
Pagi itu, Zea menjadi pendengar pembicaraan antara papa mamanya juga opanya. Gadis yang akan beranjak remaja itu paham dengan apa yang para orang tuanya bicarakan.
Kecewa? Tentu saja Zea merasa kecewa saat mamanya yang biasa lemah lembut padanya bisa sampai mabuk-mabukan. Seberat apa masalah yang mamanya hadapi? Dan pagi itu ia mendengar penjelasan dan jawaban dari rasa penasarannya.
Zea kecil sudah menyelesaikan sarapannya. Dia mengatakan pada papanya jika dia akan di antar oleh supir Surya.
Zea sama kecewanya pada Glen, tapi setidaknya tak pernah sekalipun papanya membentak atau berkata kasar padanya.
Usai berpamitan pada papanya, Zea pun keluar menemui pak Ujang.
"Ayok pak Ujang!", pinta Zea. Pak Ujang mengangguk lalu membukakan pintu untuk Zea.
Zea yang biasanya ceria kali ini hanya diam memandangi sudut kota yang mulai ramai oleh kendaraan. Hingga tak terasa ia sampai di gerbang sekolah.
"Sudah sampai Non?!", kata Ujang. Zea pun turun dari mobil. Tapi tak lama kemudian, dia mengetuk kaca pintu depan.
Pak Ujang pun membuka kacanya.
"Minta nomor hp nya pak, nanti aku mau minta jemput lagi!", kata Zea.
"Iya non!", sahut pak Ujang lantas ia pun menyodorkan ponselnya pada Zea agar cucu majikannya itu menyalin nomornya.
"Makasih!", kata Zea. Dia pun berlalu begitu saja meninggalkan Pak Ujang yang menggeleng lemah. Setelah memastikan Zea masuk, dia pun kembali ke rumah tuan besarnya.
"Sudah antar Zea nya, Jang?"
"Sudah Tuan, tadi juga minta di jemput lagi pulangnya."
"Euum, ya sudah tidak apa-apa. Kamu tidak keberatan kan Jang?", tanya Surya.
"Tidak apa-apa Tuan, saya tidak keberatan sama sekali."
Setelah obrolan singkat itu pun, Surya kembali menuju ke mobil kantor yang menjemputnya. Dia ada meeting di beberapa tempat hingga ia memutuskan untuk memakai supir kantor.
.
.
"Zea? Kamu kenapa? Kayanya lemas sekali?", tanya Miss Clara, guru Zea.
"Iya Miss, Zea lagi ngga enak badan!", kata Zea. Padahal dia hanya berpura-pura saja.
"Mau istirahat ke unit kesehatan atau mau pulang saja?", tanya Miss Clara lagi.
"Boleh ngga Zea pulang saja Miss, biar bisa istirahat yang nyaman!?", tanya Zea lirih.
"Oke, Miss telpon mama atau papa kamu dulu ya!", kata Miss Clara akan mengambil ponselnya.
"No, Miss! Mama papa sedang sibuk. Telpon ke supir nya opa aja, Miss. Tadi pagi Zea di antar sama supir."
Zea mengulurkan ponselnya pada Miss Clara. Tanpa menyalin nomor itu, Miss Clara menghubungi nomor Ujang.
Ujang yang mendapatkan telepon dari guru majikannya pun sedikit panik hingga ia pun langsung meluncur ke sekolah Zea lagi.
Pak Ujang menemui Miss Clara selaku pengajar yang saat itu sedang bertugas di kelas Zea.
Dengan pelan, Pak Ujang membukakan pintu untuk Zea.
"Pak, nanti di restoran ayam berhenti dulu ya!", kata Zea.
"Baik non!", jawab Ujang. Mereka pun merangkak meninggalkan gedung sekolah Zea.
Seperti yang Zea minta, mereka berhenti di restoran cepat saji yang menyediakan menu ayam untuk take away. Tak lupa Zea mengambil beberapa Snack dan kue yang ada di minimarket resto tersebut.
Gadis itu membayar pesanannya. Sedang Ujang sendiri menunggu di mobilnya.
Setelah beberapa saat, Zea pun kembali dengan membawa tentengan dan beberapa makanan serta minuman.
Ujang tak banyak bertanya pada nona kecilnya. Mungkin kalo anak orang kaya, jajan segitu banyaknya ngga akan mempengaruhi isi dompet orang tua nya.
"Hp pak Ujang mana?", Zea menadahkan tangannya agar Ujang memberi ponselnya.
"Buat apa Non?", tanya Ujang bingung.
