Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 223


__ADS_3

Hari berganti...


Dua hari pasca Lingga menemukan ketidakberesan di kebunnya, dia tak membiarkan sang istri atau adik iparnya menggantikan tugas untuk bongkar muat sayuran.


Jangan bayangkan jika kebun lingga hanya sepetak dua petak. Tanah untuk menanam sayuran cukup luas.


Ingat bukan, rumah Galuh sebelumnya berada di atas? Bahkan tetangganya pun sangat jauh?


Dan setelah Lingga sukses, ia membeli tanah di sekitar tanah miliknya. Alhasil... perkebunan sayurnya sangat luas.


"Bang!"


"Heum?", gumam Lingga yang sedang mengecek pekerjaan Burhan dari kafe dan minimarket mereka.


"Abang teh sibuk terus. Biarin atuh aku aja yang ngurus kebun sayur. Abang pasti capek, kurang tidur, banyak pikiran pula!", Galuh memijat pundak Lingga yang sedang berjibaku di depan laptopnya.


Lingga merasa rileks menerima pijatan di bahunya oleh sang istri. Skin ship seperti itu saja membuat hubungan makin erat lho hehehehe 🤭


"Udah kewajiban Abang Yang!", sahut Lingga tapi matanya tetap fokus di depan layar laptopnya.


"Tapi aku juga mau meringankan pekerjaan Abang, walaupun ngga sepenuhnya...!"


"Ssstttt....udah Yang, kamu fokus aja sama Ganesh. Abang juga ngga mau kamu capek. Begadang, nyusuin, ngurusin Ganesh. Di tambah ngurus pekerjaan Abang, pasti ngga mudah Yang!", kata Lingga tegas meski suaranya pelan.


"Tapi kasian Abang!", kata Galuh merangkul Lingga dari belakang karena lelaki itu tengah duduk di depan meja rias istrinya.


Lingga tersenyum dan mengusap lengan Galuh yang terbuka karena gamisnya tertarik kebelakang.


"Kalo kasian sama Abang, cukup nurut apa kata Abang!"


Galuh mengangguk lalu menatap gambar mereka di cermin. Keduanya sama-sama tersenyum.


Galuh mencuri kecupan di pipi Lingga sebelum ia beranjak meninggalkan suaminya yang sedang sibuk. Tapi ternyata dia salah, Lingga tak bisa melepaskannya begitu saja!


"Bang!"


"Heum! Kamu yang mulai, Yang!", kata Lingga. Dan you know lah.... selanjutnya terserah mereka....


Tok...


Tok...


Tok...


"Abang, Kakak! Ada mang Udin nyariin di belakang!", kata Sekar.


Sedikit gelagapan, Galuh menyahuti ucapan ibunya.

__ADS_1


"Iya Bu, sebentar!", teriak Galuh. Untungnya Ganesh sedang ikut abahnya. Kalau tidak, dia pasti sudah kaget mendengar teriakan emaknya.


"Tumben mang Udin nyariin, ada apa ya Bang?", tanya Galuh.


"Ngga tahu Yang. Tapi setahu Abang pembayaran anak-anak udah beres kok!", kata Lingga.


"Ya udah keluar, kasian kalo mang Udin nunggu kelamaan!", ujar Galuh. Keduanya keluar dari kamar mereka. Tapi sebelumnya, Lingga menutup laptopnya lebih dulu.


Galuh dan Lingga menemui orang kepercayaannya yang mengurusi kebun sayur mereka. Jika biasanya dia hanya mengawasi, kali ini pasti ada hal yang cukup serius hingga membuatnya menemui bos besarnya.


"Ada apa mang Udin?", tanya Lingga saat ia dan istrinya tiba di teras belakang yang menghadap ke kebun.


"Itu Den, kebun....."


.


.


.


Flashback on


"Saya ngga mau tahu, pokoknya kalian harus bertanggung jawab! Saya capek di protes sama pembeli. Gara-gara beli sayuran saya, mereka mendadak sakit seperti orang yang keracunan!", adu salah satu pedagang di pasar induk pada orang Lingga.


"Betul! Saya juga di protes!", sahut yang lain. Dan tiba-tiba saja beberapa pengambil sayur itu melakukan aksi protes pada supir Lingga.


"Kamu pikir kami bohong hah?!", tuding salah satu pedagang.


Supir itu kewalahan menghadapi para pedagang itu. Bagaimana pun, si supir tak ingin di salahkan. Lagi pula, di mana-mana sayuran sebelum di masak pasti di cuci lebih dulu bukan? Masa iya keracunan?


Bahkan setahu dirinya, sayuran yang ada di kebun Lingga bebas pupuk buatan karena mereka mengambil pupuk organik dari para peternak di kampung itu.


Si supir pun mengalah dan membawa kembali sayurannya ke kebun lagi. Dia akan menceritakan semuanya pada Mang Udin selaku penanggungjawab perkebunan sayur Lingga.


Flashback off


.


.


.


"Astaghfirullah kenapa bisa begitu bang?", tanya Galuh mulai panik.


"Sabar Yang!", Lingga menenangkan istrinya.


"Mang Udin, coba cek sampel sayuran yang tersisa di kebun. Untuk hari ini , hentikan pemanenan. Liburkan pekerja perempuan! Dan yang untuk laki-laki, tolong bantu mang Udin untuk mencari tahu yang sebenarnya!", titah Lingga.

__ADS_1


"Iya Den. Permisi!", Udin pun meninggalkan teras. Belum juga Udin melangkah keluar, Salim datang tergopoh-gopoh.


"Bang? Abang!", teriak Salim yang sedang menggendong Ganesh.


"Ada apa bah?", tanya Lingga dan Galuh bersamaan.


"Pabrik penggilingan beras, terbakar!", kata Salim.


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un!", ucap Lingga dan Galuh bersamaan.


"Ngga ada yang luka kan Bah?", tanya Galuh dengan suara bergetar. Baru saja ia mendengar kabar buruk tentang sayurnya, sekarang ada musibah baru yang tak kalah mengejutkan.


"Abah belum tahu Kak!", jawab Salim.


"Udah Yang, kamu di rumah sama ibu jagain Ganesh! Biar Abah sama Abang yang ke sana naik motor, biar cepat sampai!", kata Lingga. Galuh pun menuruti perintah suaminya, dari pada di sana dia hanya panik dan membuat semakin rieweuh!


Singkat cerita, Salim sudah menghubungi orang-orangnya. Dia tak menyalahkan anak buahnya. Karena selama ini ,Salim dan Arya hanya memfokuskan keselamatan Lingga dan keluarganya.


Tapi tanpa di sadari sejak awal, Salim justru merasa terkecoh karena incaran 'mereka' tidak hanya rumah utama tapi sektor penting lainnya.


Saat masih di jalan, Salim menerima panggilan dari Arya.


[Siapa yang berjaga di rumah Salim?]


Sepertinya Arya sudah tahu kabar tentang kebakaran pabrik penggilingan beras itu.


[Ada 'anak-anak', Mas!]


Jawab Salim dengan suara yang hampir terbawa angin karena posisi berkendara Lingga yang ngebut.


[Siapa yang menjemput Syam?]


Mendadak Salim teringat akan anak sambungnya tersebut. Dia hampir melupakan bocah tampan itu. Bisa saja kan Syam jadi target 'mereka' ????


Mendengar tak ada sahutan dari Salim, Arya pun menyahut.


[Aku yang akan menjemput Syam!]


Setelah mengatakan demikian, panggilan itu pun selesai.


******


19.26


Segini dulu ya 🤭🤭🤭


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2