Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 70


__ADS_3

Mata Arya beralih pada perut Galuh yang nampak lebih besar dari yang ia lihat kemarin. Mungkin karena efek pakaiannya yang membuat perut Galuh terlihat besar dari sebelumnya.


Vanes menghampiri papa mertuanya sembari menggandeng lengan Galuh. Lingga sendiri sempat cemas jika papanya akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan pada istrinya.


"Papa, kenapa di luar. Di dalam saja sama mama! Apalagi hujan deras begini", kata Vanes. Galuh memilih tak berbicara apapun. Bukan tak mau menghormati, tapi dia merasa segan jika nanti apa yang Galuh katakan justru membuat Arya semakin membencinya.


Posisi teras yang tanpa dinding membuat angin berhembus kencang begitu terasa menyentuh kulit meski kursi mereka dekat dengan pintu masuk ruangan.


"Tidak perlu! Papa cuma mau menjemput mama, bukan mau bertamu!", jawab Arya pada menantu kesayangannya. Why? Karena menurutnya, Vanes sepadan dengan keluarganya.


Tiba-tiba saja hujan semakin deras dan angin semakin kencang. Petir dan guntur bersahutan. Angel yang takut petir langsung menghambur ke pelukan Vanes dan memaksa Vanes untuk masuk kedalam rumah.


"Sayang, masuk aja yuk!", Lingga menggamit pinggang istrinya.


"Tapi Bang, kasian tuan Arya kalo sendirian di sini!", kata Galuh pada suaminya. Karena suara hujan, pasti papa mertuanya tak mendengar obrolan sepasang suami istri itu.


"Biar jadi tanggung jawab Abang, sekarang kamu masuk!", pinta Lingga lagi.


"Tapi bang....!"


"Ssshhhttt...masuk sayang! Di luar dingin, sekarang masuk minta buatkan susu hangat. Kamu ngga boleh kedinginan. Ingat, ada utun di sini!", Lingga mengusap perut Galuh. Mau tak mau, Galuh pun menuruti suaminya.

__ADS_1


Lingga menyempatkan mengecup pelipis Galuh sebelum perempuan itu masuk kedalam rumah.


Syam sendiri masih di bangkunya. Matanya menatap Arya yang dari tadi menatap interaksi antara Galuh dan Lingga. Jika orang lain menganggap Arya arogan dan ketus plus menyebalkan, ada pandangan berbeda dari Syam. Dan hanya Syam yang tahu.


Interaksi Galuh dan Lingga yang tampak romantis meski hanya 'touching' sederhana membuat Arya tertarik. Banyak hal yang sebenarnya ia sembunyikan selama ini. Menjadikan dirinya di benci oleh anak bungsunya sendiri.


Akhirnya Galuh pun masuk ke dalam rumah dengan paksaan Lingga.


"Allahuma shoyiban Nafi'an!", kata Syam. Arya spontan menoleh pada Syam. Anak lelaki itu sedang memejamkan matanya dengan melafalkan doa itu. Merasa dirinya di perhatikan, Syam pun membuka matanya.


Lingga sendiri sudah duduk di bangku semula. Bagaimana pun, dia tuan rumah. Nasehat istrinya pasti akan selalu ia ingat. Seperti apa pun papanya, dia tak tega melihat tubuh renta itu kedinginan di luar. Tapi membujuknya dari tadi sangat lah susah.


Gita sebenarnya ingin mengajak suaminya masuk. Tapi ...dia sudah tahu seperti apa watak suaminya. Jadi, dia memilih di dalam bersama besannya.


Lingga mencoba membiarkan Syam melakukan apa yang dia inginkan. Siapa tahu, ia bisa membujuk sang papa untuk beristirahat di dalam. Jika dia bisa mengajak papanya berteduh di teras, ada kemungkinan juga bukan mengajak papanya masuk?


"Ehem.... artinya....Ya Allah, turunkan lah hujan yang bermanfaat!", kata Syam. Arya masih bergeming tak merespon ucapan Syam. Setelah itu, petir dan geluduk terdengar begitu kencang hingga kaca di jendela saja sampai bergetar.


"Subhanallah!", pekik Lingga. Arya terkejut tapi tak mengucapkan apa pun. Berbeda dengan Syam, dia kembali melantunkan doanya yang sudah ia pelajari di sekolah maupun yang Abang iparnya ajarkan.


"Subhanaladzi yusabbihur ra'du bihamdihi wal malaikatu min khifatih", kalimat itu keluar dari bibir mungil Syam.

__ADS_1


(Yang artinya Maha suci Allah Yang petir bertasbih dengan memuji kepada Nya dan malaikat takut kepada Nya)


Lagi-lagi Arya menatap Syam dengan pandangan...takjub mungkin.


"Tuan Arya, sebaiknya anda masuk dulu. Hujan memang karunia Allah. Tapi...kali ini cuaca dingin dan Syam yakin tuan Arya tak terbiasa karena dingin AC sama dingin cuaca di kampung sini berbeda!"


"Tidak usah! Saya menunggu hujan reda!", sahut Arya masih dingin.


"Biasanya hujan seperti ini awet sekali tuan, bisa saja nanti tuan Arya sakit. Katanya ingin cepat pulang ke jakarta sama Nyonya Gita? Atau.... jangan-jangan tuan Arya sengaja ingin sakit biar bisa menginap lebih lama di sini ya?"


Wajah Syam yang seolah tanpa beban justru membuat Arya menatap bocah itu. Bukan pandangan kebencian, tapi Arya merasa jika bocah hampir sebelas tahun itu seolah memiliki berbagai ide untuk membuatnya menginjakkan kaki ke dalam rumah putra bungsunya.


Lingga cukup terkejut dengan ucapan Syam yang bisa saja di damprat habis-habisan oleh papanya. Tapi ini apa?


Bahkan papanya tak menyahuti apapun hanya menatap Syam!


"Baiklah! Saya masuk! Karena saya tidak mau sakit dan membuat saya berlama-lama di sini!", ujar Arya.


Mata Lingga membulat sempurna. Semudah itu seorang Syam membujuk papanya????


Arya bangun dari bangkunya di ikuti Lingga dan Syam. Syam menggandeng lengan Abangnya.

__ADS_1


"Silahkan tuan Arya!", kata Syam mempersilahkan. Mata Lingga dan Arya sempat beradu pandang. Dan ya.... akhirnya....Arya menjilat ludah sendiri. Dia melanggar ucapannya yang katanya tak Sudi menginjakkan kakinya di rumah Lingga. Tapi...sindiran seorang Syam membuat lelaki arogan dan angkuh itu... Luluh!


__ADS_2