Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 106


__ADS_3

Lingga masih memantau keadaan Galuh dari jauh karena Syam mengabarinya. Terakhir, Syam bilang Galuh akan dioperasi. Calon ayah itu memijat pelipisnya yang nyeri.


Bayangan dimana ia pernah gagal menyelamatkan bayinya kini kembali melintas di otaknya. Ia menyesal meninggalkan istrinya di rumah hanya untuk sebuah pekerjaan yang bisa Burhan handel.


Dengan kasar, Lingga mengusap wajah tampannya.


Burhan tak mengatakan apapun. Kesannya terlalu klise saat dia memberi nasehat klasik.


'Galuh akan baik-baik saja. banyak berdoa'


Kalimat itu tidak akan menenangkan hati Lingga. Lelaki itu akan semakin merasa bersalah. Yang Burhan lakukan sekarang adalah mengemudikan mobilnya secepat mungkin tapi masih hati-hati. Jika biasanya waktu tempuh tiga jam lebih, tidak kali ini. Lelaki beranak satu itu mengemudikan mobil nya seperti pembalap.


Di sisi lain, Arya dan Gita pun menyusul sang anak bungsunya ke kampung. Mereka sangat mencemaskan kondisi menantu dan cucu mereka.


Lalu dimana Puja dan Vanes serta Angel? Mereka kembali ke Kanada untuk mengurus kepindahan agar secepatnya Angel bersekolah di sini. Begitu pula dengan Puja dan Vanes yang akan mengurus kantor papanya.


"Papa, biar mama saja yang bawa mobilnya. Papa istirahat, gantian!", kata Gita. Arya menggelengkan kepalanya.


"Ngga usah ma! Lebih baik mama yang istirahat!", kata Arya. Gita tak lagi mampu memaksa pada suaminya.


Di ruangan dokter, Sekar dihadapkan pada sebuah situasi yang sama sekali tidak ia ketahui. Apa yang harus ia lakukan? Dia bukan dari kalangan terpelajar. Tidak tahu menahu soal beginian.


"Anda ibu kandung dari pasien atas nama Galuh Prastian?", tanya petugas tersebut.


"Betul Dok, apakah putri saya harus operasi sekarang? Usia kandungannya masih belum genap tujuh bulan!", kata Sekar cemas.


Petugas itu menghela nafas berat. Bukan maksud menghina, tapi sepertinya ibu pasien memang tak paham dengan urusan seperti ini.


"Maaf, Bu. Tapi ini jalan satu-satunya yang harus kami ambil. Jika tidak, nanti akan berpengaruh dengan janin dan juga ibunya."


Sekar mengangguk lemah. Iya, mungkin jalan terbaik memang seperti itu.


"Sebelumnya pasien pernah operasi?", tanya petugas.


"Iya sus, anak saya pertama kali operasi donor ginjal waktu berusia delapan belas tahu. Lalu, empat tahun lalu dia juga operasi Caesar hanya saja bayi nya tidak selama dok. Katanya kena virus covid", jelas Sekar.


Dokter itu menghela nafas sesaat. Dia agak ragu menyampaikan informasi kepada ibu pasiennya.


.


.


.


Syam menitipkan kakaknya pada pak Ujang dan Mang Salim karena dia akan sholat di mushola rumah sakit. Bocah itu sama sekali tak mengajak Zea berbicara.


Rasa marah dan benci sudah menguasai hati Syam. Dia takut jika kakaknya kenapa-kenapa. Syam juga takut jika harus kehilangan keponakannya lagi.

__ADS_1


Usai solat magrib , Syam bermaksud membeli beberapa minuman dan makanan ringan di apotik rumah sakit. Setelah di rasa cukup, Syam pun keluar menenteng kantong keresek besar yang berisi cukup banyak.


Saat dirinya akan melangkah, seseorang memanggil namanya.


"Syam!", panggilnya. Syam pun menoleh.


"Abang!"


Lingga langsung menghampiri Syam, sedang Burhan mengambil alih barang yang di bawa Syam. Dia kasihan melihat Syam yang sepertinya keberatan membawa barang tersebut.


"Gimana kondisi kakak?", tanya Lingga.


"Ibu lagi sama dokter, Abang tanya ke ruangan dokter aja bang?!", pinta Syam. Dia pun mengangguk.


"Kakak di ruang mana dek?", tanya Burhan pada Syam.


"Masih di UGD mas! Di tungguin sama mang Salim dan pak Ujang!",jawab Syam. Dia malas menyebut nama Zea.


"Ya udah, aku ke sana. Mas Lingga sama Syam ke ruang dokter aja dulu. Takutnya ibu butuh sesuatu!", kata Burhan. Meski Lingga mencemaskan istrinya, tapi dia berusaha untuk menemui dokter lebih dulu. Karena bagaimana pun, dokter lah yang lebih paham.


Tok...


Tok...


