Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 146


__ADS_3

Hampir jam sepuluh malam Syam sampai kerumahnya kembali. Saat tiba di rumah, Sekar sudah menunggu di ruang tengah.


"Ibu belum tidur, nungguin Syam?"


"Iya, ibu ngga bisa tidur kalo kamu belum pulang dek.''


"Sekarang Syam udah sampe rumah dengan selamat. Ibu istirahat deh!'', pinta Syam.


"Iya, kamu pulang sama mang Salim?''


"Iya lah Bu, sama siapa lagi?'', jawab Syam.


"Ada mang salim nya di belakang bu, katanyaΒ  mau minum kopi dulu", lanjut Syam lagi.


"Oh...", sahut Sekar.


"Syam ke atas dulu ya Bu!'


Sekar mengangguk tipis lalu Syam pun melangkahkan kaki menuju kamarnya. Sedang Sekar sendiri agak ragu-ragu apakah dirinya akan menemui Salim di belakang atau tidak. Sekitar sepuluh menit, Sekar menimbang-nimbang apakah dia akan ke dapur atau tidak hingga akhirnya tiba-tiba listrik padam.


Sekar yang takut gelap pun berteriak memanggil Syam. Syam lari tergopoh-gopoh menghampiri ibunya yang berteriak tapi sebelumnya bocah itu mencari keberadaan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur.


Saat menuruni tangga, Syam yang sempat mencemaskan ibunya pun menghentikan langkah menuruni tangga. Lalu ia pun berbalik menuju ke kamarnya lagi dan menggeleng sambil tersenyum tipis. Bocah itu memukul kepalanya sendiri.


"Kamu masih kecil Syam!!!'', gumam Syam.


Ada apa?????


.


.


.


Lingga dan Galuh terkejut melihat kedua orang tuanya berada di depan ruangan Ganesh.


"Mama, papa! Kapan datang?", tanya Galuh dan Lingga bersamaan. Mereka berdua menghampiri sepasang suami istri itu.


"Semalam Nak!", jawab Gita memeluk menantunya tersebut.


"Oh....! Kenapa ngga ngabarin Lingga, Ma, Pa?", tanya Lingga pada kedua orang tuanya.


"Buat apa? Kalian sedang sibuk dengan urusan sendiri! Lagi pula, mama dan papa akan stay di sini!", jawab Arya.


Lingga menoleh pada mamanya yang mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Papa jadi pindah ke kampung ini?", tanya Galuh dengan mata berbinar.


"Iya! Biar papa bisa dekat sama cucu papa!", jawab Arya menoleh ke dinding kaca yang memperlihatkan sang cucu.


"Ya Allah Pa, sampai segitunya! Galuh jadi terharu!", Galuh memeluk ibu mertuanya. Gita yang tak tahu mood sang menantu sedang naik turun pun hanya mengusap bahu menantunya tersebut.


Arya sendiri sebenarnya cukup heran dengan sikap menantunya yang entah kenapa terlihat 'lebay'. Padahal biasanya perempuan mungil itu akan bersikap anggun.


"Heum, dokter bilang Galuh mengalami gejala baby blues Pa. Jadi, sebaik mungkin kita yang ada di sekitarnya menjaga moodnya dengan baik. Jangan di bikin sedih atau kepikiran berlebihan!", bisik Lingga pada papanya.


Arya pun mengangguk pelan dan mengerti ucapan putra bungsunya tersebut.


"Galuh!", panggil Arya hingga Galuh sudah bersikap biasa lagi.


"Boleh papa peluk menantu bungsu papa ini?", tanya Arya. Galuh menoleh pada suaminya lebih dulu, bagaimana pun dia harus mendapatkan ijin suaminya meski papa mertuanya yang ia peluk.


Lingga mengangguk pelan. Lalu Galuh pun memeluk papa mertuanya tersebut.


Ada rasa nyaman yang Galuh rasakan. Rasa nyaman di dalam pelukan sosok seorang ayah yang sudah sangat lama sekali tak pernah ia rasakan sejak usianya enam belas tahun. Ya, karena bapak nya meninggal saat ia masuk di bangku SMA.


"Makasih ya Pa, udah di ijinin peluk papa. Galuh...merasa sedang memeluk bapak!",Isak Galuh pelan.


