
"Papa! Mau apa sih kita nemuin Syam? Dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang!", kata Glen saat keduanya sarapan di hotel dimana mereka menginap.
"Mau apa kamu tanya? Dimana otak dan hati kamu Glen! Kamu tidak mau mengakui darah daging kamu sendiri? Kamu tidak mau meminta maaf atas apa yang sudah kamu perbuat? Iya?"
"Bukan gitu pa. Glen tidak bermaksud untuk tidak mengakui Syam. Tapi keadaan yang memaksa Glen seperti itu."
"Keadaan?"
"Bagai jika papa di posisi Glen pa? Helen membuat pilihan antara kelanjutan pernikahan kami atau Glen mengakui Syam tapi pernikahan ku dengan Helen selesai! Apa yang harus Glen lakukan selain mempertahankan pernikahan kami?"
"Tapi bukan berarti kamu menelantarkan cucu papa Glen!"
Glen tertunduk lesu. Semua kesalahannya Mungkin tidak akan pernah bisa di maafkan.
"Sekarang habiskan sarapan mu! Kita ke sana!", perintah Surya.
"Jawab jujur pa, papa tahu dari mana? apa papa mengawasi ku?", tanya Glen lagi.
"Tidak penting papa tahu dari mana! Yang penting sekarang kita ke sana! Cepat!", kata Surya. Meski Glen sudah dewasa, tapi dia tetap lah seorang anak di mata Surya. Maka dari itu ia pun segan terhadap papanya.
Dengan gontai Glen memasuki mobil papanya. Mereka meluncur ke kediaman Lingga.
Mereka melewati pabrik yang setengah nya di miliki oleh Glen. Surya menoleh ke arah pabrik milik putranya itu.
"Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali sudah melecehkan perempuan lain yang bahkan usianya lebih tua dari kamu Glen?",tanya Surya. Entah seperti apa bayangan ibu dari cucunya di pikiran Surya. Ibu-ibu yang sudah tua karena memiliki putri seusia menantu Arya???
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Glen. Hatinya sedang was-was. Menebak-nebak apa yang terjadi di sana nanti.
Saat akan melintas sebuah perempatan besar, mobil Surya terpaksa berhenti karena sebuah dump truk sedang memarkirkan kendaraannya masuk ke sebuah bangunan.
Kaca mobil Surya memang terbuka. Dengan ramah, Surya menyapa orang yang sedang memarkirkan dump truk dan beberapa orang lainnya.
"Bapak teh dari kota ya? Masih kerabat den Lingga?", tanya salah seorang.
"Kok kalian tahu?",tanya Surya.
"Tahu atuh pak, kan plat nomor mobilnya teh sama kaya tamu den Lingga yang lain. Kami teh kerja sama den Lingga!"
__ADS_1
"Owh...ada tamu yang lain juga di rumah lingga?",tanya Surya masih dengan ramah. Berbeda saat menghadapi Glen, putra semata wayangnya.
"Saya dengar mah orang tua sama kakaknya den Lingga!", jawabnya. Surya mengangguk paham dan setelah itu ia meminta supir nya untuk segera melaju ke alamat yang sudah ia beritahukan pada supir.
"Bersiaplah Glen!!!", kata Surya. Glen meneguk salivanya kasar. Dia tahu seperti apa papanya ketika marah. Yang Glen lakukan saat ini hanyalah pasrah. Tapi yang jelas, ia akan tetap mempertahankan pernikahan nya dengan Helen meskipun papanya akan menarik Syam menjadi cucunya.
Sedang kediaman Lingga sendiri sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Kali ini Gita sekeluarga benar-benar akan berpamitan untuk segera pulang ke kota.
"Syam masih libur?", tanya Sekar.
"Iya Bu. Tadi baca di grup wa katanya masih ada kegiatan di sekolah, jadi anak-anak libur?!", Jawab Syam.
Syam melihat Arya sekeluarga menuruni tangga menuju ke meja makan. Anak lelaki itu ingin sekali menyapa Arya, tapi sepertinya Angel sedang membalas dendam padanya. Ia begitu manja pada Arya.
Saat semua sudah berkumpul di meja makan, tiba saja bel ruang tamu berbunyi.
