Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 222


__ADS_3

Perjalanan menuju ke ibu kota....


"Terimakasih ya Ma!", kata Glen.


"Untuk?"


"Seharusnya papa yang memberanikan kejutan ulang tahun Mama, tapi ternyata.... justru mama yang memberi kejutan buat Papa."


Helen mengangguk pelan lalu ia menoleh ke putrinya yang sudah tertidur pulas di bangku belakang. Gadis kecil itu mendekap bantal karakter miliknya dan telinga yang di tutupi headphone.


"Tidak selalu harus seperti itu kan Pa. Yang penting semua bahagia!", kata Helen.


"Iya. Dan ini semua... karena kamu Ma." Glen menyingkirkan anak rambut Helen dengan tangan kirinya karena ia masih mengendarai mobil.


"Heum?!", sahut Helen. Beberapa saat kemudian, Helen kembali bertanya entah berkata.


"Papa percaya ngga, kalau seseorang bisa jatuh cinta lagi meskipun dia sudah memiliki pasangan?", tanya Helen menoleh ke arah suaminya.


Glen berdehem pelan. Heran dengan pertanyaan istrinya yang seolah mengisyaratkan bahwa dia tahu tentang....


"Pasti percaya kan? Hehehe karena itu yang sedang papa rasakan!", kata Helen di sela kekehan yang sebenarnya cukup menyakitkan. Terdengar seperti sebuah sindiran. Tapi dia memang sedang menyindir sang suami tampannya.


"Mama ngomong apa sih, ada-ada saja!", Glen menggeleng pelan.


"Mama cuma mau bilang aja Pa, perasaan itu bukan jatuh cinta atau sekedar rasa kagum. Ya ...kalau hanya mengagumi dalam hati tak masalah, selama itu tak diketahui oleh pasangannya. Tapi kalau pasangannya tahu?"


"Ma... kita lagi bahas apa sih? Kok makin ngelantur omongannya?", protes Glen. Seolah tak menggubris protes Glen, Helen melanjutkan lagi.


"Obsesi! Tepatnya mungkin seperti itu, meski tak bisa memiliki tapi setidaknya sadar diri ada hati yang juga tak ingin di sakiti."


Mengerti arah pembicaraan sang istri, Glen menepikan mobilnya. Ia menoleh beberapa saat ke belakang. Memastikan sang putri yang terlelap dalam tidurnya.


"Mama sedang menuduh papa selingkuh?", tanya Glen pelan.


"Ngga Pa. Karena semua itu hanya papa yang tahu!", lanjut Helen. Terdengar helaan nafas dari bibir Glen.


"Ma, tolong jangan memperkeruh suasana yang sudah nyaman. Mungkin ini terlalu lebai untuk usia papa mengungkapkan kata-kata cinta. Tapi yang harus mama tahu, papa cuma cinta sama Mama."


Glen kembali menyalakan kendaraannya dan melintasi aspal pekat di malam hari ini.


Helen menatap keluar kaca jendela mobilnya. Ada sedikit rintik hujan tampak di balik kaca tersebut.


Dia tak ingin lagi bertengkar dengan suaminya. Tapi setiap kali bertemu dengan ibu kandung Syam, Helen selalu merasa jika ada hal yang suaminya sembunyikan darinya.


"Apa aku sudah tak cukup menarik buat kamu mas?", gumam Helen pelan. Tapi karena suasana cukup sunyi, Glen mampu mendengarnya.


Lelaki tampan itu meraih tangan Helen lalu mengecup punggung tangan istrinya.


"Mau seperti apa pun kamu, aku tidak akan meninggalkan mu Helen. Dan jangan pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkan mu apalagi karena kehadiran perempuan lain. Tetaplah bersama ku Len! Maafkan aku jika selama ini sering menyakiti hati kamu tanpa ku sadari....!", kata Glen panjang lebar. Bulir hangat menetes di pipi Helen.


Entah... mungkin benar, suaminya tak pernah berniat meninggalkannya. Tapi bagaimana jika hatinya terbagi????? Dia tak setegar itu. Perasaannya rapuh dan mudah emosi.


.


.


.


Sekar dan Salim sudah tidur sejak beberapa jam lalu. Wajah sang istri terlihat sesekali mengerut dan sedih meskipun matanya tertutup.


Salim mengusap kepala Sekar yang tiba-tiba merintih dan kesakitan. Entah dirinya sedang bermimpi apa.


"Ibu mimpi apa sih?", Salim bermonolog tapi tentu tak berniat langsung membangunkan Sekar. Karena Sekar juga kembali tenang.


