
"Abang, aku ikut ke Jakarta bang!", rengek Galuh pada suaminya yang akan sedang menyiapkan beberapa pakaiannya ke ransel.
Lingga tersenyum tipis tapi masih membereskan pakaiannya.
"Abang kan ngga lama ke sananya sayang! Do'akan cepat selesai, jadi bisa langsung pulang."
Galuh mengerucutkan bibirnya lalu dengan singkat Lingga mengecup bibir mungil istrinya.
"Udah dong, jangan cemberut Yang!", bujuk Lingga.
"Nanti kalo aku kangen gimana bang?"
"Hehehe sejak hamil kamu manjanya.... ampun deh!", Lingga mencubit hidung Galuh karena sangat gemas.
"Abang keberatan kalo aku manja?"
"Tuh kan, ngambek lagi! Salah sangka lagi!", Lingga merengkuh bahu pendek istrinya.
"Mana ada Abang keberatan, justru Abang seneng kalo kamu tergantung sama Abang. Ngga mandiri lagi! Itu artinya apa??? Abang merasa di butuhkan sama kamu, sama dia!", Lingga mengelus perut Galuh.
Ada pergerakan kecil di permukaan kulit perut Galuh yang juga dapat Lingga rasakan. Mata Lingga membola.
"Yang, dedek utun nyapa Abang!", pekik Lingga girang. Galuh menggeleng sambil terkekeh pelan karena sikap antusias suaminya.
"Dedek utun ngga mau jauh-jauh dari ayahnya tuh bang!", kata Galuh. Lingga menghela nafas lagi mendengar keberatan Galuh.
"Sini!", Lingga mendekap tubuh Galuh.
"Bilang sama Abang, apa yang bikin kamu cemas kaya gini yang? Heum...?", tanya Lingga lembut.
Perlahan, Galuh mengurai pelukan mereka.
"Abang kan ganteng. Penampilan Abang juga enak di lihat. Pasti banyak perempuan cantik di luar sana yang bakal lirik Abang! Aku takut Abang tergoda. Apalagi sekarang aku gendut, ga menarik lagi!", Galuh mengeluarkan unek-uneknya.
"Udah?", tanya Lingga. Galuh mengerucutkan bibirnya, lagi-lagi Lingga mengecup sekilas. Mungkin sudah terbiasa.
"Apa yang kamu takut kan yang? Abang selingkuh gitu?", tanya Lingga sambil menakupkan kedua tangannya di pipi Galuh. Galuh sendiri tak menjawab pertanyaan Lingga.
"Iya, kamu takut Abang selingkuh?", ulang Lingga. Akhirnya Galuh mengangguk.
"Lagi musim selingkuh Yang. Padahal pasangannya cakep. Rumah tangganya terlihat sempurna, tapi tahu-tahu pisah."
"Begitu tuh kalo nontonnya infotainment! Kalo yang lain gak apa, nah gosip artis?"
Galuh tak menyahut ucapan Lingga.
"Yang tinggal satu rumah saja bisa nyeleweng bang. Gimana yang LDR ? Kesempatannya kan lebih besar!"
__ADS_1
"Astaghfirullah, Yang! Kenapa sekarang kamu jadi posesif begini sih???", Lingga mencubit pipi Galuh dengan gemas.
Lingga menarik Galuh hingga duduk di pangkuannya. Posisi seperti itu pasti terlihat intim jika orang lain yang melihatnya.
"Tolong dengarkan Abang! Abang sama sekali ngga kepikiran buat begituan, apa tadi... selingkuh? Ngga sama sekali Yang!"
Galuh bergeming.
"Abang sudah punya kamu, itu udah cukup!", lanjut Lingga. Meski bukan rayuan yang melambungkan hatinya, nyatanya kalimat sederhana itu mulai menyentuh hati Galuh agar tak berprasangka buruk terhadap suaminya.
"Nanti, kalau Abang pergi duluan menghadap sang khalik Abang harap kamu segera mendapatkan pengganti Abang. Tapi maaf, kalau kamu yang pergi duluan, Abang akan tetap sendiri!", kata Lingga.
"Astaghfirullah, kok Abang ngomongnya begitu?"
"Hehehe, gini sayang. Abang cuma takut ngga selamanya bisa jaga kamu. Kalau nanti anak-anak kita besar, sudah tentu dia akan bersama pasangannya. Sedang aku atau kamu? Suatu saat akan di pisahkan oleh hal tersebut. Abang....!"
"Pssttttt... jangan bicara perpisahan bang! Aku ngga mau! Cukup delapan tahun aku menunggu Abang tanpa kepastian. Jadi tolong jangan bicara seperti itu lagi. Aku. ngga mau ingat masa-masa sulit sebelum aku bertemu Abang lagi."
