
Sekar memandangi mobil Salim yang berlalu meninggalkan halaman rumah. Syam tampak sedang berbicara dengan Salim. Dia bisa melihatnya karena kaca mobilnya belum di tutup.
"Astaghfirullah!", Sekar terkejut saat tiba-tiba Mumun sudah ada di belakangnya.
"Ibu teh ngapain?", tanya Bik Mumun sambil ikut mengintip ke jendela kaca ruang tamu. Yang Mumun lihat hanyalah mobil yang Syam yang berlalu keluar dari gerbang rumah.
"Ngga ngapa-ngapain Bik!", jawab Sekar gugup. Bik mumun menggeleng pelan.
"Si ibu teh kenapa ya?", gumam Mumun tapi dia pun melanjutkan pekerjaannya membersihkan ruang tamu.
Sekar memilih untuk duduk di teras samping di mana tanaman bunganya berada. Tak ada kesibukan apa pun yang membuat dirinya merasa bosan.
Tidak ada Galuh di rumah membuat ia benar-benar merasa kesepian. Dan Syam pun beranjak remaja. Di usianya yang masih belasan tahun saja dia sudah sangat senang belajar bisnis. Apalagi nanti setelah dia dewasa? Apa darah keturunan keluarga pebisnis memang sudah di turunkan dari papa dan juga kakeknya?
Sekar duduk sendiri menatapi berbagai jenis bunga anggrek yang terlihat begitu menyejukkan matanya. Tapi...hatinya sangat sepi. Menjaga kesetiaan pada mendiang Prastian, almarhum ayah Galuh sudah ia rasakan sejak Galuh menginjak bangku SMA. Sedang sekarang saja usia Galuh sudah hampir kepala tiga. Benarkah dirinya tak butuh teman hidup?
'Kang! Apa akang nungguin aku di sana?', monolog Sekar dalam hatinya. Peristiwa yang belasan tahun ia coba lupakan nyatanya tak bisa begitu saja hilang dari ingatannya.
Melihat Pras yang tahu-tahu sudah terbujur kaku di dekat pabrik yang sekarang dimiliki Glen, hati istri mana yang tak pilu.
Pagi hari Pras berangkat seperti biasa, tapi saat jam pulang kerja ...Pras justru pulang ke Rahmatullah.
Meski kata pihak yang menangani kasus itu mengatakan jika Pras meninggal karena serangan jantung, Sekar tak percaya. Tapi dia hanya orang kecil yang hanya mampu pasrah dengan semua keadaan meskipun sangat tidak adil baginya.
Sejak saat itu, Sekar memutuskan untuk setia pada almarhum hingga akhirnya peristiwa pelecehan itu ternyata membuat Syam hadir di dunia ini.
Tapi belakangan ini entah kenapa ia merasa hatinya terusik dengan sosok yang belum lama ini di kenalnya. Apa benar dirinya sudah jatuh hati pada sosok baru dalam hidupnya yang bahkan mungkin sama sekali tak terpikir olehnya?
Benarkah dirinya jatuh hati atau sekedar kagum karena melihat kemiripan ayah Galuh pada nya?
.
.
.
"Dokter!", sapa Galuh.
"Selamat pagi nyonya, seperti anda sudah siap sekali bertemu dengan jagoan anda ya?", sapa dokter dengan ramah.
"Dokter bisa saja. Tentu saja saya sangat bahagia dok, orang tua mana yang tidak ingin bertemu dengan buah hatinya?", tanya Galuh balik.
Dokter itu terkekeh pelan.
"Apa kalian menunggu kehadiran Ganesh bertahun-tahun lamanya?", tanya dokter.
Galuh tersenyum tipis.
"Saya menikah sejak lulus SMA dok dan dokter tahu kan sekarang usia saya berapa?", ledek Galuh pada dokter perempuan yang sudah membantunya menangani Ganesh.
"Owh...cukup lama ya..."
"Sebenarnya tidak sepenuhnya benar dok, anda juga melihat kan saya ada bekas operasi sebelumnya?"
"Iya. Dan maaf kalau boleh tahu, saat itu kenapa ya? Maaf ... sampai anda kehilangan bayi anda?", tanya Dokter tersebut.
"Kami positif covid waktu itu dok!", jawab Galuh. Mendengar jawaban Galuh, dokter itu hanya mengangguk. Dia cukup paham dengan situasi genting saat itu. Virus yang seolah sedang mencoba 'seleksi alam' karena siapa yang kuat, dia lah yang bertahan.
Dulu covid jadi sesuatu yang menakutkan bagi para penderita, tapi sekarang covid sudah jadi cerita. Mungkin suatu saat nanti bisa di jadikan cerita pada anak cucu kita nanti bahwa tahun 2020 adalah tahun dimana wabah itu menyerang tanpa pandang bulu.
Galuh dan dokter itu sudah sampai di depan kamar khusus bayi. Mereka tadi bertemu di loby.
Lalu kenapa seolah Galuh sangat akrab dengan dokter itu? Bagaimana tidak, sudah hampir sebulan mereka selalu bertemu meski tidak setiap hari.