Salim berbaring lagi menghadap istrinya dan memeluknya erat tanpa menyakiti tentunya.


"Hiks...hiks...tolong! Jangan! Lepas! Tolong!", Sekar kembali meracau dengan air mata yang meleleh.


Untuk pertama kalinya Salim melihat kondisi istrinya seperti sekarang ini. Wajar jika dia mencemaskan kondisi Sekar.


"Ibu... istighfar ibu...ini Abah!", Salim menepuk pelan pipi istrinya.


"Pergi! Tolong! Jangan! Jangan tuan...hiks ...hiks! Aku bukan Pela***!!!", Sekar menghiba dalam tidurnya.


Salim langsung memeluk isterinya yang masih histeris.


"Mimpi seburuk apa yang kamu lihat Sekar???", tanya Salim sedikit keras.


Tiba-tiba Sekar terbangun lalu memeluk suaminya begitu erat dan masih menangis.


"Bu...ibu istighfar, ini Abah!", kata Salim menenangkan.


Sekar menggeleng dalam pelukan Salim.


"Aku bukan pe***** walaupun ja*** bah! Aku bukan perempuan mura****! Aku ....hiks....hiks ...!"


"Ssstttt....ibu, istighfar ibu. Ini Abah, suami ibu! Ibu tenang ya... tenang!", Salim masih terus berusaha untuk menenangkan istrinya.


Bagaimana pun juga, ia mencemaskan istri dan calon buah hati mereka yang masih sangat rentan.


"Ibu kotor Bah...!"


"Sssss....ibu, sayang! Dengar! Ngga ada yang bilang ibu seperti itu. Dengarkan Abah baik-baik! Mau bagaimana pun ibu, Abah tetap menerima keadaan ibu. Heum??!", Salim menakup kedua pipi Sekar.


Perlahan Sekar mulai tenang. Salim mengendurkan pelukannya lalu mengambil minuman di atas nakas.

__ADS_1


"Istighfar Bu!", kata Salim pada istrinya saat sang istri selesai meminum air putih.


"Astaghfirullah... astaghfirullah.... astaghfirullahaladzim!", kata Sekar. Salim kembali merengkuh bahu Sekar.


"Apa mereka akan membawa Syam, bah? Ibu takut! Ibu takut Syam ninggalin kita Bah! Apalagi ibu tidak pernah merawat Syam dari bayi Bah, ibu takut!", kata Sekar.


Salim memejamkan matanya. Ternyata, karena pikiran istrinya seperti itu hingga mimpi buruk yang mungkin sangat menakutkan bagi Sekar terlintas lagi dalam ingatannya. Apakah segila itu Glen memperlakukan istri nya dulu???


Sekalipun ada rasa cemburu dalam dada Salim, tapi dia sadar semua itu hanya masa lalu yang tak bisa di ubah. Karena kebejatan Glen, hadirlah Syam di antara mereka.


"Syam akan baik-baik saja Bu, Syam tidak akan kemana-mana. Dia akan selalu bersama kita. Tapi... setelah dia dewasa, dia akan memiliki jalan hidup nya sendiri. Ibu paham maksud Abah?"


Sekar terdiam.


"Sudah sejak awal keluarga Syam tidak akan memaksa Syam untuk ikut mereka. Karena mau bagaimana pun, ibu lah wali yang berhak atas Syam."


"Tapi mereka bisa memberikan kebahagiaan untuk Syam, tidak seperti ibu!", kata sekar lirih.


"Ssssts...Abah ngga suka ibu bicara seperti itu. Syam sayang sama ibu!", Salim meyakinkan istrinya agar tak berpikir yang buruk.


Mungkin benar, inilah cobaan terberat Salim. Menghadapi mood istrinya yang pernah mengalami 'depresi' berat dulu.


Dan sekarang dia pun khawatir, setelah melahirkan si kembar apakah kondisi Sekar akan baik-baik saja??? Ada ketakutan dalam hati Salim jika istrinya akan mengalami sindrom baby blues lagi seperti dulu.


"Masih malam banget Bu, ibu istirahat lagi ya!", Salim berkata begitu lembut pada istrinya.


Sekar mengiyakan dan perlahan kembali berbaring. Salim pun mengikuti hal yang serupa. Saat Sekar mulai mendengkur halus, Salim membuka matanya lagi.


Ia mengusap kepala Sekar dengan pelan.


"Semoga kalian baik-baik saja!", kata Salim mengecup puncak kepala istrinya sebelum ia kembali ikut terlelap.


