
Syam sudah kembali di kamarnya yang sejak kemarin-kemarin di pakai oleh para tamunya. Bocah berparas tampan itu menatap jendela kamarnya yang ada di lantai atas.
Langit malam tak menunjukkan bintang barang satu pun karena cuaca masih cukup mendung. Tapi hujan belum turun lagi.
Syam tersenyum tipis. Dia bahagia sekali saat ini. Kakaknya sudah di terima oleh Arya. Dan diri nya pun di perlakukan baik olehnya.
Bagi Syam, Arya tetap lah seorang pahlawan yang sudah membuatnya berada di sini. Panggilan papa terhadap orang yang lebih pantas menjadi Kakek nya pun tampaknya tak membuat Syam keberatan sama sekali.
Jika dia menganggap dirinya adik Lingga, otomatis dia juga di anggap anak. Bukan cucu seperti Angel!
Tapi senyum nya memudar saat mengingat Surya yang juga memintanya memanggil Kakek. Jujur, Syam tak masalah. Toh memang dia tidak bersalah di sini. Dia hanya ingin di akui bahwa darah yang mengalir di tubuh Syam ada darahnya juga.
Syam akan dengan tangan terbuka menerima Surya menjadi bagian dari hidupnya. Tapi untuk Glen.....
Syam menghela nafas berat. Bocah kecil yang berpikiran dewasa itu menahan dagunya dengan tangan.
Sebagai anak, Syam memang sangat merindukan sosok seorang ayah. Meski selama ini kasih sayang Lingga padanya seperti seorang ayah, tetap saja dia hanya kakaknya. Begitu pula dengan Arya, lelaki yang keras kepala itu hanya 'papa', bukan ayah kandungnya.
Apa Syam menginginkan Glen????
Jawabnya...ya! Dia pun ingin merasakan pelukan seorang ayah seperti yang lain. Ingin dimanja dan di perhatikan. Tapi...Syam sendiri masih ingat saat Zea memohon padanya agar tak mengambil Glen dari nya.
Sakit hati? Tentu saja. Dia dan Zea seharusnya memiliki hak yang sama. Syam pun sebenarnya menyadari jika Glen pun ingin melakukan seperti umumnya seorang ayah terhadap anaknya.
Tapi.... keadaan yang memaksa nya sampai Glen harus mengacuhkan dirinya.
Sedih memang! Syam kecil harus terpaksa tumbuh dewasa karena keadaan yang membuatnya merasakan seperti apa di abaikan.
Tok....
Tok...
"Dek, udah bobo?", suara Galuh terdengar dari luar kamar.
"Masuk kak, Syam belum bobo kok!", sahut Syam. Galuh pun masuk ke kamar adiknya. Di lihatnya Syam yang masih berada di dekat jendela. Mungkin itu spot favoritnya. Di sana ia bisa melihat lampu-lampu yang menyala di perkampungan bawah sana.
__ADS_1
"Kenapa kak? Udah malam kok malah belum istirahat?", tanya Syam pada Galuh.
"Kakak mau ngobrol sama Syam!", kata Galuh.
"Soal apa?", tanya Syam.
"Pak Surya?", tanya Galuh balik.
"Kenapa sama ...kakek?", Syam duduk di hadapan Galuh.
"Kamu bisa menerima kakek Surya kan?"
Syam mengangguk pelan dan tersenyum.
"Meskipun Syam belum dewasa, tapi Syam tahu kok apa yang kakek maksud. Syam sudah merasa cukup dengan apa yang kakak dan Abang berikan. Untuk sekarang... insyaallah Syam tidak berniat meminta apapun dari kakek. Memiliki kakek saja, Syam sudah senang. Biarlah, harta warisan Kakek buat Zea. Dia memang jauh berhak di banding Syam kak!"
Galuh tak menyahut jika Syam sudah berpikir seperti itu. Bahkan dari tadi pembicaraan itu tak menyebut soal warisan. Tapi Syam paham dengan obrolan yang mengarah ke sana.
Galuh merengkuh bahu Syam.
"Kenapa kamu cepat sekali dewasa Syam? Perasaan baru kemarin kakak merawat kamu masih bayik merah!"
Galuh memeluk adiknya penuh kasih sayang. Jika ia jarang melihat Syam tersenyum, kali ini ia merasa jika Syam tertawa lepas tanpa beban.
Sebahagia itu Syam????
.
.
Zea tertidur pulas di sofa rumah Surya. Hanya ada art di rumah tersebut. Dia pergi dari rumah saat melihat mamanya sedang marah-marah sendiri. Zea hanya takut jika mama nya akan melukai dirinya sendiri. Jadi, Zea pergi dari rumah tanpa pamit pada mamanya. Dan tujuan utamanya adalah rumah sang kakek yang tak terlalu jauh dari kediaman orang tuanya.
Surya dan Glen sampai ke kota hampir pagi. Glen sendiri tak langsung pulang ke rumahnya melainkan ikut masuk ke dalam rumah dimana ia tinggal sejak kecil.
Hanya tersisa papanya, mamanya meninggal saat dirinya masih di bangku TK. Tapi papa Surya terlalu setia hingga sampai saat ini dirinya tak menikah lagi. Bahkan sampai punya cucu, Zea dan ....Syam.
__ADS_1
Keduanya memasuki ruang tamu tapi alangkah terkejutnya saat melihat sosok gadis kecil yang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Tuan, sudah sampai!?", sapa art yang seperti baru selesai solat malam.
"Bik, Zea kenapa tidur di sini?", tanya Glen sambil mendekati Zea lalu berjongkok.
"Non Zea ngga mau dibajak ke kamar Tuan. Dia bilang mau menunggu papa sama opa nya", jawab Art.
"Helen ngga ke sini?", tanya Surya.
"Non Zea ke sini sendiri semalam, jalan kaki!", jawab art.
"Ya Tuhan!", Glen meraup wajahnya kasar.
Mendengar suara sedikit mengganggunya, Zea terbangun.
"Papa! Opa!", Zea bangun dari sofa.
"Sayang, ada apa?", tanya Glen sambil memeluk putrinya.
"Zea takut, mama marah-marah pa!", adu Zea.
"Marah???Marah gimana Ze??'', Glen membeo.
"Mama nangis-nangis terus marah-marah. Lemparin barang-barang yang ada Pa. Zea takut kalo Zea yang bikin mama marah. Zea takut mama melukai badannya sendiri pa!", kata Zea.
"Kapan itu Ze? Kamu kesini jalan kaki? Sendiri?", cerca Surya.
Zea menganggukkan kepalanya.
"Sayang, kamu tunggu di sini sama Opa. Papa pulang sebentar. Oke?", pinta Glen pada Zea.
"Kamu mau apa Glen?", tanya Surya yang seakan melarang jika Glen pulang menemui Helen.
"Aku harus memastikan keadaan Helen, pa!", tanpa menghiraukan Papanya. Glen pun pergi dari rumah papanya.
__ADS_1
******"
makasih ✌️🤭🙏