Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 220


__ADS_3

Salim baru selesai membersihkan diri sebelum beranjak tidur di samping sang istri. Dilihatnya wajah cantik Sekar yang sedikit muram.


"Kenapa Bu? Ibu ingin sesuatu?", tanya salim sambil mengusap perut istrinya. Sekar menggeleng pelan.


"Ibu cuma kepikiran adek, bah!", kata Sekar. Salim membenarkan posisi menghadap istrinya sambil terus mengusap perut Sekar.


"Ibu cemburu kalo adek dekat sama keluarga papanya heum?", tanya Salim. Sekar tak menjawabnya.


"Bu, adek itu lebih dewasa pemikirannya di banding anak dengan usia yang sama dengannya. Dia tahu seperti apa mengambil sikap. Terbukti sekarang!", kata Salim. Sekar langsung menoleh pada suaminya.


"Maksud Abah?"


"Syam bisa menempatkan diri di semua situasi saat ini. Dia sudah belajar dari kejadian yang sudah berlalu. Syam tentunya ingin di perhatikan oleh ibunya ,kakaknya dan pokoknya keluarganya lah. Kemarin-kemarin adek sempat berpikir jika nanti setelah adik-adiknya lahir, dia akan tersingkirkan. Abah yakin, perasaan itu sekarang mulai terkikis. Dia mulai menyadari bahwa banyak orang di sekitarnya yang tulus menyayangi dirinya."


Sekar menenggelamkan kepalanya di ketiak suaminya.


"Ibu sering merasa bersalah sama adek Bah! Dulu...ibu...."


"Sssttt....itu semua di luar kendali dan keinginan ibu. Insyaallah kelak Syam juga akan mengerti kok Bu. Apa yang terjadi di masa kecil Syam, akan menjadi pelajaran bagi dirinya juga. Mau seperti apapun ibu dulu, Syam tetap sayang sama ibu. Ibu bisa lihat sendiri kan?"


Sekar kembali mengangguk.


"Tidur ya Bu, udah malam banget!", pinta Salim mengusap punggung Sekar. Tak ada sahutan dari bibir istrinya, hanya anggukkan kecil mengisyaratkan bahwa menuruti ucapan suaminya.


.


.


.


"Syam beneran mau pulang sama Pak Glen?", tanya Rama saat pagi hari keduanya bersiap untuk pulang.


"Iya pak Rama. Kalau pak Rama mau, kita juga bisa pulang bersama pak."


"Jangan atuh Syam. Angkutan pulang pergi kan udah jadi fasilitas yang berhak kita terima. Sayang atuh!", kata Rama dengan kekehan kecil.


"Pak Rama mah ada-ada aja!", sahut Syam.


Setelah waktu yang ditentukan untuk pulang tiba, Syam dan pak Rama berpisah. Syam bergabung dengan keluarga papanya.


"Mau mampir ke mana dulu kita?", tanya Helen pada kedua bocah yang duduk di bangku belakang.


"Wisata kuliner aja Ma!", sahut Zea.


"Makanan mulu!", celetuk Syam tapi masih cukup di dengar oleh Zea.


"Apa sih? Wisata kuliner juga penting Syam. Mumpung masih di sini. Ya kali di jakarta ada beginian!", sahut Zea.


"Di Jakarta serba ada Ze!"


"Ih....Syam ngga asik banget deh Pa, Ma! Emang ya, dia mah maunya gaul sama sesama kutu buku kali ya? Hidupnya monoton!", sahut Zea.


"Ngga salah bilang aku monoton? Justru dengan banyak membaca, bisa menambah wawasan. Kalau masuk sekolah yang di bahas kan pelajaran, bukan makanan!", kata Syam dengan nada datarnya.


Zea terperangah mendengar ucapan Syam.


"Jadi kamu pikir aku cuma hobi makan? Eh ...halo, Syam? Kamu lupa kalo aku juga masih kategori murid teladan? Iya?", Zea mulai bersungut-sungut.


Syam mengedikkan bahunya santai.


"Jangan mentang-mentang kamu ikut event ini itu terus dapat piala, jadi mandang aku setengah hati begitu!"


Syam melirik.


"Bukan memandang setengah hati, tapi memandang sebelah mata! Peribahasa mu, sesukamu!", kata Syam.


"Papa! Syam nih Pa!", Zea mulai mendrama dengan merajuk seperti itu.


