Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 83


__ADS_3

"Jadi bagaimana kondisi ibu saya?", tanya Lingga pada dokter spesialis kejiwaan.


"Nyonya Sekar hanya syok. Ada baiknya, lingkungan dan keluarga mendukung beliau agar tenang dan tidak tertekan!", ucap dokter.


"Ibu tidak perlu di rawat kan dok?", tanya Lingga lagi.


"Tidak perlu, lanjutkan saja minum obat secara teratur dan jaga emosi beliau."


Dokter pun memberikan resep obat milik Sekar. Setelah semua terlihat membaik, Sekar kembali di bawa pulang ke rumahnya.


"Ibu, ibu dengar kan apa kata dokter? Ibu jangan berpikir macam-macam ya!", kata Lingga saat mereka semua di mobil. Puja yang menyetir mobilnya, sedang Sekar duduk di apit oleh Gita dan Vanes.


"Iya", jawab Sekar singkat. Tapi tatapan matanya kosong. Bayangan saat dirinya di lecehkan oleh Glen melintas di pelupuk matanya. Sampai kapan pun peristiwa itu tidak bisa Sekar lupakan. Apalagi...wajah Syam dan Glen ibarat seseorang yang bercermin. Sama persis! Hanya berbeda usia.


Vanes dan Gita hanya menatap iba pada sosok perempuan yang cantik di usianya yang belum genap lima puluh tahun itu.


"Ga!"


"Ya?"


"Menurut kamu, dari mana Om Surya tahu kalau Syam cucunya?", tanya Puja pada Lingga.


"Orangnya om Surya banyak kali kak, dia bukan orang sembarangan! Bisa aja dia memantau Glen!", jawab Lingga tanpa embel-embel 'Om' dalam memanggil nama Glen.


Gita tahu tahu jika suaminya yang menghubungi Surya pun malah memilih diam. Dia tak ingin suaminya di salahkan. Mungkin benar caranya salah, tapi Arya hanya ingin Syam mendapatkan keadilan. Itu yang ada dalam pikiran Arya tanpa memikirkan akibatnya seperti apa. Yang jelas terlihat, tentu kondisi mental Sekar. Dia yang paling tertekan di sini.


Lingga menoleh ke arah ibu mertuanya yang sudah ia anggap ibunya sendiri. Sekar masih menatap kosong jalanan menuju ke rumah mereka.


"Menurut pandangan kakak Ga, andai saat itu Bu Sekar menerima pertanggungjawaban dari Glen, mungkin kejadiannya tidak seperti ini! Maaf, bukan membela Glen. Ini hanya sudut pandang ku saja!", kata Puja lirih sambil menatap spion melihat tiga perempuan di belakang.


"Seandainya ibu tahu akan hamil Syam, mungkin ibu mau Kak. Sayangnya kan enggak tahu. Aku juga tidak bisa menyalahkan posisi Glen. Aku juga pernah berada di situasi yang sama. Sama-sama tak memiliki akses untuk mencari tahu keberadaan keluarga istri ku."


Puja tak menyahuti ucapan adiknya.


"Aku sadar diri, kejelekan ku juga sebenarnya tak berbeda jauh dari nya. Hanya saja, Allah masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


"Kalau Kakak boleh bilang Ga, biarkan Bu Sekar dan Syam menentukan sendiri apakah akan memaafkan Glen atau tidak! Bukannya apa, kita tidak pernah tahu seperti apa isi hati seseorang kan?", puja menoleh singkat pada Lingga.

__ADS_1


"Kalo ibu ...aku rasa dia sulit untuk memberikan maaf pada Glen. Sedang Syam...?", kata Lingga.


"Syam terlalu kecil untuk memahami situasi yang sulit ini. Bukan kah dia di paksa dewasa oleh keadaan?", tanya Puja lagi.


"Tapi kak, aku sering melihat kalau sebenarnya Syam memang butuh figur seorang ayah. Tapi... sejak Glen tahu latar belakang Syam, dan karena takut sama Tante Helen....ah ...bahas itu jadi emosi lagi kak?!", kata Lingga memijit pelipisnya.


"Kakak tahu kamu sangat menyayangi Syam, Ga! Tapi... bagaimana pun juga Syam berhak mendapatkan pengakuan dari keluarga papanya. Dia akan tetap bersama kalian, karena hak perwalian ada pada kalian. Jadi, jangan mencemaskan nantinya Syam akan di bawa oleh pihak Glen. Lagi pula, seperti yang kamu bilang tadi. Nasib Tante Helen juga tak lebih beruntung dari ibu. Dia juga merasa di khianati!"


