
"Kenalin, nama saya Lingga. Kamu teman sekelas Zea kan? Saya Abang nya!",kata Lingga berusaha ramah pada adik iparnya itu.
"Kalo om emang kakaknya Zea, kenapa mencari kak Galuh?",tanya Syam. Umar dan Usman yang berada di belakang Syam menggaruk tengkuknya sendiri.
Lingga terlihat menarik nafas pelan lalu berusaha untuk tetap tersenyum di depan sang adik ipar.
"Syam, boleh saya masuk? Ngga mungkin kan saya jelasin di luar seperti ini. Udah malam kan?",tanya Lingga pada Syam.
"Kalo anda tahu ini sudah malam, kenapa bertamu?",tanya Syam balik. Duo 'U' menelan salivanya kasar. Keduanya saling berpandangan.
Syam memang seperti itu, tapi di sisi lain...Lingga juga 'mengaku' suami dari bos nya. Jadi bagaimana????
"Jadi, saya ngga boleh ketemu Galuh sekarang?",tanya Lingga berusaha membujuk Syam lagi.
"Bukan ngga boleh. Tapi kak Galuh udah tidur." Syam menjawab apa adanya. Galuh memang sudah tidur.
"Galuh sudah tidur jam segini?",tanya Lingga. Syam mengangguk pelan.
"Kalo begitu, boleh kan saya minta nomor ponsel Galuh?",tanya Lingga.
__ADS_1
Syam menautkan kedua alisnya.
"Apa om yang waktu itu telpon ke nomor lama kakak? Yang minta nomor kakak tapi tak ku beritahu?"
Syam mengangguk.
"Nah, itu om tahu jawabannya. Aku ga mau kasih nomor kakak sembarangan. Tapi...kok om tahu nomor lama kakak?",tanya syam. Dan ya...masih dengan nada jutek nya.
Lingga memijat pelipisnya yang nyeri menanggapi ucapan adik iparnya yang terlalu banyak bertanya.
Lingga berjongkok di depan Syam, menyamakan tinggi badannya lalu menekan kedua bahu Syam.
"Kamu tahu... menikah Syam?",tanya Lingga. Syam yang heran kenapa lelaki dewasa di depannya bertanya demikian pun tak merespon apa pun. Lagi-lagi Lingga harus bersabar menghadapi adik iparnya itu.
Bukan hal yang sulit bagi Syam. Dia merupakan anak yang pintar dan menangkap informasi apapun dengan mudah. Jangankan seperti ini, memahami pelajaran saja bukan masalah besar baginya. Entah lah, meski dia lahir dari hal yang tak diinginkan, tapi kenyataannya Syam memiliki kelebihan di banding yang lain.
"Kalo kalian memang menikah, kemana aja om selama ini?",tanya Syam. Mungkin rasa penasarannya terobati. Mungkin lelaki yang di hadapannya adalah biang masalah sang kakak. Hingga membuat kakak kesayangannya mengurung diri di kamar.
Skak mat! Itu yang Lingga rasakan. Rasanya mustahil menjelaskan pada Syam yang masih kecil.
__ADS_1
"Saya...saya...."
"Sudah lah om. Besok lagi aja cari kakak. Sekarang udah malam! Assalamualaikum!",Syam langsung menutup rolling door. Umar dan Usman sedikit tersentak karena suara pintu besi terdengar sedikit nyaring.
Tak beda jauh dengan Lingga. Dia hampir terjengkit karena Syam menutup pintu itu buru-buru.
Gagal! Batin Lingga!
Dia masih saja berpikir bagaimana cara meluluhkan Galuh. Benarkah tak ada cinta di antara keduanya? Atau hanya sekedar saling 'menghargai' sebuah pernikahan???
Kalau Syam adik Galuh, apakah ibunya sudah menikah lagi? Dan kenapa seolah Syam tahu masa lalu yang pernah Kakaknya alami bersama Lingga??
"Aku akan kembali Luh!",gumam Lingga. Dia pun meninggalkan halaman warung milik Galuh. Di dalam mobil dia menatap bangunan yang tak seberapa besar. Tapi cukup strategis. Mungkin itulah kenapa warung Galuh ramai.
"Aku akan membayar semuanya Luh. Membayar delapan tahun kewajiban yang aku lewatkan!",Lingga bermonolog. Setelah itu, dia pun kembali ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen, ia melihat Burhan yang tertidur di sofa dengan tv yang menyala.
Lingga pun mematikan televisinya. Barulah Burhan sadar, dia tertidur di sofa dan ketahuan oleh bosnya.
__ADS_1
"Maaf mas, ketiduran!",kata Burhan kikuk.
"Iya, istirahat di kamar sana!",ujar Lingga pada Burhan. Setelah itu Lingga menuju ke kamar, ia pun meninggalkan Burhan.