
Flashback on....
"Tuan muda?!", sapa art Arya.
"Bik, saya mau bertemu mama dan papa!", kata Lingga pada art papanya.
"Eum...iya tuan muda, saya panggilkan tuan besar dan nyonya sebentar!", kata Bibik.
Lingga duduk di ruang tamu rumah mewah itu. Padahal...dia di besarkan di rumah itu, tapi saat ini dia hanyalah orang asing yang sekedar bertamu.
Selang beberapa menit kemudian, Arya dan Gita keluar menemui Lingga.
"Ga!", Gita merengkuh putra bungsunya. Lingga pun membalas pelukan sang mama.
"Mau apa kamu ke sini?", tanya Arya tanpa basa-basi. Tampak Lingga enggan bicara dan sedikit takut nampak di wajahnya.
"Kenapa diam?", tanya Arya.
"Pa, boleh aku pinjam uang pa? Secepatnya nanti aku kembalikan!", kata Lingga takut-takut.
"Pinjam uang?", Arya tersenyum remeh.
"Pinjam uang Ga? Kok bisa? Buat apa Nak?", tanya Gita.
"Istri ku akan melahirkan Ma. Dan...Galuh terinfeksi covid. Dia di rawat di rumah sakit Xxx."
"Apa? Pa...?", Gita terkejut mendengarnya. Karena saat itu wabah memang menyerang sangat ganas. Wajar jika sebagai seorang ibu dan calon nenek Gita khawatir. Tapi Arya bergeming.
"Butuh berapa kamu?", tanya Arya.
"Lima ratus pa!", jawab Lingga.
"Huum, papa akan berikan lebih! Asalkan...kamu mau menikah dengan Shiena. Dan tinggalkan gadis kampung itu!", pinta Arya. Lingga langsung bangkit dari duduknya.
"Papa!", pekik Gita.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan istri ku!"
__ADS_1
"Terserah! Nyawa istri dan anak mu yang jadi taruhannya!", kata Arya tanpa perasaan.
"Baiklah! Ini terakhir kalinya aku meminta tolong pada papa! Papa benar-benar pria yang tak punya hati. Setidaknya, lihat calon cucu papa yang tak bersalah! Tak perlu melihat aku atau pun Galuh! Dan aku janji pa, Lingga janji! Lingga akan buktikan jika Lingga bisa sukses tanpa campur tangan dan bantuan papa!!!"
Lingga meninggalkan rumah mewah itu dengan emosi sampai ke ubun-ubun. Dia ingin meminta bantuan pada tante Helen ,tapi mengingat jika tantenya masih syok dengan kenyataan Syam adalah anak Om Glen, Lingga mengurungkan niatnya. Mau meminta kakaknya yang ada di Kanada, pasti akan jadi bullyan sang papa.
Lingga hampir frustasi di buatnya. Sepeninggal Lingga, Arya menuju ke ruang kerjanya. Lelaki itu menghela nafas panjang. Pertengkaran dengan sang bungsu selalu terulang lagi dan lagi. Dan mungkin ini yang paling parah.
Pria kaya itu mengambil ponselnya.
[Hallo?]
[Iya Ar, kenapa?]
[Pasien atas nama Galuh Prastian...menantu-ku, di rawat karena terkena covid dan akan melahirkan?]
Arya bertanya pada pemilik rumah sakit Xxx, milik sahabatnya sendiri.
[Lima menit lagi, aku kirim file nya]
Benar saja, lima menit kemudian dia menerima file riwayat kesehatan Galuh. Dia memicingkan matanya, melihat kata-kata yang hanya bisa di pahami oleh yang ahli di bidangnya.
Terdengar suara helaan nafas dari dokter tersebut.
[Dengan berat hati aku katakan Ar, calon cucu mu.... memiliki peluang yang sangat kecil untuk selamat. Selain karena terdeteksi positif covid, memang ada kelainan bawaan. Misalnya pun dia di lahirkan selamat...dia tidak akan bertahan lama dan mengalami kecacatan permanen. Maaf, tapi aku harus mengatakan demikian!]
Arya memejamkan matanya. Ia tak sanggup jika membayangkan hal itu terjadi.
[Maksud mu?]
Dokter Tristan menjelaskan penyakit yang di derita calon anak Lingga.
[Bisa kah kamu membantu ku?]
[Apa itu Ar?]
[Jangan katakan jika calon cucuku mengalami kelainan, katakan saja jika...jika... penanganannya kurang cepat. Tapi bukan dari pihak kamu, melainkan... kesalahan Lingga sendiri yang terlambat membayar administrasi]
__ADS_1
[Tapi Ar...?]
[Please...aku mohon. Aku tidak tega jika nanti calon cucuku akan merasakan kesakitan!]
[Tapi aku tidak mungkin membunuh cucu mu!]
[Kamu tetap berusaha menyelamatkannya, tapi...jika memang dia tak bisa di selamatkan, tolong jangan katakan kekurangan calon cucu ku itu Tan]
Dokter Tristan menghela nafas berat.
[Aku akan berusaha untuk menyelamatkannya, tapi...jika memang Tuhan berkehendak lain, aku minta maaf!]
[Lakukan yang terbaik Tan!]
Setelah menghubungi pemilik rumah sakit sekaligus Dirut rumah sakit tersebut, Arya menghubungi teman Lingga.
[Ya om?]
[Bisa minta tolong Lex?]
[Minta tolong apa?]
[Kamu beli mobil Lingga, tujuh ratus. Nanti om transfer ke rekening kamu. Tapi...kamu bilang, kamu tertarik dengan mobil itu. Dan katakan, kamu akan menjualnya kembali padanya jika memang Lingga sudah memiliki uang]
[Tapi, kenapa om?]
[Lakukan saja Alex ,om minta tolong]
[Baiklah Om. Alex telpon Lingga sekarang]
Arya menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. Ia memijit pelipisnya sedikit karena merasa pusing.
****
Setelah ini masih Flashback ya...
Jadi kamu ojek dulu jemput bocil 🤭🤭🤭🤗
__ADS_1
Terimakasih