Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 122


__ADS_3

Masih mendung gaes. Mager mau ngapa-ngapain juga 😆 hawanya mah pengen ngemil wae. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan 🙏🙏🙏 dan selamat merayakan hari raya idul Adha 🐮🐑🦙. Ada yang hari ini ada juga yang besok ya? ✌️ Kebetulan mak othor ikutan yang besok 🤗


Happy reading 🙏🙏🙏✌️✌️✌️


*****


Masih Flashback.....


"Aku akan berusaha Bang, buat membuat hati ku dan juga mencintai Abang. Insyaallah karena lilahita'ala. Karena... seperti apapun besarnya cinta kita terhadap ciptaannya, nantinya akan luntur. Tapi jika cinta itu murni karena yang kuasa, insyaallah kita bisa menerimanya entah itu baik menurut kita atau buruk. Karena Dia akan memberikan yang kita butuhkan, bukan sekedar diinginkan."


Lingga meneguk salivanya perlahan. Jakunnya naik turun. Bagi seorang gadis seperti Galuh yang bahkan tak pernah berpacaran sama sekali, ini adalah pengalaman pertamanya dekat dengan lain jenis. Dan pemandangan itu sangat menarik perhatiannya.


Ada rasa berdesir di dalam dadanya saat melihat benjolan kecil di leher suaminya yang bergerak-gerak. Ingin menyentuh 🙈, tapi tentu saja tidak sopan!


"Ehem!", Lingga grogi di pandangi seperti itu oleh istrinya. Padahal...bukan hal baru baginya di pandangi oleh kaum hawa dengan tatapan memuja.


"Eum...su-sudah malam! Sebaiknya Abang istirahat!", pinta Galuh dan langsung beranjak ke kasurnya. Lingga membalikkan badannya lalu menatap ranjang yang di pakai Galuh untuk merebahkan diri.


"Luh?", panggil Lingga masih setia berdiri di sana.


"Kenapa bang?", tanya Galuh kembali duduk di atas ranjangnya.


Lingga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia sedang salah tingkah atau bingung. Tapi justru di mata Galuh, Lingga seperti seseorang yang sedang tebar pesona untuk menarik perhatiannya.


"Eum... Abang, tidur di mana?",tanya Lingga. Galuh justru menghela nafas.


"Ya di sini bang. Aku berbagi tempat tidur sama Abang. Maaf, kamar ku memang terbatas fasilitasnya. Tapi...kalau aku ikut pindah sama kamu bang, ibu bagaimana?", tanya Galuh yang tiba-tiba sendu.


"Maaf! Abang ngga akan maksa. Tapi Abang ngga keberatan tinggal di sini. Hanya saja ...Abang merasa malu, numpang di sini!", kata Lingga.


Galuh menarik lengan Lingga hingga dia duduk berhadapan dengan Galuh yang sudah berada di ranjang.


"Jangan pernah sekalipun Abang berpikir Abang menumpang di sini. Karena aku tahu Abang bisa memberikan fasilitas yang jauh lebih layak di bandingkan di rumah ini. Tapi maaf, aku...aku belum bisa meninggalkan ibu di saat kondisi ibu....!"


"Iya, Abang paham. Abang janji, ngga akan berpikir seperti itu", Lingga tersenyum tipis. Galuh pun mengangguk membalas senyuman suaminya.


Masyaallah, ternyata suamiku setampan ini. Padahal...saat pertama kali bertemu, jangan kan melihat dia tampan. Yang ada justru kesal dengan tingkahnya dan tampilannya. Dan benar, waktu mengubah segalanya. Entah sikap ataupun penampilannya.


"Jadi, Abang bener boleh tidur di sebelah kamu?", tanya Lingga memastikan.


"Iya!", jawab Galuh singkat.


"Kamu ngga keberatan?", tanya Lingga lagi.


"Iya, boleh! Tapi geseran ya! Aku biasa ngabisin satu tempat kalo tidur!", kata Galuh.


Lingga terkekeh pelan lalu ia melepaskan celana panjangnya dan hal itu menarik perhatian Galuh.


"Eh, Abang mau ngapa buka-buka celana di depan aku?", tanya Galuh waspada.


Lingga menautkan kedua alisnya. Memang apa yang salah?


"Kenapa Luh? Aku kan mau tidur. Masa pakai celana jeans?", tanya Lingga.


"Iya, tapi kenapa di depan ku? Kan ada kamar mandi!", kata Galuh. Kamar mandi yang mereka maksud berada di luar kamar mereka tentunya.


"Hah? Aku kan cuma mau lepas celana panjang Luh. Kenapa harus ke kamar mandi? Aku juga pakai celana pendek kok!", kata Lingga sambil meloloskan celana nya hingga ke lutut yang langsung membuat Galuh menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Lingga tertawa lepas melihat tingkah lucu istrinya. Setelah masalah yang ia lalui beberapa hari ini, kepolosan istrinya seolah menjadi hiburan untuknya.


