
Sepasang suami istri itu sudah berada di dalam mobil.
"Mas...!"
"Aku tahu aku salah Luh. Sudah meninggalkan mu tanpa kejelasan. Tapi sumpah demi apa pun, itu semua karena papa ku yang memaksa ku untuk ke Kanada. Aku tidak tahu sosial media kamu, aku tidak tahu teman-teman mu. Aku juga bingung saat itu Luh!",kata Lingga sambil mencengkram erat setir nya.
"Tapi mas, aku sudah mendapatkan kompensasi dari tuan Arya. Dan karena beliau juga sampai sekarang aku bisa bersama ibu dan adikku, dan juga usaha warung makan ku. Mas ... aku mohon mas, jangan memperkeruh keadaan. Aku sudah berjanji tidak akan menunjukkan diri di hadapan beliau. Tolong mengerti!",jelas Galuh panjang lebar.
"Bukan aku tidak mengerti Luh! Tapi ini...apa? Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap mu karena efek samping dari satu ginjal yang kamu miliki? Bagaimana ibumu? Bahan Syam? Kamu pikir uang yang papa kasih ke kamu cukup hanya sekedar mewakili rasa terimakasih???"
Galuh menyandarkan kepalanya. Ia memejamkan matanya sebentar. Di traffic light, mobil Lingga berhenti. Ia membuka map yang berisi beberapa file. Ada file bukti pernikahan siri mereka delapan tahun yang lalu, bahkan uang tiga puluh ribu dari Lingga dalam keadaan di laminating. Rapi?!
Apa pantas gadis seperti Galuh yang mampu menunggu nya selama ini di sia-siakan???
"Terima kasih!", ucap Lingga tiba-tiba sambung menjalankan mobilnya. Galuh yang tadi terpejam pun membuka matanya. Ia menoleh pada suaminya.
"Terimakasih, kamu masih bersedia menunggu ku. Terima kasih sudah berkorban untuk keselamatan mamaku! Maafkan aku Galuh Prastian. Tolong ijinkan aku untuk memperbaiki semuanya dan menebus kesalahanku selama tak ada bersama kalian!", Lingga menoleh pada istrinya yang membeku.
Gadis cantik yang mungil itu tak menyahuti ucapan suaminya. Tangan Lingga terulur mengusap kepala Galuh yang berbalut hijab.
Dulu, rambut Galuh cukup panjang. Entah sekarang!
Sekitar setengah delapan malam, mobil Lingga sudah memasuki halaman sebuah rumah yang luas. Kediaman Arya Saputra.
Telapak tangan Galuh berkeringat. Bagaimana dia akan mengahadapi Tuan Arya?
__ADS_1
Di halaman itu ada dua mobil. Sedang di dalam garasi, juga ada beberapa mobil yang berjejer rapi. Hal itu cukup menyadarkan seorang Galuh! Drajat nya dengan suami begitu berbeda! Kasta rendahan seperti Galuh tak pantas bersanding dengan laki-laki kaya seperti Lingga!
Lingga membuka pintu, mengajak istrinya keluar. Tapi Galuh masih bergeming.
"Galuh?", panggil Lingga lirih. Galuh pun menoleh pada suaminya.
"Ada aku! Kamu percaya padaku! Oke?"
Galuh tampak menghela nafas beberapa saat. Lalu ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Lingga menggandeng tangan istrinya. Ini untuk pertama kalinya seorang Galuh di gandeng oleh seorang laki-laki, meski itu suaminya sendiri.
Jantung ku berpacu lebih cepat saat keduanya memasuki ruang tamu. Dari ruang tengah terdengar celoteh Zea. Di sana ada kedua orang tua Zea, Glen dan Helen. Kedua orang tua Lingga pun ada di sana.
Kehadiran Lingga dengan seorang perempuan yang di gandeng tangannya pun menyita perhatian Helen, karena dia yang menghadap ke pintu masuk ruang tengah.
Melihat keterkejutan Helen, semua mata pun beralih pada Lingga dan Galuh.
"Kak Galuh, Abang!",teriak Zea riang. Gadis kecil itu menghampiri Galuh.
"Kak, Syam ngga ikut lagi?",tanya Zea pada Galuh. Galuh cuma menggeleng sambil berusaha tersenyum ramah.
Arya sudah menatap tajam pada putra bungsunya yang membawa seorang gadis ke dalam rumah mewahnya. Jika gadis itu asing, mungkin masih bisa Arya pertimbangkan. Tapi...gadis itu Galuh!
Begitu juga Glen yang terkejut saat melihat keponakan istrinya menggandeng tangan perempuan yang pernah ia temui beberapa hari lalu dan beberapa tahun yang lalu tentunya.
__ADS_1
"Zea, masuk ke kamar Abang ya sayang!",pinta Lingga. Zea yang sangat Dek dengan Lingga meski jarang bertemu dan terpisah jarak, ia pun menuruti perintah Abang sepupunya.
Kini, di ruangan itu tersisa tiga pasang suami istri. Gita sedang mengingat-ingat gadis yang bersama putra bungsunya. Dia merasa pernah melihat gadis itu, tapi di mana?
"Malam ma, pa, om, Tante!",sapa Lingga pada semua yang ada di sana. Lingga melangkah mendekati orang tuanya tanpa melepaskan tangan Galuh yang masih betah menunduk.
"Galuh, angkat wajah mu. Biar mereka tahu, menantu mereka cantik dan sangat baik!'',kata Lingga.
Mata keempat orang itu membulat lebar. Lingga memperkenalkan gadis itu menantu keluarga ini???
"Apa maksud mu Lingga?", bentak Arya tanpa bangkit dari sofanya. Galuh mengeratkan genggaman tangannya pada suaminya. Begitu juga dengan Lingga. Ia meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Akhirnya Galuh pun mengangkat wajahnya. Bukan wajah Arya yang pertama kali ia lihat, melain wajah Glen. Galuh ingat pada Glen yang mengantarkan Zea ke warungnya tempo hari. Tapi melihat Glen dengan tampilan rapi berjas hitam itu, ingatan Galuh tertuju pada saat di mana lelaki itu meminta maaf sambil memberikan uang untuk ibunya. Tapi ibunya menolak karena dia bukan lah seorang pela*** yang setelah di pakai lalu di bayar.
"Untuk apa kamu memperkenalkan gadis itu sebagai menantu kami? Ngga usah gila kamu Ga?!",bentak Arya.
Gita sendiri masih terpaku beberapa saat hingga akhirnya mata Gita dan Galuh saling bertemu.
"Karena dia memang menantu kalian!",jawab Lingga tegas. Tautan tangan Galuh dan Lingga bahkan tak terlepas. Keduanya seperti orang yang saling mencintai bukan?
Arya bangkit dari duduknya.
"Jangan main-main kamu Lingga!", kata Arya tegas. Lingga pun berdiri, menyeimbangkan posisi tubuhnya dengan sang papa.
"Kami sudah menikah delapan tahun yang lalu. Dan karena papa, aku kehilangan kontak dengan istri ku sendiri. Demi menuruti perintah papa agar aku ke Kanada!",Lingga cukup emosi.
__ADS_1
Setelah itu ia menyerahkan map itu di dada Arya. Arya pun menerima map itu.
"Lingga, apa.... benar kalian sudah menikah? Bagaimana bisa?",,,,mata Gita berkaca-kaca. Helen berusaha menenangkan Kakak sulungnya.