Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 84


__ADS_3

Angel sudah menunggu di meja makan. Gadis kecil itu memainkan sendok dan piringnya dengan wajah yang di tekuk.


"An!", panggil Galuh.


"Ya aunty?"


"Kenapa belum ambil nasi nya?", tanya Galuh sambil menuntun Syam agar duduk bersebelahan dengannya.


"Nunggu aunty sama Opa. Tapi Opa mana, ngga ikut makan?", tanya Angel. Tadi pagi seisi rumah gagal sarapan gara-gara keributan yang Glen lakukan.


"Biar aunty panggil, kalian makan saja dulu ya!", pinta Galuh. Syam dan Angel mengangguk patuh.


Dengan perlahan Galuh menghampiri papa mertuanya yang sedang memandangi para pekerja kebun.


"Eum...maaf Pa, silahkan makan siang dulu pa. Syam dan Angel menunggu papa di meja makan!", kata Galuh lirih. Arya menengok ke belakang menghadap Galuh.


"Sudah berani kamu menyapaku seperti itu?", tanya Arya dengan gaya arogannya. Tapi, sebagai seseorang yang sudah kebal akan sakit nya makian dari sang mertua, Galuh justru menghadapi dengan senyuman.


"Maaf pa, jika papa masih kurang berkenan. Tapi... sebaiknya papa makan siang dulu. Anak-anak menunggu papa, kasian!", kata Galuh.


Perlahan Arya mendekati menantunya. Mata tegas pria dewasa itu menatap lekat menantunya.


"Kamu sudah memiliki segalanya, berhenti merendah!!", kata Arya pelan tapi penuh dengan penekanan.


Jika orang lain akan tersinggung ucapan papa mertuanya, tidak dengan Galuh. Dia tetap tersenyum dan mengangguk. Karena semakin bertambah usia, Galuh juga semakin dewasa dalam menyikapi segala sesuatu. Pun termasuk apa yang terjadi dengan papa mertuanya.


"Kami tidak bermaksud merendah pa!", lanjut Galuh.


"Aku tau, ada hal yang papa tutupi dari kami dan papa membiarkan orang lain selalu salah sangka terhadap papa. Termasuk Lingga dan aku. Benar kan Pa?", tanya Galuh panjang lebar.


"Kamu tidak tahu apapun tentang aku!", kata Arya.


"Memang, tapi aku tahu jika papa orang yang baik!"


Arya tersenyum sinis. Menggeleng pelan sambil melenggang menjauh dari Galuh. Perempuan hamil itu hanya menghela nafas berat.


Sebegitu sulitnya mencairkan hati papa mertuanya. Andai ada cara yang bisa ia tempuh, sekali pun sulit Galuh pasti akan tetap membuat papa Arya merestui pernikahannya dengan Lingga.


Tidak ingin membuat nafsu makan papa mertuanya menguap, Galuh memilih menyingkir dan berniat makan di meja dapur.

__ADS_1


"Kak!"


Galuh menghentikan kaki nya lalu menoleh pada Syam.


"Apa Dek? Apa kakak lupa ngga bawain minum?", tanya Galuh. Syam menggeleng.


"Kakak mau kemana?"


"Oh, itu. Kakak mau beresin bekas makan kakak tadi. Soalnya kakak kelaparan jadi maaf ...kakak makan duluan!", kata Galuh.


"Beneran kakak udah makan?", tanya Syam seolah tak percaya. Galuh mengangguk ragu.


Arya tahu jika menantunya berbohong, karena dia tak melihat bekas makan seperti yang Galuh katakan barusan saat dirinya mencuci tangan. Meja makan di dapur bersih tak nampak apa pun.


"Duduk lah! Temani adikmu makan! Kamu tuan rumah di sini, tidak sopan meninggalkan tamunya untuk makan siang sendiri!", kata Arya.


Jika Angel dan Syam tersinggung, lagi-lagi Galuh hanya tersenyum. Dibalik sikap arogannya, sebenarnya papa perhatian.


Tanpa menolak, Galuh pun duduk di sebelah Angel karena Arya sudah duduk di samping Syam.