Baik Helen maupun Glen hanya menggeleng heran dengan kelakuan dua remaja itu. Tak berapa lama, mereka sudah tiba di pusat wisata kuliner di kota Bandung.


"Ayok Ze, Syam!", ajak Glen pada kedua anaknya. Dua bocah itu pun menuruti perintah sang papa.


Zea menggandeng lengan papanya, sedang Syam berjalan di belakang mereka berdua. Helen memilih untuk berjalan lamban di belakang Syam.


Menyadari istri papanya tak nampak, Syam pun menolehkan kepalanya.


"Kenapa Tan...em...mama di belakang? Mama duluan aja!", pinta Syam pada Helen.


Helen merengkuh bahu Syam, hingga bocah itu sedikit terkejut.


"Mama mau nya sama Syam!", jawab Helen sambil menyunggingkan senyumnya. Jika tadi Syam cukup terkejut, saat ini ia tak menolak Helen. Dia tak ingin mengecewakan istri papanya tersebut.


Alhasil, Glen bersama Zea, Syam bersama Helen mengitari deretan pedagang makanan. Tapi belum ada satupun yang membuat mereka ingin membelinya.


"Pa, nanti antar Syam dulu ke rumah kan? Zea mau ketemu Dede Ganesh!", ucap Zea.


"Iya, tentu kita antar Syam sampai ke rumah!", jawab Glen.


"Kenapa sih Syam, kamu ngga sekolah sama aku aja lagi kaya dulu?", tanya Zea.


"Males sama kamu !", sahut Syam jutek.

__ADS_1


"Papa! Syam tuh Pa! Ngajak war mulu kerjaannya?!", Zea merajuk.


"Kamu kenal Syam seperti apa dari dulu Ze, jadi jangan heran dong kenapa dia masih seperti ini?", tanya Glen.


"Ya kali...dia bakal berubah gitu pa. Perasaan kalo sama kita, sikap Syam mah beda! Kaya masih ada hawa-hawa panasnya gitu lho Pa!", kata Zea memberikan alasan.


"Api...kali panas!", celetuk Syam.


"Sumpah Syam! Kamu tuh eeeuhggggg.... nyebelin!", Zea menghentakkan kakinya kesal lalu berjalan mendahuluinya.


Helen dan Glen menyadari sikap kekanak-kanakan Zea karena selama ini mereka berlebihan saat memanjakan Zea.


"Zea ...jangan jauh-jauh!", pinta Helen tapi entah di dengar atau tidak oleh Zea yang sudah menjauh.


"Biar Syam yang kejar deh Ma!", kata Syam sedikit mempercepat langkahnya. Belum juga jauh, dia sudah melihat si biang onar sedang berjongkok dan mengobrol dengan seorang remaja seumuran dengannya. Tampaknya, Zea menabrak gadis itu.


"Bener ngga apa-apa?", tanya Zea lagi. Sikap menyebalkan itu seolah sirna.


"Aku ngga apa-apa!", jawab gadis kecil itu.


"Ze!", Syam memanggil adiknya. Dua gadis itu menoleh bersamaan ke arah Syam.


"Riang? Kamu di sini?", tanya Syam pada gadis yang berjongkok dengan Zea.


"Syam?", gumam Riang. Ia dan Zea sama-sama berdiri.


"Kamu kenal sama dia Syam?",tanya Zea.


"Iya, Riang teman sekelas ku! Kamu lagi apa di sini Riang? Sama siapa?", tanya Syam. Zea menggerutu sendiri.


Sama aku ketus nyebelin, bisa ramah juga sama orang lain! Dasar Syam? Nyebelin! Pekik Zea dalam hati.


"Sama mama", jawab Riang singkat.


Zea mengulurkan tangannya pada Riang.


"Hai? Aku Zeanandra, adiknya Syam!", kata Zea memperkenalkan dirinya pada Riang.


"Adik?", tanya Riang heran. Di mata Riang, sepertinya Syam lebih cocok jadi anak kembar di banding kakaknya Zea.


Zea mengangguk cepat dan tersenyum ramah. Wajah Zea dan Syam semakin mirip jika keduanya sama-sama tersenyum.


"Eum...ya udah kalo gitu, aku mau ke mama dulu ya. Mari Syam, Zea!", pamit Riang.


Riang pun berlalu meninggalkan dua bocah remaja itu. Zea menyenggol bahu Syam.


"Apa sih???", tanya Syam ketus pada Zea.


