Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 115


__ADS_3

Lingga baru saja melihat kondisi bayinya di dampingi dokter yang menanganinya. Dokter bilang, perkembangan bayinya cukup bagus. Dan mendengar kabar seperti itu saja sudah membuat seorang Lingga merasa bahagia dan sangat bersyukur.


Lelaki tampan itu masih memandangi wajah bayi mungilnya. Entah lah, mungkin lengan Lingga saja jauh lebih besar dari baby Ganesh.


Setelah puas melihat bayinya, eh.... sebenarnya belum puas juga tapi dia juga tidak bisa berlama-lama di dalam sana, papa muda itu pun keluar.


Di luar, ternyata ia bertemu dengan Helen yang sedang berjalan ke arahnya. Lingga mencoba mengabaikan tantenya, tapi dengan tergesa Helen menarik lengan keponakannya yang usianya tak terpaut jauh.


"Ga! Tunggu, Tante mau bicara sebentar!", tahan Helen. Beberapa orang yang melintas di sana mungkin cukup heran saat melihat dua orang yang tampak seumuran tapi ternyata punya panggilan lain.


"Apalagi sih Tan? Lingga malas kalau Tante cuma mau ngajak berantem! Lingga capek, mending nungguin Galuh di kamarnya!"


"Tapi Tante mohon Ga, Tante butuh bicara sama kamu!", rengek Helen. Lingga menghembuskan nafas kasar.


"Mau bicara apa? Sudah jelas kan, Syam tidak akan menggangu keluarga kalian!", kata Lingga.


''Ini bukan tentang Syam, Ga!", kata Helen. Lingga memicingkan matanya. Lalu tangannya tiba-tiba sudah di tarik dan duduk di bangku tunggu.


"Ga, Tante minta tolong sama kamu. Kali aja Ga, tolong bantu Tante!", Helen memohon dengan sangat.


"Ckkk...apa sih Tan?", tanya Lingga jengah. Lalu Helen pun menceritakan tentang Shiena yang sudah membuat dirinya terancam karena video dirinya yang sedang mabuk berat. Di tambah lagi adegan dewasa yang dia lakukan bukan dengan suaminya.


Lingga beristighfar dan menggeleng pelan saat Helen menunjukkan ancaman Shiena yang tampak tak main-main.


"Lagian Tante ini, bisa-bisanya datang ke tempat kaya begitu! Senakal-nakalnya Lingga dulu, ngga pernah sekalipun aku ke tempat kaya begitu! Ini lagi Tante, udah tua bukannya banyakin ibadah malah datang ke tempat maksiat kaya gitu!", kata Lingga justru malah menceramahi tantenya.


"Tante butuh bantuan kamu Ga, bukan ceramah kamu!", kata Helen.


"Tante benar-benar sudah berubah!", kata Lingga menggeleng pelan.


"Kalau bukan karena papa Zea, Tante nggak akan kaya gini Ga!", kata Helen membela diri.


"Tante masih bisa membela diri meski sadar sama kesalahan Tante? Tante perempuan bersuami, apa pantas bermain di luar seperti itu? Ya Allah... Tante!", Lingga mengusap kasar wajahnya.


"Tante dalam kondisi tak sadar Ga, tapi Tante berani jamin kalau Tante ngga melakukan lebih dari itu! Tidak seperti papanya Zea!", kata Helen tegas.


"Jadi, tujuan Tante sebenarnya mau balas dendam, begitu? Sudah tahu Om Glen itu salah! Kenapa Tante juga ikut-ikutan? Apa bedanya Tante sama Om Glen?", tanya Lingga menohok.


Helen memalingkan wajahnya tak berani menatap keponakannya.

__ADS_1


"Bantuan apa yang Tante harapkan dari Lingga?", tanya Lingga sedikit menurunkan intonasi suaranya.


"Shiena hanya ingin memenangkan tender proyek Xxxxx yang biasanya selalu di menangkan mas Arya. Shiena mengancam akan menyebarkan aib ku dan juga... identitas Syam yang lahir di luar pernikahan Glen!", kata Helen lesu.


"Hanya itu yang Tante takutkan?", tanya Lingga memastikan.


"Seperti itu kamu bilang 'hanya' , Ga??? Itu masalah besar!", kata Helen.


"Ya! Tentu Lingga tahu itu masalah besar. Tapi ada masalah yang jauh lebih besar yang akan Tante hadapi!"


Helen menunduk namun nafasnya memburu.


"Tante takut aib itu di ketahui oleh orang banyak, tapi apakah Tante tidak khawatir dengan kelangsungan rumah tangga kalian? Maaf Tan, aku sama sekali tak membela ok Glen. Tapi kebejatan moral om Glen di lakukan saat dia belum punya ikatan apapun dengan Tante meski.... kesalahan besarnya sudah membuat Syam hadir di dunia ini. Tapi Tante, Tante perempuan bersuami... pergi ke tempat laknat seperti itu dan sampai ber.....ah....Lingga ngga sanggup ngomongnya Tan!", Lingga angkat kedua tangannya.


