Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 99


__ADS_3

Shiena sudah bersiap dengan pakaian seksinya. Apa dia tidak bekerja? Tentu saja bekerja. Dia melanjutkan perusahaan milik orang tuanya yang dulu sempat akan merger dengan perusahaan Arya.


Tapi karena Lingga menolak pertunangan mereka, akhirnya mereka tak jadi merger. Lalu, apakah ada yang merasa rugi di antara mereka?


Jawabnya, ada! Perusahaan milik keluarga Shiena sempat terpuruk karena tak mendapatkan suntikan dana. Niat hati ingin agar dua perusahaan bersatu, tapi kenyataannya dengan penolakan Lingga perusahan Shiena sedikit oleng.


Walau pun pada akhirnya perusahaan itu masih tetap berdiri hingga kini.


Dan beberapa kali pula, perusahaan Arya memenangkan tender yang membuat perusahaan Shiena tak sejaya dulu.


Apa hubungan orang tua Shiena dan Arya baik setelah penolakan itu? Tidak!


Orang tua Shiena merasa malu mendapatkan penolakan dari Lingga. Bahkan secara langsung Lingga mengumumkan jika dirinya sudah menikah sejak lama, bahkan sebelum ke Kanada.


Orang tua mana yang akan menerima penghinaan seperti itu?


Kembali ke Shiena....


Perempuan itu sudah rapi dengan pakaian seksi khasnya. Sejak penolakan Lingga, gadis itu memilih untuk hidup bebas karena kekecewaannya. Dia yang salah jalan, tapi dia yang menyalahkan keadaan.


Saat akan keluar apartemen, ponsel nya berdering. Ada panggilan dari papanya. Sepertinya ada hal penting hingga papanya menghubungi Shiena.


[Ya pa?]


[Kamu ngga ke kantor?]


[Siang paling Pa, kenapa?]


[Dengan siapa lagi kamu habiskan malam mu Shiena? Belum cukup kamu berpetualang?]


[Ishhh...papa, udah lah pa! Ngga perlu urusi Shiena soal yang satu itu. Ada apa papa hubungi Shiena?]


[Menangkan tender kali ini! Papa bosan jika harus melihat kesuksesan Arya!]


[Ckkk Pa, aku sudah berusaha pa. Tapi kenyataannya emang Arya memang hebat!]


[Pokoknya papa ngga mau tahu, bagaimana pun caranya! Jatuhkan perusahaan Arya!]


[Oke pa...oke!]


Shiena langsung mematikan ponselnya lalu menuruni gedung apartemennya. Setelah sampai di mobil, dia langsung melesat menuju ke kafe Lingga berada.

__ADS_1


.


.


.


"Pihak furniture sudah siap kirim kapan katanya Han?", tanya Lingga.


"Lusa bisa mas!", jawab Burhan.


"Oh iya, untuk fire alarm sistem, teknisinya sudah di hubungi? Kapan katanya akan di tangani?"


"Insyaallah siang ini mas!", Burhan kembali menjawabnya.


Tak lama kemudian, dua orang teknisi menghampiri Lingga dan Burhan. Mereka memperkenalkan diri lalu bersiap memasang alat-alat yang di butuhkan.


"Saya sudah transfer ke pak Dedi ya mas!", kata Lingga pada kedua teknisi tersebut.


"Iya pak! Beliau sudah menitipkan nota pembayarannya!", teknisi itu menyerahkan nota dari toko di mana Lingga membeli peralatan untuk keamanan.


Belajar dari pengalaman, Lingga tak ingin ada kejadian kebakaran terulang kembali. Makanya, dia meningkatkan sistem keamanan kafe.


"Jadi, setiap tiga meter baru di pasang smoke detektor ya mas?", tanya Lingga pada teknisi tersebut.


Dari box hydrant, blanket serta apar juga sudah di siapkan.


"Oh iya, bawa bonpet kan?",tanya Lingga.


"Bawa pak! Sama tabung apar juga sudah kami bawa sekalian!", jawab si teknisi.


(Bonpet adalah salah satu apar atau alat pemadam api ringan yang berbentuk tabung seperti....jam pasir menurut othor 🤭yang berfungsi untuk pertolongan pertama kebakaran kecil. Cara kerjanya untuk mengikat oksigen disekitarnya agar api tak membesar. Maaf kalo salah, udah lupa soalnya)


Lingga dan Burhan membiarkan teknisi bekerja tanpa di ganggu dengan pertanyaan darinya.


"Maaf pak Lingga, ada tamu di depan!", kata karyawan Lingga.


"Siapa?"


"Nona Shiena!", jawab nya. Lingga mendesah pelan.


"Ya sudah, makasih! Saya keluar! Ayo Han! Aku ngga mau nanti ada yang lapor sama Galuh. Nanti di sangkanya aku gimana-gimana!", ajak Lingga pada Burhan.

__ADS_1


''Siap mas!", jawab Lingga. Keduanya pun menemui Shiena di depan kafe.


Wajah Shiena sumringah melihat kehadiran Lingga yang pernah menguasai relung hatinya.


"Ya ampun, Lingga....!", pekik Shiena karena terlalu senang melihat Lingga lagi. Dia bermaksud untuk memeluk Lingga, tapi lingga menghindar dan memundurkan dirinya.


Shiena kecewa dengan penolakan Lingga lagi dan lagi. Matanya fokus ke arah leher Lingga yang penuh dengan jejak percintaan.


Gadis itu mencebikkan bibirnya, dalam hatinya ia mengumpat.


Norak amat sih istrinya Lingga?!! Batin Shiena.


"Apa kabar Ga?", sapa Shiena ramah.


"Alhamdulillah baik Shiena! Ada apa mencariku?", tanya Lingga tanpa basa-basi.


"Ya ampun, kamu ketemu mantan tunangan kamu kok gini amat sih Ga!", keluh Shiena.


"Maaf!", sahut Lingga datar.


"Its okay! Kamu ngga mau ngajak aku duduk dulu gitu? Aku mau ngobrol!", kata Shiena.


"Ehem...tapi kamu tahu kalau kafe ini belom selesai Shiena!", jawab Lingga. Dia tak enak hati langsung menolak Shiena. Bagaimana pun ,dia masih punya hati.


"Ya kita kan bisa ngobrol di restoran depan. Banyak yang pengen aku obrolin berdua sama kamu!", kata Shiena.


Lingga menoleh pada Burhan.


"Kalo berdua, aku tidak bisa."


"Why?"


"Aku ada kepentingan juga dengan Burhan. Kalo kamu mau, silahkan bergabung dengan kami!", jawab Lingga.


Shiena menganga tak percaya. Bagaimana bisa ia di abaikan seperti itu....???


"Oh...oke, aku ikut kalian, tapi memang anak buah kamu harus banget mendengar obrolan kita?"


"Iya, memang mau ngobrol apa? Kenapa harus keberatan jika Burhan mendengarnya?", tanyanya balik.


Burhan tentu di pihak nyonya bos dong! Mana mungkin dia membiarkan bosnya dengan perempuan yang berpakaiannya saja seperti....???

__ADS_1


******


Mau apa Shiena..????


__ADS_2