"Menurut mu???", tanya Syam dengan lirikan mata tajamnya. Zea tak menjawab tapi malah berteriak kepada papa mamanya.


"Papa, mama....Syam punya pacar!", adu Zea dengan tertawa meledek. Syam membulatkan matanya. Mulutnya ternganga mendengar ocehan Zea yang tidak berbobot itu.


"Zea!!!", teriak Syam yang kesal bukan main. Tapi bukan Zea namanya kalau tidak membuat orang lain darah tinggi.


Zea berlindung di belakang papanya agar tak kena amukan Syam.


"Papa, Syam mau menghajar Zea !", rengek Zea dibelakang Glen. Glen sendiri di buat pusing oleh tingkah kedua anaknya itu.


"Udah Syam, ngga usah di tanggepin ucapan Zea!", Helen menenangkan Syam.


"Tapi Syam ngga punya pacar Ma!", adu Syam pada Helen. Helen mengangguk pelan.


"Iya, mama percaya! Kalian ini masih kecil-kecil! Ngga ada pacar-pacaran!", kata Helen. Zea keluar dari belakang punggung Glen.


"Bohong mama ...tadi ketemu cewek namanya Riang. Mana Syam ngomongnya lembut banget lho Ma. Beda kalo sama Zea, ketus melulu!", Zea mengerucutkan bibirnya.


Tangan Syam gemas sampai pengen mencomot bibir Zea yang lemes.


"Udah-udah Zea, Syam! Kita ke sini mau cari makanan sama oleh-oleh buat di rumah Syam. Kalian ngga capek berantem terus heum?", tanya Glen pada kedua anaknya.


"Zea nya rese sih Pa!", sahut Syam.


''Syam tuh ...ngga asik banget!", Zea tak kalah ingin menyahut.


"Sekali lagi berantem, papa tinggal kalian berdua di sini!", ancam Glen. Mau tak mau dua bocah itu pun memilih diam. Bagaimana kalau mereka berdua benar-benar ditinggal? Makin susah urusannya kan???


Keempatnya kembali berjalan memilih stand makanan apa yang akan mereka beli. Sekarang pasangannya bergantian, Syam dengan Glen sedang Zea dengan sang mama.


Setelah membeli beberapa makanan dan oleh-oleh, mereka bersiap untuk menuju ke kampung halaman Syam.


.


.


.


Pembangunan rumah sudah mendekati selesai. Hanya ada beberapa bagian yang perlu dirapikan. Mungkin satu Minggu ke depan, mulai bisa mempersiapkan untuk mendesain interiornya.


Salim yang sudah pulang dari warung ikut mengecek calon rumahnya tersebut. Urusan konstruksi memang bukan bidangnya, jadi dia tak banyak ingin mengatur begini begitu.


Lingga sedang tidak ada di rumah, entah ada urusan apa. Tapi yang jelas, Salim dan Arya menempatkan para bodyguard bayangan yang menemani Lingga meski tidak dengan jarak dekat.

__ADS_1


Saat berbincang dengan mandor, Salim melihat mobil asing memasuki halaman rumah Lingga. Meski asing, tapi dia tahu jika mobil itu milik Glen.


Salim mengakhiri pembicaraannya dengan mandor, lalu ia menghampiri mobil mewah tersebut.


Anak kesayangannya turun dari mobil di bagian belakang.


"Assalamualaikum Abah!", sapa Syam dengan senyum sumringah lalu mencium punggung tangan Salim.


"Walaikumsalam,dek!", Salim mengusap kepala Syam dengan sayang.


Kedua orang tuanya Zea turun, dan gadis itu pun melakukan hal yang sama seperti Syam. Menyalami Salim dengan takzim.


"Syam panggil mama ku aja mama, Zea boleh dong panggil mang Salim, Abah? Kaya syam juga!", Zea menunjukkan gigi putihnya.


Salim tersenyum.


"Tentu boleh ,non Zea!", kata Salim.


"Jangan pake Non dong Bah!", kata Zea protes.


"Iya...Zea yang cantik!", kata Salim membenarkan kacamatanya. Lalu ia beralih pada Glen dan Helen.


"Apa kabar tuan Glen, nyonya Helen?", sapa Salim.


"Alhamdulillah, baik mang Salim!", jawab Helen ramah. Glen sendiri hanya menyalami dan memasang wajah datarnya. Jika dalam mode seperti itu, Syam dan Glen sangat mirip.


"Ya udah, ayok dek! Ajak Zea sama mama papanya masuk!", kata Salim pada Syam.


