
Seorang laki-laki tampan baru saja memasuki mobil mewah. Dia baru saja tiba di Indonesia setelah delapan tahun berada di negara Kanada.
Dialah Hans Arlingga. Lelaki tampan dan mapan yang sekarang sudah menjadi seorang CEO di sebuah perusahaan besar milik keluarganya. Karena dia sudah membesarkan perusahaan keluarganya yang ada di Kanada, dia kembali ke Indonesia untuk meneruskan perusahaan yang papa nya pimpin karena sang papa sudah ingin pensiun.
Lingga memandangi jalanan ibukota yang sudah banyak berubah sejak ia meninggalkannya delapan tahun yang lalu.
"Tuan Muda, anda akan langsung ke kediaman Tuan Arya?",tanya supirnya.
Karena sang supir sudah di beri tahu jika Lingga sudah memiliki apartemen sendiri sebelum ia kembali ke negara ini.
"Bagaimana kalo kita langsung ke kota Xxx!? Kamu capek ngga?",tanya Lingga pada supir yang usianya tak berbeda jauh dengan nya.
"Kota Xxx? Jauh sekali tuan ?",tanya nya.
"Buruan, kalo kamu mau silahkan. Kalo tidak biar aku mengendarai mobil ini sendiri!",titah Lingga.
"Iya Tuan, siap! Tapi...!",Burhan menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Bagaimana jika tuan dan nyonya besar menunggu anda pulang ke rumah utama?",Burhan sempat khawatir karena dia hafal betul seperti apa tuan besarnya.
"Katakan saja apa adanya! Saya yang ngajak kamu ke sana!",jawab Lingga.
"Kalau tuan bertanya ada urusan apa ke kota Xxx gimana tuan muda?"
Lingga menghela nafas panjang lalu matanya menerawang ke pemandangan ibu kota. Yang hanya terdiri dari jajaran gedung dan mobil yang lalu lalang.
"Bilang saja kalo aku ingin menemui seseorang di kampung sana." Burhan pun mengangguk pertanda mengerti.
Perjalanan menuju ke kampung di kota Xxx itu menyita waktu selama enam jam lamanya. Ingatan Lingga bernostalgia di mana dirinya pernah berada di sekitar daerah itu selama kurang lebih hampir dua bulan.
Dan di hari-hari terakhir di kampung itu, dia mendapatkan pengalaman tak terlupakan hingga saat ini.
"Benar ini jalannya tuan muda?",tanya Burhan.
"Iya, lurus aja! Nanti kalau ketemu pos kamling, kita berhenti!", pinta Lingga. Burhan pun mengerti.
Jika dulu jalanan ini masih berbatu dan rusak parah, sekarang sudah di aspal hotmix. Terlihat lebih hidup dan sudah banyak rumah di kanan kiri jalan. Tapi tetap masih ada area perkebunan milik salah satu pabrik yang ada di ujung kampung.
"Gubug atau pos kamling Tuan muda?",tanya Burhan. Mobil itu sudah berjalan perlahan.
"Iya, entah pos entah gubug. Berhenti!"
Burhan pun menghentikan laju mobilnya lalu menepi ke depan gubug. Burhan sengaja tak mematikan lampu sein nya agar orang tetap waspada melintas di belokan yang cukup curam itu.
__ADS_1
Lingga turun dari mobilnya. Pria tampan itu melepas kaca mata hitamnya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana bahannya.
Gubug itu tak berubah sama sekali. Meski sudah bertahun-tahun tapi kondisinya masih sama. Masih layak di pakai meski sudah sedikit kotor karena lukisan mural anak-anak kampung ini mungkin.
Lingga sedang sibuk bernostalgia dengan masa lalunya. Sedang Burhan di Sibuk oleh serentetan pertanyaan dari tuan besarnya karena putra mahkota belum sampai ke istananya.
Seperti briefing dari Lingga, Burhan pun mengatakan sejujurnya jika dia berada di kota Xxx.
Wajar jika Arya marah besar. Nomor telepon anaknya dan juga supirnya tak bisa di hubungi, tahu-tahu sudah berada di kota lain.
"Sudah kan? Kita lanjutkan ke sana!",tunjuk Lingga dengan dagunya.
"Baik tuan muda!",Burhan membukakan pintu untuk Lingga. Setelah itu barulah ia kembali ke kursi penumpang. Saat Burhan bersiap melajukan mobil, ia terpaksa menjeda sebentar karena ada motor yang melintas. Burhan memilih untuk cari aman agar tak menimbulkan gesekan antara mobil dan kendaraan roda dua mengingat jalan itu kecil dan menikung.
Lingga sudah sedikit lupa jalanan menuju ke rumah yang pernah ia singgahi dulu. Sudah banyak sekali perubahan yang ada. Mobil mewahnya cukup mencuri perhatian warga yang ada di sekitar jalan itu.
"Arahnya benar tidak tuan muda? Sepertinya tidak ada rumah lagi!",tanya Burhan.
"Lurus saja. Nanti kalau ada tiang listrik, kita parkir di sana!",pinta Lingga. Burhan sebagai supir pun hanya mengangguk. Tiang listrik yang di jadikan patokan oleh Lingga pun sudah nampak. Burhan menghentikan mobilnya lalu parkir di area tersebut. Tanpa di bukakan pintu, Lingga turun lebih dulu. Matanya langsung tertuju pada rumah sederhana di atas sana.