Lingga mengetuk pintu sebuah ruangan setelah bertanya pada salah satu petugas.


"Assalamualaikum, ibu!", Lingga menghampiri ibu mertuanya lalu menyalaminya.


"Walaikumsalam, kamu cepat sekali sampai di sini nak? Ngebut?", tanya Sekar. Lingga hanya mengangguk tipis.


"Dok, saya suami Galuh. Bagaimana kondisi istri saya dok? Dan...calon anak kami?", tanya Lingga.


Sungguh, dia ingin sekali bisa melihat kondisi istrinya secara langsung.


"Begini pak. Kami harus segera melakukan operasi Caesar demi keselamatan keduanya. Apalagi dari rekan medis, istri anda sudah dua kali mengalami operasi besar."


Lingga mengangguk pelan sambil berusaha fokus mendengarkan penjelasan dokter.


"Usia kandungan istri anda baru dua puluh tujuh Minggu empat hari dan itu artinya bayi anda di lahirkan secara prematur. Setelah pemeriksaan kami tadi, berat badan janin masih sekitar sembilan ratus gram."


Ya Allah, kecil sekali? Batin Syam.


"Setelah di lahirkan, paling tidak dia harus berada di inkubator selama kurang lebih satu bulan atau bisa lebih jika memang di butuhkan. Organ-organ dalamnya belum terlalu sempurna meski secara fisik sudah terlihat tak ada kekurangan apapun."


"Tapi intinya istri saya baik-baik saja kan dok? Begitu pula bayi saya kan dok?", tanya Lingga.


"Saya tahu, umur sudah di tentukan oleh yang maha kuasa. Tapi menurut medis, kemungkinan untuk melanjutkan kehidupan bagi janin sekitar delapan hingga sembilan puluh persen hingga seluruh organ tubuhnya berjalan dengan baik."

__ADS_1


"Lakukan dok!", kata Lingga yakin.


"Baiklah, silahkan tanda tangan di sini pak!", pinta petugas tersebut. Dengan membaca basmalah, Lingga pun menandatangani surat tersebut.


Ketiganya keluar dari ruangan dokter tersebut lalu kembali ke depan UGD.


Lingga menautkan kedua alisnya saat melihat keberadaan Zea di sana. Tadi Syam memang bilang, menitipkan Galuh pada mang Salim dan pak Ujang. Tapi dia tidak tahu jika ada Zea di sini.


"Ze? Ngapain kamu disini? Sama siapa?", tanya Lingga. Zea tersentak melihat keberadaan Lingga.


Zea pikir, Syam akan menceritakan kronologisnya bagaimana saat ia mendorong Syam dan juga Galuh yang ada di belakang Syam. Tapi dari sikap Lingga, sepertinya Syam belum menceritakan detailnya.


Zea belum menjawab apapun, hingga petugas masuk ke ruangan Galuh yang akan memindahkannya ke ruang operasi.


Lingga menyempatkan diri untuk menghampiri istrinya yang sudah terlihat pucat. Di kecupnya berkali-kali wajah yang memutih tersebut. Belum lagi tangannya yang berisi kantong darah serta infus. Jika boleh memilih, Lingga ingin menggantikan kesakitan istrinya. Istrinya sudah terlalu sering merasakan penderitaan sejak dulu.


Jangan ditanya seperti apa kesedihan yang Lingga rasakan! Rasanya....de Javu! Perasaan takut saat itu kembali menggelayut di hati Lingga. Tapi dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa istri dan anaknya akan selamat.


Mereka semua mengikuti brankar yang mendorong Galuh menuju ke ruang operasi. Malam itu juga operasi Galuh di lakukan.


Tak henti-hentinya Lingga, Syam dan juga Sekar melafalkan doa agar Galuh dan bayinya selamat.


Ketiganya duduk bersebelahan hingga akhirnya Lingga menyadari jika adik sepupunya ada di sana.


"Zea, kamu belum jawab? Ngapain kamu ada di sini?",tanya Lingga lagi. Zea hanya terdiam tak berani menjawab ucapan kakak sepupunya.


"Dia tidak akan berani menjawabnya Bang!", kata Syam. Lingga pun menoleh pada adik iparnya.


"Kenapa?", tanya Lingga.


"Karena dia yang membuat kakak begini! Dia udah mendorong Syam dan kakak dan bikin kak Galuh jatuh!", kata Syam menatap tajam pada Zea. Dada Zea semakin naik turun. Apalagi saat dengan gerakan slowmo, Lingga menoleh padanya.


"Apa?", tanya Lingga tak percaya.


******


13.41


Dua bab yak....


Jangan lupa tinggalin jejak kuy....


Saatnya ngojek lagi, jemput bocil les 🤭🤭🤭


Terimakasih yang sudah ngasih vote kembang kopi dan like komen nya juga 😆


Kalo lagi mood, ada kemungkinan up lagi heheheh

__ADS_1


Tengkyu ✌️✌️✌️


__ADS_2