"Ayo, Ze!", ajak Syam. Zea mengekor di belakang Syam begitu pula kedua orangtuanya.


Di ruang tamu, Galuh sudah membukakan pintu untuk Syam dan keluarganya. Setelah berbasa-basi, mereka pun duduk di ruang tamu.


Hari sudah menjelang petang, keluarga Glen meminta ijin pada si empunya rumah untuk menumpang mandi sebelum kembali ke ibu kota.


Satu persatu bergantian menggunakan kamar mandi yang memang di dekat ruang tengah. Sedang Syam sendiri memilih mandi di kamar mandi belakang. Hanya kamar Galuh yang memiliki kamar mandi di dalam.


Bada maghrib, Lingga tiba di rumah. Ia membawa beberapa makanan dari sang mama untuk menantu kesayangannya.


Lingga melihat ada mobil tantenya terparkir di sebelah mobil Salim. Lelaki itu tersenyum, entah apa yang ada dalam pikirannya.


Dengan langkah pasti, ia memasuki rumah tersebut lewat pintu dapur seperti biasanya dan langsung mencuci tangan di wastafel cuci piring.


Suasana cukup sepi karena mungkin sedang berada di kamar masing-masing. Tapi ternyata tidak sepenuhnya seperti itu, ia melihat bapak mertuanya tengah berbincang di ruang tengah. Sepertinya mereka mengobrolkan sesuatu yang penting karena terdengar obrolan mereka tak begitu terdengar.


"Assalamualaikum!", sapa Lingga. Kedua lelaki itu menoleh pada sosok yang menyapa.


"Walaikumsalam!", jawab mereka berdua.


''Baru pulang Ga?", sapa Glen. Sejauh ini, ia masih berusaha untuk mengambil hati keponakan istrinya tersebut. Ia masih ingat rasanya seperti apa babak belur karena pukulan dari Lingga.


"Iya Om!", jawab Lingga tersenyum.


"Cuma berdua? Yang lain mana?", tanya Lingga entah pada siapa.


"Kakak sama Ganesh di kamar, ibu juga. Kalo Adek di kamar, bareng Zea dan mamanya", Salim yang menjawabnya.


Lingga mengangguk paham.


"Ya udah, Lingga ke kamar dulu ya Bah, Om Glen! Mau bebersih dulu!", pamit Lingga. Salim mengangguk begitu pula dengan Glen.


Sepeninggal Lingga....


"Terimakasih sudah menyayangi Syam!", kata Glen pada Salim.


"Itu sudah kewajiban saya tuan, meski Syam bukan darah daging saya, Syam tetap anak saya. Dan saya sangat menyayangi Syam."


Glen mengangguk pelan.


"Saya juga berterima kasih. Anda dan nyonya Helen sudah memberikan perhatian dan kasih sayang pada Syam. Apalagi... di saat Syam berada di posisi yang 'pengertian' karena kesibukan orang terdekatnya. Tapi...anda dan nyonya Helen menyempatkan waktu untuk bersama Syam. Dan saya bisa melihat, Syam sangat bahagia."


Mereka berdua sama-sama terdiam. Suara Sekar memanggil suaminya membuat kecanggungan berakhir.


"Bah, ajak adek dan yang lain makan malam!", kata Sekar dengan suaranya yang lembut.


Sejak papa kandung Syam tiba di rumah, Sekar sama sekali tak berbicara dengan lelaki itu. Meski sudah memaafkan, tapi semua kenangan buruk tak bisa serta Merta Sekar lupakan.


Ya... setidaknya untuk sekarang, Sekar tak lagi histeris saat melihat Glen.


"Iya ,Bu!", kata Salim mengusap punggung tangan Sekar yang ada di bahu Salim. Pemandangan itu membuat Glen menunduk. Ia tidak ingin membuat perasaannya tercemar. Entah karena dengki atau perasaan buruk lainnya.


"Mari Tuan Glen, kita makan malam. Biar saya yang panggil Syam di atas", kata Salim. Glen mengangguk.


"Ibu ikut panggil adek ,Bah!", kata Sekar yang tak ingin berdua dengan Glen di meja makan.


Salim menyadari kecanggungan istrinya. Ia pun menuruti Sekar. Mereka berdua menapaki tangga untuk memanggil Syam dan yang lainnya.


*****


12.08


Segini dulu ya, insyaallah up nanti malam. Insyaallah..... terimakasih banyak 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2