Entah kenapa suasana mendadak melow. Tangan Arya perlahan mengusap puncak kepala Galuh.


"Papa kan sekarang papa kamu Luh, kamu lupa?", tanya Arya.


Galuh menggeleng sambil menghapus sisa air matanya.

__ADS_1


"Kok aku jadi cengeng ya Pa! Hehehe!", Galuh menghapus pipinya yang masih sedikit basah.


"Ngga cengeng. Anak perempuan papa ini gadis yang kuat dan hebat! Tidak bisa di remehkan oleh siapapun!", Arya memegang kedua pundak menantunya. Ia mencoba memberikan semangat pada menantu mungilnya tersebut.


Dia tahu seperti apa efek baby blues syndrom. Jadi dia mengikuti apa yang Lingga sampaikan. Buat Galuh merasa nyaman!


"Tapi ada yang papa lupa!", kata Galuh.


"Apa?", tanya Arya yang juga membuat Lingga dan Gita penasaran.


"Aku bukan gadis Pa. Aku sudah jadi ibu dari cucu papa!", sahut Galuh tersenyum. Arya tak bisa lagi menahan senyumnya.


Menantu yang dulu sempat tak ia anggap nyatanya membawa suasana baru dan juga perubahan yang begitu besar dalam hidupnya.


"Janji sama papa! Kalian akan selalu bahagia!", kata Arya penuh penekanan. Galuh tersenyum dan menoleh ke arah suaminya.


"Abang pasti akan selalu berusaha membahagiakan kami Pa. Dan mama papa juga!", Galuh tersenyum pada suaminya.


Lingga merangkul bahu Galuh.


"Insyaallah Yang. Everything for you and our baby!", Lingga menowel hidung Galuh.


"Ishhhh...mama jadi lagi nonton adegan Drakor deh!", sahut Gita terkekeh.


"Memang ada gitu adegan Drakor kaya gini? Judulnya apa Ma?", tanya Galuh.


Gita menahan senyumnya mendengar pertanyaan sang menantu.


"Ada. Endless love!", jawab Mama ngasal.


"Mana ada, mama ngarang! Udah ngga usah di percaya!", sahut Lingga. Sebenarnya Galuh tahu mama mertuanya hanya bercanda, hanya saja dirinya ikut permainan sang mertua.


Galuh sadar, kedua mertuanya sedang mencoba menghibur dirinya seperti hal nya Lingga.


Ya Allah, entah amalan dan perbuatan baik apa di masa lalu yang ku lakukan hingga aku memiliki orang-orang yang begitu menyayangi ku seperti ini?! Batin Galuh.


Beberapa saat kemudian, dokter Maria menemui Lingga dan keluarganya.


Dua pasang suami istri itu saling berpelukan satu sama lain. Tak henti-hentinya rasa syukur mereka panjatkan pada yang kuasa.


Wait! Sejak berdamai, Arya dan Gita mulai memperbaiki ibadah mereka yang dulu sering mereka tinggalkan. Meski memang belum begitu Istikomah, setidaknya sepasang suami istri itu kini masih berusaha untuk berbenah memperbaiki kualitas ibadah mereka.


.


.


.


"Papa dapat rumah info dari siapa?", tanya Lingga pada papanya saat mereka berempat duduk di kantin rumah sakit.


"Salim yang cariin!", jawab Arya.


"Mang Salim?", tanya Lingga dan Galuh bersamaan.


"Iya!", jawab Arya. Arya tahu kebingungan anak dan menantunya pun menjelaskan semuanya.


"Jadi...mang Salim bukan cuma supir?", tanya Galuh.


"Dulu supir kantor, terus jadi supir pribadi mama saat papa bareng Burhan. Tapi sejak Burhan keluar sama Lingga ya Salim ikut sana sini. Kadang sama mama kadang sama papa. Hanya saja, mama kan emang jarang keluar rumah kalo ngga penting banget!", jelas Gita.


"Iya, entah papa udah pernah cerita atau belum. Dulu mang Salim kuliah ya... mungkin baru semester empat. Kedua orang tuanya meninggal. Akhirnya dia kerja sama papa. Kamu ingat kan Ga?", tanya Arya pada Lingga.


"Ya...lumayan ingat sih. Tapi ngga gitu ngeuh kayaknya Pa!", jawab Lingga.