.


.


.


Jam setengah satu pagi, Lingga selesai menerima haknya. Jangan di tanya seperti apa manyunnya Galuh. Tapi tetap ikhlas dong!


Meski begitu, perempuan cantik itu tetap melayani keinginan sang suami sebaik mungkin. Kenapa????


Di luar sana bahkan banyak yang mengantri untuk menggantikan posisi dirinya untuk bisa bersama Lingga.


"Udah kan bang?", kata Galuh lirih.


"Memang boleh lagi?", ledek Lingga yang sudah mengenakan pakaiannya.


"Ishhhh....ngga lucu!", kata Galuh mencebikkan bibirnya.


"Bang!"


"Hehehe...lagian cemberut mulu sih! Senyum dong, kan udah Abang kasih tadi!", kata Lingga beranjak dari tempat tidur mereka.


"Terserah Abang deh!", kata Galuh. Lingga terkekeh lalu menyempatkan mengecup kening Galuh sebelum ke kamar mandi.


Dini hari dia mandi air dingin di cuaca dinginnya kampung Xxxx????


Tak sampai lima menit dia sudah keluar dari kamar mandi dan sudah segar dengan rambut yang dikeramas. Yang penting sudah mandi wajib 🤭


"Udah yang, bersih-bersih dulu! Habis itu istirahat lagi. Abang mau ke kebun!", kata Lingga karena akan ada pengiriman sayur di belakang.


"Iya!", jawab Galuh singkat menuju ke kamar mandi. Jika Lingga langsung mandi, tidak dengan Galuh yang hanya membersihkan diri secukupnya.


"Abang ke belakang dulu Yang!", pamit Lingga. Galuh pun mengiyakannya. Dia kembali merebahkan diri di samping Ganesh yang berada di tempat tidurnya yang disatukan dengan ranjangnya.


Lingga keluar dari kamarnya menuju ke pintu belakang.


Beberapa orang karyawannya sedang mengangkut ratusan ikat kangkung cabut. Terdengar sesekali mereka bercanda dan saling tertawa bersahutan.


"Belum selesai kang?", sapa Lingga pada karyawannya.


"Eh...Aden, sakedeng deui yeuh!", sahut si sopir.


"Oh...!", Lingga hanya ber'oh' ria. Dia memang memakai training dan juga sarung. Jangan lupa Hoodie yang dia pakai pun menutupi kepalanya.


Apa yang akan anak buahnya katakan kalau tahu dirinya selesai keramas. Malu pastinya!!!!


Setelah semua selesai, Lingga memberikan uang jalan untuk mereka. Setelah mobil keluar dari area kebun, Lingga bersiap kembali ke dalam rumahnya.


Entah insting atau apa, Lingga menoleh ke belakang seakan ada yang sedang mengawasinya. Karena kebun kangkung memang sudah di panen, daratan yang awalnya berisi tanaman kangkung kini sudah terang.


Cahaya lampu dari pintu belakang dan di tengah kebun tak cukup menyinari kebun tersebut.


Setelah memastikan tidak ada orang lain lagi, Lingga kembali melangkah. Akan tetapi suara ranting terinjak membuat Lingga kembali menoleh.


Tapi lagi-lagi matanya tak menangkap sesuatu. Dia takut ada penyusup yang akan berniat jahat pada dirinya terutama keluarganya.


Sejak ia kembali bersama dengan sang papa, entah kenapa kehidupannya sekarang seolah selalu di pantau.


Bukan maksud Lingga menyesali pertemuannya dengan sang Papa, tapi... sepertinya Lingga dan keluarganya bisa jadi... menjadi incaran rival bisnis Arya.


Lingga kembali memastikan tidak ada siapapun di sana, dia kembali melangkah menuju ke rumahnya lewat pintu belakang tadi. Tak lupa Lingga mengunci pintu tersebut. Dan setelah ia masuk, ia kembali mematikan lampu ruangan itu.


Rasa penasarannya masih cukup tinggi. Lingga kembali mengintip dari balik gorden jendela yang sangat kecil.

__ADS_1


Ia memusatkan pandangannya ke arah kebun. Dan dia cukup terkejut, ternyata ada beberapa orang yang tiba-tiba muncul dari sela-sela tanaman yang lain. Tidak hanya satu, tapi beberapa orang yang tidak bisa Lingga lihat wajahnya karena cukup jauh. Hanya bayangan hitam yang nampak menjauh perlahan menuruni kebun yang memang agak miring posisinya.


"Siapa mereka?", gumam Lingga.


Plukkkk!!!


