Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 200


__ADS_3

Mobil Lingga sudah terparkir di halaman rumah Puja. Galuh turun lebih dulu di bandingkan suaminya. Di samping mobil Lingga, Arya dan keluarganya pun sama-sama turun dari mobil.


Lingga memutari mobil untuk mengambil ranselnya di bagasi. Ada pakaian ganti miliknya dengan Galuh di ransel tersebut. Karena mereka sudah makan di tempat pernikahan Alex, mereka tak makan malam di rumah mewah tersebut.


"Ganti baju dulu Yang, ntar kita tinggal ngobrol bareng kak Puja dan yang lain!'', pinta Lingga pada istrinya. Galuh pun patuh menuruti perintah suaminya.


"Lho kak, Angel ngga di rumah?'', tanya Galuh pada kakak iparnya.


"Angel kan di asrama Luh, malah rencananya nanti SMP dia mau mondok'',jawab Vanes.


"Masyaallah....",kata Galuh kagum. Bagaimana tidak kagum, beberapa waktu lalu satu keluarga itu dalam istilah kasarnya tidak mengenal Tuhan, agama hanya sebagai pelengkap identitas. Mereka muslim tapi tidak pernah melakukan kewajiban sebagai umat muslim. Tapi sekarang?


Yang namanya hidayah memang di jemput, bukan di tunggu! Mungkin lingkungan mereka berada saat ini juga salah satu faktor pendukung perubahan mindset mereka. Wallahualam....


Dua menantu Arya pun memasuki kamar mereka masing-masing. Meski kamar itu kosong, art Puja masih selalu membersihkannya secara rutin.Begitu pula dengan mama Gita, dia langsung masuk ke kamarnya yang ada di lantai bawah.


Tinggallah kaum adam yang duduk di sofa ruang tengah. Si bibik mengantarkan teh hangat enam cangkir yang ia letakkan di depan para majikannya.


"Gimana urusan sama mantan kamu tadi Ga? Galuh masih ngambek?'',tanya Arya.


Puja terkekeh pelan, dia juga bertemu dengan beberapa mantan pacar Lingga di pesta pernikahan Alex tadi. Usia Puja yang memang selisih dua tahun saja tentu tahu sepak terjang Lingga semasa sekolah dulu. Meski begitu, sebenarnya Lingga bukan tipe yang suka tebar pesona. Hanya saja para cewek-cewek yang ngebet pada Lingga yang memang tampan dan terlahir kaya. Sayangnya...ya namanya remaja, pacaran sebulan dua bulan selesai. Wajar kalau daftar mantannya banyak. Dan satu-satunya perempuan yang mampu menaklukkan Lingga hanya Galuh yang menjadi istrinya di saat pertama kali mereka bertemu. Tapi ya sudahlah, namanya juga masa lalu kan?


"Ngga lah Pa, dia baik-baik aja kok!", jawab Lingga.


"Oh...bagus lah!", sahut Arya.


"Emangnya mama ngga pernah cemburu ya Pa?", tanya Lingga.


"Ngga lah. Mama selalu percaya sama papa! Lagian papa ngga pernah punya mantan, sekali nya ketemu mama kalian, langsung nikah!", sahut Arya.


Puja dan Lingga berdecak kagum mendengar pengakuan papanya. Di balik pintu kamarnya, Gita yang bersiap akan membuka pintu pun ia urungkan.


Gita sama sekali tak menyangka jika rumah mewahnya ini akan kembali hangat seperti saat anak-anaknya masih kecil.


Sikap suaminya yang keras sejak dulu membuat pribadi anak-anak nya yang justru jadi pemberontak karena merasa di kekang. Jika Puja cenderung penurut, berbeda dengan Lingga yang keras kepala dan suka melawan.


Gita membuka pintu kamarnya perlahan. Ia kembali mendengar obrolan di sertai tawa dari bibir suami dan kedua putranya.


Matanya berkaca-kaca melihat adegan di depan matanya. Situasi yang amat sangat ia impikan sejak anak-anaknya beranjak dewasa.


Lingga menyadari kehadiran mamanya yang justru terdiam melihat ke arahnya. Melihat Lingga menatap ke belakang, Arya dan Puja pun menoleh. Di lihatnya Gita yang sudah meneteskan air matanya tapi bibirnya tersenyum.


"Ma...!", Arya bangkit dari sofanya lalu menghampiri Gita yang tergugu di sana.


"Ada apa Ma?", tanya Arya cemas. Bukannya menjawab, Gita justru semakin menangis haru memeluk suaminya.


