Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 150


__ADS_3

"Mau di bantuin Mang Salim?", tanya seseorang. Salim yang baru selesai menutup bagasinya pun menoleh lalu tersenyum.


"Ngga usah, terimakasih. Sudah selesai kok ini!"


Kedua lelaki bertato itu hanya mengangguk tipis.


"Kalian ada di sini ? Lalu yang ngawal Den Lingga?", tanya Salim.


"Ada rekan kami mang. Kebetulan kami juga baru selesai membersihkan kontrakan kami di sana."


Seseorang menjawab pertanyaan Salim sambil menunjuk sebuah rumah kecil yang tak jauh dari kost Lingga.


"Oh, begitu! Oh iya, terimakasih kalian sudah menjaga mereka selama ini."


"Sama-sama mang! Sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kami!", jawab keduanya kompak.


"Setelah ini, kalian akan tinggal di mana?", tanya Salim lagi.


"Masih di kampung yang sama dengan Den Lingga. Sebagian di rumah yang tak jauh dari kediaman Tuan Arya."


"Kalian pasti lelah berpindah-pindah terus ya?", tanya Salim.


"Resiko Mang!", jawab salah satunya. Terdengar suara ponsel berdering dari saku rekan bodyguard. Dia pun menyingkirkan diri dari Salim dan temannya.


Setelah berbicara beberapa saat, lelaki bertubuh tinggi besar itu kembali bersama Salim.


"Ibu negara ya?", tanya bodyguard satunya.


"Heum, biasa! Minta transfer bulanan!", jawabnya.


"Kalian sudah menikah?", tanya Salim. Keduanya mengangguk.


"Anak saya SMP kelas delapan!", jawab yang menerima telpon tadi.


"Kalo anak saya kembar, masih Paud mang!", sahut yang lain. Salim hanya mengangguk tipis. Mereka saja yang jauh lebih muda darinya sudah berkeluarga. Sedang Salim????


"Ya udah, Lo transfer aja dulu! Ngambek ntar tuh ibu negara. Takut kan Lo?"


"Gue bukannya takut Jon. Tapi gue menghargai dia sebagai istri sekaligus ibu dari anak gue! Kaya Lo sendirinya aja ga! Tampang preman, di bentak istri aja ciut! Ga usah sok ngejek gue. Lo juga sama njir!", jawab rekannya mencibir.


Salim terkekeh pelan melihat pertengkaran kedua rekan bodyguardnya tersebut. Dia tak menyangka jika orang yang terlihat seram seperti itu justru takut pada istrinya. Ralat, bukan takut! Tapi menyayangi dengan cara mereka.


"Mang Salim sendiri gimana? Ada kemajuan apa nih?", ledek salah satunya.


"Apa nya?", tanya Salim bingung.


"Kita tahu kali mang hehehhe!", timpal yang lain. Lagi-lagi Salim hanya menggeleng pelan dan tersenyum.


Mereka juga tahu tentang dirinya dan Sekar? Jangan tanya mereka tahu dari mana ya!!!


"Mang Salim ngga cocok jadi supir, lebih pantes jadi bos!", kata si Jon seperti yang temannya sebut.


"Bos naon ah!", sanggah Salim.


"Ya bos apa aja? Juragan sayur juga bisa!", bodyguard yang di panggil Jon itu menaikan salah satu alisnya dan di angguki oleh rekannya.


"Saya ngga ada bakat di bidang pertanian!", jawab Salim.


"Heheheh kan bos yang lain juga bisa kali Mang!", ledek satunya lagi. Salim tersenyum tipis.


"Kalo ada istilah kata gini, buy one get one free....itu ngga berlaku buat mang Salim!", kata Jon. Salim dan temannya Jon menautkan alisnya bersamaan.


"Maksudnya?", tanya Salim dan teman Jon kompakan. Sama-sama ga paham mereuuun...


"Iya lah. Kalo mang Salim jadi sama Bu Sekar kan, ngga cuma dapat Bu Sekar aja. Dapat, anak, dapat mantu dan bonus cucu!", katanya tanpa memikirkan akibatnya apa yang akan Salim lakukan padanya.


