
"Jawab mas!", bentak Helen. Glen mengalihkan pandangannya ke arah Galuh.
"Iya, aku minta maaf!",kata Glen lirih.
"Apa???",Helen menatap tak percaya pada suaminya. Perempuan beranak satu itu pun menghampiri suaminya. Dan....
Plakkkk.....
Sebuah tamparan yang sangat keras menghampiri pipi Glen hingga kepalanya tertoleh ke samping. Semua yang ada di sana sampai terkejut.
"Kamu khianati aku mas?", Helen menarik kerah kemeja suaminya sambil mengguncang tubuh suaminya.
"Dulu aku sedang mabuk Len. Aku dan teman-teman ku sedang mengurus pabrik yang ada di sana. Teman-teman ku menyodorkan Sekar, dalam kondisi mabuk aku tidak tahu jika aku sudah melecehkan perempuan itu!"
Mulut Helen ternganga mendengar penjelasan suaminya.
"Apa???", tanya Helen dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya.
"Aku sudah berusaha untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku, tapi Sekar menolaknya. Waktu itu kita di jodohkan Len. Belum ada cinta di antara kita, aku berniat untuk membatalkan perjodohan itu agar aku bisa menikahinya. Tapi Sekar menolaknya, makanya...aku melanjutkan pernikahan kita. Dan aku tidak tahu kalo pada akhirnya Sekar hamil!"
Plakkkk....
__ADS_1
Lagi-lagi Helen menampar pipi Suaminya. Galuh sampai memejamkan matanya. Lingga yang melihat ekspresi istrinya seperti itu pun merengkuh bahu istrinya untuk menenangkannya.
"Laki-laki brengsek kamu mas! Kamu pikir aku ini ban serep hah?!!! Iya???",tanya Helen dengan menghapus bulir hangat di pipinya.
"Aku ngga ada maksud seperti itu Len!", Glen mencoba meraih bahu istrinya. Tapi Helen mengangkat tangannya, tidak ingin Glen menyentuhnya.
Tanpa berpamitan, Helen mengambil tasnya lalu berjalan ke kamar Lingga untuk menjemput Zea. Dan ternyata, Zea melihat pertunjukan yang ada di bawah sana.
"Kita pulang Ze!",Helena menarik tangan putrinya. Zea pun menuruti mamanya turun ke lantai bawah.
"Len, Zea, tunggu!", Glen berlari mengejar istri dan anaknya.
Setelah itu...
Galuh menggeleng cepat.
"Maaf tuan Arya, saya memang orang susah yang sudah anda bantu. Tapi saya punya harga diri. Anda mungkin bisa merendahkan saya dan keluarga saya, tapi jangan pernah meremehkan kami!"
"Lihat istri mu Lingga? Apa pantas seorang menantu berkata demikian pada papa mertuanya?", sindir Arya.
"Papa yang sudah membuat Galuh berkata demikian! Papa memang tidak pernah bisa berubah!", ujar Lingga. Lalu mengambil map yang ada di tangan Gita. Gita sendiri masih terduduk di sofa nya. Perempuan setengah baya itu masih shock dengan kejadian demi kejadian yang di alaminya hari ini.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan Lingga?"
"Aku akan menikah secara resmi dengan Galuh. Dengan atau tanpa restu papa!",kata Lingga. Belum sempat Arya berucap, Lingga sudah menghentikannya.
"Aku akan tetap bersama Galuh. Dan stop menyetir hidup ku pa. Dan jangan pernah berharap menjodohkan ku dengan Shiena hanya karena ambisi bisnis papa. Aku sudah lebih dari sekedar dewasa untuk menentukan masa depan ku!"
"Berani kamu sama papa? Sudah bisa apa kamu Lingga?", teriak Arya.
Galuh semakin mengeratkan tanyanya di pinggang Lingga. Dia sungguh tidak bermaksud membuat anak dan bapak itu bertengkar.
"Apa papa mau bilang menarik fasilitas ku lagi? Silahkan! Aku sudah bisa memenuhi kebutuhan ku sendiri."
"Sombong sekali kamu Lingga. Kamu lupa...!"
"Lingga tidak lupa pa. Papa yang sudah membesarkan dan memberikan pendidikan yang layak buat Lingga. Itu kewajiban papa sebagai orang tua! Apa Lingga harus membayarnya????"
"Cukup Nak, cukup!",kata Gita lirih. Dia tak suka melihat pertengkaran suami dan anak bungsunya.
"Kita pulang Luh!",ajak Lingga menarik istrinya. Galuh dan Lingga menghampiri sang mama. Lingga menyempatkan mengecup puncak kepala Mamanya.
"Lingga sayang mama!", bisiknya. Galuh yang tak tahu berbuat apa, ia memilih menyalami punggung tangan Gita. Gita mengusap pipi Galuh.
__ADS_1
"Terimakasih banyak nak!",bisik Gita. Tanpa berpamitan pada Arya, Lingga menarik istrinya melangkah keluar.
"Besok kamu harus datang di acara makan malam keluarga ini kalau kamu ingin papa mengakui gadis itu bagian dari keluarga ini!", ucap Arya lantang. Lingga dan Galuh menghentikan langkahnya sesaat. Tanpa menoleh, Lingga kembali melangkah keluar sambil tetap menggenggam tangan Galuh.