Perlahan, Lingga mendekati ranjang dan berhenti di samping Galuh.


''Udah belom Bang???", tanya Galuh dengan suara sengau karena tertutup oleh tangannya sendiri.


"Udah!", bisik Lingga di samping Galuh yang sontak membuat Galuh terkejut.


"Astaghfirullah! Abang!", Galuh reflek memukul lengan Lingga semampunya, pasti nya tidak ada rasa sakit sama sekali yang Lingga alami karena pukulan Galuh sangat tak berasa baginya.


Lingga terbahak hingga dengan sendirinya tawa itu hilang dan mata keduanya saling beradu dengan tangan Lingga memegang kedua pergelangan tangan Galuh . Eum...kalau di sinetron atau pilem tuh pasti ada backsound yang mendayu-dayu atau ya...minimal rambut si perempuan bergerak tersapu angin jiyahhhh....


Sayangnya adegan Galuh dan Lingga tak seperti itu. Kamar Galuh pakai AC bukan kipas angin.


Sedetik dua detik hingga akhirnya mereka menyadari posisi itu. Keduanya pun tampak canggung.


"Udah jam dua belas, tidur deh Bang!", kata Galuh merebahkan diri tapi memunggungi Lingga. Lingga menghela nafas lalu tak berapa lama, ia ikut tenggelam dalam selimut yang sama dengan Galuh.


Lingga memandangi istrinya yang memunggunginya. Dia hanya takut tak bisa menahan diri jika setiap hari disuguhkan seperti ini.


Apa aku sanggup? Monolog Lingga dalam hatinya.


Jika Lingga berpikir seperti itu, Galuh pun tak berbeda jauh. Bukan takut untuk mengapa-apakan Lingga, tapi dia yang takut di apa-apakan olehnya.


Sepasang suami istri baru itu sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga akhirnya keduanya sama-sama terlelap entah pukul berapa.


Galuh terbiasa bangun sebelum Azan. Dia menoleh ke samping nya. Suaminya masih tertidur pulas dengan tangan yang ia letakan di atas dahinya.


Tampan! Itu penilaian pertama nya saat baru melihat sosok itu diam dalam tidurnya.


Tapi setelahnya, ia bangun perlahan menuruni ranjang lalu mencuci muka. Baru lah setelah itu dia turun ke lantai bawah untuk membantu di warungnya.


Galuh menyapa karyawannya yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sesekali Galuh masih menguap sambil menutup mulutnya. Sari mengkode rekannya dengan menyikutnya.

__ADS_1


Mereka tersenyum tipis melihat bos nya sering menguap.


"Udah mba Galuh, istirahat aja! Kami bisa kok? Mba Galuh pasti capek kan semalam kurang tidur!", kata Sari.


"Kok mba Sari tahu aku kurang tidur?",tanya Galuh pada karyawannya.


"Tahu lah, kan semalam mas Lingga datang. Wajar dong kalo ada yang kangen-kangenan, ya ngga gengs?", tanya Sari pada rekannya.


Galuh paham arah pembicaraan karyawannya yang masih tertawa puas melihat ia malu seperti itu.


"Apaan sih? Udah deh ah! Sono kerjain sendiri!", kata Galuh sok pura-pura ngambek.


"Iya mba Galuh tenang saja, semua pasti beres kok! Keramas dulu gih hahahaha!", lanjut Sari.


Galuh melotot tajam tapi setelah itu dia hanya menggeleng pelan. Dengan gayanya yang sok angkuh dia menyenggol bahu Sari melewatinya begitu saja.


"Ciye....yang mau keramas?", ledek Sari lagi. Tapi tiba-tiba tawanya berhenti saat melihat sosok tampan sedang berjalan menuruni tangga sambil menggosok rambutnya.


Galuh yang tak melihat keberadaan Lingga pun berkacak pinggang bersiap mematahkan Sari yang tiba-tiba diam.


"Udah puas ngeledeknya? iya?", tanya Galuh. Sari dan dua rekannya menggeleng takut dengan wajah pias. Sebenarnya bukan takut Galuh marah, tapi tidak enak pada sosok di dekat tangga yang menyaksikan mereka meledek Galuh.


"Kalian ini masih pada gadis bisa-bisanya meledek ku seperti itu ya!", kata Galuh yang sudah siap lahir batin mengomel tapi lirikan tiga gadis di depannya menatap arah lain dengan takut, bukan takut padanya.


Dengan gerakan pelan, Galuh pun menoleh ke belakang.


"Astaghfirullahaladzim!", Galuh terkejut di buatnya melihat Lingga yang...super ganteng dengan rambut basahnya dan pakaian santai.


Lelaki itu mendekati Galuh, lalu berhenti di belakangnya.


