
*Teruntuk mas Lingga
Mas, kalo kamu baca pesan dari ku, itu artinya aku sudah tidak ada di rumah ini. Kamu ngga bisa di hubungi mas. Jadi aku cuma bisa nulis ini biar waktu kamu sampai sini, kamu bisa tahu kami pergi.
Kamu janji dua minggu setelah itu akan kembali kan mas? Jadi, kalo kamu balik kesini kamu hubungi aku di nomor ini ya 08xxxxxxxx
Nanti kalau kita sudah bertemu, kita bisa obrolin lagi ke depannya akan seperti apa. Kita mungkin memang tidak saling mencintai, tapi ikatan pernikahan kita terlalu sakral jika hanya untuk di permainkan.
Aku tunggu kabar dari kamu mas Lingga.
By Galuh Prastian
26-06-20xx*
Lingga melipat kembali kertas itu. Tapi ia membukanya lagi, dia menyimpan nomor yang tertera di kertas itu.
"Burhan, kita langsung pulang!",ajak Lingga. Burhan pun mengiyakan dengan patuh.
"Pak, terimakasih sudah menemani saya masuk. Saya permisi ya pak!",pamit Lingga sedikit terburu-buru.
Warga itu hanya mengangguk bingung. Tak tahu mau menjawab apa. Yang jelas, ia sudah memegang tiga lembar uang berwarna merah tanpa bersusah-susah bekerja di kebun.
Burhan tergesa-gesa mengejar tuannya yang berjalan di depannya menuju ke mobil. Langkah kaki jenjang bos nya memang agak sulit untuk di kejar.
Tanpa di buka kan pintu lebih dulu, Lingga pun duduk di bangku penumpang. Hari sudah mulai gelap. Selain memang akan magrib, mendung pun mulai bergelayut.
"Langsung pulang tuan muda?",tanya Burhan saat ia menyalakan mobilnya.
"Kita cari tempat untuk istirahat dan makan. Kamu lapar kan?",tanya Lingga. Burhan sedikit mengangguk. Lalu setelah itu ia pun melajukan kendaraannya menuju ke jalan besar.
Lingga mencoba menghubungi nomor yang Galuh berikan. Dia sangat berharap jika nomor yang Galuh berikan saat itu masih aktif hingga saat ini.
Mata Lingga melebar sempurna. Jantung nya seperti berpacu lebih cepat. Antara deg-degan dan bingung akan bicara apa setelah Galuh mengangkat teleponnya.
__ADS_1
[Hallo assalamualaikum?]
Terdengar suara anak kecil laki-laki terdengar di seberang sana. Lingga memandangi nomor tersebut. Mencocokan kembali dengan nomor yang ada di kertas tadi. Tidak salah!
[Hallo?]
Ulang anak kecil itu. Lingga mencoba berpikir positif. Semoga saja....
[Ha...hallo?]
Lingga sedikit tergagap.
[Iya, ini siapa?]
[Ini...ini nomor Galuh kan?]
Lingga tergagap saat menanyakan hal itu.
[Ganti? Bisa minta nomornya sekarang?]
Syam berpikir sebentar.
[Anda siapa? ada perlu apa sama kak Galuh?]
[Saya...saya....]
Lingga tergagap dan hampir bingung menjawab apa. Tapi samar-samar ia mendengar suara lain di ponsel itu.
[Dek Syam, makan dulu yuk. Nanti kalo kak Galuh pulang kamu belum makan mba Sari yang di omeli!]
Kemudian Syam pun menyahuti Mba Sari dan sambungan telepon dengan Lingga masih berlangsung.
[Maaf ya ,saya ngga bisa kasih tahu nomor kak Galuh. Nanti saja kalo kak Galuh sampai, telepon ke sini lagi. Assalamualaikum!]
__ADS_1
Tut ..Tut...Tut...
Panggilan itu berakhir. Lingga masih belum menemukan jawaban atas penasarannya. Mungkin dia akan mencobanya besok pagi.
Jika benar Galuh baru pulang kampung, setidaknya dia sudah ada di rumah besok pagi.
"Mau ke rest area tuan muda?",tanya Burhan yang dari tadi menahan kencing.
"Iya boleh. Tapi apa ada makanan sekalian?"
"Banyak sih tuan. Tapi... sepertinya kalo tuan mah ngga bakal doyan makanan kaki lima. Biasanya kan di restoran bintang lima."
"Jangan meremehkanku seperti itu. Dulu, di rumah reyot tadi saja aku pernah kok makan pakai telor ceplok di kecapin terus besoknya pakai ikan asin sambal lalapan."
Burhan mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti. Sebenarnya siapa sih Galuh-Galuh yang tuan muda nya sebut! Kenapa seolah tuan mudanya begitu ingin menemui orang yang bernama Galuh itu.
"Udah cepet parkir. Kalo udah nanti cari makan. Apa aja!",kata Lingga. Burhan lagi-lagi hanya mengangguk.
Lingga pun keluar dari mobil menuju toilet
.Hari sudah gelap meski tak jadi hujan.
Sekeluarnya Lingga, dia memilih duduk di pinggiran sambil beristirahat sambil menikmati senja yang tak lagi oranye melainkan hitam.
"Maaf tuan muda, cuma ada ketoprak."
"Ngga apa-apa!",lingga menerima sepiring ketoprak itu. Entah lapar entah memang rindu makanan kaki lima, Lingga begitu lahap memakan makan siang sekaligus makan malamnya.
Setelah mengisi perut sekaligus isi bensin, Burhan membawa tuan mudanya menuju ke rumah utama keluarga Arya.
Dan sudah di pastikan jika Arya akan mengomel sepanjang hari. Terlebih hari ini, Lingga memilih tak langsung pulang. Ponsel nya susah di hubungi.
Lingga hanya bersiap menebalkan telinga untuk mendengar setiap apa yang papa nya katakan pada nya.
__ADS_1