Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 73


__ADS_3

Hujan masih mengguyur kampung itu dengan sangat deras. Para pekerja pun tidak melakukan aktivitas untuk pengiriman. Lingga mengijinkan mereka untuk tidak mengirimkan sayuran. Begitu pula dengan pekerja yang ada di pabrik dan penggilingan padi. Biarlah, hujan seperti ini di manfaatkan untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah setiap harinya. Percaya lah di balik derasnya hujan yang seolah sedang menghambat usaha, akan ada banjir rejeki setelahnya 😇😇


Lingga percaya, rejeki yang sudah di takdirkan untuknya tidak akan tertukar dengan rejeki orang lain. Ia menghubungi masing-masing orang kepercayaannya yang bertanggung jawab dengan bidang pekerjaannya.


Burhan yang berasal dari kabupaten sebelah pun meminta ijin untuk pulang barulah setelah itu ia kembali ke kota untuk mengawasi perbaikan resto dan juga minimarket Lingga.


Jam makan siang berlalu, Lingga dan yang lain sudah di panggil makan siang oleh Bik Mumun dan Sekar. Sesuai rencana, Bik mumun membuat sekoteng untuk menghangatkan badan selama cuaca dingin seperti ini.


Saat di ruang makan ....


"Bang, ajak mama dan tu ... pa-pa makan siang dulu!", kata Galuh pada suaminya.


Yuhuuu... akhirnya mau juga Arya di ajak masuk ke kamar yang Gita huni selama di sana. Angel yang jadi korban, dia pindah lagi ke kamar papa dan mamanya.


"Coba deh aku yang panggil!", kata Vanes. Lingga pun mempersilahkan kakak iparnya.


Tok..


tok...


"Ma , Pa! Ditunggu makan siang tuh! Ayok?", ajak Vanes dari luar pintu. Tak lama kemudian, Gita membuka pintunya.


"Papa tidur nes. Mungkin kelelahan! Nanti kalau sudah bangun, mama ajak papa makan deh!"

__ADS_1


"Owh... ya udah, Vanes ke bawah ya ma!"


"Iya Nes!"


Gita kembali memasuki kamarnya. Suaminya tertidur pulas. Entah karena benar-benar mengantuk atau memang tempatnya yang nyaman.


Gita pun turut berbaring di sampingnya. Usianya memang sudah tak muda lagi, tapi rasa cintanya tak berubah sedikit pun meski sikap suaminya sering kali membuat sakit hatinya. Perlahan, Gita turut terlelap.


.


.


Dalam mimpi Arya....


Lelaki berkaos kumal berjalan sambil menenteng beberapa barang yang aka di jual ke pasar.


"Heh, bocah! Sini kamu!", panggil orang itu. Laki-laki kecil berperawakan kurus itu pun berhenti.


Orang itu menarik paksa bocah kecil itu. Di cengkramnya di dagunya. Agaknya, laki-laki tadi merasa sangat emosi.


"Heh, denger baik-baik Lo! Sekali pun besok Lo jadi orang kaya, Lo tetap berasal dari tempat yang menjijikkan seperti ini hahahaha...."


Dada anak itu bergemuruh hebat. Dia akan membalas setiap huruf yang keluar dari mulut lelaki itu.

__ADS_1


Ya, anak lelaki yang bertekad itu adalah Arya kecil. Dia membuktikan pada dunia bahwa dia mampu dan hebat saat sekelompok laki-laki yang tak lain saudara tirinya itu menghina nya habis-habisan.


Dia melihat seperti apa perlakuan yang saudara tirinya lakukan padanya. Dan.... mereka membayar itu semua, ketika Arya menjadi sosok yang dewasa dan berkuasa.


Sikap arogansi nya mulai muncul sejak saat itu. Siapapun yang menentang Arya, itu artinya ia sedang memasang bendera perang dengannya.


Dalam mimpi tersebut, Arya merasa dirinya kembali muda bahkan jauh lebih muda dari sang bungsu. Dia melihat seseorang yang tidak lain adalah menantunya yang sedang duduk dan memangku seorang bayi. Galih tersenyum menatap Arya muda itu.


"Papa!", panggil Galuh.


"Saya bukan papamu. Jangan temui saya! Saya tidak ingin ada penghinaan lagi. Jadi pergi lah!", teriak arya. Sedang dalam dunia nyata, Arya benar-benar seperti orang yang kesetanan. Beruntung ada Gita yang berusaha menenangkannya.


"Papa cuma mimpi Pa, mau mama ambilkan makan siang?" tawar Gita setelah Arya merasa tenang. Tapi Arya memilih menggeleng dan kembali merebahkan dirinya.


Tapi ternyata mata Arya tak lagi bisa di ajak untuk kembali terlelap. Dia justru fokus pada foto Syam kecil. Ia teringat pada Arsyam nya yang sudah lama tiada.


Arsyam....gumam Arya lirih!


Arya sedang teringat pada sosok almarhum bayinya. Jika dia masih ada, usianya sudah sebesar.... menantunya.


Arya memilih bangkit dan berdiri di samping jendela yang terkena hujan.


Maaf! Gumam pria itu lirih. Tapi entah pada siapa maaf itu di tujukkan.

__ADS_1


*****


Makasih 🙏🙏✌️


__ADS_2