"Saya masuk dulu ya nyonya Galuh!", pamit dokter perempuan itu.
"Iya dok!", sahut Galuh yang melihat Ganesh dari dinding kaca. Beberapa alat bantu Ganesh sudah di lepas. Dari informasi yang dokter berikan, berat badan Ganesh sudah mulai naik.
Hal itu sedikit menenangkan hati Galuh. Itu artinya dia akan bisa berkumpul secepatnya dengan sang buah hati.
__ADS_1
Tak sabar rasanya bisa memeluk Ganesh dan membawanya pulang. Tapi...Galuh mungkin tidak bisa menyusui Ganesh secara langsung, selama ini ia hanya memompa asi nya untuk di berikan pada putranya tersebut.
(Kalau salah mohon koreksinya, Mak othor dengan senang hati menerima kritik dan saran biar tambah ilmu, terimakasih 🙏✌️)
Galuh memotret putranya lalu ia kirimkan pada Lingga. Tapi hingga sepuluh menit berlalu, pesan gambar yang Galuh kirim belum juga dibaca oleh suaminya.
Perempuan yang baru saja melahirkan tersebut berusaha berpikir positif. Bukan takut Lingga selingkuh, hanya saja godaan di luar sana sangat lah banyak. Visual Lingga yang memang tampan dan secara finansial pun dia mapan. Dengan modal seperti itu tentu banyak yang menginginkan suaminya. Sebenarnya ketakutan Galuh bukan itu, tapi...dia takut sang suami kenapa-kenapa. Amit-amit sih!
Galuh sering membaca di novel-novel yang menceritakan seorang lelaki yang di jebak oleh seseorang lalu minum obat perangsang dan sebagainya hingga berujung ke ranjang!
Nauzubillah! Amit-amit jangan sampai hal itu terjadi pada dunia nyata!!!!
Galuh memilih duduk sambil menunggu dokter yang memeriksa kondisi Ganesh terbaru.
Ponselnya berdenting, ada pesan dari suaminya yang mengatakan dirinya saat ini sedang sibuk karena usai grand opening kemarin, tamu masih banyak yang mengunjungi kafe.
Galuh bersyukur karena kafe nya ramai, tapi dia juga sedih karena ia merasa seolah dia di abaikan.
Perempuan itu menunduk lesu hingga dokter keluar dari ruangan Ganesh, lalu menghampiri Galuh.
"Anda baik-baik saja Nyonya Galuh?", tanya dokter tersebut.
"Ah...iya dok!", Galuh menghapus air matanya.
Dokter itu duduk di sebelahnya lalu menoleh pada Galuh.
"Ada apa? Anda bisa cerita pada saya!", kata dokter yang usianya memang lebih tua dari Galuh.
"Tidak apa-apa dok. Hanya saja....entah kenapa saya tiba-tiba sering merasa sedih. Suami saya juga sangat sibuk di kota sana. Saya tahu hal itu dok, tapi entah kenapa saya sering merasakan khawatir yang berlebihan dok!", Galuh menggeleng lemah.
Dokter itu menggenggam tangan Galuh, ia mencoba menguatkan perempuan yang baru melahirkan beberapa hari itu.
Sebagai seorang dokter dia paham apa yang sedang Galuh alami. Tapi sejauh ini, mungkin gejala baby blues yang Galuh alami masih dalam tahap ringan. Sayangnya, gejala tersebut seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Galuh butuh pendamping yang bisa mengerti kondisinya.
Mungkin sebagian ada yang berpikir jika baby blues terjadi karena dirinya kurang iman atau sebagainya dengan tuduhan negatif pendukung lainnya.
Tapi faktanya, baby blues itu memang benar adanya. Tinggal bagaimana si penderita itu mendapatkan dukungan dari orang sekitarnya.
Seperti Galuh ini, yang tampak biasa tapi dia hanya sedang berusaha mengendalikan dirinya saja agar semua melihat jika seorang Galuh adalah sosok yang kuat.
"Apa yang anda takutkan?", tanya dokter tersebut. Galuh menggeleng lemah.
"Takut suami anda berpaling?", tanya dokter tersebut. Tapi Galuh tak menjawab apapun.
Jika dirinya menjawab iya, itu artinya dia tak percaya pada suaminya. Jika tidak....?
"Nyonya, mungkin apa yang anda rasakan bisa di sebut gejala baby blues. Tapi, kalau boleh saya memberikan saran sebaiknya anda katakan apa pun yang anda rasakan pada pasangan anda. Bagaimana pun, beliau lah orang yang paling dekat dengan anda dan sangat anda butuhkan. Tidak akan ada titik temunya jika anda hanya berprasangka yang tidak-tidak terhadap beliau tapi tidak mengungkapkan kegelisahan anda. Anda paham apa yang saya sampaikan kan nyonya Galuh?", tanya dokter tersebut.
Galuh menarik nafas dalam-dalam lalu mengangguk pelan.
"Perbanyak berdoa. Semua akan baik-baik saja. Putra anda akan segera bersama anda, maka siapkan diri anda sebaik mungkin agar anda bisa mencurahkan perhatian penuh pada putra anda yang tampan itu. Ya?", dokter mengusap lengan Galuh.