"Udah ngomelnya?", tanya Lingga. Seperti di hipnotis, Galuh hanya mengangguk. Tiga gadis itu cekoki di belakang mereka.


Lingga berbisik di dekat telinga Galuh. Siapa pun yang melihatnya dari belakang, pasti menyangka jika Lingga tengah mencium Galuh. Tapi faktanya????


"Abang lama banget ngga pernah solat, ajarin Abang!", bisiknya pelan karena dia malu jika sampai di dengar oleh Sari dkk.


Galuh menatap tajam pada suaminya, tapi dalam hatinya ia merasa bersyukur karena Lingga menyadarinya. Dia tak segan-segan untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Sekarang?", tanya Galuh yang di dengar oleh tiga gadis itu. Kata 'sekarang' terdengar ambigu bagi mereka. Apanya yang sekarang?????


Lingga mengangguk cepat dan tersenyum senang seperti anak kecil yang di beri hadiah.


"Ya udah, ayok!", ajak Galuh mendahului Lingga. Tiga gadis itu ternganga. Lingga tersenyum pada tiga gadis itu dan membuat mereka meleleh seketika.


Pikiran mereka mendadak terkontaminasi. Apakah yang akan bos nya lakukan dengan mengatakan 'sekarang'????


"Kerja woi...!", teriak Umar yang sedang menyapu warung. Sari dan dua temannya pun kembali fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Abang kapan datang?", tanya Syam pada Lingga.


"Semalam Syam! Kamu dan ibu sudah tidur. Jadi Abang ngga sempat menyapa kalian!", kata Lingga mengusap kepala Syam. Syam mengangguk.


"Ya udah, Abang mau solat dulu!", kata Lingga. Galuh lebih dulu berada di kamar sebelum Syam keluar dari kamarnya tadi.


Di dalam sana, Galuh sudah memakai mukenahnya. Lingga sempat takjub pada gadis yang sudah ia nikah lebih dari tujuh tahun yang lalu.


"Bang! Abang?", Galuh melambaikan tangannya di depan wajah Lingga.


"Hah? Eh?", sahut Lingga terkejut.


"Belum, eh...sudah!", kata Lingga tergagap.


"Heum? Yang jelas dong, udah apa belum?", ulang Galuh.


"Udah sih, tapi ngga tahu benar apa ngga!", jawab Galuh lirih.


"Dari Muhammad Hasan bin Ali bin Abi Thalib , cucu kesayangan Rasullullah SAW dan Radhiyallahu Anhuma, aku hafal (sebuah hadits) dari Rasulullah SAW : 'Tinggalkan yang meragukan mu lalu ambillah yang tidak meragukan mu'."


Lalu Galuh melanjutkan", mungkin perkara yang sekarang tidak begitu tepat, bukan meragukan hadist. Hanya saja, Abang kan ragu-ragu. Apakah wudhu nya udah benar apa ngga, dan mengacu tentang keragu-raguan aku tahunya hadis itu bang."


Lingga hanya melongo. Dia buta seperti itu!


"Ya udah, ayok!", ajak Galuh pada suaminya.


"Tapi , Luh....?", Lingga menghentikan langkah Galuh.


"Ada apa lagi?", tanya Galuh.


"Ada Syam di luar!", kata Lingga.


"Terus?", tanya Galuh.


"Abang malu!", kata Lingga lirih. Galuh menghela nafas.


"Abang pikir, Syam bakal meledek Abang? Ngga bang!", kata Galuh yakin.


"Beneran?", tanya Lingga.


"Beneran!", jawab Galuh. Dan...Lingga pun menuruti ucapan istrinya. Ternyata Syam tidak ada di sana. Lingga pun dengan santai di ajari dari niat dan secara runtut meski dengan mendengarkan Galuh.


Lingga cukup cerdas dan bisa belajar dengan cepat. Setelah berwudhu, keduanya pun sholat subuh yang agak kesiangan.

__ADS_1


"Aku solat dulu ya bang. Nanti baru Abang!", kata Galuh. Lingga mengangguk lalu ia melihat Galuh yang sedang mempraktekkan gerakan solat.


Lingga menghela nafas berat. Dia malu! Usianya sudah tak muda lagi, tapi....dia masih harus belajar menjadi muslim pada di KTP nya dia beragama Islam.


Setelah Galuh selesai, ia mulai mengajari Lingga.


Dan kegiatan seperti itu berlangsung beberapa hari berturut-turut. Lingga pun mulai beradaptasi dengan segala sesuatunya di rumah tersebut.


Sholat nya mulai rajin, dia memilih sholat di mushola belakang komplek. Dia belum percaya diri menjadi imam buat Galuh.


Kesehariannya, membantu Galuh di warung yang makin ramai sejak kehadirannya. Mungkin....wajah tampannya salah satu pemicu pelanggan baru dan lama betah berlama-lama di sana.