Salim terdiam. Teman Jon menyikutnya dengan kencang hingga Jon menyadari jika candaannya keterlaluan.

__ADS_1


"Maaf mang, saya...saya ...!", kata Jon takut-takut.


"Kenapa harus minta maaf? Do'akan saja kami berjodoh!", Salim menepuk bahu Jon yang sudah berwajah pucat tadi.


Soal adu fisik, sudah di pastikan Salim akan kalah telak. Salim memang sopir, tapi dimata dua bodyguard tersebut lelaki berusia empat puluh tahun itu lebih dari sekedar sopir.


Salim mempunyai kelebihan yang hanya orang-orang tertentu yang akan memahaminya. Jon dan rekannya menghormati Salim, anggap saja dia adalah atasan mereka atas perintah big bos Arya tentunya.


"Kalian kalau sudah selesai berkemas, kembali ngawal Den Lingga dan keluarga ya. Saya balik duluan!", pamit Salim pada kedua bodyguard tersebut.


"I-iya Mang!", jawab mereka tergagap. Sepeninggal Salim, teman Jon masih menyalahkan Jon yang suka sekali kelepasan bicara jika merasa sudah dekat. Berbeda jika mereka sedang bertugas. Tampang mengerikan pasti sudah menghiasi wajah mereka.


"Iya...gue salah!", kata Jon.


"Tapi, mang Salim emang beda ya. Kita ngga bisa remehkan tuh orang. Keliatannya emang cuma sopir, tapi gue yakin dia lebih dari itu. Buktinya, dia bisa mendapatkan tugas dari big bos yang ngga mudah."


"Huum! Udah yok tugas lagi! Jangan gabut!", ajak Jon.


"Makan Gaji Buta maksudnya?"


"Menurut Lo?", tanya Jon balik. Rekannya hanya menggeleng kesal. Tak heran jika sikap Jon memang random.


.


.


.


Gita berada di teras depan sendirian. Sekar sendiri sedang beristirahat di kamarnya. Sedang Lingga sedang mengurus pembayaran yang tak mau di transfer. Jadi mau tak mau dia langsung bertemu dengan rekan bisnisnya itu. Bukan bisnis besar, tapi supplier bahan baku pabriknya.


Mobil Arya masuk ke dalam halaman rumah Galuh. Gita langsung bangkit dari duduknya. Tapi melihat suaminya datang sendiri, ia pun heran. Arya berpamitan menjemput Syam karena Sekar bilang Salim tidak bisa menjemputnya karena di kost belum selesai. Jadi, Arya berinisiatif menjemput Syam.


"Lho? Syam mana Pa?", tanya Gita yang melihat Arya keluar mobil sendirian.


"Syam sama Glen, mereka makan siang bersama."


"Iya, mungkin ada urusan di pabriknya. Helen dan Zea ngga ikut Ma!"


Gita tak bertanya lagi.


"Bu Sekar mana?"


"Di kamarnya Pa. Kenapa?", tanya Gita.


"Syam pesen sama papa, minta tolong bilangin ke Bu Sekar kalau dia pergi dengan Glen, biar Bu Sekar ngga cemas."


"Oh...ya udah nanti mama yang bilang, papa mau minum kopi? Mama buatkan?", tawar Gita. Arya terkekeh pelan.


"Kita tamu di sini Ma, jangan kaya lagi di rumah sendiri!", kata Arya. Gita turut tertawa, dia lupa sedang berada di rumah besannya.


"Anggap saja rumah sendiri Nyonya Gita, tuan Arya!", Sekar membawa nampan berisi dua cangkir teh dan secangkir kopi.


"Eh, Bu Sekar!", kata Gita.


"Silahkan!", Sekar meletakkan teh dan kopi di meja.


"Terimakasih!", jawab Gita dan Arya.


"Maaf, baru sempat menjamu. Sibuk ngga jelas dari tadi", kata Sekar.


"Ngga apa-apa Bu Sekar. Oh iya, kayanya terlalu formal kalau saya panggil Bu Sekar dan Bu Sekar memanggil saya nyonya. Saya kan bukan majikan Bu Sekar heheh."


Sekar tersenyum tipis.