"Ga, yang Tante butuhkan saat ini bukan nasehat kamu! Tapi Tante butuh kamu buat membujuk papa mu agar kali ini dia mengalah saja untuk perusahaan Shiena. Sekali saja dia tak memenangkan tender itu, perusahaan papa mu masih berdiri."


Lingga tak menyahut. Dalam hatinya, ia juga sebenarnya kasian pada Helen. Dia bisa sampai salah langkah karena frustasi dengan situasi yang ada.


Jika menempatkan diri sebagai istri, tentulah sangat wajar jika ia sakit hati pada suaminya. Tapi seandainya pun jadi Glen, ia juga tak kalah marah.


Posisi intinya saat ini kesalahan mereka satu sama. Tinggal siapa salah satu dari mereka yang akan mau mengalah dan memadamkan percikan api yang membakar kehidupan rumah tangga mereka.


"Iya. Tante ngga tahu kalau Shiena bakal memanfaatkan kondisi Tante yang mabuk untuk kepentingan pribadinya", kata Helen lesu.


"Ngga usah memperalat Lingga!"


Suara bariton yang tegas menarik perhatian Tante dan keponakannya tersebut.


Helen dan Lingga sama-sama berdiri dari bangkunya.


"Papa!"


"Mas Arya!"


Ucap Lingga dan Helen bersamaan. Arya mendekati putra bungsunya dan juga adik iparnya.


"Mas Arya, aku....!", suara Helen terhenti saat Arya mengangkat salah satu tangannya.


"Papa, bukan maksud Lingga buat membe....", lagi-lagi Arya mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Aku tahu, Mega proyek itu adalah impian setiap perusahaan. Tapi... kalau memang tidak mampu mengambil pekerjaan itu, harusnya sadar diri. Bukan malah memanfaatkan situasi. Shiena pikir, aku akan mengalah begitu saja? Ckkkk....perse*** dengan video kamu Len!", ucap Arya dengan nada tenang tapi sungguh....


"Mas, aku minta tolong kali ini saja....aku mohon bantu aku mas!", Helen memelas pada kakak iparnya.


"Apa untungnya buat ku Helen? Memang apa yang aku dapatkan jika aku membantu mu? Tidak ada! Yang ada aku hanya akan kehilangan proyek itu tanpa ikut berpartisipasi dalam pertemuan itu."


Helen menautkan kedua tangannya, jemarinya bergerak tak tentu dan telapak tangannya basah karena keringat.


"Apa kamu yakin kalau Shiena tidak akan menyebarkan video itu setelah aku memberikan kesempatan cuma-cuma pada Shiena?", tanya Arya pada Helen. Helen sendiri tertegun mendengar ucapan Arya. Ada benarnya juga, Shiena bisa saja tak menepati janjinya.


"Mas! Sekali ini saja ,tolong aku mas. Glen sudah cukup marah padaku. Aku tidak tahu seperti rumah tangga ku nanti apalagi jika skandal itu muncul ke permukaan mas. Ngga hanya nama keluarga ku yang hancur. Mau tak mau keluarga mas Arya dan Lingga juga akan terseret."


"Kamu pikir aku sebodoh itu?", tanya Arya pada Helen.


Perempuan cantik itu tak menjawab apapun.


"Jika aku mengajukan sebuah persyaratan untuk mau membantu mu, apa kamu mau? Tawaran ku berlaku hanya satu kali. Kalau kamu menolaknya, aku angkat tangan! Skandal itu akan mencuat, merusak nama baik keluarga mu. Tapi...aku bisa membungkam siapa pun jika berhubungan dengan ku atau keluarga Lingga!"


Helen mendongak cepat. Dia seperti merasakan angin segar. Setidaknya, dia memang memiliki jalan keluar dari sosok Arya.


"Syarat? Syarat apa mas? Aku pastikan aku akan menerima persyaratan itu!", kata Helen.


"Apa pun?", tanya Arya dengan senyum smirk nya.


"Iya mas, apa pun!", jawab Helen mantap.


Helen tidak tahu saja jika nanti ada sesuatu yang kelak akan merubah masa depannya.


*******


22.12


Syarat apa hayo?????


Merugikan atau menguntungkan Helen? 🤔🤔🤔


Terimakasih sudah berkunjung di mari 🤗🤗🤗


Masih sibuk sama para bocil jadi baru sempet menghalu. Ambil hp, diminta bocil. Baru nulis di notebook, diminta juga. Alhasil nunggu so bocil merem.

__ADS_1


Betewe terimakasih buat support kalian. Tinggalin jejak please....✌️🙏🙏🙏🙏


__ADS_2