Pagi hari ia membantu istrinya di warung, mengantar Syam ke sekolah, mengajak jalan-jalan ibu mertuanya.


Perlahan, Lingga memberanikan diri untuk meyakinkan jika Syam bukanlah sebuah aib masa lalu ibu mertuanya.


Lingga meyakinkan jika Syam berhak mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Dan...sejak itu, Sekar mulai terbiasa melihat Syam tanpa histeris seperti sebelum-sebelumnya.


Dua bulan berlalu, hubungannya dengan Galuh pun semakin dekat. Dan seperti yang Lingga katakan di awal, dia tidak akan menuntut haknya pada istrinya jika bukan dia yang memberikannya.


"Sayang!", panggil Lingga pada Galuh. Panggilan itu sudah mulai terbiasa ia dengar.


"Apa bang?", tanya Galuh sambil membuka laporan bulanannya.


"Eum...Abang pengangguran, pengen kerja tapi kerja di mana? Nama Abang udah di banned sama papa, ngga ada yang bakal menerima Abang di perusahaan mana pun!", kata Lingga lesu.


"Siapa bilang Abang nganggur?", tanya Galuh sambil menoleh padanya.


"Kan Abang emang ngga ada kerjaan, tiap hari cuma bantu-bantu kamu!"


Galuh menghela nafas panjang.


"Ya udah, maunya Abang gimana? Aku nurut deh!", kata Galuh.


"Ruko yang dua rumah dari sini, mau di jual ya?", tanya Lingga.


"Heum, kayanya iya! Kenapa bang?", tanya Galuh.


"Gimana kalo Abang beli, terus kita bikin minimarket waralaba gitu?", tanya Lingga. Galuh menautkan kedua alisnya.


"Eum...bisa juga sih!", kata Galuh.


"Terus... warung makan ini, kita ubah jadi kafe dengan konsep anak muda tapi tetap...menu nya ada yang menu rumahan juga! Seperti menu sekarang, gimana?", tanya Lingga.


"Bang, kalo kaya gitu modal yang harus di keluarkan banyak! Nanti..."


"Ssst... percaya sama Abang, kita pasti bisa memajukan warung kamu ini!", kata Lingga meyakinkan. Galuh pun mengangguk dan tersenyum.


Keesokannya, Lingga benar-benar membeli ruko tersebut. Dan tak sampai satu bulan, minimarket waralaba itu pun berdiri.


Setelahnya, baru lah warung makan itu di pugar dengan membeli toko di sebelahnya. Jadi, rumah Galuh bisa lebih luas tak mengandalkan lantai atas saja.


Tepat di bulan ke empat, Galuh memutuskan untuk benar-benar memberikan hatinya pada sang suami.


"Bang!", kata Galuh pada malam itu di mana keduanya sedang sibuk dengan usahanya masing-masing.


"Iya?", tanya Lingga tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop.


"Aku ...aku....!"


Lingga menoleh pada Galuh yang tiba-tiba tersentak saat ia menatapnya. Lelaki itu pun meletakkan laptopnya lalu menghadap ke arah istrinya.


"Ada apa? Kok kaya kaget gitu?", tanya Lingga.


Jemari Galuh saling bertaut. Ingin mengatakan jika ia mengijinkan suaminya bisa menyentuh dirinya, tapi ...dia ragu ,eh...malu!


"Ada apa sayang?", Lingga menautkan tangannya di di jemari Galuh.


"Aku...aku mau memberikan hak Abang!", kata Galuh sambil menatap arah lain. Lingga menahan diri agar tak tertawa karena gemas melihat wajah istrinya yang malu-malu.


"Kamu yakin, sayang?", tanya Lingga. Di beri pertanyaan seperti itu justru membuat Galuh salah tingkah.


"Udah ah.... ngga jadi!", kata Galuh bangkit dari kasurnya tapi Lingga menahannya.


"Jadi dong!", kata Lingga menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Sekarang?", tanya Lingga.


"Hah? Harus gitu sekarang banget?", tanya Galuh. Lingga mengangguk.


"Tapi....?!"


"Ngga usah takut! Kita sama-sama belajar, ikut aja naluri kita. Heum?", kata Lingga. Galuh pun mengangguk dan mencoba untuk tersenyum tenang meskipun hatinya sebenarnya tidak tahan untuk segera keluar dari situasi seperti ini.


*****


Flashback mulu ya???? Bentar! Satu bab lagi flashbacknya 🤭🤭🤭


Maaf ya kalo ngga berkenan 🙏🙏🙏✌️🙏🙏


Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa vote nya, bintangnya, jempol nya, komentarnya intinya mah tinggalkan jejak biar Mak othor semangat 💪💪💪🤗🤗🤗

__ADS_1


19.11


__ADS_2