
"Kalian bersekongkol mau membohongi ku?", tanya Galuh pada dua laki-laki tampan beda usia itu. Herannya, keduanya menggeleng kompak.
"Nggak kak!",kata Syam.
"Nggak Luh!",kata Lingga.
Galuh memanyunkan bibirnya. Kesal karena merasa di bohongi oleh mereka berdua.
"Habis ini mandi dek, terus makan!",kata Galuh sambil menghentakkan kakinya Kel dari kamar Syam.
"Syam sudah makan kok, di rumah Abang. Emang Abang ngga bilang?", Syam melemparkan pertanyaan pada kakak iparnya. Galuh pun langsung berbalik menoleh pada Lingga.
"Mama Gita baik banget kak, tapi om Arya kayanya ngga suka sama Syam!", celetuk Syam mengadu pada kakaknya.
"Mama Gita? Om Arya?",tanya Galuh. Bagi Galuh, nama itu amat sangat tidak asing. Bagaimana pun juga, mereka orang yang cukup berjasa dalam hidupnya.
Tanpa mereka, entah bagaimana nasib jadinya dirinya beserta ibu dan adiknya meski ia harus kehilangan salah satu organ tubuhnya. Justru yang Galuh takut kan, jika benar Gita dan Arya yang di maksud adalah orang yang sama. Galuh sudah berjanji untuk tidak pernah menampakkan diri di hadapan Arya. Alasannya kenapa? Entah, hanya Arya yang tahu.
"Syam, Abang bicara berdua dengan Kak Galuh dulu ya!",pamit Lingga pada Syam. Syam pun mengangguk pelan.
Galuh masih berdiri mematung tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bahkan dia sampai tak sadar saat Lingga membawa nya keluar dari kamar Syam.
"Galuh!", panggil Lingga pelan, tapi tak ada respon dari Galuh.
"Galuh, istri ku!", panggil Syam sedikit berteriak di dekat telinga Galuh.
Gadis yang berstatus istri orang itu pun terkejut karena ulah Lingga yang mengagetkannya. Dia hampir memukul Lingga jika tak mendengar panggilan dari ibunya.
"Galuh!",panggil Sekar dengan suara lirih tapi masih cukup terdengar.
"Ibu!",Galuh menghampiri sang ibu yang baru saja selesai mandi dengan mba Sari. Sekar menatap sosok laki-laki yang perlahan mendekatinya di belakang Galuh. Mata wanita cantik yang sudah tak muda lagi itu mengerjap pelan.
"Nak Lingga?",tanya Sekar. Lingga berjongkok di depan Sekar. Ia mengambil tangan kanan Sekar untuk di cium punggung tangannya.
Tapi belum sempat Lingga meraih punggung tangannya, Sekar sudah menarik nya menjauh.
"Kamu mau apa ke sini? Kamu sama jahatnya dengan laki-laki itu!",kata Sekar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu, maafkan Lingga bu. Lingga ngga bermaksud meninggalkan Galuh. Semua di luar kendali Lingga, Bu. Maafkan Lingga ya Bu. Lingga janji, Lingga akan bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian hadapi selama Lingga tidak ada bersama kalian."
__ADS_1
Sakar menatap arah lain. Meski orang menganggapnya gila, depresi berat, dia masih ingat betul sosok menantunya yang meninggalkan putri nya tanpa kabar selama bertahun-tahun. Dan sekarang, dia ada di hadapannya dengan mudahnya meminta maaf.
Sekar beralih menatap putrinya yang selama ini menderita karena statusnya yang di gantung dan tidak jelas. Meski hanya pernikahan siri, bagi Sekar atau pun Galuh tetap lah hubungan yang sakral.
"Ibu, sudah ya ibu jangan memikirkan macam-macam. Galuh baik-baik saja kok Bu!"
Galuh mengusap bahu ibunya dan memasang senyum manisnya. Sekar tak mengatakan apapun lagi. Putrinya sudah dewasa sini sejak remaja. Galuh adalah gadisnya yang tangguh, dia tahu apa yang terbaik untuknya.
Sekar meninggalkan anak dan menantunya yang ada di sana dengan memberikan kode pada Sari agar pergi dari sana.
Sekedar informasi, selain bekerja di warung, Sari juga membantu merawat Sekar.
"Kita perlu bicara Luh!",kata Lingga. Galuh menghela nafasnya, lalu ia pun beranjak dari sana. Lingga pun mengikuti langkah Galuh yang ternyata menuju ke balkon.
"Apa ada yang aku tidak tahu?",tanya Galuh langsung pada suaminya.
