Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 149


__ADS_3

Siang ini mentari begitu cerah. Bahkan awan pun sepertinya sedang bermigrasi ke tempat lain. Kota kabupaten XXX memang terkenal sejuk. Wajar saja meski matahari terlihat begitu terik ,udara tetap tak terlalu panas.


Siang ini, Baby Ganesh bisa di ajak pulang ke rumah. Kedua orang tua baru serta beberapa anggota keluarga lainnya pun turut menjemput Ganesh, minus Syam yang masih sekolah.


Lingga meminta mang Salim untuk mengangkut barang-barang mereka yang ada di kost. Sedang istri serta dua ibu nya menemani Ganesh dalam mobil yang sama. Alhasil, Arya sendirian mengendarai mobilnya yang mengekor di belakang mobil Lingga.


Hampir satu jam, dua mobil itu sampai di kediaman Lingga yang disambut suka cita oleh Mumun dan beberapa pekerja kebun. Mereka sangat antusias menunggu kepulangan baby bos mereka. Usai menyapa alakadarnya, Galuh dan baby Ganesh masuk ke dalam rumah. Bukannya sombong dan tak mau berinteraksi dengan para karyawannya lebih lama, tapi kondisi Ganesh memang belum memungkinkan untuk bertemu banyak orang. Paham lah y???


Sekar merebahkan baby Ganesh diatas kasurnya. Mereka memang tak menyediakan box khusus untuk bayi. Karena suami istri itu sepakat untuk tidur bersama baby Ganesh. Mereka ingin merawat Ganesh bersama-sama.


Lingga tidak akan membiarkan Galuh begadang semalaman seorang diri. Harus jadi suami dan ayah siaga dong!!!


"Kamu sebaiknya istirahat Kak! Mumpung Ganesh masih bobo!", pinta Sekar.


"Huum, iya Bu. Kakak juga mau rebahan bareng sama Ganesh!", jawab Galuh sambil membaringkan tubuhnya di samping Ganesh. Dia seolah-olah tak ingin jauh-jauh dari sang bayi.


"Ya udah, mama sama ibu keluar aja kalau begitu ya!", ucap Gita.


"Iya Ma!", jawab Galuh. Sekar dan Gita pun keluar dari kamar Galuh.


.


.


.


"Mang Salim mana ya?", tanya Gita pada Sekar. Sekar sedikit terperanjat di tanya seperti itu.


Padahal hanya bertanya dia di mana, tapi kenapa aku deg-degan????


"Eum, mungkin masih di kost Lingga, Bu!", jawab Sekar. Gita mengangguk pelan.


"Yang jemput Syam siapa? Masa pulang jalan kaki? Kasian dong!", tanya Gita.


"Eum, coba nanti saya hubungi mang Salim Bu. Sebenarnya Syam biasa naik sepeda ke sekolah, tapi sejak mang Salim di sini jadi di antar jemput."


"Ya ngga apa-apa dong Bu Sekar, anggap aja latihan. Nanti juga jadi kebiasaan sama kewajiban, heheheh iya kan?", tanya Gita.


Sekar mengerjap pelan dan tersenyum canggung.


Apa Bu Gita tahu sesuatu ya???


.


.


.


Salim masih sibuk dengan pekerjaan membereskan kost Lingga. Sebenarnya dia hanya tinggal mengangkat beberapa barang mereka yang tak terlalu banyak.


Hanya saja, Salim merasa lebih baik kamar kost tersebut kembali di bersihkan. Bukan berati Lingga dan Galuh tak bertanggung jawab selama menghuni kamar tersebut.

__ADS_1


Hanya saja ,Salim yang terbiasa melakukan semuanya dengan beres pun tak mau tinggal diam.


Alhasil, setelah mengangkat beberapa barang majikan dia menyempatkan menyapu dan mengepel ruangan itu lebih dulu.


Di sisi lain ...


Sebuah mobil mewah berhenti di sebuah halaman sekolah. Mobil mewah milik Glen berada di parkiran bersebelahan dengan mobil milik kepsek Syam.


Sepertinya Glen selesai mengobrol banyak dengan kepsek tersebut. Terlihat keduanya bersalaman saat bel pulang sekolah berbunyi nyaring.


Anak-anak berhamburan keluar dari kelas mereka. Tak terkecuali Syam dan Deni. Tadi pagi dia di antar oleh Salim, tapi hingga siang hari ini tak terlihat mobil Salim.


Kenapa? Karena tidak ada anak-anak yang di jemput memakai mobil selain mereka berdua. Kebanyakan memakai sepeda atau di jemput dengan motor.


"Syam, mang Salim belum ke sini ya?", tanya Deni.


"Iya, Den! Astaghfirullah! Aku lupa Den, mang Salim pasti lagi anterin ibu ke rumah sakit. Jemput kakak sama Dede Ganesh!", Syam menepuk kebingungan sendiri.


