Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 145


__ADS_3

Arya dan Gita lebih dulu sampai di rumah baru mereka. Seperti yang sang istri inginkan, rumah berbahan bambu dengan halaman rumput yang luas. Tak lupa belakang rumah ada hamparan sawah dan tak jauh ada parit kecil. Meski dari jalan raya cukup terlihat, tapi nyatanya tak terlalu dekat dengan jalan utama tersebut.


"Rumah baru kita Pa!", kata Gita girang sambil terburu-buru membuka pintu.


Arya tersenyum melihat nenek satu itu. Perempuan yang sudah ia nikahi selama tiga puluh tujuh tahun itu seperti seorang gadis yang baru menemukan maina barunya.


Arya menyusul sang istri yang terlebih dulu menapaki tangga rumah berbahan bambu tersebut. Wajah bahagia begitu terlihat di antara senyuman Gita.


Sepasang suami istri itu kini bertemu dengan seorang wanita uzur yang katanya sudah membersihkan rumah tersebut.


Gita akui, rumah itu benar-benar seperti rumah biasa pada umumnya. Hanya saja, ada fasilitas modern yang melengkapinya. Jadi...Gita tak perlu susah payah menggunakan tungku untuk memasak.


Rumah yang awalnya adalah homestay milik salah satu pengusaha ibu kota akhirnya kini sudah berpindah tangan ke Arya. Wajar saja jika segala fasilitas sudah lengkap.


Jam delapan malam, Gita dan Arya sudah berada di dalam kamar yang akan mereka huni. Rumah itu mungil, hanya memiliki dua buah kamar. Kamar mandi berada di luar kamar, kamar tamu langsung terhubung dengan dapur.


Bayangan sederhana dan nyaman sudah berada di pelupuk mata Gita.


Perempuan berusia lima puluh delapan tahun itu membuka jendela kamarnya. View yang dia dapatkan adalah hamparan sawah yang masih hijau. Ada beberapa bebegig sawah yang mungkin memang di pakai untuk menghalau burung.


Angin malam menerpa wajah Gita yang mulai keriput tapi tak mengurangi kadar kecantikannya.


"Mama bahagia?", tanya Arya pada sang istri. Gita pun mengangguk cepat. Tangan Arya terulur mengalungkannya ke leher Gita.


Keduanya menatap gelapnya malam yang cukup dingin. Akan tetapi tak mengurangi rasa nikmat menatap kegelapan malam dengan langit yang di penuhi beberapa bintang.


Tok...


Tok...


Tok...


Suara ketukan pintu membuat sepasang suami istri itu pun saling berpandangan.


"Siapa yang bertamu ya Pa?", tanya Gita.


"Kita buka saja!", ujar Arya. Keduanya pun keluar dari kamar mereka. Tak butuh waktu bermenit-menit untuk sampai ke depan pintu ruang tamu.


Ceklek.... pintu terbuka menunjukkan senyum manis bocah tampan.


"Assalamualaikum Papa Arya!", sapa nya.


"Walaikumsalam! Syam!", Arya langsung memeluk bocah itu. Syam pun membalas pelukan Arya.

__ADS_1


"Baru berapa hari papa ngga ketemu kamu Syam tapi udah kangen aja!", kata Gita yang muncul di belakang Arya.


Arya dan Syam saling melepas pelukan mereka.


"Syam juga kangen mama Gita kok!", kata Syam berpindah ke Gita. Gita pun tak mau kalah memeluk Syam.


"Ayo masuk!", ajak Arya.


Syam pun mengangguk lalu di belakang mereka, Salim pun dipersilahkan masuk. Arya dan Gita yang selama ini merasa kesepian di rumah mewahnya, kini merasa begitu hangat dengan kehadiran Syam di antara mereka.


Dulu, awal Arya mengenal Syam adalah sosok bocah laki-laki yang kaku dan seperti tidak bisa bercanda.


Tapi sekarang? Syam begitu ramah dan bisa di ajak bercanda oleh Arya dan juga beberapa orang di sekitarnya.


Tidak semua!


"Oh iya Syam, Opa Surya katanya juga mau ke sini tapi ngga tahu kapan!", kata Arya. Iya, mereka memang partner bisnis dan juga sahabat. Wajar jika Surya tahu jika Arya akan pindah ke kampung menantunya.


"Oh...ya...ngga apa-apa sih!", sahut Syam datar.


"Papa kamu suka telepon?", tanya Arya pada Syam.


"Heum, sering!", jawab Syam.


"Buat apa papa tanya seperti itu! Yang penting hubungan kami sekarang baik-baik saja Pa. Ngga mau memikirkan yang aneh-aneh. Capek! Tugas sekolah aja udah bikin capek kok!", kata Arsyam lagi.


"Makin bisa aja jawabnya!", Arya memencet hidung Syam.


"Kamu udah ijin sama ibu mu mau ke sini?", tanya Gita.


"Udah ma, makanya di anterin mang Salim."


Salim mengangguk pelan. Tapi Arya menoleh cepat pada supirnya tersebut.


"Salim, kita bicara di luar!", kata Arya memanggil Salim. Syam pun melanjutkan percakapannya dengan mama Gita.


"Terimakasih sudah membantu ku menjaga mereka semua!", kata Arya pada Salim.


"Iya tuan. Sama-sama!", sahut Salim.


"Bagaimana dengan kelanjutan hubungan kamu dan Sekar?", tanya Arya tiba-tiba. Salim cukup terkejut mendengar pertanyaan majikannya tersebut.


"Maksud tuan apa?", tanya Salim.

__ADS_1


"Saya tahu Salim....!", kata Arya. Salim mengusap lehernya yang tak gatal.


"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan bilang ke saya?!", Arya menepuk bahu Salim yang masih nge-lag karena pertanyaan Arya. Arya sendiri langsung meninggalkan Salim ke dalam rumah.


.


.


.


"Udah di simpan di freezer Yang?", tanya Lingga.


"Udah bang, besok pagi bisa di anterin ke Ganesh lagi."


Lingga menepuk kasur disebelahnya. Dia berharap Galu mau duduk di sampingnya. Galuh pun patuh duduk bersandar ke dinding.


"Apa bang?", tanya Galuh.


"Ngga apa-apa sih yang, cuka pengen di giniin aja!"


Lingga menarik tangan Galuh untuk mengusap kepalanya.


"Apa ada yang Abang pikirkan?", tanya Galuh.


"Ngga yang, cuma capek aja kok!", kata Lingga sambil memejamkan matanya.


"Beneran kan?", tanya Galuh.


"Iya Yang, Abang baik-baik aja."


"Jangan bohong, aku bisa bedain Abang bohong apa jujur!", kata Galuh. Mata Lingga spontan terbuka untuk memindai wajah istrinya.


"Abang ngga bohong sayang!"


"Ya udah dah deh. Mending sekarang kamu istirahat Yang. Jangan berpikir yang aneh-aneh, oke!!!


*****


Pendek part nya. Insyaallah besok panjang lagi 🤣🙏


Jangan lupa tinggalin jejak sama


bintangnya.

__ADS_1


Terimakasih 🙏✌️✌️


__ADS_2