Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 171


__ADS_3

"Makasih Pa!", kata Syam turun dari mobil Arya yang akan langsung bertolak ke ibukota.


"Iya, jangan lupa sarapan! Tadi kamu cuma minum susu!", pinta Arya.


"Siap Pa! Papa juga hati-hati jalan sendirian ke kota! Kalo udah capek, istirahat jangan maksain lanjut ya Pa!"


"Iya!", kata Arya. Usai berpamitan, mobil pun melesat menuju jalan utama.


Suasana kampung masih cukup gelap karena memang baru beberapa menit waktu subuh berlalu.


Syam melewati pintu dapur yang pasti sudah tak terkunci. Ibu atau kakaknya sudah bangun di jam seperti sekarang.


"Assalamualaikum!", Syam memasuki dapur.


"Walaikumsalam! Lho, pagi benar udah pulang dek?", tanya Galuh yang sedang memasak telur untuk sarapan.


"Huum, di antar papa sekalian jalan ke Jakarta!", kata Syam duduk di bangku yang tak jauh dari Galuh.


"Oh ya? Tumben papa ke Jakarta!? Ngga ada masalah serius kan?", Galuh meletakkan beberapa telur dan semangkuk besar nasi putih tak lupa sambal kecap dan kerupuk.


Menu itu atas permintaan Lingga , Galuh hanya menuruti nya. Sejak memutuskan kembali bersama, Lingga sering meminta menu seperti itu untuk mengingat pernikahan awal mereka.


"Misi kita berhasil kak! Akhirnya papa Arya mau nengok kakaknya juga ayahnya papa."


"Alhamdulillah, kakak ikut seneng dek!", kata Galuh riang.


"Syam juga Kak. Awalnya Syam pesimis bujuk papa, tapi akhirnya luluh juga."


"Spill cara meluluhkan hati papa dek!", pinta Galuh. Di saat yang bersamaan, Lingga sedang menimang-nimang Ganesh yang akan memasuki dapur mendengar obrolan kakak adik tersebut.


"Sedikit ekstrim sebenarnya kak!", kata Syam.


"Ekstrim? Ekstrim gimana maksudnya?", Galuh penasaran.


"Itu...Syam bahas kain kafan, kematian dan akhirat juga!"


Galuh menautkan kedua alisnya, hal yang sama pun Lingga lakukan tanpa mendekati istri dan adik iparnya.


"Huum, Syam ceritain filosofi kain kafan seperti yang ustadz Mulyono bilang waktu itu kak."


Galuh sempat ternganga beberapa saat lalu setelah itu ia menggeleng pelan.


"Kamu menakut-nakuti papa? Jangan gitu Syam, papa kan sedang berusaha untuk Istikomah. Jangan di takut-takuti semacam itu, tapi di dampingi. Bukan berati kamu jauh lebih baik atau lebih pintar dari papa, tapi kamu tahu sendiri papa seperti apa."


"Iya maaf, awalnya Syam pikir juga kaya yang kakak bilang barusan. Tapi ternyata papa agak susah di taklukan lho kak. Dan ya... mungkin karena hatinya sudah terketuk sama Allah, makanya pagi-pagi buta papa sudah berubah pikiran!", kata Syam panjang lebar.


"Huum! Iya, kakak yakin kamu tahu apa yang kamu lakukan tidak sembarangan!", Galuh mengusap kepala Syam.


"Iya kak. Papa itu orang baik, cuma kadang beliau tuh ngga mau di lihat baik oleh orang lain."


"Iya, Kakak setuju ucapan kamu. Oh, iya! Berati, mama dan papa ke Jakarta berdua?", tanya Galuh pada adiknya.


"Mama ngga ikut kak."


"Lho? Kenapa? Bukankah biasanya juga mama ikut kalo papa pergi?", tanya Galuh.


"Mama ngga mau jauh-jauh dari Ganesh katanya kak!", jawab Syam.


"Ya Allah...mama!", Galuh menggeleng pelan.


"Tapi papa udah janji, kalo kiranya capek ya istirahat. Jadi ngga memaksakan diri buat nerusin perjalanan."


"Iya dek, cuma kasian papa!", kata Galuh.

__ADS_1


"Insyaallah papa akan baik-baik saja kak!", kata Syam. Lingga berdehem pelan saat pura-pura baru akan memasuki dapur.


"Adek udah pulang aja!", kata Lingga.


"Iya bang, di antar papa Arya sekalian!"


"Memang papa ke mana?", tanya Lingga pura-pura tak mendengar obrolan Galuh dan Syam. Lantas, Lingga menyerahkan Ganesh pada Galuh yang sudah berdiri di sampingnya.


"Ke jakarta!", jawab Syam.


"Ngapain?", tanya Lingga.


Syam pun menceritakan semuanya tanpa kurang satu apa pun sesuai dengan kenyataan.


Setelah Syam selesai bercerita, Lingga tersenyum tipis lalu mengacak rambut Syam dengan lembut.


"Jadi ini Yang, yang kamu bilang beberapa waktu lalu?", tanya Lingga pada Galuh. Galuh mengangguk dan tersenyum sambil menimang-nimang Ganesh.


"Kakak bilang apa bang?", tanya Syam pada kakak iparnya tersebut. Tapi Lingga hanya mengedikkan bahunya cuek.


Syam mendengus sedikit.


"Udah jam enam, buru ganti seragam sekolah. Bentar lagi mang Salim jemput lho!", pinta Galuh.


