
Galuh terbangun sekitar tengah malam. Suasana rumah sudah sepi. Gadis itu pun beranjak ke kamar mandi.
Dia memasak air sedikit untuk sekedar mencampur nya dengan air dingin agar ia bisa mandi. Perutnya terasa lapar. Sambil menunggu air nya panas, Galuh pun menyeduh susu untuk sekedar mengisi perutnya. Dia tak terbiasa makan di tengah malam seperti ini.
Setelah mandi dan solat isya yang hampir pagi, Galuh melanjutkan solat malamnya. Hatinya yang galau dan sempat kacau karena kehadiran tiba-tiba suami siri nya.
Seharusnya ia senang bukan? Penantian nya selama delapan tahun sudah berakhir?
Tapi sisi egois Galuh belum bisa menerima kenyataan itu. Kenapa suaminya tega sekali meninggalkan diri nya tanpa kepastian. Mungkin... seandainya saja saat itu Lingga tak berjanji untuk mempertahankan pernikahan mereka, itu jauh lebih baik.
Karena pada akhirnya, dirinya hanya terbelenggu oleh ikatan pernikahan yang sebenarnya bisa saja saat itu berakhir.
Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Galuh pernah merasa lelah menanti sang suami. Tapi dia selalu berpikir positif, suaminya akan kembali ke rumah di kampung sana. Bahkan tiap tahun di tanggal yang sama, Galuh pun memilih untuk pulang. Berharap jika Lingga kembali.
Dan kini....Lingga benar-benar kembali!
Galuh kembali merebahkan dirinya sebentar. Hampir jam setengah empat pagi, Galuh memilih turun ke warung. Anak buahnya sudah mulai beraktivitas di sana.
Umar dan Usman yang bertugas untuk ke pasar. Mereka berdua bisa di andalkan. Sedang masak memasak tentu saja kaum hawa. Sari, Lusi dan Susi. Tiga gadis muda itu mulai meracik bahan yang akan di eksekusi sambil menunggu sayuran segar yang Usman dan Umar beli.
__ADS_1
"Mba Galuh, mba baik-baik saja?",tanya Sari. Galuh pun mengangguk.
"Aku baik-baik saja mba Sar!",ucap Galuh. Tapi sari tahu jika bosnya sedang tak baik. Matanya sembab. Pasti lelah menangis.
Memang siapa yang menyangka jika seorang Galuh yang di kenal ramah dan periang sudah pernah menikah? Pantas saja banyak lelaki yang dia tolak. Ternyata dia sudah memiliki ikatan yang sah dengan lelaki di masa lalunya.
Galuh memilih untuk membersihkan beberapa alat makan yang akan di gunakan untuk memajang hasil makanannya.
Dia menyibukkannya diri agar tak terlalu mengingat Lingga. Tapi...dia sempat berpikir. Apa tidak sebaiknya ia mendengar penjelasan Lingga terlebih dulu?
Setelah mendengar pengen Lingga, Galuh akan memutuskan bagaimana ke depannya. Toh, pernikahan ini adalah hubungan yang sakral. Memang, pernikahan itu terjadi karena sebuah kesalahpahaman tapi bukan berarti harus di akhiri dengan hal buruk juga bukan? Mereka bisa berpisah baik-baik.
Sebelumnya, ia sempatkan untuk melihat ibunya di kamar. Sekar sudah bangun dan bersandar di kepala ranjang. Sebenarnya Sekar tidak 'gila' hanya depresi dengan durasi yang cukup panjang tentunya sejak kelahiran Syam.
Galuh juga tak serta merta membiarkan sang ibu dengan kondisi seperti itu bertahun-tahun. Jika ada yang bilang babyblous itu hoax, tapi Sekar adalah bukti nyata.
Pasca melahirkan Syam, kondisi psikis Sekar memburuk. Galuh sendiri juga sibuk dengan mengurus Syam kecil. Di tambah lagi, dia sedang merintis usaha warung makan sederhananya.
"Bu, ibu mau ikut Galuh solat subuh?",tanya Galuh setelah ia berada di samping sang ibu.
__ADS_1
Tapi Sekar tak bereaksi apa-apa. Sekar tak sependapat lumpuh, tapi kondisi mental nya memang terganggu. Jadi ya....entah lah apa sebutannya. Setiap bulan, Galuh masih menjadwalkan sang ibu untuk kontrol ke dokter.
"Ya udah, Galuh solat dulu ya. Nanti habis Galuh solat, Galuh mandiin ibu."
Sekar mengangguk pelan. Galuh pun keluar dari kamar ibunya. Lalu ia memasak air untuk mandi ibunya. Setelah itu dia lanjutkan ke kamar mandi mengambil air wudhu.
Usai solat, gadis itu menyiapkan air mandi sang ibu. Bersamaan pula dengan Syam yang sudah selesai solat subuh.
"Kak, ibu mau mandi ya?",tanya Syam.
"Iya dek. Kamu ke bawah dulu deh. Sarapan dulu!"
"Masih jam lima kali kak, di suruh sarapan!",tolak Syam.
"Terus ngapain?",tanya Galuh.
"Bantuin mba sama mas aja di bawah deh!",ujar anak kecil itu. Usianya memang baru tujuh tahun, tapi dia lebih dewasa dari anak seusianya.
Melihat Syam sudah turun, Galuh menjemput ibu di kamar untuk di ajak mandi. Begitu lah kegiatan seorang Galuh sehari-hari. Merawat sang ibu dan membesarkan adiknya adalah kewajibannya yang sudah ia lakukan selama ini.
__ADS_1