"Iya dok, terimakasih atas nasehatnya dan... sudah mau mendengarkan keluhan saya!", kata Galuh lirih. Dokter tersebut mengangguk pelan.
"Insyaallah, awal bulan depan jika perkembangan Ganesh selalu baik seperti sekarang, dia sudah bisa bersama kalian. Jadi, semangat ya Nyonya!", kata dokter tersebut menggenggam tangannya sendiri.
"Iya dok! Terimakasih banyak!", Galuh kembali berkaca-kaca.
"Sama-sama. Sekarang hubungi suami anda, katakan jika anda membutuhkan kehadirannya. Insyaallah jika anda menyampaikan apa yang anda keluhkan dan juga yang sudah saya sampaikan, beliau akan paham. Oke?"
"Iya dok!", jawab Galuh. Sepeninggal dokter tersebut, Galuh menghubungi suaminya. Ada sedikit rasa ragu saat akan menelpon Lingga, tapi...saat ini Lingga lah yang sangat ia butuhkan!
[Hallo Assalamualaikum Yang?]
[Walaikumsalam Bang]
Galuh menjawab salam Lingga dengan lesu yang tentu saja bisa di dengar oleh lingga karena mereka sedang tidak melakukan panggilan video.
[Ada apa yang? Kenapa suara kamu begitu? Kamu dan Ganesh ngga apa-apa kan?]
__ADS_1
Lingga mulai cemas.
[Abang pulang ya. Aku butuh Abang!]
[Iya Abang pulang, tapi kasih tahu Abang apa yang sebenarnya terjadi Yang?]
Galuh mengatakan seperti saran dokter tadi. Kecemasan dan ketakutannya juga ia sampaikan pada suaminya hingga akhirnya Lingga memutuskan untuk pulang siang ini juga.
[Baik Yang, Abang pulang sekarang. Kamu jangan khawatir ya? Insyaallah nanti malam Abang sampai ke situ]
[Iya bang, maaf ya bang ternyata istri kamu cengeng, ngga sekuat dulu hiks...hiks...]
[Astaghfirullah yang, jangan bicara seperti itu. Buat Abang kamu tetap hebat Yang. Stop berpikir yang bukan-bukan, Abang langsung balik sekarang. Abang mau pamit dulu sama Burhan dan yang lain. Ya?]
[Iya bang. Abang hati-hati, assalamualaikum]
[Walaikumsalam. Kamu tunggu di rumah sakit aja Yang, Abang nanti langsung ke sana]
[Iya]
Setelah menutup panggilan telpon dari istrinya, Lingga menghubungi mama Gita. Dia tak sempat berpamitan ke rumah mamanya.
"Han, aku mau pulang! Tolong handel ya!", pinta Lingga pada Burhan.
"Ada apa mas? Mba Galuh sama Ganesh baik-baik saja kan?", tanya Burhan.
"Iya, mereka baik. Tapi aku memang harus secepatnya pulang. Acaranya sudah berjalan lancar kemarin juga karena bantuan kamu."
"Ya sudah mas Lingga hati-hati ya, jangan terburu-buru!", kata Burhan mengingatkan.
"Iya Han. Aku langsung jalan ya, assalamualaikum!", pamit Lingga.
"Walaikumsalam!", jawab Burhan.
Lingga langsung meluncur dengan menggunakan mobilnya. Dia tiba-tiba terpikirkan untuk menghubungi Syam.
[Hallo Assalamualaikum Syam?]
[Walaikumsalam bang]
[Di mana?]
[Dari ATM bang, mau buat gajian orang pabrik]
[Sama mang Salim?]
[Iya, kenapa bang?]
[Bisa ke rumah sakit sebentar? Kamu temani kakak sampai Abang datang, bisa kan? Nanti Abang hubungi orang pabrik gajian besok pagi]
[Apa ada sesuatu yang terjadi bang? Kakak sama Ganesh ngga apa-apa kan?]
[Iya, mereka ngga apa-apa. Tapi tolong ya, kamu ke sana dulu sampai Abang datang]
[Iya bang]
Usai menyelesaikan panggilan tersebut, Lingga memfokuskan pikirannya untuk mengendarai mobilnya agar selamat sampai tujuan tanpa mengurangi doa dalam hatinya.
*******
18.54
Terimakasih 🙏✌️🙏
Musim apa di tempat kalian reader's? Sama kah kaya di t4 Mak othor? Musim orang hajatan plus musim pusing anak2 masuk sekolah. Yang kecil masuk esde yang sulung masuk esempe 🤣🤣🤣 Bisa di kira2 seperti apa rasanya???? 🤭🤭🤭
Kalo ada....yuk ngumpul, kita berdoa sama-sama agar di mampukan dalam segala hal 😄😄😄 Aamiin 🙏
Sambil nunggu Galuh Lingga update, boleh dong ramaikan lapak Mak yang lain ya...ya...ya...🤭🤭🤭😌😌😌
__ADS_1
Terimakasih sudah berkunjung ke lapak othor receh ini 🤗🙏✌️