"Iya kak!", kata Syam. Setelah itu ia pun beranjak ke kamarnya di lantai atas.


"Yang!"


"Heum!", gumam Galuh.


"Sebenarnya yang anak papa tuh Abang apa Syam sih?", tanya Lingga sambil memakan kerupuk nya.


"Kok gitu?"


"Ishhhh...", Galuh mendesis.


"Lihat Nesh, kelakuan bapak kamu. Udah kaya anak kecil yang ngiri gara-gara ngga di kasih permen!", bisik Galuh pada putranya.


"Yang! Jangan bapak dong! Kesannya tua banget deh!"


"Oh...oke! Abah aja! Boleh???", tanya Galuh terkekeh kecil.


"Terserah deh!", kata Lingga bangkit dari bangkunya lalu menciumi Ganesh sampai bayi itu merasa risih.


"Bang, ih... Ganesh nya risih ini bang!"


"Biarin, suruh siapa emak nya rese. Ya Nesh?!", Lingga meminta persetujuan pada bayi mungil yang tertawa itu.


"Kok emak sih? Tua amat!", sahut Galuh.


"Kesel kan di panggil emak? Sama Abang juga ngga suka di panggil bapak!"


Keduanya lalu saling berpandangan setelah itu mereka pun tertawa lepas menyadari kerandoman candaan mereka.


Sekar yang awalnya akan ke dapur tersenyum melihat pemandangan membahagiakan di depannya tersebut.


Perempuan baya itu sangat bersyukur, pernikahan putri sulungnya bahagia. Padahal dulu, ia sangat takut jika pernikahan Galuh akan berantakan mengingat pernikahan itu karena paksaan. Tapi akhirnya, mereka membuktikan bahwa cinta seiring waktu benar adanya tanpa terlepas dari peranan yang maha kuasa.


Sekar menyapa Ganesh untuk memecah kecanggungan yang seolah Sekar menguping percakapan anak dan menantunya.


Ganesh pun dengan senang hati menyambut neneknya yang masih cantik itu.


.

__ADS_1


.


.


"Bu, nitip Ganesh sebentar ya!", kata Galuh pada Sekar.


"Iya kak! Tenang aja, ada Oma nya juga di sini. Ya kan mba Gita?", tanya Sekar pada Gita.


"Iya! Kalian tenang saja, mama sama ibu kamu pasti bakal jagain Ganesh dengan baik. Udah ada stok asi kan?", tanya Gita.


"Udah Ma. Ada tiga kantong, kayaknya kami pergi ngga sampai dua jam kok! Iya kan bang?!"


"Iya ma, Bu. Insyaallah kalo urusan nya cepet selesai kami langsung pulang!", kata Lingga.


"Ya udah, kalian hati-hati!", pinta Sekar.


"Iya Bu!", sahut sepasang suami istri tersebut.


Keduanya memasuki mobil yang kecil lalu meninggalkan rumah besar tersebut.


Di perjalanan...


"Mang Salim udah ada obrolan mau gimana nikahannya bang?", tanya Galuh.


"Huum, udah. Kayanya mau sederhana aja yang penting sah menurut agama dan negara. Ngga mau neko-neko!", jawab Lingga.


"Oh, syukur atuh kalo udah ada gambarannya. Jadi kita bisa siapin sesuai kemauan mereka."


Lingga tak menyahuti ucapan istrinya.


"Lagi mikirin apa?", tanya Galuh pada suaminya yang fokus menyetir.


"Kita bikin rumah yuk Yang. Di dekat kebun bawah ada lahan milik pak haji Udin, kita beli dan bikin rumah di sana aja gimana?", tanya Lingga.


"Heuh? Kok mendadak ngomong kaya gitu?", tanya Galuh bingung.


"Yang, nanti kan ibu udah punya suami. Mereka juga butuh privasi. Lagi pula, itu kan rumah almarhum bapak. Ibu juga berhak dong tinggal di sana."


"Iya sih bang, tapi kan...kita juga berhak kok tinggal di sini. Apalagi Abang yang udah memugar rumah kita."


Lingga mengusap kepala Galuh dengan pelan. Dia paham ucapan istrinya tersebut.


"Memang apa salahnya kita merenovasi rumah orang tua kita sendiri?"


"Ya ngga salah sih bang!", sahut Galuh yang tertunduk memainkan jarinya. Lingga melihat hal itu pun menggenggam tangan mungil istrinya.


"Abang juga pengen punya rumah buat kita. Seperti halnya bapak yang menyediakan rumah buat ibu dan anak-anaknya!", kata Lingga tersenyum.


Galuh menoleh dan menatap wajah suaminya yang begitu tampan.


"Nanti kita obrolin sama ibu dan mang Salim, juga mama dan papa kalo udah balik ke sini. Bagaimana pun kita masih punya orang tua, setidaknya kita tetap melibatkan mereka. Bukan meminta persetujuan mereka, tapi menghargai mereka semua. Kamu ngerti maksud Abang kan Yang?"


Galuh mengusap rahang suaminya.


"Iya bang, aku paham! Makasih ya, udah selalu mikirin aku!", kata Galuh terharu.


Lingga meraih tangan Galuh lalu mengecup punggung tangan istrinya tersebut. Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kota untuk mengurus suatu hal.


*****


Happy weekend ✌️✌️✌️✌️


Makasih banyak. Semoga masih ada yang nungguin 🤭 kemarin ngga sempet up ✌️✌️

__ADS_1


Haturnuhun tengkyu 🙏🙏🙏


__ADS_2