
Menjelang tengah hari, Lingga sekeluarga sudah tiba di rumahnya. Tapi sebelumnya ia mengantar kedua orang tuanya lebih dulu karena memang posisi rumah mereka lebih dekat dengan jalan utama kabupaten. Alhasil, Lingga hanya berdua dengan Galuh.
"Yang, di perempatan pasar beli baso yuk. Sekalian buat yang di rumah!", ajak Lingga usai mobilnya kembali melaju.
"Iya, atur aja!", kata Galuh sambil memejamkan matanya beberapa saat dan menyandarkan kepalanya. Lingga menoleh pada istrinya yang sepertinya tidak terlalu antusias.
Lingga mengulurkan tangannya dan meletakkan di dahi Galuh.
"Kok badan kamu anget Yang?", tanya Lingga sedikit panik.
"Ngga apa-apa bang, paling cuma kecapekan di jalan sama capek lembur doang!", sahut Galuh tanpa membuka matanya.
Bibir Lingga berkedut ingin tersenyum tapi yang ada nanti malah menimbulkan masalah yang ngga jelas. Lingga sadar jika dua hari ini selama mereka di ibukota, dirinya memang mengerahkan segala kemampuannya untuk menyenangkan dirinya juga sang istri. Tapi... lebih tepatnya banyak ke dirinya sihβοΈ.
"Maaf sayang!", Lingga mengusap kepala Galuh dengan lembut.
"Heum!", gumam Galuh.
Tak lama kemudian, Lingga menepikan mobilnya di depan sebuah kios baso.
"Abang turun sendiri aja ya!"
"Iya Yang. Mau sekalian beli yang lain?", tanya Lingga.
"Ngga bang!"
Lingga mengangguk lalu menuruni mobil menuju ke kios baso. Galuh membuka matanya dan melepas sabuk pengamannya. Ia membuka jendela.
Dari spion ia bisa melihat jika adik dan teman-temannya sedang menggowes sepeda menuju ke arahnya. Galuh memilih keluar dari mobil lalu menunggu Syam dan teman-temannya.
Syam yang hafal itu mobil kakaknya pun menghentikan laju sepedanya.
"Kakak!", panggil Syam saat melihat kakak perempuannya yang cantik melambaikan tangannya.
"Kok baru pada pulang dek? Dari arah sana pula? Mampir mana hayo?", cerca Galuh. Syam dan teman-temannya bergantian mencium punggung tangan Galuh.
"Mampir ke warung Abahnya Syam tadi Kak!", jawab Deni. Galuh hanya mengangguk. Lingga yang melihat istri dan adik iparnya pun keluar dari warung.
"Abang!", sapa Syam dan teman-temannya.
"Eh, udah siang begini baru pulang?", pertanyaan yang sama seperti Galuh.
Lingga membelikan baso untuk teman-teman Syam juga tidak hanya untuk keluarganya saja.
"Dek, kamu ikut mobil aja. Sepedanya masukin!", pinta Lingga. Karena sepeda milik Syam, maka dengan mudah Lingga mengangkutnya. Tidak seperti milik teman-temannya.
"Tapi ngga enak sama temen bang!", sanggah Syam.
"Eh, ngga apa-apa Syam. Lagi pula kita ntar juga pisah di atas. Udah , kamu mau ikut Abang aja ngga apa-apa. Ya kan?", kata Deni meminta persetujuan temannya.
"Iya Syam!", jawab mereka.
"Oh, ya sudah deh kalo gitu!", kata Syam.
"Makasih udah di beliin baso ya Bang?"", kata Deni mewakili temannya.
"Iya, sama-sama. Langsung pulang, jangan mampir-mampir lagi ya!", kata Lingga menasehati tiga bocah itu.
.
.
.
"Papa sama mama mana bang? Ngga ikut pulang ke sini?", tanya Syam usai di mobil.
"Langsung pulang ke rumah. Katanya nanti malam baru ke rumah kita!", jawab Lingga. Syam mengangguk pelan. Mungkin memang kakek dan nenek Ganesh cukup lelah.
"Kok adek naik sepeda, ngga di anterin Abah?", tanya Galuh.
"Pengen naik sepeda aja Kak. Biar dirumah ibu ngga sendirian jagain Ganesh."
"Ngga ke warung dong Abah nya?", giliran Lingga yang bertanya.
"Ngga bang."