"sudah siniin?", pinta Zea. Ujang pun tak berani melawan bocah kecil itu yang kelak akan menjadi pewaris Surya Grup.
Ujang pun memberikan ponselnya lalu dengan cepat, Zea mematikan saya baterai ponsel tersebut.
"Lho? Kok dimatikan non?", tanya Ujang.
"Iya. Lebih baik seperti ini! Dan sekarang tugas pak Ujang adalah mengantar Zea ke rumah Abang!"
"Maksudnya Abang siapa ya non?", tanya Ujang.
__ADS_1
"Bang Lingga, pak Ujang."
"Ooh...ke rumah tuan Arya maksudnya?", tanya pak Ujang.
"Rumah Abang! Di kampung!", sahut Zea kesal.
"Hah??? Ke kampung non? Non, kampung nya teh jauh banget!", kata Ujang.
"Zea tahu, makanya pak Ujang anterin sekarang! Atau kalo pak Ujang ngga mau antar, Zea naik bis aja ke sana!", ancam Zea.
"Astaghfirullah, Non! Jangan macam-macam deh, kampungnya tuh jauh banget non!"
"Zea pernah ke sana pak Ujang."
Ujang bingung sambil garuk-garuk kepala.
"Saya telpo....!", ucapan Ujang terpotong.
"Ngga, ngga usah telpon Opa apalagi papa!", ancam Zea.
"Tapi ,non??!"
"Pak Ujang ngga mau? Oke! Zea naik bus aja!", Zea bersiap turun membuka pintu mobil.
"iya non, saya antar non!", Ujang pun mengalah. Ponselnya sudah di tangan Zea. Bagaimana bisa ia menghubungi majikannya????
.
.
.
"Zea....masuk, dek!", sapa Galuh berusaha ramah pada sosok yang sepertinya sedang menahan emosi.
Tapi tatapan Zea sangat tidak bersahabat.
Tak berapa lama, Syam masuk dengan sepedanya. Dia cukup terkejut melihat keberadaan Zea di rumahnya.
"Assalamualaikum!", sapa Syam.
"Walaikumsalam!", jawab Galuh. Sekarang Syam menatap kehadiran Zea, adik biologisnya.
"Ada apa kamu ke sini?", tanya Syam.
"Ngga usah!", sahut Zea kasar. Dia mendekati Syam yang tingginya hanya selisih beberapa Senti darinya.
Plaakkkk!
Tiba-tiba gadis kecil itu menampar Syam yang notabene adalah kakaknya sendiri. Galuh terpekik melihat kejadian yang begitu cepat di depan matanya.
"Zea, jangan main tangan begitu!", tegur Galuh. Galuh menoleh pada pak Ujang yang hanya menggeleng seolah menyiratkan bahwa dia tidak bisa membantu.
Syam tak membalas tamparan Zea meski sakit! Pantang baginya memukul perempuan.
"Apa mau mu sampai datang ke sini?",tanya Syam dengan nada dinginnya. Galuh mencoba merengkuh bahu Syam, tapi di tepis.
"Belum puas kamu mau mengambil abangku? papaku? Dan sekarang mau merebut Opa ku?", tanya Zea.
"Astaghfirullah, Ze. Ngga begitu sayang. Ayo masuk dulu, kamu pasti lelah di perjalanan!", ajak Galuh.
"Stop! Berhenti pura-pura baik! Aku muak pada kalian!", bentak Zea.
"Ya Allah, Ze!", Galuh mengelus dadanya.
"Jangan bentak-bentak kakakku!", teriak Syam yang tak terima jika Galuh di perlakukan seperti itu.
"Kenyataannya kalian memang penjilat! Aku benci sama kamu Syam! Aku benci!", Zea mendorong Syam sekuat tenaganya hingga bocah kecil yang sedang dalam posisi tidak siap itu pun terhuyung dan naasnya Galuh yang juga dalam posisi tak seimbang di belakang Syam turut terdorong dan....
Brukkkk....
"Arghhhh!!!", Galuh terjatuh dan Syam pun jatuh bersebelahan dengan Galuh.
"Kakak!", pekik Syam yang melihat kakaknya kesakitan. Dilihatnya sebuah cairan berwarna merah mengalir di sela kaki kakaknya.
"Awsssshhhh....sakit dek!", runtuh Galuh. Syam menatap nyalang pada Zea yang membeku. Dia tak bermaksud mencelakai Galuh atau pun Syam. Ini diluar kendalinya.
