
"Pa, mama ambilkan makan ya? Udah siang!", kata Gita.
"Ma, kamu itu tamu. Jangan seolah kamu pemilik rumah ini! Kalau memang mereka mau menjamu kita, mereka yang harus menyediakannya. Bukan kamu yang harus mengambilnya."
"Tadi mereka sudah menunggu kita Pa, tapi papa masih istirahat. Jadi mama ikut tertidur juga sama papa."
Arya masih memandangi hamparan kebun sayur yang dari jendela kamar yang ia huni. Suasananya sangat tenang dan nyaman meski kamar ini tak semewah kediamannya, tapi sangat nyaman tanpa AC.
"Sebentar ya Pa!", pamit Gita. Mau seperti apapun marah nya pada Arya, Gita tetap berusaha untuk melayani suaminya dengan sebaik mungkin. Meskipun... kadang bahkan sering kali ucapan Arya menyakiti hatinya.
Seolah tak memperdulikan istrinya, Arya masih betah melihat hujan di luar.
Gita menuruni tangga menuju ke ruang makan. Ternyata, Mumun sudah membereskan meja makan. Suasana sangat sepi di jam satu siang seperti ini.
Pada ke mana? Monolog Gita. Lalu perempuan itu pun melangkah ke dapur. Terlihat Mumun yang sedang mencuci peralatan masak dan sisa makan siang tadi.
"Bik!", sapa Gita.
"Eh, Nyonya! Ada yang bisa Mumun bantu?"
"Eum, saya mau siapin makan siang buat papanya Lingga, Mun!", kata Gita. Mumun mengangguk pelan.
"Saya siapkan di meja ya nyonya, maaf saya kira sudah makan siang semua. Soalnya sok ada kucing, takut di isengi kucing kalo ngga di simpan!", kata Mumun.
"Ngga apa-apa Mun."
Mumun pun mengambil nampan dan peralatan lainnya. Setelah itu, ia membiarkan ibu majikannya menyiapkan makanan untuk suaminya.
"Eh, Mun. Itu di panci, kuah apa?", tanya Gita.
"Sanes kuah etah mah Nyah, air susu jahe. Saya bikin sekoteng tadi. Saya siapin mau, buat nyonya dan tuan?"
"Sekoteng?"
"Iya nyonya. Sebentar ya! Cuaca lagi dingin begini emang cocok minum yang anget-anget!", kata Mumun sambil memanaskan lagi susu jahenya. Lalu tangannya bergerak aktif meracik isian sekoteng.
"Banyak amat yang saya bawa ke kamar ya Mun?"
"Biar saya yang bawa nyonya!", kata Mumun.
"Kamu bantu aja bawa sekoteng nya Mun, kasian kamu kalo bolak-balik!", kata Gita. Mumun pun menyetujui ucapan Gita.
"Yang lain ke mana Mun?",tanya Gita.
"Ibu sama den Syam di kamar, neng Galuh juga iya, kalo Nyonya Vanes sama non Angel...juga sepertinya di kamar."
__ADS_1
"Kalo Lingga dan Puja?"
"Mereka di teras belakang nyonya!", kata Mumun.
"Emang ada berapa teras sih rumah ini?", tanya Gita sambil menaiki tangga.
"Hehehe , setiap sisi rumah ada terasnya Nyonya. Di belakang ada gudang penyimpanan juga."
Gita tak tahu apapun selama ia menginap di sini. Ternyata dia butut house touring rumah anak dan menantunya itu.
Mumun membantu Gita meletakkan nampan berisi makanan dan sekoteng di meja belajar Syam. Posisi Arya masih sama, menghadap ke arah jendela.
"Makasih ya Mun!"
"Iya nyonya, nanti kalau sudah selesai, panggil Mumun saja!"
Gita mengangguk dan Mumun pun keluar dari kamar itu lalu menutup pintu kamar Syam.
"Pa!", Gita memanggil Arya yang masih setia di depan jendela menatap hujan.
"Makan dulu ya, papa belum makan sejak sampai di sini!", bujuk Gita.
Bahkan papa makan nasi saja semalam ma, itu pun karena membuntuti anakmu hingga sampai di sini! Batin Arya.
Dilihatnya lauk yang berjejeran di nampan itu. Lauk sederhana yang bahkan siap pun mampu membuatnya atau sekedar membelinya dan pernah memakannya. Tapi... makanan itu justru mengingatkan hal pahit dalam hidup Arya.
Akhirnya Gita memaksa Arya duduk di bangku meja belajar Syam. Arya meremas sendok yang ada di hadapannya.
Kepingan-kepingan kenangan buruk kembali mengusik pikiran Arya.
