
"Abang langsung balik ke kost?",tanya Galuh saat ibu serta adiknya pulang usai magrib tadi.
"Sebenarnya Abang capek Yang, tapi liat Ganesh rasanya Abang ngga pengen jauh-jauh deh Yang!", kata Lingga sambil merangkul bahu Galuh yang jauh lebih pendek darinya.
"Heum, tapi Abang juga harus istirahat. Perjalanan sendirian ke sini lama lho bang. Istirahat dulu sana!", pinta Galuh.
"Abang juga ngga mau jauh dari istri Abang lagi lho!", sahut Lingga tanpa menoleh pada istrinya.
Galuh menoleh dan sedikit mendongak menatap wajah tampan suaminya. Setelah itu ia justru menenggelamkan kepalanya ke ketiak Lingga.
"Abang belum mandi Yang!", kata Lingga tidak percaya diri.
"Ngga apa-apa. Abang mandi ngga mandi tetep wangi!", puji Galuh.
"Mana ada! Ngga usah ngeledek gitu. Di mana-mana kalo belom mandi ya bau Yang!"
"Tapi Abang wangi, buktinya aku mau nempel-nempel gini!", Galuh mengerucutkan bibirnya.
Lingga terkekeh pelan.
"Abang tahu kamu kangen Yang, Abang juga. Tapi insyaallah Abang masih sanggup puasa kok!", kata Lingga pelan.
"Heum!", gumam Galuh.
"Nanti jam sembilan pulang ya?!", pinta Lingga. Galuh mengangguk.
"Udah makan belum?", tanya Lingga.
"Udah tadi sore di beliin sama adek, bang!", jawab Galuh.
"Owh...!"
"Abang belum makan?", tanya Galuh.
"Iya, belum!"
"Ya udah kita balik dulu ke kostan. Aku beliin Abang makan, Abang nya mandi!", pinta Galuh.
"No. Biar Abang beli sendiri Yang. Kamu istirahat aja. Dari pagi di sini pasti capek!"
"Capek apa sih bang. Ngga lah, cuma duduk doang!", sahut Galuh.
"Oh ya?", Lingga mengusap kepala Galuh dengan pelan.
"Heum!", sahut Galuh singkat.
"Jadi... sekarang kamu sudah merasa jauh lebih tenang setelah Abang sama kamu, di sini?", tanya Lingga sambil menatap netra lentik istri mungilnya.
"Iya bang! Jangan jauh-jauh lagi ya Bang!", rengek Galuh yang seolah mendadak manja. Padahal biasanya juga semanja apa pun ,Galuh tak pernah sampai sebaper ini.
__ADS_1
"Iya Yang. Insyaallah Abang selalu bersama kalian!", kata Lingga menenangkan Galuh.
"Ya udah kita beli makan sekalian pulang!", pinta Galuh.
"Ayok!", ajak Lingga tapi sebelumnya mereka menyempatkan diri menatap di kecil. Tapi entah firasat atau apa, Lingga menoleh pada beberapa sosok yang seolah sedang memperhatikan dirinya.
Di saat Lingga menatap mereka, beberapa orang itu memalingkan wajahnya.
"Yang, hari ini yang bertugas jaga di ruangan ini dokter sama suster siapa ya?", tanya Lingga pada Galuh.
"Dokter Maria setahuku bang. Kalau susternya kurang tahu!", jawab Galuh. Lingga mengangguk pelan.
"Eh, Yang. Abang kebelet lagi nih, kamu tunggu di sini bentar Yang!", pamit Lingga.
"Abang diare?", tanya Galuh cemas karena Lingga tadi sempat menceritakan dirinya kebelet buang air sampai harus berhenti di pom bensin.
"Ngga Yang. Cuma mules, mungkin masuk angin. Jangan ke mana pun ya!", Lingga menepuk bahu Galuh pelan.
"Iya bang?!", jawab Galuh patuh. Lingga memperhatikan beberapa perawat yang sudah tak asing di matanya sejak sang putra di rawat di ruangan tersebut.
Setelah meninggalkan Galuh, tujuan Lingga adalah menemui dokter Maria.
Beberapa saat kemudian....
"Udah Yang!", ajak Lingga pada Galuh.
"Iya bang!", sahut Galuh. Beberapa orang yang tadi sempat memperhatikan Lingga pun pura-pura cuek saat dirinya dan Galuh melintasi di depan mereka.
Badan tinggi besar dan terlihat sangar!
"Punten pak!", sapa Galuh sedikit membungkukkan badan saat melewati beberapa lelaki kekar tersebut.
Salah satu di antara mereka mengangguk tipis tanpa ekspresi senyum sama sekali.
"Bukan orang sini kali ya bang?", tanya Galuh pada suaminya.
"Huum, may be!"
"Tapi, mereka ngapain di situ? Mau nengok bayi jam segini? Lagian bayi siapa ya bang? Mereka keliatan bapak-bapak semua?!", kata Galuh lirih takut terdengar oleh mereka.
"Ngga tahu Yang! Udah yuk buru, Abang gerah banget! Nanti tolong mandiin ya? Heheheh!", kata Lingga yang sebenarnya merasa tidak tenang. Entah kenapa ia merasa jika mereka sedang mengikuti dirinya.
Kalau tujuan mereka memang Lingga, Lingga tentu tidak akan membiarkan anak serta istrinya terseret.
Setelah Lingga dan Galuh pergi...
[Benar bos. Bayi nya masih di ruang khusus!]
[....]
__ADS_1
[Sepertinya Lingga menyadarkan kehadiran kami]
[....]
Orang yang sedang menelpon itu menjauhkan telinganya dari ponsel tersebut.
[Siap bos! Siap]
Klik! Panggilan itu berhenti. Dan di saat yang bersamaan, beberapa bayi keluar dari ruangan khusus itu. Tapi tentu saja mereka tak bisa mendekat pada bayi-bayi itu yang bahkan mereka tak tahu bayi Lingga yang mana.
"Gimana bos? Apa kita ikut mereka?", tanya salah satu anak buah dari gerombolan itu.
"Sekali pun kita ikuti mereka, belum tentu kita tahu yang mana anaknya target kan?"
"Iya sih bos!"
"Udah lah cabut! Yang penting kita sudah melaporkan sama big bos!"
Mereka semua pun mengiyakannya. Lu segerombolan orang itu pun meninggalkan area ruangan tersebut.
Dokter Maria menghubungi Lingga yang mengatakan jika semua aman.
"Kenapa bang?", tanya Galuh pada Lingga.
"Ngga apa-apa sayang. Ya udah Abang makan ya, laper banget!", kata Lingga mencegah sang istri yang penasaran bertanya macam-macam.
.
.
.
"Jadi, bayi itu laki-laki?"
"Iya, begitu laporan dari anak buahku."
"Wow! Pasti Arya semakin jumawa ya?!", kata lelaki itu sambil bertepuk tangan sendirian.
"Apalagi informasi yang kamu dapatkan?"
"Apa lagi? Perusahaan ku sudah di ambil oleh si brengsek Arya itu!"
"Sabar! Aku pasti akan membantumu mendapatkan kembali apa yang jadi hak kamu."
Malik hanya menghela nafas. Lelaki dewasa yang tak lain ayah dari Shiena pun akhirnya mengiyakannya.
****
21.13
__ADS_1
Selamat malam, besok di mulai lagi rutinitas seperti biasanya. Semoga masih sempat menghalu 🤭🤭🤭
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