
Arya mendekati istrinya yang sedang berdiri di antara anak dan juga menantunya. Gita pasang badan saat sang suami berada di hadapan ketiga orang tersebut.
"Pulang!", ajak Arya pada Gita tanpa menyapa si bungsu dan juga istrinya.
"Mama masih kangen sama Lingga Pa!", kata Galuh. Para karyawan Lingga mengintip takut-takut di belakang melihat drama bos dan keluarganya yang tak pernah mereka tahu selama ini.
"Kangen kamu bilang? Memang anak itu masih mengakui kamu?", hardik Arya. Tangan Lingga terkepal kuat. Jika lelaki tua itu bukan ayahnya, mungkin saja tubuh renta itu sudah ia hajar habis-habisan.
"Pa, Mama tahu Lingga sayang sama mama."
"Kalo dia memang sayang sama kamu, harusnya dia tidak memilih perempuan itu dan menurut apa yang papa pilihkan buat dia. Bukan gadis kampungan itu!", tunjuk Arya pada Galuh.
Galuh sudah menguatkan hati agar tak terpancing emosi. Tapi tidak dengan Lingga yang merasa marah karena papa nya menghina sang istri.
"Cukup Tuan Arya yang terhormat! Saya terima selama ini penghinaan anda! Tapi saya tidak terima saat anda menghina istri saya!"
"Wah, hebat sekali kamu Lingga. Sudah di racuni apa pikiran mu oleh gadis kampung ini hah? Bertahun-tahun tidak bertemu dengan orang tuamu, begini sikap kamu?"
__ADS_1
"Anda yang memulainya. Jika anda merasa menjadi orang tua yang patut di hormati seharusnya anda berpikir sebelum berbicara! Lebih baik anda diam jika bicara anda hanya menyakiti orang lain!"
Dada Arya naik turun mendengar apa yang putranya katakan. Gita yang pada dasarnya memang pengalah pun tak bisa berbuat apa-apa. Inilah kelemahan Gita! Ketika anaknya di sudutkan, dia tak bisa membelanya hingga semua menimpa sang putra bungsu.
"Nadia, jangan lupa jika tuan besar yang terhormat ini sudah selesai dengan urusannya, segera tutup rolling doornya!", kata Lingga pada Nadia, kasir yang bertugas saat ini.
"Iya pak!", jawab Nadia. Gita dan Arya sedikit terkejut.
"Maaf ma, kami mau ke hotel dulu. Maafkan Lingga ma. Lingga sayang mama!"
"Ayo sayang!", ajak Lingga pada Galuh. Tangan kanannya menggandeng Galuh tangan kirinya menenteng belanjaan.
Galuh hanya mengikuti sang suami. Tapi dia menyempatkan pamit pada ibu mertuanya.
"Maaf ma, kami tinggal dulu!", kata Galuh. Gita pun hanya mengangguk. Kedua melewati Arya tanpa menyapa. Biarlah!
Lingga pikir, jauhnya jarak membuat hubungannya akan lebih baik. Tapi kenyataannya Arya memang tidak berubah, lebih tepatnya mungkin belum berubah. Mata hati lelaki lanjut usia itu belum terbuka.
__ADS_1
"Oh ya Nad, nanti saya kirim foto barang apa aja yang saya ambil!", kata Lingga sebelum benar-benar keluar dari minimarket nya.
"Iya pak!", jawab Nadia lagi.
Setelah mengatakan demikian, sepasang suami istri yang tengah menanti kehadiran buah hatinya pun benar-benar keluar lalu menuju ke mobil mereka.
Arya dan Gita masih ada di dalam sana.
"Maaf pak, ibu ada lagi yang ingin di beli?", tanya Nadia takut-takut. Karena dia tak enak sendiri ternyata mereka adalah kedua orang tua bosnya.
Arya langsung menatap tajam Nadia. Gadis itu sedikit tersentak karena tatapan Arya.
"Toko ini milik Lingga?", tanya Arya. Nadia pun mengangguk jujur.
"Kafe...yang terbakar?", tanya Gita pada Nadia.
"Iya, Bu. Kafe milik mba Galuh. Dan toko ini milik pak Lingga. Dan di kampung mba Galuh, mereka punya perkebunan sayur sama pabrik penggilingan beras sama pabrik batu bata dan batako!", jelas Nadia yang seolah ingin menyombongkan bosnya. Sebagai orang awam pun ia merasa kesal karena bos nya di hina oleh orang tua nya sendiri.
__ADS_1