Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 36


__ADS_3

Lingga menghampiri adik iparnya yang sedang duduk sambil memainkan kakinya, berayun-ayun di atas bangku tunggu.


"Syam!", panggil Lingga. Syam yang menunduk langsung menodongkan kepalanya.


"Abang? Abang yang jemput?",tanya Syam. Lingga pun mengangguk.


"Kak Galuh juga ada di mobil, tuh!", kata Lingga sambil mengarahkan pandangan Syam ke mobilnya.


"Maaf!",kata seseorang, yang di pastikan guru dari Syam.


"Oh, iya Miss. Maaf, saya jemput Syam!", kata Lingga.


"Oh, bukan jemput Zea ya?",tanya guru Syam.


"Kalau Zea belum di jemput, biar saya ajak sekalian."


"Oh, eum...tapi tadi papanya Zea bilang mau jemput Zea !"


"Oh begitu! Zeanya mana Miss?",tanya Lingga.


"Sepertinya main di lapangan dengan teman-temannya. Anda sengaja... menjemput Syam?", tanya perempuan itu lagi.


"Iya Miss, Syam adik ipar saya!", jawab Lingga. Lingga sangat paham mata-mata perempuan yang tertarik padanya. Ia bersyukur, setidaknya selama ini ia masih waras jika dirinya sudah beristri meski terpisah begitu lama.


"Ipar? Oh, begitu ya!", katanya. Wajahnya tampak kecewa.


Tak lama kemudian, Glen datang menghampiri Lingga dan Syam setelah guru itu pamit masuk ke dalam sekolah lagi.


Lingga tak bermaksud mengabaikan Glen, dia memang langsung menggandeng tangan Syam karena mobilnya berada di seberang.


"Sejak kapan kamu jadi tidak sopan seperti ini Lingga?", tanya Glen. Lingga yang merasa namanya di sebut pun menoleh.


"Om Glen?", tanya Lingga sambil melepas kacamata hitamnya.


Glen pun mendekati lelaki tampan itu. Sedang Syam, masih menggenggam erat tangan kakak iparnya.


"Hanya karena ucapan gadis itu, kalian sukses membuat om dan Tante mu bertengkar Ga!"


Lingga tersenyum tipis.


"Ucapan yang mana Om? Kenyataan yang menunjukkan perbuatan bejat om di masa lalu?", tanya Lingga.


"Mau kamu apa? Apa istri mu mau kalo om mengakui pada publik jika anak itu darah daging ku?",tanya Glen.

__ADS_1


Lingga memasukkan salah satu tangannya ke saku celana bahannya.


"Menurut om?",tanya Lingga balik. Tanpa aba-aba, Glen menarik kerah kemeja Lingga. Karena terkejut, Syam pun spontan melepaskan genggamannya dari tangan Lingga.


Lingga melepaskan tangan Glen dari kerah kemejanya dengan perlahan.


"Coba saja kalo perempuan itu mau aku mempertanggungjawabkan perbuatanku sejak dulu, pasti tidak akan seperti ini."


"Oh...jadi om tetap menyalahkan beliau? Lalu, bagaimana dengan Tante ku? Laki-laki serakah!"


Lingga mendorong bahu Glen. Glen yang tak terima di sebut serakah pun membalas Glen dengan memukul rahang Lingga. Padahal sebelumnya, dia sudah di tampar oleh papanya. Dan sayang nya, ia harus terluka lagi di tempat yang sama.


Aksi pukul memukul pun tak dapat terelakkan.


"Abang!", teriak Syam.


"Papa!", teriak Zea sambil berlari menghampiri papanya yang sedang adu jotos dengan kakak sepupunya.


"Abang, udah bang!", Galuh menarik Lingga dari tubuh om nya.


"Biarin Luh. Laki-laki brengsek ini harus nya sadar, bukan malah menyalahkan dan melempar kesalahan nya pada orang lain!", Lingga masih berusaha menyerang Glen yang juga di tahan oleh Burhan.