Lingga mengangguk pelan. Tak terasa, mobil mereka tiba di halaman rumah yang lebar tersebut. Ada truk Lingga yang sedang menurunkan batako di halaman samping dekat dengan calon rumah mertuanya.
Ketiganya langsung turun dari mobil dan mencuci tangan di kran yang memang ada di dekat pintu teras.
"Kok sepi?", gumam Galuh.
"Emang biasanya rame kaya apa sih kak?", tanya Syam. Galuh tersenyum lalu merangkul bahu Syam. Lingga sendiri sedang menurunkan sepeda Syam lalu meletakkan di garasi.
Lingga melihat sebentar proses pembuatan rumah mertuanya tersebut. Meski baru berapa hari, nyatanya pekerjaan mereka sangat baik dan cepat. Dia mengobrol dengan mandor dan juga karyawan pabrik batakonya membicarakan tentang pekerjaan itu.
Di dalam rumah....
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!", sahut Sekar menghampiri Galuh.
"Lho, adek pulang bareng kakak?", tanya Sekar.
"Iya Bu!", jawab Syam.
"Adek bawa ini kebelakang dulu ya Kak, Bu!", kata Syam. Dua perempuan cantik itu mengangguk.
"Ganesh mana Bu?", tanya Galuh yang pasti sangat merindukan putranya.
"Ada di kamar kalian. Tadi habis minum susu langsung bobo."
Galuh pun mengangguk.
"Ya udah, kakak bersih-bersih dulu ya. Ibu makan duluan aja baso nya, keburu dingin!", pinta Galuh.
__ADS_1
"Iya, nanti nunggu Abah selesai solat dulu!", kata Sekar. Galuh pun masuk ke dalam kamarnya. Ingin rasanya ia menghambur memeluk putranya, tapi ia sadar jika dirinya perlu membersihkan diri setelah bepergian.
Tak butuh waktu lama, Galuh sudah selesai berganti pakaian dan juga solat dhuhur. Dengan tak sabar ia mendekati dan menciumi Ganesh.
"Assalamualaikum anak ibu, ibu kangen banget cup...cup...!", Galuh menciumi pipi chubby Ganesh. Dia menoleh ke arah pintu saat suaminya memasuki kamar mereka.
"Abang dari mana?", tanya Galuh penuh selidik terlihat dari cara ia memandangi Lingga.
Mungkin masih nethink gara-gara Karen tadi. Lingga tersenyum tipis.
"Ngobrol sama supir tadi!", jawab Lingga. Mendengar jawaban Lingga, Galuh mengangguk mengerti.
Saat akan mendekati ranjang, Galuh menghentikan langkah Lingga dengan teguran pelan.
"Bersihin badan dulu bang, abis itu sholat dhuhur!"
Lingga menurunkan bahunya lemas. Sebagai seorang ayah, dia pun sama rindunya dengan buah hati mereka. Tapi apa yang Galuh katakan memang sebaiknya seperti itu.
Lingga memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri lalu keluar setelah berwudhu. Di saat yang sama, ia melihat Ganesh yang sedang menyusu ke ibunya.
Tangan Galuh terulur mengusap kepala Ganesh. Lingga mendekati kedua dunianya dan mengecup puncak kepala Ganesh yang tengah menyusu. Sepertinya Ganesh menyadari jika dirinya di cium oleh orang yang berbeda.
Ppluup...di melepaskan hisapannya lalu menoleh pada ayahnya. Senyum Ganesh merekah melihat sosok yang baru saja menciumnya. Dengan gerakan tangan dan kakinya yang aktif, Ganesh meminta di gendong oleh ayahnya.
"Ayah sholat dulu ya, nanti tinggal gendong Ganesh!", kata Galuh pelan-pelan. Meski mungkin Ganesh belum mengerti ucapan ibunya, nyatanya bayi itu tak rewel untuk melarang ayahnya solat.
Beberapa menit berlalu, Lingga sudah menggendong putranya. Ternyata...ada rasa berbeda saat memeluk buah hati walaupun fisik terasa begitu lelah.
"Bang, istirahat dulu. Pasti Abang capek habis nyetir."
"Bentar lagi Yang, Abang masih kangen Ganesh!", tolak Lingga.
"Oh ...ya udah atuh, aku buatin teh dulu ya bang! Apa mau sama baso nya juga bawa ke sini?", tanya Galuh.
"Teh aja deh, makannya ntar. Belum pengen!", sahut Lingga. Galuh pun keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Ternyata ada kedua orang tuanya dan Syam makan di sana, tidak di ruang makan.
