Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 60


__ADS_3

Lingga dan Puja berjalan menuju ke rumah Lingga yang berjarak cukup lumayan. Tapi bukan hal yang sulit untuk keduanya.


"Kafe kami terbakar murni karena korsleting listrik? Tidak ada faktor kesengajaan?", tanya Puja sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang menjeda tanaman cabai dan terong.


"Dari penyelidikan polisi ya begitu Kak. Tapi ya sudahlah, mungkin ini cara Allah menegur ku karena aku kurang sedekah!", jawab Lingga sambil tersenyum. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana.


"Hah??? Kamu rugi banyak banget lho Ga. Ga cuma sejuta dua juta!"


"Kak, materi bisa di cari lagi. Insyaallah Allah akan mengembalikan lebih banyak lagi. Yang penting anak buah ku selamat semua, tidak ada yang terluka. Itu udah Alhamdulillah."


Puja menggeleng heran. Sungguh, sosok Galuh si gadis kampung sudah merubah Lingga jauh lebih baik lagi.


"Punya pelet apa sih Galuh itu hehehhehe!", puja meledeknya.


"Heheh? Pelet? Justru aku yang sangat beruntung memiliki istri seperti Galuh kak. Dia yang tak pernah mengeluh dan selalu memberikan semangat agar aku bisa membuktikan pada dunia, meski segalanya butuh uang, tapi uang bukanlah segala-galanya." Puja tersenyum tipis.


"Aku belum lama kok kak, buka minimarket yang join dengan salah satu minimarket yang menjamur di negara ini. Beruntungnya, mungkin tempatnya yang strategis dan ya... Alhamdulillah, dimudahkan dan dilancarkan juga. Kalo kafe itu, kafe nya Galuh sih kak. Sebelum aku balik ke Indonesia, dia emang udah buka warung makan gitu lah. Nah, waktu kami baru bersama lagi, kami bikin warung makan itu jadi kafe. Tapi karena pandemi, kami terpaksa tutup dan pulang ke sini. Barulah setelah normal, kafe buka lagi."


"Wow! Kakak ngga tahu segitu rumit nya perjalanan menuju kesuksesan mu di titik ini Ga. Gue yakin, papa sebenarnya bangga. Cuma....ya...dia gengsi."


Lingga tersenyum tipis.


"Aku ngga mau bikin papa bangga Kak. Aku cuma pengen, papa bisa berubah dan tidak lagi merendahkan orang lain."

__ADS_1


Keduanya sudah sampai di rumah, Galuh serta Sekar sedang mengobrol dengan Gita dan Vanes. Galuh yang memang pembawaan nya ceria, selalu bisa mengimbangi obrolan mertua dan kakak iparnya. Berbeda dengan Sekar yang lebih pendiam. Lagi pula, Sekar memang kurang begitu suka bergaul meski dia tetap ramah.


"Assalamualaikum!", sapa Lingga.


"Walaikumsalam!", sahut Galuh menyambut suaminya dengan tersenyum.


Puja sendiri bergabung dengan mama dan juga istrinya. Sedang Lingga berdiri di belakang Galuh.


"Kayanya seru banget Yang?", tanya Lingga mengalungkan tangannya ke leher Galuh.


"Heum, namanya juga emak-emak kalo udah ngerumpi mah...bakal panjang ceritanya!", sahut Galuh.


"Mama betah ngga di sini ma?", tanya Lingga.


"Alhamdulillah kalo betah mah!", kata Lingga sambil sesekali mengecup puncak kepala Galuh.


"Kayanya perut Galuh udah gede nih, berapa bulan?", tanya Vanes.


"Enam bulan kak. Eum...mau tujuh bulan sih!", kata Galuh.


"Bikin acara tujuh bulanan dong Bu Sekar?", tanya Gita. Sekar yang dari tadi menjadi pendengar saja cukup terkejut mendengar pertanyaan besannya.


"Ah, iya. Insyaallah dua Minggu lagi ya Luh?", tanya Sekar pada putrinya.

__ADS_1


"Iya Bu."


Tak lama kemudian, terdengar celoteh anak-anak yang tak lain Syam dengan teman-temannya yang baru pulang dari sungai.


Mata Puja langsung beralih pada sosok tampan yang masih belia itu. Pantas saja saat pertama kali melihat Syam, dia seperti melihat wajah seseorang. Dan ternyata Syam adalah putra dari Glen, suami dari Tante kesayangannya yang usianya tak berbeda jauh dengan Puja.


Syam melangkahkan kakinya setelah memarkirkan sepedanya. Matanya berbinar mendapati kakak iparnya sudah berada di rumah.


"Abang!!!", Syam lari menyongsong Lingga yang berdiri di belakang Galuh.


"Salam dulu dek!", pinta Lingga sambil membalas pelukan Syam.


"Heheh Assalamualaikum!", kata Syam.


"Walaikumsalam! Dari kali ini mah?", kata Lingga. Syam mengangguk cepat.


"Abang kapan datang? Tadi pagi Syam berangkat, Abang ngga ada?"


Semua melihat kedekatan antara Syam dengan Lingga. Di mata Gita, mungkin kedekatan antara keduanya terjalin karena kebetulan nama almarhum adik kandung Lingga sama dengan Syam. Hingga Lingga menganggap Syam adik kandungnya sendiri.


"Udah agak siang datangnya sih! Udah sana ganti baju dulu, bau asem tahu!", bujuk Lingga.


"Huum, iya. Syam mandi sekalian solat deh!", kata Syam berlalu begitu saja seolah hanya ada Lingga yang terlihat. Syam masih belum bisa menerima kenyataan jika tamu kakaknya berhubung dengan ayah kandung Syam.

__ADS_1


__ADS_2