"Papa pernah nawarin dia buat lanjutin kuliahnya lagi. Tapi dia ngga mau. Malah keterusan sampe sekarang ikut papa."


"Mang salim belum pernah berkeluarga Pa?", tanya Galuh. Arya menggeleng.


"Belum Luh. Mungkin sebentar lagi!", jawab Arya sedikit tersenyum.


"Heum, mungkin papa sepemikiran sama kita Yang! Benar begitu pa?", tanya Lingga pada papanya.


Arya mengedikan bahunya. Gita menatap sang putra bungsu dan suaminya bergantian. Dua lelaki beda usia itu seolah sedang memainkan telepati.

__ADS_1


"Jangan bilang papa juga tahu soal mang Salim dan ibu?", tebak Galuh.


Gita membelalakan matanya mendengar celetuk Galuh yang di sambut senyum tipis oleh dia lelaki tampan di hadapannya.


.


.


.


"Senyum terus mang, kenapa?", tanya Deni saat dia dan Syam di jemput sekolah.


"Hah? Enggak! Bisa aja den!", jawab Salim.


"Masa sih? Biasanya ngga gini deh, iya kan Syam?", tanya Deni meminta persetujuan Syam.


"Heum!", sahut Syam.


"Tuh kan!", kata Deni.


Salim menggeleng dan tersenyum pada dua bocah itu. Tak lama kemudian Deni lebih dulu turun karena gang rumahnya sudah terlihat.


"Mang!"


"Iya?"


"Menurut mang Salim, apakah kesempatan kedua itu ada?", tanya Syam. Salim menolehkan kepalanya pada Syam.


"Heum, mungkin ada. Tapi tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan kedua den!"


"Kalau kesempatan untuk bahagia, gimana?"


Salim terkekeh mendengar pertanyaan Syam.


"Kenapa tanya seperti itu? Semua orang berhak bahagia dong! Masa yang bahagia hanya orang kaya, orang miskin enggak!", jawab Salim sambil tersenyum.


"Heum, gitu ya! Bagaimana kalau orang itu ... dulunya jahat? Dan orang yang sudah di sakiti apakah tidak boleh bahagia?"


Tangan Salim terulur mengusap kepala Syam bersamaan dengan mobil yang berhenti di halaman rumah.


"Syam! Syam sudah belajar pelajaran bahasa Indonesia yang menjelaskan tokoh dalam sebuah cerita?", tanya Salim.


"Peran protagonis atau antagonis gitu ya mang?", tanya Syam. Salim mengangguk pelan.


"Begini Den. Terkadang seseorang bisa menjadi seorang protagonis juga antagonis di waktu yang bersamaan tergantung dari mana dia mengambil sudut pandangnya."


Syam mengernyitkan alisnya tanda ia tak mengerti. (Sama Mak othor juga ngga paham sendiri apa yang Mak tulis πŸ™ˆ moon maap πŸ™πŸ™)


"Contoh realnya saja ya den. Papa Glen! Jika untuk beberapa waktu yang lalu, beliau adalah peran antagonis dalam hidup den Syam, tapi... beliau berperan protagonis dalam hidup Zea."


Salim menjeda ucapannya. Mengira-ngira apakah Syam paham ucapannya atau tidak.


"Jadi...kalau Syam bisa memberikan kesempatan kedua buat papa Glen, apakah peran Syam protagonis?", tanya Syam dengan lugunya.


"Den Syam anak baik! Ibu dan kak Galuh serta bang Lingga sudah mendidik Syam menjadi sosok yang baik. Tak perlu berperan seperti yang di sebut tadi. Syam adalah anak yang baik!", kata Salim menepuk bahu Syam.


Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Syam memeluk tubuh Salim yang akan membukakan pintu untuk Syam hingga lelaki itu mengurungkan niatnya.


"Mang!", panggil Syam lirih. Tangan Salim terulur mengusap puncak kepala Syam.


"Iya den, kenapa?", tanya Salim.


"Kalau ibu...berhak bahagia ngga mang?", tanya Syam. Salim menautkan kedua alisnya.


"Maksudnya?????", tanya Salim.


*****


22.46


Malam banget yakkk??? Mak lagi sibuk njemur padi kalo siang 🀣🀣🀣🀣


Mon maap kalo gaje ya ✌️✌️✌️ insyaallah di usahakan terus apdet nya. Moga ga kecewa, makasih πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2