"Ya sudah, saya panggil mba Gita saja. Mba Gita panggil saja nama saya. Ya?"


Gita pun setuju dengan ucapan Sekar.

__ADS_1


"Kalau begitu, Bu Sekar panggil saya mas juga?", tanya Arya.


"Iya mas Arya!", kata Sekar.


"Kalau ke Salim? Masih mau manggil Mang Salim juga?", cerca Arya jahil ,sayang mimik wajahnya datar tak sesuai jika dia sedang bercanda.


Sekar mengerjapkan matanya dan menggeleng entah kenapa. Sedang Gita melotot tajam pada suaminya. Setelahnya dia hanya salah tingkah.


Apakah mereka juga tahu sesuatu???? Batin Sekar.


.


.


.


Lingga mengendarai sepeda motornya menuju ke sebuah tempat di mana ia biasa bertemu dengan juragan pasir.


"Eh, bos!", sapa juragan pasir.


Lalu setelah itu mereka pun mengobrol urusan pekerjaan. Setelah hampir satu jam Lingga membicarakan bisnisnya dan juga pembayarannya, dia pun berpamitan pulang.


Rumah juragan pasir memang lumayan jauh dari rumahnya. Kurang lebih empat puluh lima menit lamanya.


Suasana masih cerah meski hampir jam lima sore. Kendaraan juga melaju cukup ramai. Meski bukan kota besar, nyatanya mobilitas penduduk dengan kendaraan bermotor cukup meramaikan jalan raya.


Entah feeling atau insting, dari spion ia melihat mobil yang mengikutinya. Kecurigaan Lingga semakin tinggi saat dirinya berhenti di sebuah rumah makan yang cukup ramai, mobil itu ikut berhenti tapi penumpangnya tidak turun.


Lingga mencoba berpikir jernih, takut dia berprasangka buruk. Siapa tahu mereka anak buah Mang Salim kan???


Ponsel Lingga berdenting. Ada pesan masuk yang mengatakan hal penting.


Setelah beberapa saat kemudian, seseorang masuk ke rumah makan tersebut lalu duduk di hadapan Lingga.


Sepuluh menit kemudian, motor Lingga keluar dari area parkir rumah makan tersebut. Tepat dugaan Lingga, mobil itu dengan sengaja mengikuti dirinya.


Beruntung seseorang yang datang mengaku orang nya Arya meminta bertukar jaket dan sepeda motor.


Alhasil, orang Arya yang menggantikan Lingga di motor nya itu.


Orang yang memerankan Lingga sengaja menjalankan kendaraannya dengan pelan hingga membuat Lingga yang sesungguhnya menyalip mendahuluinya.


Lingga menggeleng tak percaya. Kenapa seperti adegan sinetron saja. Ada yang bermaksud mencelakainya?


Memang Lingga itu siapa? Salah apa??? Lelaki tampan beranak satu itu pun kini lebih tenang menjalankan sepeda motornya.


Dan Lingga Kw sengaja berhenti di pom bensin yang kebetulan memang motor Lingga habis bensin.


Mobil yang mengikuti Lingga ikut juga mengisi bensin. Lingga kW membuka helm nya seolah sedang kepanasan.


Sontak orang yang mengikuti Lingga merasa terkejut. Mereka merasa di bodohi!


Lingga kW tersenyum sini sambil menunjukkan kode pada si penguntit! Dan sebagai sesama penganut dunia hitam, mereka tahu siapa yang menggantikan peran Lingga saat ini.


Dengan perasaan dongkol, mereka meninggalkan pom bensin dan meninggalkan Lingga kW begitu saja.


(Jangan tanya kode apa, Mak othor ge teu apa 😆😆😆)


Lingga sampai ke rumah hampir magrib yang sudah di sambut oleh istri dan juga putranya. Tapi Sekar meminta Lingga untuk membersihkan diri lebih dulu sebelum mendekati Ganesh.


*******


Terimakasih buat kalian yang sudah bersedia menanti tulisan remahan begini 😘😘😘


Semoga ngga membosankan ya ✌️🙏🙏🙏. Otewe end kayaknya, kayaknya lhoooo....✌️✌️✌️


Haturnuhun tengkyu kesuwun 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2