Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 24


__ADS_3

Galuh membantu karyawan nya melayani pelanggan di jam makan siang yang cukup ramai saat ini.


Tapi, seramai apapun warung nya jika dirinya sudah merasa lelah, Galuh akan tetap berhenti dan memilih untuk beristirahat.


Bukan tidak peduli atau sok bossy pada karyawannya. Dia hanya melindungi dirinya sendiri. Karena tubuh nya adalah aset berharga yang tidak hanya di butuhkan olehmu sendiri tapi orang-orang yang ada di sekitarnya.


''Mba Galuh, minum dulu!",Lisa menuangkan air putih hangat untuk Galuh.


''Makasih Lisa!",kata Galuh sambil duduk bersandar di bangku dapur.


Suasana warung nya masih cukup ramai. Ia melirik jam tangannya. Sebentar lagi jadwal Syam pulang sekolah. Tapi kendaraannya belum sempat di bawa ke bengkel karena sejak pagi warung selalu ramai.


"Ibu sudah makan siang mba, lagi tidur di kamar!",kata Sari.


"Makasih Mba Sari!",kata Galuh. Gadis itu pun bangkit perlahan dari bangkunya.


"Mau ke mana mba?",tanya Umar yang baru saja melekatkan piring ke wastafel.


"Mau jemput Syam, mas Umar."


Umar mengangguk pelan.


"Aku saja yang jemput Syam!"

__ADS_1


Tiba-tiba suara khas laki-laki yang terdengar sangat maskulin mengatakan demi.


Galuh menoleh sesaat pada suaminya yang katanya sedang berusaha memperbaiki hubungan mereka.


"Tidak usah. Tadi pagi kamu sudah mengantar Syam. Aku bisa sendiri!",kata Galuh.


''Kenapa tidak? Aku juga sekalian menjemur Zea. Syam adikku, Zea pun adik sepupu ku. Why not?",kata Lingga.


"Aku mau jemput Syam!",kata Galuh kekeh.


"Dengan kondisi kamu seperti ini?", Lingga memperhatikan kondisi Galuh yang seperti seseorang sedang kelelahan.


"Aku kenapa? Aku baik-baik saja!",kata Galuh masih keras kepala.


"Bener mba, mba Galuh kan ngga boleh kecapean!",kata Usman.


Lingga yang pura-pura tak tahu pun menolehkan kepalanya pada Usman. Untung di seragam Usman ada name tag nya. Lingga bisa menyebutkan nama Usman tanpa bertanya.


"Kalo kecapean apa ada dampaknya buat fisik Galuh, mas Usman?",tanya Lingga. Galuh pun membero kode agar Usman tak mengatakan apa pun pada suaminya.


"Hah? Ya...ya...ngga apa-apa sih mas. Kalo kecapean takut mba Galuh sakit!", jawab Usman.


"Oh, ya udah kamu istirahat aja di kamar mu. Syam akan pulang bersama ku!"

__ADS_1


Lingga memberi kartu nama pada istrinya. Untuk apa???


"Maksud nya apa memberikan kartu nama ini? Ini bukan nama kamu.,"


"Itu perusahaan orang tua Zea. Barang kali kamu takut aku menculik Syam. Kamu bisa tanya ke sana."


Galuh mencoba untuk percaya pada suaminya yang bertahun-tahun menghilang tanpa jejak tapi kini sudah kembali lagi.


"Baiklah. Aku percaya! Jangan coba-coba kecewakan aku! Syam harus kembali dengan selamat ke rumah ini?!"


"Iya Luh, tentu saja!",sahut lingga semangat.


"Mau ku antar ke kamar?"


"Ngga usah, aku bisa sendiri",tolak Galuh. Lingga memandangi istri nya yang naik perlahan-lahan menuju ke kamarnya.


Lelaki itu pun pamit pada pekerja warung. Setelah itu, ia melesat menuju ke sekolah dasar yang cukup terpandang.


Tak lama menunggu, Syam dan Zea pun keluar bersama-sama. Lingga menghampiri keduanya.


"Abang, anterin Syam sekalian kan bang?",tanya Zea yang sangat berharap bisa mengantarkan Syam.


"Iya, kak Galuh sudah menitipkan Syam sama Abang. Ayok Syam!'',ajak Lingga. Tanpa protes, Syam pun ikut dalam mobil Lingga.

__ADS_1


__ADS_2