percaya sama aku?]


[Baiklah aku percaya! Tapi...jangan pernah sekali-kali kamu mengecewakan Syam! Sekali pun kamu adik Gita, aku tetap akan...]


[Stop mas! Aku tidak akan mengecewakan dan menyakiti Syam lagi. Percaya sama aku]


[Baiklah, aku pegang janji kamu]


[Iya mas. Percaya sama aku kali ini aja. Terimakasih ya mas]


[Iya]


Panggilan itu pun selesai. Di masing-masing tempat, baik Helen ataupun Arya sama-sama tersenyum. Tapi yang tahu makna senyumnya tentu mereka sendiri.


Flashback off


Sekar mendorong stroller Ganesh sampai ke teras karena ia mendengar suara Arya berbincang-bincang dengan putrinya.


"Kakak, ada mas Arya kok di anggurin? Ngga dibuatkan minum?", tanya Sekar.


"Eh, iya. Astaghfirullah? Maaf Pa!", kata Galuh panik.


"Udah Luh ngga usah, papa cuma mau ketemu sama Ganesh aja kok."


Lelaki paruh baya itu mengambil Ganesh dari strollernya. Bayi itu sudah selesai di mandikan. Aroma minyak telon menjadi ciri khas bayi itu membuat Arya betah berlama-lama mendekap Ganesh.


Wajah Ganesh mengingatkan nya pada mendiang putra kandungnya yang bernama Arsyam. Kesalahan tak di sengaja saat itu membuat ia harus kehilangan sang putra untuk selamanya.


Dan kehadiran Syam serta Ganesh memberikan warna tersendiri bagi seorang Arya, si mantan arogan!


*****


Kalo urusan tebak menebak mah reader's udah pada khatam ya 🀭🀭🀭


Terimakasih semuanya πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Love you sekebooooonnnn ☺️☺️☺️


16.20

__ADS_1


__ADS_2