Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 112


__ADS_3

"Maaf!",ulang Arya.


"Maaf untuk apa Pa?'', Galuh.


"Sikap papa selama ini pasti sudah sangat kalian terutama kamu. Papa merasa jadi orang yang tak tahu balas budi. Padahal kamu sudah mempertaruhkan nyawa kamu demi mama'',kata Arya.


"Sudah Pa, jangan bahas itu lagi. Semua sudah berlalu. Yang penting sekarang kita bisa kumpul bersama seperti ini. Galuh sangat bahagia Pa!''


Tangan Arya terulur mengusap puncak kepala Galuh.


"Terima kasih sudah melahirkan cucu yang tampan buat papa."


Galuh mengangguk pelan.


"Terimakasih juga papa sudah menjaga Ganesh selama Galuh belum bisa menjaga anak galuh sendiri."


"Sttt...Ganesh cucu papa. Papa justru bahagia bisa selalu berdekatan dengan Ganesh. Jadi kamu tidak keberatan jika papa memberi nama Ganesh pada cucu papa kan?'',tanya Arya.


"Kenapa harus keberatan pa? Glauh bersyukur papa berkenan memberikan nama untuk anak kami.''


''Syukurlah, papa pikir kamu akan keberatan."


"Tidak sama sekali Pa.''


Arya mengulas senyum tipis.


"Ya sudah kamu istirahat lagi, papa ,mau ke hotel depan. Pengen rebahan sebentar. Nanti ke sini lagi."


"Kenapa ngga pulang dan istirahat dirumah saja P?'',tanya Galuh.


"Ngga lah. Kejauhan kalo harus pulang kerumah kamu. Nanti papa keburu kangen sama cucu papa.''


Galuh menggeleng sambil tersenyum. Tak menyangka saja papa mertuanya bisa berubah sedrastis itu.

__ADS_1


"Ya udah, gimana menurut papa saja.''


"Oke, papa keluar dulu. Banyak istirahat dan minum obat yang teratur biar bisa jagain cucu papa.'' Arya mengusap puncak kepala Galuh. Galuh sendiri yang sudah lama tak merasakan kasih sayang seorang ayah pun jadi teringat mendiang ayahnya. Baginya saat ini, papa mertuanya adalah pengganti ayahnya.


Arya keluar dari ruangan Galuh. Lingga dan kedua perempuan paruh baya sedang berbincang-bincang saat lelaki itu menghampiri ketiganya.


"Sudah Pa?", tanya Gita. Arya mengangguk tipis.


"Papa mau ke hotel depan Ma. Mama ikut?'', tawar Arya pada istrinya.


"Boleh deh Pa!", jawab GIta.


Sepasang suami istri itu pun berpamitan pada Sekar dan Lingga. Lalu keduanya pun meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju ke hotel yang ada di seberang rumah sakit.


.


.


.


Ditengah keputusasaannya, Helen melihat Arya dan Gita berada di resepsionis hotel. Entah ide darimana ia ingin meminta bantuan pada Arya agar ia mau mengalah soal tender yang sedang di perebutkan oleh beberapa perusahaan besar seperti milik perusahaan Arya tersebut.


"Mba, mba Gita!",panggil Helen pada kakaknya.


"Helen!", Gita dan Arya spontan menghentikan langkahnya karena panggilan dari Helen tersebut. Arya sudah bisa menebak apa yang akan adik iparnya katakan.


"Mba Gita, Mas Arya aku...", belum sempat Helen berbicara Arya sudah memotong lebih dulu.


"Papa ke kamar duluan ya Ma", pamit Arya pada Gita. GIta sendiri yang paham jika suaminya sangat lelah pun memepersilahkan agar Arya masuk ke kamar mereka dulu.


Helen tampak kecewa tapi dia paham seperti apa watak kakak iparnya memilih untuk membiarkan Arya berlalu. Mungkin dia akan meminta bantuan pada Gita saja agar bisa membujuk suaminya.


Singkat cerita, Helen sudah menceritakan semuanya, Sebagai seorang kakak, tentu saja Gita sangat kecewa pada Helen yang sampai salah langkah. Tapi semua sudah terlanjur. Tidak akan bisa dirubah.

__ADS_1


"Tolong ya Mba gita bujuk Mas Arya. Kelangsungan rumah tanggaku ada ditangan mas arya. Aku mohon mba!'', bujuk Helen dengan deraian air mata.


"Mba ngga bisa janji Len, tapi akan mba coba bicarakan sama mas arya.".


.


.


.


Gita baru keluar dari kamar mandi saat arya baru selesai melakukan panggilan telepon entah dengan siapa.


"Pa...",panggil Gita. Tapi arya mengangkat telapak tangannya agar Gita tak perlu melanjutkan ucapannya.


"Helen meminta tolong sama mama buat membujuk papa?'', tebak Arya. Gita tak menyahut. Bagaimana pun juga Helen tetaplah adik bungsunya meski berbeda ibu dengan Gita. Tapi masalah yang helen alami cukup rumit.


"Pa, mungkin benar. Lebih baik papa mengalah kali ini dengan perusahaan shiena Pa. Perusahaan kita masih bisa berjalan normal tanpa harus memenangkan tender tersebut Pa."


"Mama kan tahu seperti apa dunia bisnis . Siapa yang kompeten, dia yang menang. Buktinya? Anak-anak kamu Ma!'


"Tapi kasian helen Pa.''


Arya bergeming. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di otak Arya. Dia pun mrnyungginkan senyumnya. Gita hafal sekali seperti sifat suaminya yang tidak mudah di paksa.


"Papa akan bantu Helen mengikuti permainan Shiena dengan syarat yang ajkan ku berikan padanya. Tapi aku tidak menjamin jika Glen akan mudah memaafkannya."


"Maksud papa???", Gita bingung dengan rasa pesaran yang tinggi tentunya.


********


Kira2 Arya punya ide apa ya????


Selamat malam dan selamat beristirahat. Terimaksih

__ADS_1


__ADS_2