
Lingga dan Puja keluar dari rumah menuju ke gerbang. Sedang kaum hawa berada di dalam rumah untuk menghindari suatu hal yang tidak di inginkan.
"Ada apa mang?", tanya Lingga pada salah satu pekerjanya. Tapi belum juga si mamang yang di maksud menjawab pertanyaan Lingga, Arya lebih dulu menyahut.
"Suruh mama kamu keluar! Papa mau mengajaknya pulang!", kata Arya.
Para pekerjanya pun menoleh pada Lingga, Lingga mengangkat tangannya sebagai kode bahwa mereka di suruh pergi saja.
"Kita masuk ke dalam saja pa!", ajak Puja hendak menggandeng lengan papanya. Tapi dasar Arya, dia menghentakkan tangan Puja dari lengannya.
"Tidak sudi papa menginjakkan kaki ke dalam rumah perempuan kampung itu!"
Puja menggeleng tak percaya. Sedang Lingga memejamkan matanya, berusaha menahan ledakan emosi dalam dadanya. Kalimat istighfar menggema dalam hatinya. Dia hanya mencoba untuk selalu mengingat nasehat sang istri.
"Mau seperti apapun sikap tuan Arya, beliau tetep papa Abang yang harus di hormati. Jangan ikut membentak saat papa Abang membentak."
"Mau papa apa?", tanya Lingga dengan suara bergetar. Tampak sekali ia berusaha untuk menahan diri.
"Papa mau jemput mama kamu pulang. Tempat mama bukan di kampung seperti ini!", sahut Arya masih dengan nada sombongnya.
Meskipun dalam sudut hatinya ia mengakui. Rumah Lingga cukup mewah untuk perumahan di kampung seperti ini. Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui. Rumah dengan gaya minimalis modern dan kekinian. Belum hamparan tanaman sayur yang bahkan terlihat hanya dari pintu gerbang.
"Kami memang akan pulang hari ini pa!", kata Puja.
"Kamu juga! Jauh-jauh pulang dari Kanada justru malah berada di tempat kampungan seperti ini!", bentak Arya pada Puja.
"Ini memang kampung Pa dan kampungan versi papa seperti apa? Rumah dengan bilik bambu? Jalan becek? Tidak kan??", Puja justru memantik emosi Arya.
"Kamu....!", Arya menuding Puja dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Sudah cukup pa! Iya, rumah kami memang kampungan. Kak panggil mama sekarang. kakak juga siapkan saja mobil kak Puja. Sudah di panasi subuh tadi kan?"
Puja paham, mungkin adiknya ingin berbicara dengan sang papa. Dia pun masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil mama serta anak istrinya.
Arya melipat kedua tangannya di dada. Nafasnya terlihat naik turun, terlihat sekali jika lelaki yang sudah tak muda lagi itu lelah.
"Papa menyetir sendiri ke sini?", tanya Lingga basa basi. Bagaimana pun, lelaki tampan itu khawatir pada papanya. Jarak tempuh cukup jauh dari kota ke kampung ini. Dan papanya mengendarai mobil sendiri. Bagi dia yang muda mungkin tak masalah, tapi papanya???
"Iya! Tidak perlu sok perhatian!", kata Arya ketus.
"Bagaimana papa tahu kalau kami tinggal di sini?",tanya Lingga.
"Ckkk, kami tak perlu tahu!", jawabnya ketus.
"Atau papa mengikuti kami sejak di pertokoan kota semalam? Dan papa juga yang memarkirkan mobil di sana?", tanyai Lingga lagi. Arya melengos, tak ingin menjawab pertanyaan anak bungsunya.
Sebenarnya ia cukup malu ke gep membuntuti mereka. Tapi lagi-lagi gengsinya terlalu tinggi.
Arya tak menyahuti apa-apa. Dan hal itu pun membuat Lingga merasa lelah. Dia tak sesabar istrinya. Lingga lelah jika harus berpura-pura lembut pada papanya. Jika bukan karena istrinya, mungkin dia akan mengibarkan bendera perang dengan papanya yang bersikap menyebalkan itu.
Sementara di dalam rumah....
"Ada apa di luar nak Puja?", tanya Sekar yang duduk berdampingan dengan Galuh.
"Itu Bu Sekar, di depan ada...papa! Dan sepertinya papa datang sendiri. Tanpa sopir", kata Puja.
"Papa?", Gita dan Vanes terkejut.
"Iya Ma, ada papa di depan!", kata Puja.
__ADS_1
"Kenapa ngga di ajak masuk aja Kak?", tanya Galuh pada kakak iparnya. Puja justru menatap iba pada adik iparnya yang sedang mengandung keponakannya itu. Galuh tak perlu mendengar jawaban Puja. Dia pun cukup mengerti.
"Pasti papa tidak akan Sudi masuk ke rumah kami!", kata Galuh tersenyum miris.
"Nak!", Sekar mengusap bahu anak perempuannya.
"Maafkan papa ya Luh!", kini Gita juga duduk di sebelah Galuh. Alhasil, Galuh di apit oleh dua ibu. Ibu kandung dan juga ibu mertuanya.
"Ngga apa-apa Ma. Oh iya, sebentar ma, Bu! Galuh panggil bik Mumun dulu!", kata Galuh berusaha berdiri. Sekar dan Gita pun membantu Galuh berdiri.
"Bik, Bik Mumun!", panggil Galuh. Angel justru menggelayut manja pada Vanes, dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, bik Mumun pun menghampiri Galuh.
"Ya Neng Galuh, kenapa? Butuh bantuan bibik?", tanya Bik Mumun dengan dialek Sundanya yang khas.
"Punten Bik, buatkan teh hangat sama masih ada kue kan di kulkas? Kalo sudah, tolong bawa ke depan. Ada papanya Abang di depan. Kayanya masih betah liat pemandangan di luar. Makanya minum nya bawa ke depan aja ya bik!"
Mumun sebenarnya bingung, kenapa orang tua majikannya malah memilih di luar. Padahal keluarganya sedang ada di dalam semua.
"Iya neng. Sekarang bibik buatkan!", kata Mumun lalu meninggalkan Galuh.
Gita terharu melihat kebaikan menantunya. Padahal...sikap papa mertuanya sama sekali tak pernah menganggap Galuh ada. Tapi lihat lah, meski sederhana seperti itu...Galuh memperhatikan sang papa mertua. Bukan sok baik, Galuh memang baik. Galuh tahu, berkendara dari kota ke tempat ini pasti sangat melelahkan. Dan itu papa lakukan seorang diri, kasihan bukan???
Gita bangkit dari sofa lalu memeluk menantunya. Galuh cukup terkejut karena pelukan dadakan Gita.
"Mama?", panggil Galuh lirih.
"Udah Ma. Ngga usah begini. Nanti aku sedih terus mewek gimana? Dedek utun nya ikut sedih juga di dalam perut lho!", ujar Galuh mencoba menghibur mama mertuanya.
__ADS_1
"Iya ma! Lebih baik kita tunda saja dulu kepulangan kita, paling tidak... nunggu papa istirahat dulu", kata Puja.
Gita dan yang lain pun setuju dengan apa yang Puja katakan.