Lingga mendekap erat Galuh, lalu menyesap bibirnya yang selalu menjadi candu untuknya. Jika tadi mengecup, kali ini ia melakukan lebih dalam.
Lingga mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya. Mata elangnya menatap mata Galuh begitu dalam.
"Maaf! Setiap kamu mengatakan hal itu, perasaan bersalah selalu ada dalam hati Abang Yang! Tolong jangan ungkit lagi kesalahan Abang yang sudah membuat mu menunggu begitu lama."
"Makanya Abang jangan pernah bahas perpisahan. Pokoknya aku ngga mau pisah lagi sama Abang!", Galuh memeluk erat pinggang Lingga.
"Oke....jadi, sekarang Abang telpon Burhan ya. Abang ngga jadi ke kota, ngga di bolehin sama istri Abang! Biar Burhan yang selesaikan sama anak-anak aja!", kata Lingga sambil mengambil ponselnya tanpa menurunkan Galuh dari pangkuannya.
"Berangkat lah! Tapi hati-hati!", kata Galuh dengan nada manja. Lingga tersenyum. Menghadapi mood swing bumil memang harus ekstra sabar.
"Beneran?", tanya Lingga. Galuh mengangguk cepat.
"Oke, Abang berangkat nanti malam. Berhubungan ini masih sore, ayok...kasih Abang vitamin biar kuat sampai Abang balik lagi ke sini!", kata Lingga.
"Maksudnya????", Galuh menautkan kedua alisnya.
"Nengok utun!", kata Lingga sambil menurunkan Galuh hingga duduk di ranjangnya. Lingga sendiri bangun dan menuju ke jendela untuk menutup gorden. Meski tak nampak dari luar, tapi dia ambil aman saja.
Galuh ternganga di buatnya. Suaminya sungguh....
.
.
.
"Pak Burhan, ada tamu mencari pak Lingga!", kata seorang pekerja yang sedang merenovasi kafe Galuh.
__ADS_1
"Siapa?", tanya Burhan.
"Perempuan. Cantik."
Pekerja itu mendeskripsikan demikian.
"Oh, baiklah. Nanti saya temui tamunya!", kata Burhan. Pekerja itu kembali melakukan tugasnya. Setelah memberi apa saja yang harus di lakukan oleh orang-orangnya, Burhan pun menghampiri tamu yang di maksud.
"Selamat siang?", sapa Burhan. Dengan gerakan pelan, Shiena membuka kacamata hitamnya. Body ramping dan pakaian seksi melekat di tubuhnya.
"Kamu siapa? Saya mencari Lingga?", katanya tanpa menjawab sapaan Burhan.
"Saya Burhan, orang kepercayaannya mas Lingga. Maaf ,anda siapa dan ada perlu apa dengan mas Lingga?"
"Ckkk...kamu tidak tahu saya? Katakan pada Lingga, Shiena mencarinya! Saya tunggu sekarang!", jawab Shiena.
"Tapi maaf nona Shiena, Mas Lingga tidak di tempat."
"Ngga usah bohong!", sahut Shiena.
"Tapi saya tidak bohong. Mas Lingga tinggal di luar kota. Jarang datang ke sini."
Shiena tak melihat kebohongan di mata Burhan. Bisa jadi apa yang Burhan katakan benar adanya.
"Dimana dia tinggal?"
"Maaf, itu privasi mas Lingga Nona!", jawab Burhan lugas.
"Ckkk...Oke! Berikan Nomo ponselnya padaku!", kata Shiena keukeuh. Semalam dia sudah mencari tahu nomor kontak Lingga di ponsel Helen, tapi ternyata tidak ada.
"Sekali lagi maaf Nona, ini privasi mas Lingga. Saya tidak bisa memberikan informasi tersebut pada sembarang orang."
"Kamu ngga tahu saya? Saya sahabat Lingga selama tinggal di Kanada! Delapan tahun kami bersama", bentak Shiena.
Para pekerja pun menoleh pada perempuan cantik yang berpakaian seksi tersebut. Berpakaian tapi sepertinya telan****.
Kusak kusuk terdengar saat mendengar bahwa bos nya pernah tinggal di Kanada dengan tamunya tersebut.
"Sekali lagi maaf Nona! Saya tidak bisa memberitahukannya tanpa persetujuan mas Lingga sendiri."
Shiena merasa dongkol! Dengan menghentakkan kakinya ia meninggalkan proyek renovasi kafe tersebut. Tak lupa, ia menendang kaleng cat yang ada di dekat pintu.
Prang....
Suara nyaring kaleng memenuhi ruangan tersebut. Hampir semua beristighfar di buatnya.
Burhan menghela nafasnya lalu menoleh pada para pekerja.
__ADS_1
"Sudah, lanjutkan saja pekerjaan kalian."
Mereka semua pun kembali dengan tugas masing-masing.