"Sudah bang. Malu, ini di depan sekolah. Ngga baik di lihat anak-anak sama orang banyak!", Galuh menahan tubuh suaminya dengan tubuhnya yang berhadapan langsung dengan dada Lingga.


"Kita pulang Pa!", ajak Zea pada Glen.


"Abang, Syam, maafin papa Zea!", pamit Zea sambil menarik tangan papanya. Glen tak percaya putri kecilnya berkata demikian. Meminta maaf? Untuk apa? Memang dia tahu apa?


Tapi Glen hanya menuruti putrinya yang duduk di bangku penumpang.


Galuh menggandeng dua laki-laki sekaligus di kanan dan kirinya.


"Adek duduk depan ya?", pinta Galuh pada Syam. Syam pun mengangguk dan menuruti apa yang kakaknya bilang.


Lingga dan Galuh kembali masuk ke mobil dan duduk di belakang.


"Bagi kotak P3K mas Burhan!",pinta Galuh pada Burhan. Burhan pun memberikan kotak tersebut.


Lingga tahu, istrinya pasti akan mengobati lukanya.


"Ssshhh....!", Lingga mendesis saat alkohol sudah mendarat di pipi dan ujung bibirnya.


"Sakit?",tanya Galuh dengan muka datarnya. Lingga pun mengangguk. Sudah tahu di jawab sakit, Galuh kembali menekan luka itu.

__ADS_1


"Awssshhh sakit Galuh ih!", Lingga menampik tangan Galuh. Galuh menghela nafas pelan.


"Udah tahu sakit, tapi kenapa malah berantem begitu?",tanya Galuh lemah lembut sambil mengusap lukanya pelan tidak seperti tadi. Lingga menatap manik mata berwarna coklat tua itu.


"Aku tidak suka, orang lain menghina istri dan adikku. Meskipun dia om ku sendiri." Galuh menurunkan tangannya, berhenti mengoles alkohol di luka Lingga.


"Pipi Abang ada cap jari nya, kena tampar papanya Zea juga?",tanya Galuh. Lingga menggeleng.


"Bukan, di tampar papa." Galuh cukup terkejut.


"Tapi kenapa? Ada apa lagi?",tanya Galuh penasaran.


"Papa ingin Shiena jadi anggota keluarga Saputra. Padahal aku sudah mengatakan bahwa aku sudah beristri. Dia malah mengatakan, tinggal nikah lagi saja dengan Shiena. Tapi...aku balikin ke papa, kenapa bukan papa saja yang menikahinya? Kan sama-sama jadi anggota keluarga Saputra!"


Mulut Galuh ternganga. Pantas saja papa mertuanya semakin murka karena jawaban Lingga.


"Abang?!",panggil Syam tiba-tiba. Lingga dan Galuh sama-sama memfokuskan diri pada Syam.


"Kenapa dek?",tanya Lingga.


"Apa benar, papa Zea itu papa Syam?",tanya Nabil. Burhan terhenyak di belakang kemudi.


Rumit! Batin Burhan.


"Kamu kata siapa Syam?",tanya Galuh.


"Zea!"


Lingga dan Galuh saling berpandangan.


"Kamu ngga usah dengar apa kata Zea, Syam!", Galuh mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Zea bilang, Syam ngga boleh rebut papanya dari Zea. Apa benar Kak, Bang?", ulang Syam.


"Dari mana Zea tahu seperti itu, pasti Zea cuma ngarang. Kalian anak-anak kecil, kakak bisa pahami kok kalau masih suka mengandai-andai..."


"Zea dengar sendiri kok. Mama papa nya berantem." Syam meremas jemari mungil nya.


"Dek!", Galuh mendekatkan badannya ke depan lalu mengusap kepala Syam.


"Apa Syam ngga pantas punya papa!?",tanya syam menoleh ke kakaknya.


"Sayang, dengar kak. Ngga usah berpikir seperti itu. Kamu punya kakak dan sekarang punya Abang. Ya?"

__ADS_1


Syam menoleh kakak iparnya yang tersenyum meski sedang kesakitan. Syam pun mengangguk pelan.


__ADS_2