Pak Ujang reflek berlari menghampiri Galuh yang terkapar kesakitan.
"Neng, neng Galuh! Astaghfirullah!", Pak Ujang mengangkat tubuh Galuh ke mobilnya.
"Pak, bawa kerumah sakit ya Pak!", pinta Syam.
"Iya den!", kata Pak Ujang memasukkan Galuh ke bangku belakang. Zea masih membeku di tempatnya berdiri tadi. Bayangan darah di sela kaki Galuh mengingatkan dirinya saat mamanya keguguran dan sampai akhirnya ia tak bisa memiliki adik.
__ADS_1
Syam menyempatkan diri mengambil ponselnya juga ponsel kakakanya serta uang kas yang tak banyak dan beberapa kartu.
Bocah itu langsung menempatkan diri di samping Galuh yang memucat.
"Non, ayo!", ajak Pak Ujang pada Zea. Dan akhirnya Zea pun ikut ke dalam mobil lalu duduk di samping Ujang.
"Kak, sakit banget ya? Maaf ya Kak, Syam ngga bisa jagain kakak!", kata Syam sesegukan. Mau setangguh apapun dirinya jika berhubungan dengan keluarganya, Syam pasti cengeng.
Galuh memejamkan matanya sambil meringis.
"Ya Allah, lindungi lah bayi kami ya Allah! Aku tidak ingin membuat Abang bersedih lagi!", batin Galuh. Lama kelamaan, kesadarannya pun menurun lalu pingsan.
"Pak Ujang cepetan!", teriak Syam.
"Iya den!", jawab Ujang. Beruntung dia tahu rumah sakit terdekat saat mengobati Glen kemarin. Jadi dia tak terlalu banyak bertanya.
Syam menatap tajam pada Zea.
"Jika terjadi apa-apa pada kakak atau keponakan ku! Aku tidak akan pernah memaafkan mu Zea! Sekali pun kita memiliki darah yang sama!!!", suara Syam pelan tapi cukup membuat takut seorang Zea. Bukan takut tak di akui saudara, tapi ...bayi Galuh pun masih keluarganya juga bukan???
.
.
Lingga yang sedang menikmati waktu bersama keluarganya di ibukota pun mendadak tak enak hati. Perasaannya seperti tak nyaman. Ada sesuatu yang seolah sedang terjadi.
"Kenapa Ga?", tanya Gita.
"Heum? Ngga ma, perasaan Lingga ngga enak aja ini!", kata Lingga.
"Kangen sama istri?", tanya Arya. Lingga tersenyum simpul. Ia pun mengambil ponselnya. Tak ada chat atau apapun dari istrinya hingga akhirnya ia pun menghubungi nomor Galuh.
[Assalamualaikum bang!]
Syam menjawab panggilan Lingga dengan suara serak.
[Walaikumsalam, dek! Kakak kemana? kok Adek yang jawab telpon Abang?]
Tiba-tiba suasana hati Lingga menjadi cemas.
[Kakak...kami lagi jalan ke rumah sakit bang. Kakak jatuh, ada darah di sela kakinya hiks...hiks...]
[Astaghfirullah, jatuh? Bagaimana bisa?]
Lingga langsung berdiri dari duduknya. Arya dan Gita pun turut panik.
[Nanti aja jelasin nya kalo Abang di rumah. Ibu lagi pergi sama bik Mumun, Syam di antar sama Pak Ujang ke rumah sakit]
[Pak Ujang? Supir om Surya?]
[Iya bang!]
[Pak Ujang...bawa Zea ke sini!]
[Zea? Di situ???]
Lingga mengusap kasar wajahnya.
[Adek, adek tenang ya. Insyaallah kakak dan dd utun baik-baik saja! Oke? Jangan panik! Abang langsung pulang! Oke!]
[Iya bang, Abang hati-hati juga]
Sahut Syam masih dengan isakkan kecil nya.
Setelah itu, Lingga pun berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Mama ikut Ga!", kata Gita.
"Jangan ma, mama di sini saja. Aku ngga mau kalau mama panik seperti ini! Besok mama sama papa bisa nyusul. Sekarang Lingga harus balik sama Burhan!", kata Lingga. Dia mengecup kening Gita dan melesat begitu saja.
"Pa...cucu dan menantu kita pa!", Gita memeluk suaminya.
Arya menatap Lingga yang masuk ke mobil di temani Burhan.
Ya Allah, lindungi lah mereka semua! Batin Arya.
*****
17.18
Tuh....dah dua bab ye kannnn....???
Hatur nuhun 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1