"Owh....Dede Ganesh udah bisa pulang? Alhamdulillah!", kata Deni ikut senang.


"Iya Alhamdulillah Den, tapi... sepertinya kita jalan kaki Den. Ngga apa-apa kan?"


"Ya ayooo! Aku mah ayo aja Syam hihihi!", kata Deni sambil berjalan beriringan menuju ke halaman.


Tapi Syam menghentikan langkahnya saat ia melihat keberadaan seseorang di samping sebuah mobil yang cukup ia kenal.


Lelaki itu melambaikan tangannya pada Syam dan tersenyum. Syam pun membalas senyuman itu. Deni yang tak tahu pun langsung menoleh ke arah Syam tersenyum.


"Eh, rejeki anak Sholeh Syam. Ngga di jemput mang Salim, di jemput sama papa Glen!", kata Deni.


"Assalamualaikum Papa Glen!",sapa Syam mencium punggung tangan Glen.


"Walaikumsalam!", Glen tersenyum menyambut kedatangan anak lelakinya. Ia mengecup puncak kepala Syam dengan sayang.


Deni pun menyalami dan menyapa Glen dengan sopan.


"Papa, kapan datang?", tanya Syam.


"Tadi menjelang siang. Kebetulan ada urusan di pabrik Syam."


"Papa sendiri? Zea dan Tante Helen...?", Syam menoleh ke dalam mobil Glen.


"Iya, papa sendiri. Kan ada urusan mendesak di pabrik. Jadi mereka ngga ikut. Zea kan belum libur, mama Helen juga harus mengurusi perusahaan."


Syam mengangguk.


"Orang kaya mah gitu ya Om, perusahaan lah pabrik lah yang di urusin heheh!", celetuk Deni.


Glen tersenyum mengusap bahu Deni.


"Kalian belum makan kan? Kita makan dulu ya, baru papa antar pulang!", ajak Glen.

__ADS_1


"Eum...nanti ibu di rumah khawatir Pa!", kata Syam.


"Syam telpon ibu aja, biar ibu ngga kepikiran. Kan perginya sama papa, sama Deni juga. Papa ngga akan bawa kabur Syam ke jakarta kok!", canda Glen.


Syam tersenyum.


"Boleh pinjam ponselnya? Syam kan ngga boleh bawa ke sekolah!", kata Syam. Glen menyerahkan ponselnya pada Syam.


Wallpaper di ponsel Glen adalah gambar Syam dan Zea yang Glen ambil secara diam-diam saat kedua anaknya tersebut berinteraksi layaknya kakak adik. Eh, tidak! Mereka cenderung seperti saudara kembar.


"Kenapa? Kamu lupa nomor ibu?", tanya Glen. Syam menggeleng. Glen pun menautkan alisnya.


"Papa diam-diam foto Syam sama Zea?", tanya Syam. Glen tersenyum salah tingkah.


"Iya Syam. Habisnya papa ngga bisa minta kalian foto berdua waktu itu."


Syam mengangguk pelan.


"Lain kali kalo kita kumpul bareng, bisa kok foto bersama kaya gini!", tawar Syam. Senyum Glen merekah sempurna.


"Oke! Kita jadwalkan ya Syam!", kata Glen. Syam, glen bahkan Deni ikut tertawa.


Tapi suara yang gak asing tiba-tiba menginterupsi.


"Ngga usah telpon ibu ngga apa-apa dek, nanti papa yang bilang!"


Syam, Glen dan Deni kompak menoleh.


"Papa!", panggil Syam berbinar melihat kedatangan Arya. Glen masih iri melihat kedekatan Syam dan Arya.


"Mas!", sapa Glen basa basi. Lelaki dewasa itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Kapan datang Glen?", tanya Arya.


"Tadi jam sepuluh Mas!", jawab Glen.


"Papa mau jemput Syam?", tanya Syam pada Arya.


"Tadinya iya, calon bapak kamu masih beberes di kost nya Kakak kemarin. Jadi papa inisiatif jemput kamu. Tapi ternyata...papa keduluan sama papa Glen kamu!", Arya mengulurkan tangannya di kepala Syam. Syam tersenyum tipis. Sedang wajah Glen yang tadi tersenyum pun mulai memudar senyumannya.


Calon bapak? Salim calon bapak Syam? Mereka....??? Glen terdengar menarik nafas dalam-dalam lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Benarkah dia merasa cemburu? Punya hak apa dirinya???


"Boleh Syam pulang sama papa Glen?", tanya Syam.


"Tentu boleh. Nanti papa bilang sama ibu kamu?!", kata Arya.


Akhirnya, Arya pulang sendiri. Sedang Syam dan Deni ikut mobil Glen.


****


Kemarin ngga update 🙈🙈🙈 sibuk Mulu Mak othor nya 😆😆😆 ada yang merindu kahhh????? 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


05.03


Terimakasih 🙏


__ADS_2