Jangan Remehkan Aku

Jangan Remehkan Aku
Bab 39


__ADS_3

"Kenyataannya Galuh memang istri ku, istri sah ku. Kami menikah sekitar delapan tahun yang lalu, sebelum aku ke Kanada!", jawab Lingga tanpa ragu.


Shiena masih tidak percaya jika lelaki yang ia puja selama ini sudah beristri. Tak tanggung-tanggung, delapan tahun yang lalu!


"Ngga mungkin Ga. Bagaimana bisa kamu menikahi perempuan kampungan seperti ini?", Shiena menelisik penampilan Galuh dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Dia memang dari kampung tapi tidak kampungan. Siapa pun yang menghina istri ku, dia akan berurusan dengan ku!"


"Termasuk papa?", tanya Arya dengan lantang di depan keluarga besar dan koleganya.


"Iya! Entah apa yang sudah menutupi nurani papa sampai papa menolak menantu papa ini. Padahal papa sadar betul, gadis yang papa rendahkan ini sudah menjadi penolong keluarga kita!"


Suara bisik-bisik kasak kusuk suara tamu undangan pun cukup terdengar mengganggu pendengaran Arya.


"Dia masih mengungkitnya?", tanya Arya.


"Tidak! Istri ku ikhlas, tapi papa yang tak tahu diri!", ujar Lingga. Dengan cepat Arya menghampiri putra bungsunya. Tak segan-segan ia menampar pipi Lingga. Untuk ketiga kalinya pipi itu terkena sasaran.


Galuh sampai terkejut melihat suaminya kembali di tampar oleh papa mertuanya.


"Cukup Tuan Arya yang terhormat. Kekerasan bukanlah penyelesaian masalah."


"Punya hak bicara apa kamu di sini hah?", tatap Arya murka. Lingga sendiri masih mengusap pipinya. Galuh menoleh ke arah suaminya, mengelus bekas tamparan itu.


"Anda akan menyesali perbuatan anda yang kelewat batas pada putra anda. Saya minta maaf, jika kehadiran saya sudah membuat hubungan kalian semakin buruk."


"Itu, kamu sadar!", potong Arya.


"Bahkan sebelum kamu hadir, hubungan kami sudah buruk Galuh. Kamu sudah mendengar aku mengatakan hal itu bukan?", Lingga kembali bersuara.


"Om, jadi bagaimana ini? Bagaimana perjodohan ku dengan Lingga?", tanya Shiena tanpa mau tahu situasi.


"Shiena!", bentak Malik pada putrinya.


"Pa, Shiena cinta sama Lingga pa!", rengek Shiena.


Lingga merengkuh bahu mungil istrinya. Ia mengeratkan pelukannya.


"Maaf Shiena, selama ini aku hanya menganggap mu teman. Tidak lebih dari itu!", kata Lingga.


"Jadi, kamu tetap memilih Gadis kampung itu?", tanya Arya dengan suara menggema. Gita sendiri masih diam membisu di sana. Entah apa yang ibu dua anak itu rasakan. Dia tak berani melawan suaminya tapi juga tak tega pada anak dan menantunya.


"Iya, karena Galuh istriku!", jawab Lingga tegas.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu....!", ucapan Arya terpotong saat Lingga angkat bicara.


"Kalo begitu papa akan mengambil semua yang papa berikan? Silahkan pa!", Lingga meletakkan kunci mobilnya di atas meja.


"Anda ingin saya tidak bekerja di perusahaan anda? Saya akan berhenti! Atau mungkin anda ingin nama saya di banned agar semua perusahaan tak menerima saya, silahkan! Saya tidak akan takut miskin seperti yang pernah anda lakukan dulu hingga saya harus terpisah dengan istri saya!", ucap Lingga dengan bahasa formal.


"Hans Arlingga! Berani kamu berkata seperti itu hanya demi gadis itu???", bentak Arya.


"Iya, karena dia istri ku. Tanggung jawab ku!", sahut Lingga. Ia menggenggam tangan Galuh yang sudah basah oleh keringat.


"Baiklah! Papa tunggu seberapa tahan kamu tidak memakai fasilitas yang papa berikan!"


"Anda mungkin lupa, selama ini saya juga bekerja. Saya sudah lama tidak menggunakan uang anda. Apa yang saya miliki selain mobil itu, adalah penghasilan saya sendiri selama ini."


"Sombong sekali kamu Lingga! Gadis itu benar-benar sudah mencuci otak mu!", Arya menjadi semakin emosi saat tahu jika Lingga sudah memiliki aset sendiri.