"Pa, mama bahagia sekali hari ini. Ini impian terbesar mama, Pa. Kita bisa berkumpul bersama seperti ini, sama Puja dan Lingga. Hiks ...hiks ...ini seperti mimpi yang jadi nyata buat mama. Rumah ini....rumah di mana mama membesarkan mereka dan sekarang....", Gita tak mampu lagi meneruskan kata-katanya. Arya menenggelamkan kepala Gita di dadanya.


Sepasang kakak adik itu melempar senyum lalu mendekat kepada kedua orangtuanya. Lingga dan Puja memeluk mama papanya.


Dramatis sekali kaya pilem India.....


Galuh dan Vanes tak jadi menuruni tangga. Mereka cukup melihat momen bersejarah keluarga mertua mereka. Bibir keduanya pun turut menyunggingkan senyumnya.


Setelah acara peluk memeluk seperti teletubbies berakhir, barulah dua menantu keluarga Saputra itu turut bergabung.


.


.


.


Jam sepuluh malam, ketiga pasang suami istri sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Jika Arya di lantai bawah, Puja dan Lingga di lantai atas.


Lingga baru selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Lalu ia mendirikan empat rakaatnya. Sedang Galuh sudah lebih dulu menjalankan kewajibannya tadi sebelum turun menemui keluarga suaminya.


[Ya udah, ibu juga istirahat deh. Pasti capek ngurusin Ganesh]


Ucap Galuh menelpon ibunya saat Lingga baru selesai sholat.


[....]


[Alhamdulillah kalo ngga rewel mah. Tadi pengen video call Bu, tapi takut kangen banget terus langsung pulang deh...] Suara Galuh terdengar lesu.


[....]


[Ya udah kakak juga mau tidur. Makasih ya Bu, besok Kakak telpon lagi]


[....]


[Walaikumsalam]


Galuh meletakkan ponselnya di atas nakas yang ada pigura foto Lingga semasa SMA. Galuh tersenyum melihat wajah suaminya yang terlihat sangat tampan, harus ia akui dong ketampanan suaminya yang memang di atas rata-rata. Galuh memang cantik alami, tapi mantan-mantan Lingga justru jauh lebih cantik dan elegan. Siapa lah dirinya??? Hanya orang kampung berpenampilan biasa saja, sederhana!


"Hei, kok bengong sih Yang?", Lingga berbaring di samping Galuh.


"Heum, kangen Ganesh bang!", jawab Galuh sendu. Lingga merapatkan diri sambil memeluk Galuh.


"Abang juga kangen kok Yang! Apalagi kamu, ibunya", Lingga mengecup puncak kepala Galuh.


"Bang!"


"Heum!", gumaman Lingga sebagai sahutan dari panggilan Galuh.


"Abang...eum ...ngga jadi deh!", kata Galuh.


"Kenapa ngga jadi?", tanya Lingga yang kini wajah nya berhadapan dengan istrinya.


"Ngga apa-apa. Eum...kita balik ke kampung kapan?", tanya Galuh mengalihkan pembahasan yang batal ia tanyakan tadi.


"Lusa aja ya Yang!", kata Lingga. Galuh hanya mengangguk tipis meski sebenarnya ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Ganesh. Tapi dia juga tidak bisa memaksa suaminya agar mau pulang secepatnya.


Dia tak mau mengecewakan suaminya, apalagi melihat barisan para mantannya yang sangat berbeda dengan Galuh. Mereka terlihat elegan dan anggun, jangan lupa mereka cantik dengan make up membahana.


Galuh menyadari bahwa dia seperti Upik abu jika di bandingkan dengan mereka meskipun secara visual kaum Adam akan mengatakan dirinya juga cantik.


"Mikirin apa heum?", tanya Lingga yang aroma nafasnya seolah menusuk hidung Galuh yang saling berhadapan.


Galuh membalas tatapan mata suaminya. Mata yang besar dengan bulu mata yang lentik. Pahatan sempurna ciptaan yang maha kuasa. Kenapa setelah bertahun-tahun bersamanya, ia baru menyadari suaminya sesempurna itu.


"Kenapa?", tanya Lingga lagi yang tak mendengar sahutan apa pun dari bibir suaminya.


"Apa Abang ngga menyesal putus sama mantan-mantan Abang yang cantik-cantik itu?Aku ngga secantik mereka kan?", tanya Galuh.


Deg!

__ADS_1


Pertanyaan jebakan ini mah! Gue pikir udah kelar urusan mantan, jadi nyesel kan kalo ngga sesuai sama ekspektasi gue???? Batin Lingga.