"Makan Kak!", tawar Syam.
"Iya, duluan aja!", kata Galuh ia pun membuat teh panas untuk suaminya.
"Kakak ke kamar dulu ya mau istirahat dulu!", kata Galuh.
"Iya kak!", sahut mereka bertiga.
"Dek, nanti malam temani Abah ke rumah baru yang di ujung tanjakan sana ya. Tadi teteh bilang, belanjaannya banyak. Jadi minta di antar ke rumah! Ngga keberatan kan?", tanya Salim.
"Rumah baru? Oh...iya bah!", jawab Syam.
"Siapa emang bah? Orang sini atau pendatang?", tanya Sekar.
"Pendatang Bu, sepertinya beliau itu baru pindah tugas !", jawab Salim.
"Oh....ya mudah-mudahan jadi pelanggan tetap Abah ya bah!", kata Sekar.
"Aamiin, doakan saja Bu semoga warung kita ramai dan berkah!"
.
.
.
[Sumpah gue kesel banget tahu ngga sama tuh cewek huhhh]
Karen menelpon seseorang di ujung sana.
[Kesel kenapa sih? Bukannya Lo jadi nebeng mobilnya Lingga?]
[Gue gedeg banget! Bisa-bisanya dia pesenin gue taksi online buat gue! Sh**** dia bilang apa coba? Gue yang bisniswomen masa iya ngga punya aplikasi gitu?]
[Dia cuma pesenin doang kan? Ngga bayarin Lo juga?]
[Eh ...gila aja Lo. Jangankan buat bayar taksi, gue beli juga nih mobil!]
Karen mendengus kesal. Supir taksi itu hanya menggeleng lemah. Meski dia dapat bayaran yang sesuai, kalau model penumpangnya seperti itu sudah jelas harus banyak-banyak nyebut.
[Ayolah Ren, Lo bilang mau sama Lingga lagi. Ini saatnya lho! Dia udah ngga susah kaya waktu dia keluar dari rumah om Arya]
[Emang lo udah move on? Ckkk...]
[Lo tahu sendiri, gue masih saudaraan sama Lingga. Kalo mau, udah dari dulu kali!]
Karen memutar bola matanya dengan malas dengan kepercayaan diri Inka yang begitu tinggi. Jelas-jelas dulu ia tak peduli kalau mereka masih satu keluarga. Buktinya Lingga lempeng-lempeng aja, justru kabar dia sudah menikah sejak selesai KKN di saat dia baru putus dari Inka.
[Serah lah, capek gue sama cewek kampung itu. Kita ngga bisa remehin dia dengan cara receh kaya gini]
[Hahahaha nyadar juga Lo!]
Inka menertawakan temannya tersebut.
[Gue ngga mau tahu, kalo Lo mau misi kita berhasil gue mau Lo bantuin gue Ka!]
[Oke! Gue pikirin ntar]
Panggil telepon antara Karen dan Inka itu pun terputus.
"Maaf mba, berhenti di mana ya?", tanya supir.
"Itu depan aja!", jawab Karen. Setelah membayar, tanpa mengucapkan terimakasih pada supir, dia pun meninggalkan taksi online nya itu.
"Sialan! Gara-gara tuh cewek gue ngga bisa ke mana-mana kan? Mana tuh orang belum sampe-sampe anterin mobil gue lagi!", gerutu Karen sambil memasuki sebuah rumah. Untuk beberapa waktu dia akan tinggal di rumah itu sampa proyek yang ia tangani dengan Alex selesai.
"Huffft! Lingga....Lingga....gue makin tertantang kalo kaya gini jadinya. Gue ngga peduli gimana istri Lo bakal lawan pesona seorang Karen!", monolog Karen.
.
__ADS_1
.
.
Salim dan Syam sudah berada di halaman rumah baru yang sudah memesan beberapa kebutuhan pokok yang cukup banyak.
Mereka berdua mengambil di warung lebih dulu, baru lah mengantar dan bisa langsung pulang.
Syam dan Salim turun dari mobil.
"Syam tunggu sini aja deh Bah!", kata Syam. Salim pun mengatakan ia mencoba memencet bel lebih dulu.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berjilbab membuka pintu ruang tamu.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, maaf siapa ya?", tanya perempuan itu.
"Perkenalkan saya Salim. Tadi pagi, ada teteh yang belanja ke warung saya. Beliau memesan bahan makanan, karena banyak jadi kami antarkan."