Lingga berdehem sebentar lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Galuh. Laki-laki dewasa itu mencoba menetralisir detak jantung nya yang tak menentu.
"Gita adalah ibuku. Perempuan yang sudah kamu beri ginjal mu."
Mata Galuh berkedip sesaat lalu menggelengkan kepalanya, tidak percaya! Tentu saja tidak! Ini terlalu kebetulan.
"Mas Burhan, supir tuan Arya?",tanya Galuh.
"Jangan memanggil tuan, dia papa mertua mu!",Lingga memegang kedua bahu Galuh.
"Tuan Arya papa kamu mas?",tanya Galuh masih tak percaya.
"Iya Galuh, kamu orang yang sangat berjasa dalam keluarga kami Luh. Dan maaf, maaf ...aku baru tahu sekarang! Maaf!",Lingga menakupkan kedua tangannya di pipi Galuh. Tapi gadis itu melepaskan tangan kekar itu dari pipinya.
Galuh menggeleng pelan.
"Ngga! Aku sudah menerima imbalan atas apa yang aku berikan. Tidak! Tolong mas, jangan lanjutkan lagi niat kamu untuk kembali bersama ku!", kata Galuh memohon.
"Kenapa Luh? Aku tahu aku salah, aku sudah meninggalkan mu tanpa kejelasan. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Galuh. Ku mohon!"
Lingga masih terus berusaha membujuk istrinya.
"Ngga bisa mas."
__ADS_1
"Kenapa? Apa ini ada kaitannya dengan papa ku? Apa papa mengancam mu?",tanya Lingga. Galuh menggeleng lemah.
"Jangan bohong Galuh, aku tahu seperti apa papaku. Karena gara-gara papa ku kita terpisah begitu lama!"
"Ngga mas, aku mohon! Tolong, akhiri saja hubungan kita mas. Aku mohon!", Galuh sampai bersimpuh di depan Lingga. Lingga memundurkan kakinya sampai dia ikut bersimpuh seperti Galuh.
"Apa yang sudah papa lakukan sama kamu Luh? Dia mengancam apa?",tanya Lingga dengan suara cukup meninggi. Galuh masih menggeleng pelan.
"Andai papa mu bukan beliau mas, mungkin aku masih bisa memikirkan pernikahan kita mas. Tapi...."
"Papa mengancam apa sama kamu Galuh?",tanya Lingga untuk ke sekian kalinya.
Tapi Galuh masih terdiam.
"Baiklah, aku akan bertanya langsung pada papaku!",Lingga pun bangkit. Galuh pun turut bangkit dari lantai. Lingga berjalan cepat menuju ke tangga, Galuh pun mengejar suaminya.
"Jangan mas, ngga usah! Jangan memperumit keadaan! Aku mohon mas!",Galuh masih berusaha menahan Lingga.
Selang beberapa saat kemudian, Azan magrib berkumandang. Kedua orang itu terpaku di tangga beberapa saat.
"Solat dulu di sini, nanti kita bicara lagi!",kata Galuh dengan suara lebih tenang.
"Ngga. Aku harus pulang dan bertanya pada papaku." Lingga kembali menuruni tangga.
"Tinggallah sebentar, ada yang ingin ku beri tahu sama kamu mas Lingga!",kata Galuh. Baru kali ini ia menyebutkan nama suaminya.
Galuh kembali ke atas, di ikuti oleh Lingga. Gadis itu mengambil air wudhu, lalu mendirikannya tiga rakaatnya. Lingga sendiri hanya jadi penonton. Terus terang, dia bukan dari kalangan religius.
Setelah solat magrib, Galuh membawa sebuah map berwarna hijau. Dia menyodorkan map itu pada suaminya, meminta agar suaminya membaca isi map tersebut.
"Baca lah, nanti kamu akan ngerti mas!", kata Galuh. Lingga pun mulai membaca satu persatu tiap poin yang ada di lembar itu. Tangan nya terkepal kuat di bawah meja. Galuh kembali menarik map itu.
"Ikut aku!",kata Lingga memaksa Galuh berdiri.
"Kemana?",tanya Galuh bingung.
"Menemui papa dan mama ku!",kata Lingga menyeret Galuh. Galuh mencoba menolaknya.
"Ngga mau mas. Aku ngga mau menambah masalah dengan tuan Arya!",kata Galuh sambil mencoba menarik pergelangan tangannya dari tangan Lingga. Tapi tenaganya tak sebentar di banding Lingga, hingga akhirnya ia pasrah saat di dudukan di mobil suaminya.
__ADS_1