
"Papa tidak sebaik kamu dan Galuh!", kata Arya tiba-tiba sambil menatap langit malam.
"Memangnya kami sebaik apa di mata papa?", tanya Syam. Arya menoleh singkat, setelah itu ia menatap ke langit lagi.
"Kalian mudah memaafkan! Tapi tidak bagi papa!"
"Apa papa tahu, kalau Syam atau kakak juga sering meluapkan emosi?"
Arya menggeleng.
"Kami pun punya rasa marah, kecewa bahkan kebencian."
Syam mengayunkan kakinya ke depan belakang karena tergantung di tepian teras.
Arya tak menyahuti apapun hingga Gita membawakan kopi dan susu untuk dua laki-laki beda usia tersebut.
"Mama ngantuk, kalian ngobrol aja!", kata Gita yang mengerti jika dua orang beda usia itu butuh bicara.
"Iya ma!", jawab Arya. Syam pun mengangguk. Gita pun berlalu menuju ke biliknya yang berada tak jauh dari teras samping tersebut.
"Dulu, sebelum Abang datang lagi di kehidupan kakak, yang Syam lihat...kakak itu perempuan yang kuat , ceria dan ya... sedikit galak. Meski pun sebenarnya dia memiliki hati yang mudah tersentuh."
"Tapi banyak yang Syam tidak tahu. Ternyata, di balik sikap seperti itu...kakak menyimpan rasa kecewa dan kemarahan yang begitu dalam."
"Dan...Syam lihat sendiri kok, seperti apa kakak marah dan memaki-maki Abang."
__ADS_1
Mendengar kalimat itu, Arya langsung menoleh pada sosok bocah kecil di sampingnya.
"Tapi... setelah kakak meluapkan semua yang kakak rasakan selama sebelum bertemu Abang, kakak justru merasa lebih baik."
"Dan papa bisa lihat sendiri kan, seperti apa romantis nya mereka sekarang?"
Arya tak menjawab.
"Kalian dan papa berasa di posisi yang berbeda Syam!", kata Arya.
"Tapi sama-sama memiliki rasa emosi dan kecewa pada orang yang sudah menyakiti kita!"
"Setidaknya kamu lebih beruntung! Sekali pun di awal Glen tak menerima keberadaan kamu, tapi kamu punya kakak yang mendidik dan menjaga kamu selama ini. Sedang papa?"
"Iya, benar! Syam beruntung! Saat ini!", kata Syam.
Syam tersenyum masam sambil mengayunkan kakinya lagi dan lagi khas anak kecil.
"Syam tidak mau menjual kesedihan kok pa. Kan papa sendiri yang bilang kalau papa pun merasakan hal yang sama seperti Syam. Ya kan???"
Arya bergeming.
"Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu Pa."
"Iya, kamu benar Syam. Memaafkan memang tak merubah masa lalu, mudah mungkin bagi kamu atau orang lain untuk memaafkan segalanya. Sepertinya halnya papa yang punya kesalahan luar biasa besar pada kakak kamu. Terlalu egois memang, papa memaksa kakak buat memaafkan papa. Tapi...papa rasa, Yudis tak pantas mendapatkan maaf dari papa."
__ADS_1
Syam menghela nafas panjang. Hati Arya memang sulit untuk di taklukan.
"Papa jangan merasa seolah Syam sedang meminta papa untuk memaafkan kesalahan kakak papa. Itu hak papa! Hanya saja, untuk sekarang kondisi kakak papa... mungkin salah satu karma yang harus ia dapatkan karena sudah menyakiti papa maupun bapaknya kak Galuh!"
Deg!!!
Karma??? Batin Arya.
"Karma?", Arya membeo.
"Huum! Ada yang bilang, karma itu ngga ada. Yang ada hanya karya manusia, hukum sebab akibat."
Arya hampir menganga tak percaya dengan kalimat yang Syam ucapkan. Mungkin dia memungut kalimat tersebut dari orang lain, Arya mencoba berpikir seperti itu saja.
"Mungkin...kakak papa sedang menjalani 'sediiiikkiiit' akibat dari perbuatan di masa lalu beliau. Barang kali, akan memperingan hukuman di akhirat nanti!", kata Syam.
Akhirat...?????
Arya meneguk salivanya. Bocah sekecil Syam mengingatkan tentang akhirat pada manusia uzur sepertinya?????
****
Segini dulu ya mon maaaapppp 🙏🙏🙏
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1
18.03
(Lagi libur magriban 😁✌️)