"Ehem, istri Abang paling cantik dong di mata Abang, Yang! Kalau pun ada yang jauh lebih cantik, ya mungkin banyak. Tapi buat Abang, ini istri Abang satu-satunya yang paling cantik, paling Abang cintai. Insyaallah sampai Jannah!", akhirnya Lingga mengeluarkan rayuan mautnya.


"Kenapa Abang boong? Jelas-jelas Karen sama Nancy cantik banget. Aku aja yang perempuan lihat mereka tertarik kok, dalam artian normal ya! Apalagi kalian, kaum cowok."


Beneran kan...kan...kan...? Batin Lingga mulai panik sendiri. Pertanyaan seperti ini nih yang suka memicu perang dunia tapi tingkat rumah tangga.


"Yang, cantik atau ganteng itu kan relatif. Cantik menurut orang lain, belum tentu cantik menurut Abang. Udah lah, ngga usah bahas seperti itu."


Lingga menduselkan kepalanya ke cerukan leher istrinya.


"Bang....!", suara Galuh mulai bergetar karena ulah Lingga di sana.


"Heum?"


"Pintunya...!", bisik Galuh pada suaminya.


"Udah Abang kunci Yang! Abang juga udah minta bibik siapin cemilan sama minum kalo kamu nanti kelaparan tengah malam!"


Galuh memundurkan kepalanya.


"Kelaparan tengah malam? Aku udah ngga hamil kali bang?", kata Galuh. Pengalaman hamil kemarin, dia memang suka makan tengah malam.


"Ngga hamil sih, tapi Abang mau kamu Yang. Abang yakin kalo kamu akan butuh banyak minum dan makanan setelah ini!", kata Lingga dengan senyum misterius.


"Jangan bikin takut deh bang!!", kata Galuh panik.


"Ngga bikin takut Yang ,paling cuma bikin kamu menje....hmmm!", Galuh buru-buru menutup mulut suaminya.


"Ngga usah aneh-aneh ngomongnya ya!", pinta Galuh.


"Jangan kebanyakan pembukaan Yang! Ayokkk!", ajak Lingga.


"Tapi janji jangan aneh-aneh!"


"Aneh apa sih Yang? Abang cuma mau sepuasnya aja mau gimana-gimana tanpa takut ganggu Ganesh."


"Tapi ini di rumah kak Puja. Ngga enak kalo...."


"Kamar kita ini pakai peredam suara sayang....!", kata Lingga. Bahkan Galuh lupa jika istana kakak iparnya tak seperti rumah mereka di kampung.


"Oh..."


"Coba tadi ke hotel Yang!", kata Lingga. Galuh hanya menghela nafas. Selebihnya....terserah dan pasrah saja lah!


.


.


.


"Liatin apa Pa?", tanya Helen pada Glen saat mereka berbaring di ranjang.


"Ini... status wa Syam!", jawab Glen. Helen melihat postingan status Syam di ponsel Glen. Terdengar helaan nafas dari bibir Helen.


Dia yakin jika suaminya pasti iri melihat foto dimana Syam sedang memeluk Salim dari belakang yang sedang memangku Ganesh. Terlihat wajah Syam sangat bahagia karena senyumnya yang lebar.


"Kamu iri sama Mang Salim,Pa?", tanya Helen. Glen langsung menoleh pada istrinya.


"Maafkan mama kalo selama ini egois...!", kata Helen terbata.


"Sssstttt ...!", Glen merengkuh tubuh Helen lalu di dekapnya dengan hangat.


"Jangan bahas kebodohan papa lagi Ma, sampai kapan pun papa akan tetap bersalah! Papa ingin hubungan pernikahan kita baik selamanya, jadi tolong....jangan pernah menyalahkan diri seolah mama paling egois di sini! Karena bagaimana pun, mama juga tersakiti!", Glen mengecup puncak kepala Helen.


Helen menghela nafas di pelukan suaminya. Percayalah, ikhlas menerima semua yang sudah terlanjur terjadi itu tidak mudah. Meski Helen tahu, di tak berhak menghujat masa lalu.


"Istirahat ma, udah malam!", kata Glen. Helen pun mengiyakannya dan berbaring di samping suaminya.


.


.


.


"Abah ngga usah ke warung dulu deh ya Bu, kasian ibu jagain Ganesh sendirian di rumah!", kata Salim saat dirinya bersiap berangkat ke warung.


"Kan ada bik Mumun, bah! Lagian...pasti ada orangnya Abah sama mas Arya kan? Sama itu, tukang yang lagi ngerjain rumah!", kata Sekar.


Salim berdehem pelan. Urusan bodyguard keluarga Arya memang hanya menjadi rahasia Salim dan Arya sendiri. Jangan Sekar, Lingga saja yang anaknya Arya tak tahu menahu.


