
Kekuatan orang berduit, dimana pun pasti punya privilege. Memudahkan segala urusan dengan uang! Hal itu juga yang Lingga lakukan untuk pernikahan hanya dengan Galuh. Sejak hari itu, keduanya sah di mata hukum dan negara.
"Han, ke sekolah Syam ya!",pinta Lingga pada Burhan.
"Siap mas!", jawab Burhan. Ia pun mengendalikan mobilnya yang ditumpangi kedua majikannya.
"Luh!"
"Heum?", hanya terdengar gumam dari bibir cantik itu.
"Nanti ikut makan malam di rumah ya! Aku ingin memperkenalkan kamu dengan keluarga dan kolega bisnis terutama keluarga Shiena."
"Apa sebaiknya aku tidak ikut aja Bang? Aku ngga mau bikin keributan di sana."
"Justru itu, aku ingin menunjukkan pada mereka jika aku sudah beristri. Jadi mereka tak bisa menjodohkan lagi dengan Shiena. Aku tak menyukai gadis itu!", kata Lingga sambil menatap arah luar. Keduanya masih sama-sama menjaga jarak aman. Harap maklum, meski sudah sah suami istri tapi keduanya memang tidak pernah dekat sebelumnya jika bukan karena tragedi kesalahpahaman dulu.
"Apa Shiena cantik?",tanya Galuh. Lingga langsung menoleh pada istrinya. Sedang Burhan hanya menatap sekilas dari spion.
"Bukankah semua perempuan cantik?",tanya Lingga balik.
"Huum, justru itu. Kenapa kamu ngga mau di jodohkan sama dia bang? Padahal dari namanya saja sudah ketebak kalau dia pasti cantik, dari keluarga terpandang yang jelas."
Lingga tersenyum miring.
"Kamu cemburu?",tanya Lingga.
"Mana ada begitu!", Galuh mencebikkan bibirnya. Lingga terkekeh pelan. Pertanyaan konyol, mana ada istrinya cemburu? Cinta saja mungkin belum tumbuh di hati keduanya.
__ADS_1
"Emang kamu mau kalo aku punya istri lebih dari satu?", tanya Lingga. Galuh menoleh cepat.
"Kalo emang niat mau punya istri lagi, ngapain ngurusin kaya tadi?", lirik Galuh dengan sedikit tajam.
"Hehehe udah lah, ngaku ajak. Selama ini kamu udah cinta kan sama Abang?", ledek Lingga.
"Dih, dari mana dapat kesimpulan begitu!"
"Ada lah, kan Abang yang nyimpulin barusan."
Galuh tak lagi menimpali. Lingga menoleh ke arah istri nya yang duduknya lumayan berjarak. Mungkin lupa semalam mereka saling menggenggam dan menguatkan.
"Ehem, ngomong-ngomong kalo saat itu kita tidak terpisah, mungkin anak kita sudah sebesar Syam ya?", celetuk Lingga. Dengan spontan Galuh menoleh?
"Anak??", Galuh tertawa. Lingga dan Burhan sampai heran.
"Kenapa? Ada yang lucu gitu?",tanya Lingga.
"Ya udah, habis ini aja kita bikinnya!", celetuk Lingga mencoba membujuk Galuh dengan candaannya lagi agar tak terlarut dalam kisah lamanya yang menyedihkan itu. Lingga sudah berjanji akan membahagiakan Galuh dan menebus semua kesalahannya.
Galuh melotot tajam lalu mencubit pinggang Lingga sekuat tenaga.
"Awsssshhhh!",pekik Lingga kesakitan. Cubitan Galuh tak main-main. Burhan yang ada di bangku depan saja sampai meringis seolah merasakan cubitan keras itu.
"Kok kdrt sih Luh? Kita baru nikah ulang lho!",kata Lingga mengaduh.
"Lagian, mesum amat sih!",kata Galuh membela diri.
__ADS_1
"Kok mesum, kan sama istri sah sendiri. Buka istri orang!",kata Lingga masih mengusap bekas cubitan Galuh, mungkin membiru.
"Tahu ah...!", Galuh melipat kedua tangannya di dada.
"Oh, aslinya kamu begini ya? Bawel! Suka main kasar. Kirain kalem gitu!", Lingga kembali memancar emosi istrinya. Galuh pun ikut terpancing.
"Kenapa emang nya setelah tahu aku kaya gini aslinya? Nyesel udah nikah sah sama aku? Ya udah sana, batalin!"
"Ngga seru banget ngancam nya begitu!"
Lingga ikut-ikutan melipat kedua tangannya di dada seperti Galuh.
Burhan hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sepasang 'pengantin baru' tapi stok lama. Dia tak menyangka jika majikannya bisa berubah hangat saat bersama istrinya. Berbeda jika dihadapkan dengan orang lain, termasuk papanya sendiri.
"Kapan kamu siap ikut aku ke apartemen?",tanya Lingga tiba-tiba.
"Apa?",Galuh menautkan kedua alisnya.
"Iya, kapan kamu akan ikut aku tinggal di apartemen. Kita sudah resmi menikah lho, masa mau hidup terpisah terus? Kapan kita bisa saling mengenal?"
"Kenapa harus aku yang ikut kamu ke apartemen, bang? Kamu kan tahu, aku punya adik kecil, punya ibu yang sakit, punya usaha...."
"Aku akan memenuhi semua kebutuhan mereka!", potong Lingga. Galuh tak menyahut lagi. Mobil mereka sudah berada di depan sekolah Syam.
Dari jauh, Syam sudah terlihat duduk di bangku tunggu yang di sediakan bagi anak yang belum di jemput.
"Abang aja yang turun! Kamu tunggu di sini Luh!", pinta Lingga. Galuh pun menuruti saja apa kata suaminya.
__ADS_1
Usai Lingga turun, tersisa lah Galuh dengan Burhan. Keduanya tak membuka obrolan apa pun hingga sebuah pemandangan mencuri perhatian mereka. Galuh sendiri memilih memejamkan matanya.
"Mba, mas Lingga berantem sama tuan Glen mba!", teriak Burhan. Galuh langsung terkesiap. Dia buru-buru bangun dan turun dari mobilnya untuk menghampirinya suaminya yang sedang adu mulut sekaligus adu otot dengan om nya sendiri.