Jalan setapak yang di lalui sepatu mahalnya terlihat becek dan tak terawat. Tapi ada yang menarik perhatian Lingga, ada bekas roda sepeda motor yang sepertinya baru lewat.
Burhan mengikuti majikannya di belakang. Dalam hatinya, Burhan merasa bingung sebenarnya tuan muda nya mau ke mana dan menemui siapa.
Lingga mengetuk pintu rumah Galuh. Tapi dia tak menyadari jika rumah itu tak berpenghuni. Beruntung ada warga yang lewat dari hutan atas.
"Maaf, cari siapa ya?",tanya warga pada Lingga.
"Saya cari is...em... maksud saya Bu Sekar dan Galuh pak!", jawab Lingga. Warga itu mengernyitkan alisnya.
"Cari Bu Sekar sama Galuh? Wah, mas nya udah lama banget ga komunikasi sama mereka ya? Mereka udah lama banget pindah dari sini. Ada kali berapa ya? Tujuh apa delapan tahunan gitu lah. Kayanya habis Galuh lulus SMA."
Lingga menelan salivanya kasar. Entah kenapa dadanya terasa sesak seperti di hujam batu besar.
"Bapak tahu mereka di mana?",tanya Lingga. Warga itu menggelengkan kepalanya.
"Rumah ini memang lama kosong mas. Tapi setahu saya, Galuh suka pulang ke sini kok. Walaupun cuma setahun sekali, sendirian sih."
Lingga nampak berpikir. Begitu juga dengan Burhan yang penasaran dengan sosok yang tuan mudanya cari.
"Saya...dulu sempat menginap di sini pak. Mungkin bapak masih ingat. Mahasiswa yang KKN di kampung Xxx delapan tahun yang lalu waktu lurah nya masih pak Sutisna?"
Warga itu seperti sedang mengingat-ingat.
"Iya sih, tapi saya lupa sama mas nya!",jawab si bapak.
__ADS_1
"Kira-kira saya bisa masuk ke rumah ini ngga ya pak? Barang kali ada petunjuk mereka sekarang di mana? Saya minta tolong temani bapak biar ada saksi kalau saya ngga bakal mencuri atau apa gitu pak....!"
"Heheh mas nya bisa aja. Apa yang mau di curi dari rumah ini. Rumah ini kosong mas. Ngga ada barang berharganya. Tapi gimana ya....saya bukannya ngga mau bantu, tapi kan ini bukan rumah saya!",kata warga itu.
Lingga merogoh saku celananya, beruntung ia mengantongi uang berwarna merah muda. Lingga langsung menyalami tangan warga itu dengan uang warna ping itu tiga lembar. Cukup menggiurkan bukan?
"Tolong saya ya pak?",kata Lingga memohon. Burhan sampai tak percaya jika tuan mudanya begitu kekeh ingin masuk ke dalam rumah reyot itu.
Karena imannya tergoda, akhirnya ia pun membantu Lingga untuk masuk ke dalam rumah reyot itu tanpa merusak kunci karena memang kondisi pintunya sudah rusak.
Lingga pun masuk ke dalam rumah sederhana itu. Masih sama persis seperti saat ia menginap di sini.
Matanya beralih ke kamar yang dulu ia pakai untuk beristirahat sebelum ia kembali ke kota.
"Kayanya neng Galuh dari sini. Ini rumah baru di bersihin mungkin!",celetuk si bapak warga itu.
Lingga cukup terkejut.
"Galuh dari sini?",tanya Lingga.
"Sepertinya iya mas. Tuh, tanah di dapur masih basah. Kayanya bekas di siram tadi. Masih kecium bau karbol kan mas?",tanya bapak balik.
Ada perasaan menyesal kenapa Lingga tak sampai lebih cepat ke sini. Minimal berpapasan di jalan. Tapi ini apa? Lingga sudah terlambat.
Burhan gak ikut bos nya yang berjalan ke dapur dengan bapak warga itu. Dia memilih duduk di bangku reyot dan masih nampak bersih itu.
Matanya tertuju pada vas bunga yang ada di atas meja. Di bawah vas seperti ada kertas atau bungkusan yang cukup menarik perhatian.
Burhan pun meraih kertas yang warnanya sudah tak lagi putih. Hanya saja kertas itu di bungkus plastik bening yang juga sudah tidak bening.
Burhan membuka plastik itu. Dari sampulnya, terlihat nama yang di tuju.
Untuk mas Lingga.
Burhan sedikit tergesa-gesa menghampiri majikanya.
"Tuan...tuan muda!",Burhan pun mendekati bosnya itu sambil menyerahkan amplop surat yang ia temukan tadi.
"Ini apa Burhan?",tanya Lingga.
"Saya nemu di meja tuan. Ada nama tuan muda yang di tuju di sampul itu!",kata Burhan.
Lingga buru-buru membukanya. Warna kertas itu sudah menguning. Maklum sudah delapan tahun. Tapi masih untung kertas itu bisa di baca karena pena nya tak mlbeber.
Mata Lingga fokus pada kertas itu. Dia membaca perlahan setiap kata yang ada kertas itu. Sampai dia mendudukkan diri di bangku yang ada di depannya.
__ADS_1