Mereka makan siang dalam keheningan. Setelah beberapa saat, Arya lebih dulu bangkit dari kursinya di susul oleh Syam yang mengekor papa dari kakak iparnya.


"Iya An! Kalo butuh apa-apa panggil aunty ya!", kata Galuh lembut.


"Iya aunty!", jawab Angel lalu menapaki tangga menuju kamar yang ia huni.


Arya memilih untuk melihat para pekerja kebun yang cukup banyak sedang beristirahat di saung. Sepertinya mereka bekerja tanpa beban. Terlihat seperti apa mereka bercanda dan saling melempar tawa meski keadaan mereka sama-sama lelah. Satu persatu pekerja itu membubarkan diri. Arya jadi bertanya sendiri, apakah mereka selesai bekerja hanya sampai tengah hari begini????


"Papa!", panggil Syam. Arya yang sedang memikirkan para pekerja itu menoleh.


"Kenapa Syam?"


"Apa yang papa perhatikan?", Syam ikut duduk di bangku sambil mengayunkan kakinya.


"Itu, para pekerja kebun. Sudah selesai ya pekerjaan mereka jam segini?"


Syam menggeleng.


"Ngga, mereka istirahat. Nanti setelah makan siang dan solat Dhuhur mereka juga balik lagi. Kita ke mushola yuk Pa, solat Dhuhur di sana!", ajak Syam.

__ADS_1


"Papa solat di rumah saja nanti!", jawab Arya. Syam pun tak memaksa.


"Boleh Syam tanya pa?"


"Apa?"


"Apa karena kami orang miskin, papa tidak mau menerima kak Galuh jadi menantu papa?", tanya Syam. Seketika itu juga Arya menoleh.


"Kamu masih kecil, itu urusan orang dewasa."


"Iya, Syam masih kecil!", kata Syam lirih sambil menatap kakinya yang bergerak berayun-ayun. Jawaban lirih Syam membuat Arya menoleh lalu duduk mendekat pada Syam.


"Apa...Syam merindukan papanya Syam?", tanya Arya. Syam mendongak lalu menggeleng.


"Papanya Zea cuma punya Zea, bukan milik Syam!", jawab Syam sambil tersenyum tipis tapi terlihat kesedihan di sudut matanya.


"Tapi...kalau Opa Surya... sepertinya dia sangat berharap bisa menyayangi Syam dan memberikan hak kamu Syam, sebagai cucunya."


"Hak apa?", tanya Syam.


"Hak yang seharusnya kamu dapatkan selama ini dari beliau yang tidak tahu jika kamu ada. Hak yang sama seperti yang Zea dapatkan dari beliau!"


Syam menggeleng pelan.


"Ngga pa. Syam merasa cukup kok punya Abang yang bisa jadi Abang sekaligus ayah. Syam ngga butuh papanya Zea ataupun Tuan Surya. Dan sekarang...Syam juga punya papa Arya, papanya Abang yang katanya papa Syam juga!", lanjut Syam dengan senyum manisnya.


Tangan Arya terulur untuk mengusap kepala Syam pelan. Tak lupa, senyum tulus terlihat dari bibir Arya.


Aku pernah tersingkirkan seperti kamu Syam, dan aku tidak ingin kamu merasakan seperti apa rasanya jadi aku. Kamu akan mendapatkan hal kamu Syam sekali pun kamu tak memintanya. Tekad Arya dalam hatinya.


Keduanya terdiam. Jika Syam memikirkan tentang ibunya yang masih belum pulang dari rumah sakit, berbeda dengan Arya.


Bayangan di mana ia menghina dan merendahkan menantu dan anaknya saat itu melintas begitu saja di otaknya. Nyatanya mereka membuktikan bahwa mereka mampu dan mematahkan ucapannya yang mengira Lingga akan gagal.


Justru mereka sukses bukan hanya sekedar mendapatkan kekayaan finansial, tapi juga penghormatan dari orang sekitar.


Harusnya sebagai orang tua, Arya merasa bangga bukan?


Apa aku terlalu gengsi mengakui keberhasilan mereka karena selama ini aku selalu meremehkan kemampuan Lingga dan Galuh??????

__ADS_1


__ADS_2