"Di makan dulu pa! Mama tahu, ini bukan selera papa! Tapi nanti saat kita pulang ke jakarta, kita bisa membelinya di restoran. Disini tidak ada restoran western pa, lagi pula kita sedang bertamu. Tak mungkin mama meminta menu macam-macam pada art di sini!"
Perlahan Arya menyuapkan makanannya. Suapan pertama membuat dadanya bergetar. Bukan karena tak enak atau enak sekali. Tapi...ia teringat dimana saat dirinya hidup bersama kakak-kakak tirinya.
Saat kakak-kakak tirinya makan dengan lauk seperti yang sedang ia hadapi saat ini, Arya hanya makan nasi lauk garam. Itu pun sembunyi-sembunyi. Dan setiap Arya ingin sesuatu, dia harus membantu ibunya menjual sayuran di pasar agar ia bisa mendapatkan uang.
Tanpa di sadari, air mata Arya meleleh. Tapi cepat-cepat ia hapus. Lalu ia meneguk air putih hingga tandas.
"Apa sup nya terlalu pedas Pa? Perlu mama ambilkan air lagi?", tawar Gita. Arya pun mengangguk. Gita pun keluar dari kamarnya menuju ke dapur.
Arya memandangi pigura foto keluarga di meja belajar Syam. Foto yang terdiri dari Lingga, Galuh, Sekar dan Syam. Tampak senyum bahagia terpancar di wajah mereka.
Arya teringat pertemuan pertama kali dengan Galuh yang meminta pertolongan padanya. Gadis belia yang menjadi tulang punggung keluarga. Gadis yang harus di hadapkan dengan kesulitan hidup yang akhirnya memaksanya untuk menjual ginjalnya pada Arya.
Arya tak sejahat itu. Dia melebihkan jumlah lebih banyak dari yang ada di perjanjian. Kenapa???
__ADS_1
Karena Arya berharap, Galuh akan membuat usaha dengan uang yang ia berikan. Arya sadar, fisik Galuh tidak akan sekuat orang yang memiliki dua ginjal sehat. Apalagi dia harus menanggung hidup ibu dan adiknya yang lahir karena korban pelecehan dari adik ipar Arya.
Galuh sudah berjanji tidak akan muncul di hadapan Arya karena pasti ia akan merasa bersalah. Tapi seolah di permainkan takdir, justru Galuh sang pendonor ginjal untuk istrinya adalah menantu bungsunya.
"Ini minum nya pa!", tiba-tiba saja Gita mengagetkan lamunan Arya. Arya pun menerima gelas itu lalu meminumnya lagi.
"Papa ke toilet dulu!", ujar Arya.
"Toilet ada di samping tangga Pa!", kata Gita. Arya mengangguk mengerti. Tadi dia masuk kedalam rumah Lingga tanpa memperhatikan sekitar.
Di saat Arya menuruni tangga, bersamaan pula dengan Galuh yang keluar dari kamar dengan posisi pintu yang berhadapan dengan tangga.
Mata Galuh dan Arya saling mengunci. Bagai gerakan slow motion, Arya menuruni tangga dengan perlahan.
Galuh mencoba untuk tersenyum pada papa mertuanya, tapi Arya memilih abai lalu masuk ke kamar mandi.
"Astaghfirullah, sabar Luh...sabar! Berdoa wae... mertua kamu akan menyayangi kamu seperti beliau sayang sama kak Vanes!", Galuh mengusap dadanya agar tak terpancing emosi.
"Neng, butuh naon?", tanya Mumun saat melihat Galuh ke dapur.
"Pengen ngemil apa gitu Bik!", kata Galuh sambil duduk di bangku dekat pintu keluar dapur yang di buka setengah.
"Kan di kulkas ge loba neng!", kata Mumun.
"Eum...iya sih? Eh, si Abang masih ngobrol di belakang ya sama kak Puja?"
"Muhun neng. Serius pisan kayanya!", sahut Mumun.
"Aku ke sana dulu ya Bik!", kata Galuh.
"Atuh jangan Neng. Jalan nya mah licin!", larang Mumun.
"Aku hati-hati kok Bik!", kata Galuh ngeyel. Mumun tak bisa lagi melarang majikannya.
Tapi naas tidak bisa ditolak, baru saja keluar dari pintu dapur tiba-tiba petir dan guntur datang bersamaan. Galuh yang baru melangkah keluar pun terkejut hingga oleng dan hampir jatuh.
"Neng?!", pekik Mumun.
Pekikan Mumun menarik atensi Lingga dan Puja yang ada di teras belakang. Meskipun tak cukup jelas karena hujan, tapi lingga dan Puja menoleh bersamaan.
Dan apa yang mereka lihat???
*****
To be continue????!! 🤭🤭🤭
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