"Aku aja yang buka!", kata Galuh sambil berusaha berdiri dari bangkunya.
"Ngga usah, Kakak sarapan aja. Biar Syam yang buka!",kata Syam sambil melirik ke arah Arya. Arya sendiri bisa melihat kecemburuan Syam saat Arya memanjakan angel.
Galuh dan Lingga hanya menggeleng lemah dengan sikap adik nya yang memang mudah sekali menjadi mode jutek tapi juga gampang baperan.
Syam membuka pintu ruang tamu. Di lihatnya pertama kali sosok laki-laki yang berwajah sedikit ke arab-araban seperti dirinya tapi Syam cenderung lebih dominan muka asia mengikuti jejak wajah Sekar.
Surya menatap takjub wajah Syam yang sama persis seperti Glen saat masih kecil dulu. Siapapun yang melihat Syam dan Glen pasti akan mengatakan jika mereka sama, mirip sekali.
"Maaf, anda mencari siapa?", tanya Syam sopan.
Tanpa di duga, Surya memeluk Syam. Syam pun terkejut saat ada orang asing tiba-tiba memeluknya. Saat ia melihat ke belakang sosok yang memeluknya, ada seseorang yang ...entah Syam benci atau Syam rindukan.
Syam menatap kosong laki-laki yang jarak nya hanya beberapa langkah saja darinya. Perasaan yang campur aduk seolah-olah tidak bisa ia jabarkan. Bahkan dia tak menyadari jika ia dihujani ciuman dan pelukan oleh sosok laki-laki yang tak ia kenal.
"Arsyam, cucuku?", kata Surya menakupkan kedua tangannya di pipi Syam.
"Cucu?", Syam sempat terpaku dan menatap Surya yang menangis tergugu.
Sekar yang merasa anak bungsunya tak kembali ke meja makan pun memutuskan untuk menyusul Syam.
__ADS_1
"Syam, ada tamu siapa?", tanya Sekar dengan suara lembutnya. Mata Sekar dan Surya saling bersitatap. Sekar langsung menarik Syam ke dalam pelukannya.
"Anda siapa? Kenapa peluk-peluk putra saya?", tanya Sekar merasa curiga. Dia takut jika Syam akan di culik?
"Kamu...ibunya Syam?", tanya Surya.
"Iya, anda siapa?", ulang Sekar.
Surya masih tak percaya jika ternyata ibu kandung dari cucunya masih terlihat muda dan cantik. Wajar saja jika Glen tergoda pada mertua Lingga.
Tapi mata Sekar keburu menangkap wajah seseorang yang memandang nya dengan wajah pucat.
Mata Sekar bergerak dan bibirnya bergetar. Ia ingat betul siapa laki-laki yang ada di belakang Surya.
Spontan ia memeluk tubuh Syam. Sekar menggeleng cepat.
"Pergi! Pergi kalian dari sini! Pergi!", bentak Sekar masih dengan memeluk erat Syam. Syam pun mempererat pelukannya pada Sekar.
"Sekar... tolong dengarkan dulu penjelasan kami! Kami...hanya....!", suara Surya terputus saat Sekar kembali berteriak.
"Pergi kalian! Terutama kamu! Laki-laki biadab!", bentak Sekar saat ia melihat Glen justru mendekati mereka berdua.
"Sekar, Syam...saya mau minta maaf!", kata Glen bersimpuh.
Sekar dan Syam memundurkan kakinya. Teriakan Sekar membuat orang-orang yang sedang sarapan keluar.
"Ada apa ini?", tanya Lingga dengan suara tinggi. Sekar langsung menoleh.
"Abang, abang usir laki-laki brengsek itu bang! Ibu benci! Ibu ngga mau lihat laki-laki itu di sini bang?!", teriak Sekar histeris. Galuh dan Gita mencoba menenangkan Sekar.
Mereka membawa Sekar kedalam rumah sedang Syam berpindah memeluk Lingga.
"Apa yang om Surya dan om Glen lakukan di sini?!", tanya Lingga.
****
To be continue ya ✌️✌️✌️
__ADS_1
Ngantuk 😴😴😴😴😴
Betewe makasih banyak yang udah mampir dan setia menunggu up nya dari mamak so othor receh ini hehehe 😁😁😁😁