"Oh, si bibik ngga bilang. Udah di bayar?", tanya perempuan itu.
"Sudah Bu!", jawab Salim.
"Oh, ya sudah turunkan saja di situ!", kata perempuan itu.
Salim pun kembali ke mobil.
"Taruh mana Bah?", tanya Syam.
"Di ruang tamu aja katanya dek!", ujar Salim. Bocah itu pun mengangguk pelan dan mengiyakannya. Syam membantu Salim menurunkan barang yang pemilik rumah itu pesan.
Setelah beberapa menit kemudian....
"Sudah selesai Bu...!", kata Salim.
"Oh iya terima kasih. Silahkan duduk dulu, suami saya masih dinas. Mungkin nanti malam baru datang!", kata si pemilik rumah.
Sebenarnya Salim ingin langsung pulang tapi tidak enak jika menolak perempuan tersebut.
"Riang.... sudah selesai belum buat minumnya?", teriak ibu itu.
Dengan sedikit terkejut gadis yang bernama Riang itu pun meletakkan minuman di meja.
"Silahkan!", ujar Riang pada tamunya.
"Terima kasih!", ucap Salim sedang Syam diam saja. Hanya saja ia sempat melirik gadis kecil berjilbab hitam khas anak sekolah.
Untuk menghormati tuan rumah, Salim pun meminum minuman yang sudah di sediakan begitu pula dengan Syam.
"Ini anak bapak? Sekolah kelas berapa?", tanya ibu Riang.
"Iya, kelas lima Bu!", jawab Salim.
"Oh, sama dong kaya Riang. Rencananya mau sekolah di SD Xxx."
"Kebetulan anak saya juga sekolah di sana Bu", kata Salim sambil tersenyum.
"Oh...bagus dong. Riang, setidaknya besok kalo kamu sudah sampai di sekolah kamu punya punya teman. Siapa namanya nak?", tanya si ibu.
"Arsyam", jawab Syam singkat.
"Kalo ini namanya Riang!", kata ibu Riang. Baik Syam atau Riang sama-sama diam.
Usai berbasa basi Salim dan Syam pun berpamitan. Dan rencananya, ibu Riang akan sering pesan kebutuhan mingguan atau bulanan di warung Salim.
Di mobil....
"Bakal punya teman baru besok dek!", kata Salim.
"Heum iya bah. Tapi selama ini Syam paling main nya sama Deni kalo di sekolah. Jarang sama anak lain, apalagi anak perempuan."
Salim terkekeh.
"Capek ya banyak fans nya?", ledek Salim. Syam mengerucutkan bibirnya.
"Berteman sama siapa aja dek! Yang penting tahu batasan dalam berteman. Jangan sampai ikut-ikutan yang ngga baik. Bully misalnya! Karena setajam-tajamnya pisau jauh lebih tajam lidah."
Syam menoleh pada abahnya.
"Kadang, kita salah bicara sedikit saja... ujung-ujungnya berantem. Boleh lah bersikap cool, kaya kamu nih misalnya. Tapi tidak semua orang harus memaklumi kamu, apalagi mereka yang memang tidak mengenalmu."
"Sering terjadi di antara kita. Ngga baru-baru ini. Contohnya saja, kita sedang antri. Tiba-tiba ada anak kecil yang menyerobot antrian kita, apa yang akan kamu lakukan?"
"Kalo memang urgent yang ngalah, tapi kalo tidak ya suruh antri lah!"
"Nah, itu pemikiran orang 'waras'. Ada juga kok yang tak mau sepemikiran dengan kamu dengan dalih....maklum, namanya juga anak-anak. Dan di sini lah para orang tua antara sadar dan tidak sadar sudah merusak mental anak-anak mereka."
"Iya paham. Tidak selamanya orang lain akan mengerti kondisi kita atau pun sebaliknya."
"Bagus!"
Lelaki dewasa itu pun tersenyum.
"Jadi... kurang-kurangi sikap keras kepala dan juteknya ya?", katanya lagi menasehati.
"Iya..bah, iya....!", sahut Syam tenang. Dan akhirnya mobil mereka tiba di rumah kembali tepat saat azan magrib berkumandang.
*****
14.37
Terima kasih
Semoga berkenan dan tidak mengecewakan πmohon maaf kalo masih banyak typo ππππ
__ADS_1
Haturnuhun ππππ