
"Nanti malam aku jemput Luh!", kata Lingga sebelum gadis itu turun dari mobil.
"Kita... maksudnya aku jadi ikut acara makan malam keluarga mu Bang? Apa tidak apa-apa? Aku takut kalau nanti aku justru hanya mempermalukan mu dan....."
"Sssttt... jangan pikirkan nanti seperti apa di sana. Aku hanya mau kamu ikut dengan ku, sebagai Nyonya Hans Arlingga. Karena tidak akan ada lagi nyonya Hans Arlingga yang lain selain kamu!"
Galuh hanya menghela nafas.
"Abang masih harus ke kantor!", kata Lingga tanpa di tanya oleh istrinya.
"Tapi...itu muka bonyok bang, ngga apa-apa ke kantor?", tanya Galuh cemas.
"Bonyok begini tidak mengurangi kadar ketampanan ku kan?", ledek Lingga sambil cengengesan.
"Narsis!", kata Galuh mencebikkan bibirnya.
"Tapi kamu mengakui kan kalo suami mu ini tampan?", ledek Lingga lagi. Burhan hanya menahan agar tak mentertawakan majikannya yang sedang kasmaran. Syam sendiri sebenarnya sudah jenuh ingin segera keluar dari mobil dan rebahan di kamarnya.
"Syam turun dulu deh!", kata Syam membuka pintu mobil. Melihat Syam yang turun lebih dulu, Galuh pun ikut membuka pintu belakang.
"Nanti jam setengah delapan aku jemput!", kata Lingga. Galuh pun mengangguk tanda setuju.
"Iya Bang!", jawab Galuh. Lingga pun berpamitan pada istrinya. Setelah itu, barulah Burhan melajukan mobilnya melesat menuju ke perusahaan majikannya.
__ADS_1
"Han!"
"Iya mas?"
"Apa muka ku sangat buruk? Bonyok nya segini banyak?", tanya Lingga sambil bercermin di spion.
"Buruk sih enggak, cuma rada-rada bagaimana gitu!", sahut Burhan jujur.
Lingga menyandarkan punggungnya ke belakang sambil melihat jalanan ibu kota.
"Semoga pernikahan kami langgeng ya Han! Doakan ya!"
"Aamiin mas, saya juga berdoa demikian. Saya yakin, ngga lama ngga deh Mas Lingga bakal jatuh hati sama Mba Galuh. Bukan hanya karena pernikahan yang terpaksa di masa lalu."
Pikiran Lingga menerawang pada Zea. Zea sudah tahu masalah yang menimpa keluarganya. Bahkan dengan polosnya gadis kecil itu meminta untuk tidak mengambil papanya dari Syam. Syam sendiri hanyalah anak kecil yang sangat merindukan sosok seorang ayah. Tapi, Glen saja sepertinya tak mengharapkan kehadiran Syam. Seperti halnya dengan ibu mertuanya, Sekar.
Miris sekali nasib anak-anak kecil itu. Di satu sisi, mereka membutuhkan kasih sayang. Tapi di sisi lain, mereka harus siap dihadapkan menjadi sosok dewasa yang harus mengerti keadaan.
Perjalanan dari warung Galuh ke kantor tak terlalu lama. Mobil mercy itu kini sudah berhenti di depan loby gedung.
"Han, punya masker?"
"Ada di dasbor Mas. Sebentar!", lalu Burhan pun mengambilkan untuk Lingga.
__ADS_1
Lingga menutup wajahnya dengan masker meminimalisir kekepoan orang lain karena melihat wajah bonyoknya.
Saat ia melewati beberapa orang yang menyapa, Lingga hanya mengangguk tipis sebagai balasan sapaan mereka.
Ia menghentikan langkahnya saat di depan lift, pintu itu terbuka. Papanya keluar dari lift itu.
Ia memandangi sosok Lingga yang tertutup masker. Mau di tutupi seperti apa pun, Arya tahu jika wajah di balik masker adalah putra bungsunya.
"Dari mana jam segini kamu baru datang???"
"Ada urusan. Papa tahu itu. Bahkan papa sudah menanyakannya tadi."
"Cih... perempuan matre masih saja kamu bela."
"Perempuan itu punya nama, Galuh. Menantu papa!"
"Cukup Ga! Pokonya papa ngga mau tahu. Nanti malam kamu harus datang!"
"Aku akan datang bersama istri ku. Akan ku perkenalkan pada dunia, bahwa gadis itu adalah istriku."
"Kamu mau mempermalukan diri sendiri dengan membawa gadis kampungan itu?"
"Dia memang dari kampung, tapi tidak kampungan!"
__ADS_1
Arya melewati putranya begitu saja. Sedang Lingga sendiri pun melanjutkan melangkah keruangannya.