"Tapi maksud Abah teh, takutnya ibu kecapean. Inget, ada utun kembar di sini!", Salim mengusap perut Sekar.


"Iya Bah, Abah di rumah aja. Syam bisa naik sepeda kok!", kata Syam yang menghampiri kedua orangtuanya.


"Eh, jangan dek! Abah antar adek aja. Ntar telat. Ini sudah siang lho. Ngga keburu!", kata Sekar.


"Ya udah, Abah anterin adek habis itu langsung pulang!", kata Salim.


"Emang Abah bisa gitu bantu ibu jagain Ganesh?", tanya Sekar. Salim tersenyum.


"Insyaallah Bu, sekalian belajar. Cosplay jadi bapak-bapak punya bayi!", sahut Salim.


"Hah? kosple apa Bah?", tanya Sekar.


"Ehem, intinya Bu...Abah belajar punya adek bayi. Udah titik!", sahut Syam yang tidak mau memperpanjang penjelasannya pada sang ibu mengingat waktu berangkat sekolah sudah mepet.


"Oh, iya-iya!", kata Sekar. Salim dan Syam pun berpamitan pada Sekar. Karena waktu sudah mepet, Salim memilih mengantarkan Syam dengan motor.


Pukul tujuh kurang lima menit, motor Salim sudah tiba di sekolah Syam.


"Pulang seperti biasa kan dek?", tanya Salim.


"Iya bah. Kalo ngga nanti Syam wa ibu pake nomor Bu guru deh. Takutnya ada pelajaran tambahan buat mapsi besok."


"Oh, ya udah."


"Syam masuk ya Bah, assalamualaikum!", pamit Syam pada bapak tirinya itu.


"Walaikumsalam!", Salim menjawab salam Syam. Dia hendak menyalakan sepeda motornya lagi, tapi ada satu guru yang baru tiba di halaman sekolah.


Salim pun mempersilahkan guru tersebut untuk lewat, tapi justru guru itu menghentikan sepeda motornya di depan motor Salim. Dia membuka helm nya lalu menoleh pada Salim.


"Maaf kalau salah...Salim bukan ya?", tanya guru lelaki itu. Salim mengangguk pelan.

__ADS_1


"Iya, saya Salim. Maaf anda...?"


"Masyaallah, saya Rama teman satu kost waktu kuliah di kampus Xxx? Lupa?", tanya Rama.


"Rama...?", Salim mencoba mengingat-ingat.


"Ah...iya, Nur Ramadan?", tebak Salim. Guru yang di panggil Rama itu pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Keduanya sama-sama tertawa.


"Ya Allah, berapa puluh tahun ngga ketemu kita ya. Ngga nyangka kita di pertemukan di sini."


"Iya...ada lah dua puluh tahun mah!", jawab Salim.


"Lama sekali ya? Eh... ngomong-ngomong baru liat kamu di sini, anterin siapa? Anak kamu? Kelas berapa?", tanya Rama.


"Heum, anterin anak ku. Kelas 5B."


"Kelas 5B? Siapa?", tanya Rama.


"Arsyam", jawab Salim. Tawa Rama sedikit memudar.


"Kamu...papa nya Syam?", tanya Rama.


"Iya, tapi...bukan papa kandungnya!", jawab Salim jujur. Mau berbohong pun nantinya Rama pasti akan tahu.


"Oh... soalnya setahuku...", kalimat Rama menggantung. Salim berusaha tersenyum pada Rama. Sepertinya Rama cukup mengenal Syam.


"Tunggu, kemarin Syam ikut event nulis. Dan dia menang, apakah...dia sedang menceritakan tentang maaf, kamu sebagai papa nya? Maaf kalau aku kepo, padahal itu bukan urusan ku. Tapi...sejauh ini, aku dan Syam cukup sering berinteraksi tentang event-event tertentu."


"Aku ngga tahu cerita apa yang Syam buat, tapi libur semester kemarin dia memang ikut papa kandungnya ke ibu kota."


Rama mengangguk pelan. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi.


"Eh, maaf Lim aku masuk duluan ya. Lain kali boleh lah kita ngobrol lagi! Sumpah, ngga nyangka banget bisa ketemu di sini!", kata Rama.


"Iya, kalo sempet mampir aja ke rumah!", kata Salim. Rama pun mengiyakan lalu berpamitan pada Salim karena ia memiliki kewajiban sebagai seorang pendidik.


Setelah acara bertegur sapa usai, Salim pun kembali ke rumah untuk menemani istri dan cucunya.


.


.


.


"Ga, Galuh mana?", tanya Gita saat mereka akan sarapan bersama. Belum sempat Lingga menjawab, Puja lebih dulu menyela.