"Cukup pa!", teriak Lingga. Galuh menarik-narik tangan Lingga agar jangan membentak papanya. Gita sudah tidak tahan untuk tidak menitikkan air matanya melihat pertengkaran antara anak dan suaminya.


"Buktikan kalau kamu bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan papa! Kita lihat seberapa kuat kamu hidup miskin. Dan saat kamu menyerah nanti, kamu harus ikut apa kata papa."


"Lingga akan membuktikannya pa. Papa tenang saja. Lingga dan Galuh akan membuktikan jika kami mampu. Dan satu lagi, jangan pernah meremehkan kami!", kata Lingga lagi.


"Ayo sayang kita pergi dari istana berasa neraka ini!", Lingga menarik tangan Galuh. Tapi sebelumnya, Lingga menyempatkan mengecup puncak kepala Gita.


"Lingga, kamu ngga bisa giniin aku Ga. Aku cinta sama kamu Ga!", teriak Shiena.


"Sudah Shiena, cukup kamu ngemis-ngemis cinta dari pria itu. Kamu cantik, kamu bisa dapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! Sekarang kita pulang!"


Malik menarik tangan Shiena.


"Dan satu hal yang harus tuan Arya tahu, kerja sama kita batal!", kata Malik ketus.


"Tuan Malik, kita bisa bicarakan hal ini baik-baik...!"


Malik mengangkat tangannya meminta Arya diam, lalu lelaki botak itu pun menyeret putrinya keluar dari rumah mewah itu.


Keluarnya Lingga dan Galuh menjadi sorotan para tamu. Tangan Lingga tak terlepas sedikit pun dari sang istri.


Langkah kaki Galuh terseok-seok mensejajarkan diri dengan Lingga yang memiliki kaki jenjang.


"Bang!", Galuh menarik tangan suaminya agar dia berhenti. Akhirnya Lingga pun berhenti melangkah.


"Kenapa?", tanyanya.

__ADS_1


"Jalan nya jangan cepat-cepat, aku ngga bisa ngimbangin!" , keluh Galuh. Lingga menarik nafas pelan. Lalu ia pun memelankan langkahnya agar istrinya tak ketinggalan.


Kediaman keluarga Arya berada di kawasan elit. Cukup sulit mendapatkan kendaraan umum di daerah itu.


Sepasang suami istri itu terus berjalan menjauh dari gerbang rumah mewah itu. Jika boleh jujur, Galuh sebenarnya merasa lelah. Tapi Lingga seolah tak peduli. Karena yang ada dalam pikirannya hanyalah menjauh dari rumah yang sudah tak ingin dia tapaki.


"Bang! Aku capek?! Istirahat dulu boleh ngga?", Galuh kembali mengeluh.Ada perasaan bersalah menggelayut hati Lingga.


Dengan reflek, lingga memeluk tubuh istrinya.


"Maafin Abang!", bisiknya.


"Aku yang harusnya minta maaf bang. ini semua karena aku!"


Lingga mengurai pelukannya lalu menakupkan kedua tangannya di pipi gadis mungil itu.


"Kita mulai dari awal ya? Abang minta maaf jika Abang belum bisa membahagiakan mu sepenuhnya!"


"Bang, untuk apa Abang mengorbankan diri demi aku, orang yang belum Abang kenal?", Galuh mendongakkan kepalanya menatap Lingga.


"Karena kamu istriku!", kata Lingga sambil tersenyum. Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Burhan menghampiri. Sepasang suami-isteri itu pun masuk di bangku penumpang.


"Maaf Mas, sudah nunggu lama!", kata Burhan tidak enak.


"Ngga apa-apa Han!", jawab Lingga.


"Oh iya Han , antar Galuh dulu baru balik apart. Ada yang ingin aku obrolin sama kamu!", pinta Lingga pada Burhan.


"Siap mas?!", sahutnya.


"Abang ngga jadi menginap?", tanya Galuh. Lingga menoleh lalu tersenyum. Galuh jadi salah tingkah sendiri gara-gara pertanyaan konyolnya. Burhan pun ikut tersenyum di balik kemudi.


"Besok, setelah apartemen Abang laku, Abang numpang di rumah kamu!", sahut Lingga asal.


"Abang mau jual apartemen?", tanya Galuh. Lingga mengangguk.


"Iya, Abang mau bikin usaha biar bisa nafkahin kamu dan keluarga kita nanti." Galuh sempat tak percaya jika suaminya mengambil keputusan secepat itu. Tapi apapun yang menjadi keputusannya, ia akan menghormatinya.


******


Setelah ini, langsung menuju ke beberapa tahun ke depan 🤗


Makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2