Lingga menatap jalanan yang kini mulai rimbun yang artinya sudah mendekati gang yang masuk ke arah kampungnya.


.


.


"Aunty!", panggil Angel.


"Iya sayang, kenapa?", tanya Galuh pada Angel.


"Apa... benar kalau papanya Zea itu... papanya Syam juga?", tanya Angel.


Galuh menarik nafas dalam-dalam. Dia tak yakin ingin menceritakan tentang hal itu pada Angel mengingat, Angel juga kerabat Zea.


"Iya!", jawab Galuh singkat pada akhirnya.


"Itu artinya...Syam saudara Zea?", tanya Angel lagi.


"Huum, iya An!", jawab Galuh.


"Apa Zea tahu kalau Syam saudaranya?"


"Iya, Zea tahu itu. Dan Zea meminta agar Syam tak merebut papanya dari Zea!", kata Galuh. Dia tak bermaksud mengadu domba. Hanya saja ia ingin bercerita apa adanya pada Angel.


Setelah mendengar jawaban dari Galuh, Angel pun berhenti bertanya. Mungkin semua rasa penasarannya sudah terjawab oleh Galuh.


"Angel mau makan? Biar aunty siapkan ya?", tanya Galuh.


"Boleh deh aunty!", jawab Angel. Galuh pun meninggalkan Angel di kamarnya. Perempuan hamil itu menuju ke dapur. Di luar pintu dapur banyak pekerja nya yang sedang mengurus kebun sayurnya.

__ADS_1


Tepatnya kebun sayur Syam karena Lingga sudah membaginya semua pendapatan kebun sayur adalah milik Syam. Dan kelak Syam lah yang akan mengelolanya.


Bik Mumun terlihat sedang bercengkrama dengan para pekerja lain. Galuh tak tega memanggil Mumun yang sepertinya baru selesai istirahat.


Meskipun hamil, Galuh masih cekatan melakukan pekerjaan rumah apalagi sekedar menyiapkan makan siang.


Setelah dirasa cukup untuk menyiapkan di meja makan, Galuh bermaksud memanggil papa mertua dan juga adik satu-satunya. Tapi .....


"Syam tahu, pa-pa sayang kan sama Abang?", tanya Syam. Arya tersenyum tak menjawab pertanyaan Syam.


"Kalau sama kakak? Gimana? Apa kakak punya kesalahan besar sampai papa benci sama kakak?", tanya Syam yang terdengar begitu menohok bagi seorang Arya.


Galuh sendiri yang tadi tak sengaja ingin memanggil mereka pun memilih untuk mendengarkan obrolan mereka berdua.


"Papa ngga benci sama kakak kamu Syam!", jawab Arya. Mata Galuh mulai berkaca-kaca.


Kalau papa tidak benci sama aku, lantas kenapa papa memperlakukan ku seorang ini? Gumam. Galuh.


"Terus kenapa?", tanya Syam lagi.


"Papa ngga bisa jadi orang baik di depan kakak dan Abang mu!", jawab Arya yang membuat Syam bingung.


"Tapi kenapa? Bukankah semua pertanyaan pasti ada jawabannya? Bahkan menjawab soal aja ada pasti ada cara penyelesaiannya?"


Arya menoleh heran pada anak yang usianya belum genap sebelas tahun itu.


"Seperti halnya kebencian papa sama Kakak dan Abang, pasti ada cara untuk menyelesaikannya. Bisa beri tahu kenapa pa? Papa saja bisa menerima Syam yang cuma anak ha-ram!"


"Stttt... tidak ada yang namanya anak haram Syam! Tidak ada!", jawab Arya dengan suara meninggi.


Syam sempat terkejut mendengar Arya berkata keras seperti itu.


"Maaf, kalau ucapan Syam salah dan buat papa Arya marah!", kata Syam tertunduk. Melihat Syam yang sepertinya salah sangka itu pun, Arya menetralisir emosi dalam dadanya.


"Papa yang minta maaf! Dengar kan papa! Tidak ada yang namanya anak haram di dunia ini Syam. Tidak ada! Semua anak lahir ke dunia terlahir suci! Tidak ada anak haram Syam, tidak ada!", kata Arya. Setelah mengatakan demikian, Arya bangkit lalu meninggalkan Syam. Melihat Arya pergi, Galuh menghampiri adiknya.


"Dek, makan siang dulu yuk! Tadi kan ngga jadi sarapan?", bujuk Galuh. Syam pun mengangguk patuh.

__ADS_1


__ADS_2