"Mama ngga paham banget sih! Pasti istrinya lagi kecapean gara-gara ulah anak bungsu mama nih!", kata Puja santai sambil memotong roti tawarnya.


Definisi orang kaya yang di sinetron-sinetron kan gitu ya? Sarapan roti tawar minumannya kalo ngga susu ya jus jeruk 😁✌️


Berbeda dengan Lingga yang meminta art nya membelikan nasi uduk di pinggir jalan sebelum gang komplek perumahan elit itu. Dia sudah terbiasa sarapan nasi sejak menikah dengan Galuh, nikah ulang maksudnya.


Lingga mencebikkan bibirnya, merasa tak terima atas tuduhan kakaknya meski pun...memang benar kenyataannya sih!


Vanes menyenggol lengan suaminya agar tak meledek Lingga. Gita tertawa pelan melihat kedua putranya yang sudah menjadi seorang ayah, tapi tetap di matanya mereka adalah anak-anaknya yang masih kecil seperti dulu.


"Ehem!", Arya berdehem pelan.


"Kamu ke kantor juga Nes?", tanya Arya pada menantu sulungnya.


"Ngga Pa, Vanes mau nemenin mama di rumah. Atau... mungkin mau ke mana Ma?", Vanes malah bertanya pada ibu mertuanya.


"Mama ngga punya rencana mau ke mana sih Nes."


"Kenapa kalian ngga ke salon kecantikan langganan kalian?", tanya Arya pada istrinya dan juga sang menantu.


"Mama mau?", tawar Vanes.


"Boleh juga sih! Sekalian mau massage! Enak kali di pijet! Eh...ajak Galuh juga kali ya? Biar Galuhnya juga relaks abis kerja rodi!", sindir Gita.


"Uhuk-uhuk-uhuk!", Galuh yang baru menuruni tangga tiba-tiba tersedak mendengar namanya di sebut apalagi istilah kerja 'rodi' seolah menunjukkan bahwa mama mertuanya mengetahui aktivitas mengurus tenaga semalaman.


Semua menoleh pada asal suara batuk Galuh.


"Eh...Yang, sini Yang!", Lingga bangkit dari duduknya lalu menarik kursi untuk istrinya. Galuh tersenyum kikuk.


"Maaf Pa, Ma, kak Puja, kak Vanes. Eum...aku... kesiangan banget!", kata Galuh tersenyum canggung.


"Ngga apa-apa!", Arya mewakili mereka yang sedang sarapan.


Lingga menyerahkan roti tawar dengan selai cokelat pada istrinya. Galuh hanya menatap sekilas pada roti tawar yang ada di hadapannya. Tapi setelah itu ia berbisik pada suaminya.


"Kenapa ngga bangunin aku sih bang?", tanya Galuh berbisik tapi penuh penekanan.


"Kamu kan capek Yang, pules banget tidurnya!", jawab Lingga santai tanpa membalas bisikan istrinya. Galuh ingin sekali mencubit Lingga jika ia tak ada di hadapan keluarganya.


"Luh, nanti ikut ke salon langganan mama ya. Mumpung masih di sini. Biar badan kamu juga relaks kan..?"


"Maksudnya, pijat Ma?", tanya Galuh.


"Iya, biar badan kamu enakan. Apalagi abis kecapekan ya kan? Ikut ya, nanti Vanes juga ngga ke kantor kok!"


Galuh senyum canggung. Dia mau banget di pijit, tapi kalo di pijit di salon...dia malu!


Kenapa???? Jejak petualangan Lingga bertebaran di mana-mana! Mau di taruh mana mukanya jika orang salon melihatnya?


"Heum...iya Ma!", jawab Galuh yang tak enak menolak ajakan mertuanya. Lingga terlihat santai saja mendengar istrinya di ajak oleh mamanya ke salon. Padahal, Galuh sudah memberikan kode tipis-tipis pada suaminya, sayangnya Lingga tak ambil pusing.


"Nah, dari pada kamu ngga ngapa-ngapain mending kamu ke. Kantor Ga!", kata Puja.


"Sorry kak! Aku mau ke kafe sama minimarket ku !",kata Lingga. Puja hanya mengangguk.


"Papa ikut kamu aja Ga!", kata Arya.


"Iya Pa!", sahut Lingga.


*****


2700++ kata 😆 masyaallah tabarakallah 🤭


Terimakasih semuanya yang sudah bersedia mendukung mak othor. Tanpa kalian, apalah othor receh ini.


Terimakasih banyak-banyak 🙏🙏🙏🙏


21.40

__ADS_1


__ADS_2