Bahu Lingga di tepuk seseorang membuatnya terjengkit.


"Astaghfirullah!", reflek Lingga akan memukul ke belakang.


"Abah ini...Bang! Abang ngapain?", tanya Salim yang terbangun karena ingin ke kamar mandi. Tapi ternyata ia melihat sang menantu sedang mengintip di belakang jendela.


"Ya Allah Abah, kirain siapa!", Lingga mengusap dadanya.


"Lagian Abang ngapain ngintip begitu, mana lampu di matiin pula!"


"Bah!"


"Naon?", tanya Salim yang jadi ikut berbisik.


"Tadi...kaya ada yang ngawasin kebun, dia orang Abah atau....?"


Salim menautkan kedua alisnya.


"Ngawasin kebun?", tanya Salim. Lingga mengangguk. Salim memang meminta anak buahnya untuk menjaga sekitar keluarga Lingga, tapi tidak sampai menyusup ke area kebun.


Sepertinya ada yang tidak beres? Batin Salim.


"Tapi mereka tidak... melakukan sesuatu sama Abang kan?", tanya Salim. Lingga menggeleng.


"Tiap aku perhatiin, mereka ngga keliatan. Tapi waktu diintip, mereka baru bermunculan!", jawab Lingga.


"Nanti Abah tanya 'anak-anak' !", kata Salim.


Lingga hanya mengangguk. Dia tidak akan bertanya macam-macam pada mertuanya sekaligus pemimpin bodyguardnya hehehe


"Ya udah, Abang istirahat aja lagi. Masih malam!", kata Salim.


"Iya Bah!", sahut Lingga.


.


.


.


Sinar matahari pagi sudah menyapa bumi. Seorang laki-laki dewasa di temani minuman hangat duduk di saung yang ada di depan rumahnya.


Rumah berbahan kayu yang tidak ada pagar tinggi menjulang mengitarinya seperti rumahnya di ibu kota.


Lelaki itu berpikir, dia akan menghabiskan masa tuanya seperti orang-orang pada umumnya. Tapi ternyata kenyataannya tak semudah itu!


Di mana pun dia berada, akan selalu ada yang mengintainya.


"Papa dapat telpon dari siapa sih? Kok bengong?", tanya Gita.


Arya tak langsung menjawabnya, ia menyesap kopinya lebih dahulu.


"Bukan siapa-siapa!", jawab Arya yang memasang wajah seriusnya.


"Papa ngga lagi bohong sama mama kan???", tanya Gita.


"Bohong apa sih Ma?", tanya Arya datar.


"Puja, Vanes dan Angel? Mereka baik-baik saja kan?", tanya Gita.


"Insyaallah mereka baik-baik saja. Ada Lukas dan Bagaskara yang tidak akan membiarkan keluarga anak kita mendapatkan masalah."


Mertua Puja memang tidak berbeda jauh seperti Arya. Dia pun di sama di seganinya seperti halnya Arya. Hanya saja Arya cenderung arogan tanpa pandang bulu, kecuali dengan sang besan tentunya.


"Tapi...kenapa perasaan mama ngga enak ya Pa?", kata Gita lirih.


"Positif thinking Ma. Jangan terlalu berlebihan memikirkan hal yang tidak jelas Ma. Apalagi hanya perasaan mama saja. Papa ngga mau mama sakit!", kata Arya.


Arya memang sudah uzur, dia juga bukan tipe lelaki romantis. Tapi dia memperhatikan sang istri dengan caranya sendiri.


Gita tak menyahuti ucapan suaminya.


"Mama!"


"Iya Pa!", sahut Gita pasrah.


Arya menghela nafas panjang. Dia tak ingin istrinya tahu bahwa ada bahaya mengintai di sekitar mereka.


Tapi siapa? Tujuannya apa? Arya masih terus memikirkannya. Dia akan mengerahkan orang-orangnya untuk memberikan penjagaan yang lebih ketat pada keluarganya.


Arya pikir, Yudis lah satu-satunya yang berusaha mengusik keluarganya. Ternyata masih ada orang lain.


*****


🙏🙏🙏 Baru update 😁😁😁 kamari lalier sirah teh asa di ajak naik kapal, oleng2 🙈


Haturnuhun yang udah mampir di sini. Bolehkah percaya diri tingkat dewa, kalo ada yang menunggu othor receh ini update????? 🙈🙈🙈🙈🙈


Terimakasih sekebooooonnnn buat kalian semua 🤗🤗🤗🙏🙏🙏

__ADS_1


19.22


__ADS_2